Home / Berita / Opini / Argumentasi, Lelaki Shalih, dan Cinta

Argumentasi, Lelaki Shalih, dan Cinta

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
(fanpop)

dakwatuna.com – “Bila seorang laki-laki yang kamu ridhai agama dan akhlaqnya meminang,” kata Rasulullah mengandaikan sebuah kejadian sebagaimana dinukil Imam At Tirmidzi, “Maka, nikahkanlah dia.” Rasulullah memaksudkan perkataannya tentang lelaki shalih yang datang meminang putri seseorang.

“Apabila engkau tidak menikahkannya,” lanjut beliau tentang pinangan lelaki shalih itu, “Niscaya akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang meluas.” Di sini Rasulullah mengabarkan sebuah ancaman atau konsekuensi jika pinangan lelaki shalih itu ditolak oleh pihak yang dipinang. Ancamannya disebutkan secara umum berupa fitnah di muka bumi dan meluasnya kerusakan.

Bisa jadi perkataan Rasulullah ini menjadi hal yang sangat berat bagi para orangtua dan putri-putri mereka, terlebih lagi jika ancaman jika tidak menurutinya adalah fitnah dan kerusakan yang meluas di muka bumi. Kita bisa mengira-ngira jenis kerusakan apa yang akan muncul jika seseorang yang berniat melamar seseorang karena mempertahankan kesucian dirinya dan dihalang-halangi serta dipersulit urusan pernikahannya. Inilah salah satu jenis kerusakan yang banyak terjadi di dunia modern ini, meskipun banyak di antara mereka tidak meminang siapapun.

Mari kita belajar tentang pinangan lelaki shalih dari kisah cinta sahabat Rasulullah dari Persia, Salman Al Farisi. Dalam Jalan Cinta, Salim A Fillah mengisahkan romansa cintanya. Salman Al Farisi, lelaki Persia yang baru bebas dari perbudakan fisik dan perbudakan konsepsi hidup itu ternyata mencintai salah seorang muslimah shalihah dari Madinah. Ditemuinya saudara seimannya dari Madinah, Abud Darda’, untuk melamarkan sang perempuan untuknya.

“Saya,” katanya dengan aksen Madinah memperkenalkan diri pada pihak perempuan, “Adalah Abud Darda’.”

“Dan ini,” ujarnya seraya memperkenalkan si pelamar, “Adalah saudara saya, Salman Al Farisi.” Yang diperkenalkan tetap membisu. Jantungnya berdebar.

“Allah telah memuliakannya dengan Islam dan dia juga telah memuliakan Islam dengan amal dan jihadnya. Dia memiliki kedudukan yang utama di sisi Rasulullah, sampai-sampai beliau menyebutnya sebagai ahli bait-nya. Saya datang untuk mewakili saudara saya ini melamar putri Anda untuk dipersuntingnya,” tutur Abud Darda’ dengan fasih dan terang.

“Adalah kehormatan bagi kami,” jawab tuan rumah atas pinangan Salman, ”Menerima Anda berdua, sahabat Rasulullah yang mulia. Dan adalah kehormatan bagi keluarga ini bermenantukan seorang sahabat Rasulullah yang utama. Akan tetapi hak jawab ini sepenuhnya saya serahkan pada putri kami.” Yang dipinang pun ternyata berada di sebalik tabir ruang itu. Sang putri shalihah menanti dengan debaran hati yang tak pasti.

”Maafkan kami atas keterusterangan ini”, kata suara lembut itu. Ternyata sang ibu yang bicara mewakili putrinya. ”Tapi, karena Anda berdua yang datang, maka dengan mengharap ridha Allah, saya menjawab bahwa putri kami menolak pinangan Salman.”

Ah, romansa cinta Salman memang jadi indah di titik ini. Sebuah penolakan pinangan oleh orang yang dicintainya, tapi tidak mencintainya. Salman harus membenturkan dirinya dengan sebuah hukum cinta yang lain, keserasaan. Inilah yang tidak dimiliki antara Salman dan perempuan itu. Rasa itu hanya satu arah saja, bukan sepasang.

