Home / Berita / Analisa / 10 Tahun Intifadhah Al-Aqsha

10 Tahun Intifadhah Al-Aqsha

Faris Odeh (December 1985 - 9 November 2000) seorang bocah Palestina melawan tank Israel seorang diri dengan batu saat Intifadhah Al-Aqsha. Foto diambil pada tanggal 29 Oktober 2000. Sepuluh hari kemudian dia ditembak dilehernya oleh tentara entitas Israel ketika sedang melawan Israel dengan batu. (AP Photo)

dakwatuna.com – Gaza, Selasa (28/9), kemarin, usia Intifadhah Al-Aqsha genap 10 tahun. Intifadhah ini meletus karena dipicu oleh penodaan yang dilakukan penjahat Zionis Ariel Sharon terhadap area suci masjid Al-Aqsha bersama puluhan serdaru Zionis. Aksi itu tidak membuat orang-orang Palestina tinggal diam. Mereka mengobarkan api di bawah kaki kaum Zionis di semua wilayah Palestina. Sharon dan yang menggantikan setelahnya tidak mampu memadamkan api yang berkobar ini meskipun mereka berjanji untuk melakukan itu.

Perkembangan kinerja militer

Bersamaan dengan dimulainya Intifadhah Al-Aqsha orang-orang Palestina kembali menghimpun logistik dan persenjataan militer lama yang sudah mereka kenal, yang mereka warisi dari intifadhah pertama. Mereka menggunakan ketapel, pisau, bom molotov dan batu, yang merupakan simbol dari Intifadhah pertama.

Beberapa tahun setelah intifadhah berjalan, faksi-faksi perlawanan Palestina terutama Brigade Al-Qassam, sayap militer gerakan Hamas di Jalur Gaza, berhasil membuat senjata lebih modern. Dimulai dari mortir kemudian berkembang ke roket al Qassam dengan segala jenisnya, al Qassam 1, 2, dan 3. Pengembangan senjata tidak behenti hanya di sisi. Pengembangan terus ditingkatkan bersamaan dengan bertambahnya nyala kobaran api intifadhah. Brigade al Qassam dan perlawanan Palestina mengembangkan kerjanya untuk membuat roket-roket yang lebih canggih lagi, namun belum bisa menjangkau sebagian kota-kota Palestina yang dirampas oleh entias penjajah Zionis.

Brigade Al-Qassam berhasil mengembangkan kinerja militernya dan berhasil membuar roket-roket buatan lokal. Seperti roket Al-Batar dan juga roket-roket Yasin, yang namanya diambil dari tokoh dan pemimpin intifadhah Palestina Syaikh Ahmad Yasin.

Al-Qassam terus mengambangkan kemampuannya dan disusul oleh faksi-faksi perlawanan lainnya. Mereka memproduksi bom-bom dan bom ikat pinggang buatan lokal. Tidak berhenti di situ. Mereka juga mengembangkan strategi militer dengan menggali terowongan di bawah tanah untuk menculik para serdadu Zionis dan meledakan pos-pos dan posisi-posisi militer Zionis dari bawah mereka. Hal ini yang membuat Zionis malarikan diri dari Jalur Gaza dan menghindari api neraka yang diciptakan perlawanan di Jalur Gaza, yaitu setelah 5 tahun usia intifadhah al Aqsha.

Sampai hari ini, para kader gerakan Hamas dan rakyat Palestina masih ingat apa yang dikatakan Dr. Abdul Aziz Rantisi sebelum gugur syahid: berikan kami waktu 5 tahun dan kami akan membebaskan Jalur Gaza dengan izin Allah. Dan ini benar-benar terjadi.

Sementara itu di Tepi Barat yang diduduki penjajah Zionis, juga memiliki kekhasannya tersendiri dalam Intifadhah Al-Aqsha. Para pemuda dan pemudinya mempersembahkan nyawa dan jasad suci mereka untuk memenangkan perlawanan. Mereka ibarat bom-bom waktu yang siap meledak dengan izin Allah untuk membunuh apa yang dibunuh penjajah Zionis yang menduduki negeri dan mendzalimi rakyanya.

