Home / Berita / Internasional / Asia / Pertemuan Ekonomi OKI Dibuka Abdulah Gul

Pertemuan Ekonomi OKI Dibuka Abdulah Gul

Indonesia menghadiri pertemuan Tingkat Menteri dalam Standing Committee for Economic and Commercial Cooperation (COMCEC) ke-26, Organisasi Konferensi Islam (OKI) pada 7-8 Oktober 2010. Hadir mewakili Indonesia adalah Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa (kanan) dan Sekretaris Kabinet Dipo Alam (kiri) di Istanbul Congress Center, Istanbul, Turki, Kamis (7/10/2010). Dalam kesempatan ini, Indonesia memperjuangkan diri untuk menjadi pusat riset tanaman pangan untuk semua negara OKI. Isu lain yang berkembang adalah menunggu keputusan tentang pemberlakukan sertifikat halal versi OKI. (Kompas/ Orin Basuki)

dakwatuna.com – Istanbul. Presiden Turki Abdullah Gul membuka Pertemuan Tingkat Menteri dalam Standing Committee for Economic and Commercial Cooperation (COMCEC) ke-26 Organisasi Konferensi Islam atau OKI pada 7 Oktober 2010 di Istanbul, Turki. Gul meminta kerjasama ekonomi antara 57 negara anggota OKI semakin ditingkatkan karena perkembangan ekonomi semakin sulit, terutama setelah krisis keuangan global melanda seluruh dunia pada 2008-2009.

Abdullah Gul menyampaikan hal tersebut pada saat menjadi pembicara kunci dalam pembukaan Pertemuan Tingkat Menteri COMCEC ke-26 di Istanbul, Kamis (7/10/2010).

Hadir dalam pertemuan tingkat menteri COMCEC adalah Menteri Koordinator Perekonomiaan Hatta Rajasa dan Sekretaris Negara Dipo Alam. Keduanya akan mengupayakan agar posisi Indonesia dalam hubungan dengan negara-negara anggota OKI semakin maksimal, karena jumlah penduduk muslim di Indonesia merupakan yang terbesar di dunia saat ini.

Menurut Gul, hubungan ekonomi akan semakin kuat karena solidaritas antar negara-negara anggota OKI terlihat semakin erat dibandingkan sebelumnya. Krisis pada tahun 2008 yang disebabkan masalah pada pasar internasional telah menjebak sebagian besar anggota OKI dalam masalah serius, karena sebagian besar anggotanya merupakan negara berkembang.

“Krisis lalu telah melanda semua negara, tidak pandang negara berkembang atau negara maju. Begitu juga dengan negara-negara anggota OKI, yang juga terdiri atas negara berkembang dan maju,” tuturnya.

Meski demikian, dampak krisis terhadap negara anggota OKI jauh lebih berat dibandingkan dengan dampak terhadap negara maju di luar OKI. Atas dasar itu, negara-negara muslim diajak untuk mencari solusi bersama dari masalah itu.

“Sejak tahun 2009, pemulihan ekonomi global memang sudah terlihat. Namun, negara muslim masih perlu mengembangkan potensi pembiayaan bersama, memanfaatkan sumber daya alam secara maksimal. Ini penting karena jumlah penduduk di negara OKI setara 22 persen populasi dunia, 22 negara (dari 57 anggota OKI) tergolong negara maju. Ini menempatkan posisi OKI semakin penting,” kata Gul. (Orin Basuki/KCM)

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (4 votes, average: 9,50 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Tim dakwatuna adalah tim redaksi yang mengelola dakwatuna.com. Mereka terdiri dari dewan redaksi dan redaktur pelaksana dakwatuna.com
  • DEVIRA

    Sebagian sendi kemajuan muslim,berhasilnya terbangun silaturahmi apapun kemasanya.Oki sbg ajang silaturahmi muslim

Lihat Juga

Menlu Turki, Mevlut Cavusoglu (aljarida.com)

Turki: Paling Lama 1 Oktober Eropa Harus Terapkan Bebas Visa untuk Warga Kami