Salman ditolak. Padahal dia adalah lelaki shalih. Lelaki yang menurut Ali bin Abi Thalib adalah sosok perbendaharaan ilmu lama dan baru, serta lautan yang tak pernah kering. Ia memang dari Persia, tapi Rasulullah berkata tentangnya, “Salman Al Farisi dari keluarga kami, ahlul bait.” Lelaki yang bertekad kuat untuk membebaskan dirinya dari perbudakan dengan menebus diri seharga 300 tunas pohon kurma dan 40 uqiyah emas. Lelaki yang dengan kecerdasan pikirnya mengusulkan strategi perang parit dalam Perang Ahzab dan berhasil dimenangkan Islam dengan gemilang. Lelaki yang di kemudian hari dengan penuh amanah melaksanakan tugas dinasnya di Mada’in dengan mengendarai seekor keledai, sendirian. Lelaki yang pernah menolak pembangunan rumah dinas baginya, kecuali sekadar saja. Lelaki yang saking sederhana dalam jabatannya pernah dikira kuli panggul di wilayahnya sendiri. Lelaki yang di ujung sekaratnya merasa terlalu kaya, padahal di rumahnya tidak ada seberapa pun perkakas yang berharga. Lelaki shalih ini, Salman Al Farisi, ditolak pinangannya oleh perempuan yang dicintanya.

Salman ditolak. Alasannya ternyata sederhana saja. Dengarlah. “Namun, jika Abud Darda’ kemudian juga memiliki urusan yang sama, maka putri kami telah menyiapkan jawaban mengiyakan,” kata si ibu perempuan itu melanjutkan perkataannya. Anda mengerti? Si perempuan shalihah itu menolak lelaki shalih peminangnya karena ia mencintai lelaki yang lain. Ia mencintai si pengantar, Abud Darda’. Cinta adalah argumentasi yang shahih untuk menolak.

Ada juga kisah cinta yang lain. Abu Bakar Ash Shiddiq meminang Fathimah binti Muhammad kepada Rasulullah. Ia ingin mempererat kekerabatannya dengan Sang Rasul dengan pinangan itu. Saat itu usia Fathimah menjelang delapan belas tahun. Ia menjadi perempuan yang tumbuh sempurna dan menjadi idaman para lelaki yang ingin menikah. Keluhuran budi, kemuliaan akhlaq, kehormatan keturunan, dan keshalihahan jiwa menjadi penarik yang sangat kuat.

“Saya mohon kepadamu,” kata Abu Bakar kepada Rasulullah sebagaimana dikisahkan Anas dalam Fatimah Az Zahra, “Sudilah kiranya engkau menikahkan Fathimah denganku.” Dalam riwayat lain, Abu Bakar melamar melalui putrinya sekaligus Ummul Mukminin Aisyah.

Mendapat pinangan dari lelaki shalih itu, Rasulullah hanya terdiam dan berpaling. “Sesungguhnya, Fathimah masih kecil,” kata beliau dalam riwayat lain. “Hai Abu Bakar, tunggulah sampai ada keputusan,” kata Rasulullah. Yang terakhir ini diriwayatkan oleh Ibnu Sa’d dalam Ath Thabaqat. Maksud Rasulullah dengan menunggu keputusan adalah keputusan dari Allah atas kondisi dan keadaan itu, apakah menerima pinangan itu atau tidak.

Ketika Umar bin Khathab mendengar cerita ini dari Abu Bakar langsung, ia mengatakan, “Hai Abu Bakar, beliau menolak pinanganmu.”

Kemudian Umar mengambil kesempatan itu. Ia mendatangi Rasulullah dan menyampaikan pinangannya untuk menikahi Fathimah binti Muhammad. Tujuannya tidak terlalu berbeda dengan Abu Bakar. Bahkan jawaban yang diberikan Rasulullah kepada Umar pun sama dengan jawaban yang diberikan kepada Abu Bakar. “Sesungguhnya, Fathimah masih kecil,” ujar beliau. “Tunggulah sampai ada keputusan,” kata Rasulullah.