Mungkin ada yang bertanya mengatakan Brigade Al-Qassam dan perlawanan Palestina lainnya di Tepi Barat tidak memproduksi rokel, bom dan yang lainnya. Jawabannya jelas, mulai dari anak kecil hingga orang tua tahu, bahwa otorias Abbas di Tepi Barat terus memburu para mujahid dan menjebloskan mereka ke dalam penjara. Tidak hanya itu, bahkan otoritas Abbas melakukan kejahatan dengan membunuh sebagian dari mereka.

Intifadhah dan politik

Adapun pada level politik, para pengamat berpendapat bahwa rakyat Palestina telah banyak mendapatkan manfaat dari pengalaman intifadhah al Aqsha di semua tingkatan. Mereka sepakat bahwa pengalaman terlibat dalam spekulasi perundingan adalah sia-sia dan tidak akan memberikan manfaat apa-apa, tidak akan membuat penjajah Zionis mundur dari rencana yahudisasi seluruh tanah Palestina dan menguasainya, tidak akan membuatnya mundur dari semua itu. Sebaliknya perunding Palestina sampai saat ini masih mengemis-ngemis perundingan dan bersikeras untuk melakukan perundingan, meskipun kedapa mata kepalanya melihat kejahatan yang dilakukan penjajah Zionis belum berhenti sama sekali sejak 10 tahun bahkan lebih, di samping aksi yahudisasi, pembangunan permukiman dan perampasan tanah terus dilakukan Zionis secara intensif dan belum pernah terjadi sebelumnya.

Sementara itu pihak lain, yang mewakili perlawanan, yang dipimpin oleh gerakan Hamas, masih tetap meneriakkan suara bahwa tidak ada solusi dengan penjajah kecuali melalui laras senjata dan perlawanan. Mereka menilai bahwa perundingan yang terjadi dengan penjajah Zionis tidak lain hanya membuang-buang dan mengulur waktu di tengah berlanjutnya pembangunan permukiman Zionis dan kejahatan perang yang dilakukan Israel terhadap rakyat Palestina.

Para pengamat berpendapat bahwa rakyat Palestina dengan 10 tahun pengalaman Intifadhah Al-Aqsha, telah semakin sadar dari sebelumnya. Mereka tahu bagaimana harus membela hak-haknya. Para pengamat mencatat perlawanan memiliki perkembangan dalam hal kinerja dan teknik dalam beberapa tahun terakhir ketika mereka mengatahui di mana dan bagaimana menyerang (musuh).

Pertempuran jenis baru

Dalam perkembanga yang luar biasa rakyat Palestina menjalankan pertempuran baru jenis lain yang tidak biasa dilakukan sebelumnya. Di mana bertambahnya kesadaran orang-orang intelek, para pakar hukum dan pembela rakyat Palestina, telah mendorong mereka untuk mengumpulkan dokumen dan bukti-bukti yang menunjukkan keterlibatan penjajah Zionis dalam melakukan kejahatan perang terhadap rakyat Palestina dan mengajukannya ke pengadilan internasional.

Meskipun orang-orang Palestina belum percaya dengan pengadilan internasional ini dan sejauh mana keberpihakan sebagiannya kepada penjajah Zionis, namun mereka masih tetap punya harapan bahwa pada suatu hari nanti bisa melihat para pemimpin penjajah Zionis mendekam di balik jeruji besi untuk mendapatkan balasan atas kejahatan yang mereka perbuat terhadap rakyat yang terisolasi sepanjang puluhan tahun dan waktu yang lama.

Dan Intifadhah Al-Aqsha adalah pengalaman perjuangan Palestina dengan darah dan senjata, yang masih layak untuk dikaji dan juga layak untuk dicoba oleh bangsa-bangsa dan negara-negara Arab, agar mereka bisa mengambil pelajaran dari rakyat Palestina yang terus melanjutkan perjuangan dan perlawanannya tanpa lelah dan jenuh sampai serdadu terakhir Zionis hengkang dari tanah Palestina. (asw)

About these ads

Redaktur: Ulis Tofa, Lc

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (7 votes, average: 9,71 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Tim dakwatuna adalah tim redaksi yang mengelola dakwatuna.com. Mereka terdiri dari dewan redaksi dan redaktur pelaksana dakwatuna.com
  • seharusnya kitapun bisa belajar dari rakyat palestina,lebih baik mati utk menegakan agama.

Lihat Juga

Stadium general di aula Universitas Islam As-Syafiiyah. (aspacpalestine.com)

Peringati Hari Solidaritas Palestina, ASPAC for Palestine Gandeng UIA Gelar Stadium General