Ketika Abu Bakar mendengar cerita ini dari Umar bin Khathab langsung, ia mengatakan, “Hai Umar, beliau menolak pinanganmu.”

Kita bisa membayangkan itu? Dua orang lelaki paling shalih di masa hidup Rasulullah pun ditolak pinangannya. Abu Bakar adalah sahabat paling utama di antara seluruh sahabat yang ada. Kepercayaannya kepada Islam dan kerasulan begitu murni, tanpa reverse ataupun setitis keraguan. Karena itulah ia mendapat julukan Ash Shiddiq. Ia adalah lelaki yang disebutkan Al Qur’an sebagai pengiring jalan hijrah Rasulullah di dalam gua. Ia adalah dai yang banyak memasukkan para pembesar Mekah dalam pelukan Islam. Ia adalah pembebas budak-budak muslim yang senantiasa tertindas. Ia adalah lelaki yang menginfakkan seluruh hartanya untuk jihad, dan hanya menyisakan Allah dan Rasul-Nya bagi seluruh keluarganya. Ia adalah orang yang ingin diangkat sebagai kekasih oleh Rasulullah. Ia adalah salah satu lelaki yang telah dijamin menginjakkan tumitnya di kesejukan taman jannah. Namun, lelaki shalih ini ditolak pinangannya secara halus oleh Rasulullah.

Sementara, siapa tidak mengenal lelaki shalih lain bernama Umar bin Khathab. Ia adalah pembeda antara kebenaran dan kebathilan. Ia dan Hamzah lah yang telah mengangkat kemuliaan kaum muslimin di masa-masa awal perkembangannya di Mekah. Ia lelaki yang seringkali firasatnya mendahului turunnya wahyu dan ayat-ayat ilahi kepada Rasulullah. Ia adalah lelaki yang dengan keberaniannya menantang kaum musyrikin saat ia akan berangkat hijrah, ia melambungkan nama Islam. Ia lelaki yang sangat mencintai keadilan dan menegakkannya tatkala ia menggantikan posisi Rasulullah dan Abu Bakar di kemudian hari. Ia pula yang di kemudian hari membuka kunci-kunci dunia dan membebaskan negeri-negeri untuk menerima cahaya Islam. Namun, lelaki shalih ini ditolak pinangannya secara halus oleh Rasulullah.

Mari kita simak kenapa pinangan dua lelaki shalih ini ditolak Rasulullah. Ketika itu, Ali bin Abi Thalib datang menemui Rasulullah. Shahabat-shahabatnya dari Anshar, keluarga, bahkan dalam sebuah riwayat termasuk pula dua lelaki shalih terdahulu mendorongnya untuk datang meminang Fathimah binti Muhammad kepada Rasulullah. Ia menemui Rasulullah dan memberi salam.

“Hai anak Abu Thalib,” sapa Rasulullah pada Ali dengan nama kunyahnya, ”Ada perlu apa?”

Simaklah jawaban lugu yang disampaikan Ali kepada Rasulullah sebagaimana dinukil Ibnu Sa’d dalam Ath Thabaqat. “Aku terkenang pada Fathimah binti Rasulullah,” katanya lirih hampir tak terdengar. Dengar dan rasakan kepolosan dan kepasrahan dari setiap diksi yang terucap dari Ali bin Abi Thalib itu. Kepolosan dan kepasrahan seorang pecinta akan cintanya yang demikian lama. Ia menggunakan pilihan kata yang sangat lembut di dalam jiwa, “Terkenang.” Kata ini mewakili keterlamaan rasa dan gelora yang terpendam, bertunas menembus langit-langit realita, transliterasi rasa.

“Ahlan wa sahlan!” kata Rasulullah menyambut perkataan Ali. Senyum mengiringi rangkaian kata itu meluncur dari bibir mulia Rasulullah. Kita tidak usah sebingung Ali memahami jawaban Rasulullah. Jawaban itu bermakna bahwa pinangan Ali diterima oleh Rasulullah seperti yang dipahami rekan-rekan Ali.

Mari kita biarkan Ali dengan kebahagiaan diterima pinangannya oleh Rasulullah. Mari kita melihat dari perspektif yang lebih fokus untuk memahami penolakan pinangan dua lelaki shalih sebelumnya dan penerimaan lelaki shalih yang ini. Kita boleh punya pendapat tersendiri tentang masalah ini.

Ketika Rasulullah menjelaskan alasan kepada Abu Bakar dan Umar berupa penolakan halus, kita tidak bisa menerimanya secara letter lijk. Sebab bisa jadi itu adalah bahasa kias yang digunakan Rasulullah. Misalnya ketika Rasulullah mengatakan bahwa Fathimah masih kecil, tentu saja ini tidak bisa diterjemahkan sebagai kecil secara harfiah, sebab saat itu usia Fathimah sudah hampir delapan belas tahun. Sebuah usia yang cukup matang untuk ukuran masa itu dan bangsa Arab. Sementara Rasulullah sendiri berumah tangga dengan Aisyah pada usia setengah usia Fathimah saat itu. Maka, kita harus memahami kalimat penolakan itu sebagai bahasa kias.

Saat Rasulullah meminta Abu Bakar dan Umar bin Khathab untuk menunggu keputusan, ini juga diterjemahkan sebagai penolakan sebagaimana dipahami dua lelaki shalih itu. Jadi, pernyataan Rasulullah itu bukan pernyataan untuk menggantung pinangan, sebab jika pinangan itu digantung, tentu saja Umar dan Ali tidak boleh meminang Fathimah. Pernyataan itu adalah sebuah penolakan halus.

Atau bisa jadi, saat itu Rasulullah punya harapan lain bahwa Ali bin Abi Thalib akan melamar Fathimah. Beliau tahu sebab sejak kecil Ali telah bersamanya dan banyak bergaul dengan Fathimah. Interaksi yang lama dua muda mudi sangat potensial menumbuhkan tunas cinta dan memekarkan kuncup jiwanya. Ini dibuktikan dari pernyataan Rasulullah untuk meminta dua lelaki shalih itu menunggu keputusan Allah tentang pinangannya. Jadi, dalam hal ini kemungkinan Rasulullah mengetahui bahwa putrinya dan Ali telah saling mencintai. Sehingga Rasulullah pun punya harapan pada keduanya untuk menikah. Rasulullah hanya sedang menunggu pinangan Ali. Di masa mendatang sejarah membuktikan ketika Ali dan Fathimah sudah menikah, ia berkata kepada Ali, suaminya, “Aku pernah satu kali merasakan jatuh cinta pada seorang pemuda.” Saya yakin kita tahu siapa yang dimaksud oleh Fathimah. Ini perspektif saya.

Hal ini diperkuat oleh pernyataan singkat Ali, “Aku terkenang pada Fathimah binti Rasulullah.” Satu kalimat itu sudah mewakili apa yang diinginkan Ali. Rasulullah sangat memahami ini. Beliau adalah seseorang yang sangat peka akan apa-apa yang diinginkan orang lain dari dirinya. Beliau memiliki empati terhadap orang lain dengan demikian kuat. Beliau memahami bentuk sempurna keinginan seseorang seperti Ali dengan beberapa kata saja.

Dan jawaban Rasulullah pun menunjukkan hal yang serupa, “Ahlan wa sahlan!” Ungkapan sambutan selamat datang atas sebuah penantian.

Jadi, dengan perspektif ini, kita akan memahami bahwa lelaki shalih yang datang untuk meminang bisa ditolak pinangannya, tanpa akan menimbulkan fitnah di muka bumi ataupun kerusakan yang meluas. Wanita shalihah yang dipinang Salman Al Farisi telah menunjukkan kepada kita, bahwa ia mencintai Abud Darda’ dan menolak pinangan lelaki shalih dari Persia itu. Rasulullah pun telah menunjukkan pada kita bahwa ia menolak pinangan dua lelaki tershalih di masanya karena Fathimah mencintai lelaki shalih yang lain, Ali Bin Abu Thalib. Di sini, kita belajar bahwa cinta adalah argumentasi yang shahih untuk menolak, dan cinta adalah argumentasi yang shahih untuk mempermudah jalan bagi kedua pecinta berada dalam singgasana pernikahan.

Mari kita dengarkan sebuah kisah yang dikisahkan Ibnu Abbas dan diabadikan oleh Imam Ibnu Majah. Seorang laki-laki datang menemui Rasulullah. “Wahai Rasulullah,” kata lelaki itu, “Seorang anak yatim perempuan yang dalam tanggunganku telah dipinang dua orang lelaki, ada yang kaya dan ada yang miskin.”

“Kami lebih memilih lelaki kaya,” lanjutnya berkisah, “Tapi dia lebih memilih lelaki yang miskin.” Ia meminta pertimbangan kepada Rasulullah atas sikap yang sebaiknya dilakukannya. “Kami,” jawab Rasulullah, “Tidak melihat sesuatu yang lebih baik dari pernikahan bagi dua orang yang saling mencintai, lam nara lil mutahabbaini mitslan nikahi.”

Cinta adalah argumentasi yang shahih untuk menolak. Di telinga dan jiwa lelaki ini, perkataan Rasulullah itu laksana setitis embun di kegersangan hati. Menumbuhkan tunas yang hampir mati diterpa badai kemarau dan panasnya bara api. Seakan-akan Rasulullah mengatakannya khusus hanya untuk dirinya. Seakan-akan Rasulullah mengingatkannya akan ikhtiar dan agar tiada sesal di kemudian hari.

“Cinta itu,” kata Prof. Dr. Abdul Halim Abu Syuqqah dalam Tahrirul Ma’rah fi ‘Ashrir Risalah, “Adalah perasaan yang baik dengan kebaikan tujuan jika tujuannya adalah menikah.” Artinya yang satu menjadikan yang lainnya sebagai teman hidup dalam bingkai pernikahan.

Dengan maksud yang serupa, Imam Al Hakim mencatat bahwa Rasulullah bersabda tentang dua manusia yang saling mencintai. “Tidak ada yang bisa dilihat (lebih indah) oleh orang-orang yang saling mencintai,” kata Rasulullah, “Seperti halnya pernikahan.” Ya, tidak ada yang lebih indah. Ini adalah perkataan Rasulullah. Dan lelaki ini meyakini bahwa perkataan beliau adalah kebenaran. Karena bagi dua orang yang saling mencintai, memang tidak ada yang lebih indah selain pernikahan. Karena cintalah yang menghapus fitnah di muka bumi dan memperbaiki kerusakan yang meluas, insya Allah.

Cinta adalah argumentasi yang shahih untuk menolak, dan cinta adalah argumentasi yang shahih untuk mempermudah jalan bagi kedua pecinta berada dalam singgasana pernikahan.

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (202 votes, average: 9,51 out of 10)
Loading...Loading...
Shabra Syatila lahir dan tumbuh dewasa di Yogyakarta. Sejak SD hingga SMA diselesaikan di Yogyakarta. Ia menggodok dirinya dalam dunia tarbiyah di sebuah kampus di bilangan Bintaro, Tangerang Selatan.  Meskipun merupakan produk sekolah sekuler, ia sempat mengenyam pendidikan di salah satu ma'had di Jakarta. Sekarang mengabdikan diri di salah satu  kementerian di Sulawesi Utara,  dimana Nabi Yusuf pernah menjabat sebagai pemimpinnya. Baginya, menulis adalah bagian dari memberikan yang terbaik yang bisa dilakukan untuk Allah. Kecintaannya kepada ilmu menjadikannya senantiasa ingin belajar dan terus belajar di universitas kehidupan. Saat ini, statusnya sudah menikah dengan satu istri.http://hasanalbanna.com

Lihat Juga

Forum Mahasiswa Muslim Indonesia di Taiwan (Formmit) bekerja sama dengan Takmi Masjid menyelenggarakan kegiatan yang sangat dinanti remaja Indonesia yang ada di Taiwan, yaitu “Pranikah Hingga Pelaminan” (PHP), Sabtu (4/4/2015). (Anggi Lukman Wicaksana)

Mahasiswa Muslim Indonesia di Taiwan Gelar PHP (Pranikah Hingga Pelaminan)

  • Rosmarosita Singara

    sangat menyentuh hati kisahnya…& mengandung banyak ibrah…

  • Fadillah

    nice posting ^^
    Barakallahu fiik…

  • titi

    subhanallah…. selain kesholehan, perasaan cinta pun harus diperhitungkan dalam memilih pasangan hidup…

  • abdullah

    Assalamu’alaikum..
    bgmn bila keduanya saling mencintai tapi ortu menolak tanpa alasan yg jelas??? sepertinya hal seperti ini banyak terjadi di zaman sekarang

  • abdullah

    Assalamu’alaikum..
    bgmn bila keduanya saling mencintai tapi ortu menolak tanpa alasan yg jelas??? sepertinya hal ini banyak terjadi di zaman sekarang

    • Afi

      Saya juga ingin menanyakan tentang hal ini…Apalagi perempuan tidak bisa berbuat apa-apa karena yang menjawab adalah walinya…

  • mulyani

    subhanallah..luar biasa, ternyata cinta tdk dinafikan dlm memilih pasangan selama berada dlm batasan syar’i

  • rikishi

    Subhanallah, wal hamdulillah , allahu akbar…sungguh karya luar biasa bung kun, teruslah berkarya ..mudah2an 4Wi selalu memudahkan segalanya..

  • Baiq Winny

    Iya..2 org sling mencintai tidak direstui itu bukan jodoh yg dipilihkan Allah terima dgn ikhlas itu takdir.maaf lancang menjawab salam..

  • nisa

    assalamualaikum…subhanallah….pnjlasan ini mnghlngkan kbingungn ana slama ini….syukron…alhamdulillah…^_^

  • Muslimah

    Semoga allah swt memberikan seseorang yang aku cintai dan mencintaiku dalam sebuah ikatan pernikahan …. amin

  • Reni

    Subhanalloh…subhanalloh…subhanalloh…memang betul jika kita menikah dg orng yg tdk kita cintai, maka akan sulit untuk menjalaninya cz tdk ada rs cinta dlm diri…wallohu’alam bishawab

  • Kaysa

    Tetapi cinta yang murni dan bersihlah yang memang pantas diperjuangkan yaitu sebuah cinta yang tetap terjaga dari duri-duri keinginan memiliki berlebihan, sehingga melampaui batas akan ketetapan pasangan jiwa oleh Allah swt.

  • nira, SMP IT CORDOVA

    Subhanallah….. mintalah kepada sang pemilik cinta u/selalu memiliki rasa cinta…

  • fajar

    sepertinya cinta yang dijelaskan dalam tulisan ini bukanlah cinta ‘monyet’ yang sering diperbincangkan oleh para remaja. tapi cinta yang tulus yang disemai oleh yang Maha Mencintai, yaitu Allah swt

  • anis

    Subhanallah, sampai tidak dapat berkata-kata lagi…
    rasanya damai dan tenang sekali membaca ini, semoga cinta–yang kalau memang ada–ini dijagaNya selalu di jalanNya, dan senantiasa menujuNya :)

    Jazakumullah khoir untuk artikel yang menyejukkan ini ^_^

  • syarifah Anna

    perfect love

  • Icha

    Subhanalloh,,, ^^

    Kunichiro….
    ane selalu inget kata-kata antum…
    “Jika Cinta adalah hak maka memperjuangkannya adalah kewajiban”
    hehe…
    Mari berjuang ^^

  • Lina Ariyanti Rosalin

    Cinta yang paling indah adalah cinta karena ALLAH SWT…

  • nuhaila

    smg generasi masa ini bijak menerjemahkan “cinta di jalan dakwah” Amiin Allahumma Amiin.

  • dessy

    berarti aku bisa menunggu orang yang aku cintai datang meminang ku?

  • tiaza

    subhanalloh.. begitu indah arti cinta terukir dalam islam subhanalloh..

  • arie

    So sweet….tulisan yang menyentuh mbak/mas Shabra Shatila, bisa menikah dengan orang yang kita cintai (sebelum menikah) adalah karunia Allah, tapi bila tidak diawali dengan cinta, setelah menikah masih ada peluang besar untuk saling mencintai, selama keduanya sama-sama mencintai Allah, memohon cinta dari Sang Maha Cinta.

  • sri mulyati

    izin copi ya…

  • Akhwatunnisa

    Subhanallah.. <3

  • jasmine

    Terima kasih, sebuah pencerahan..Insya Allah nantinya mencintai karena Allah..

  • Udin

    Hmm.. indahnya, Subhanallah..
    betapa beruntungnya yang bisa seperti itu, smg shahih

  • budi

    Ya Allah semoga kisah indah Rasulullah dan Ali dapat kualami bersama putriku

  • darmojo

    semoga ALLAH membukaan pintu orang tua yg memgerti akan pernikaan yg dsunahkan Rasulullah.amiiii……..n

  • saif

    subhanallah. Begitulah proses pernikahan antara beberapa sahabat Rasulullah. Mereka sudah saling mengenal, seperti Ali dan Fathimah radhiyallahu ‘anhumaa, sebelum melangsungkan pernikahan.

    • Andrandri

      1.Tentu wajar, dengan iman mereka yg benar2 kuat.
      Apakah krn nafsu semata? Tentu tidak, wahai saudaraku.
      2. Itulah manfaat ta’aruf.. jika blm kenal, cari tahulah..
      Jika sdh kenal, luruskanlah niat..

  • Mirzalfian

    luar biasa

  • Latief

    Cerita cinta yg menentramkan hati ini
    Trima kasih

  • dedy h

    alhamdulillah , manjadi lebih mengetahui tentang proses pernikahan pada zaman rosulullah. semoga bisa menjadi tauladan untuk umat ini

  • ummu adzkiya

    “Cinta adalah argumentasi yang shahih untuk menolak, dan cinta adalah argumentasi yang shahih untuk mempermudah jalan bagi kedua pecinta berada dalam singgasana pernikahan.”

    apakah ini berarti, jika tak ada rasa, maka itu bisa dijadikan argumentasi untuk menolak lelaki yang datang?

  • ema

    ijin share ya

  • a.rochim

    bagus sekali, kisah cinta yg benar2 dilandasi oleh jiwa yg ikhlas karena-NYA.

    Izin share ya.

  • sri mulyati

    izin share ya…..syukron

  • agus siswanto

    cinta di landasi dengan iman dan keikhlasan yang tertanam di belahan jiwa seseorang, yang akan bertemu akan merasakan ketenangan jiwa, dan sebagai jembatn menuju syurga. dan semoga ku mendapat kan wanita yang sholikhah,yang mampu berjalan bersama ke jalan yang di ridhoi ALLOH. Amiiiin

  • Ubaidithu Notmyname

    Maha Suci Allah yang telah menganugerahkan cinta kepada manusia. Dalam dunia ini hendaklah mencintai segala sesuatu semata hanya karena Allah Swt.

  • salman

    sebuah renungan … utk yang segera menikah. siap ditolak jangan putus asa

  • Kripik_Singkong81

    Tolong Dakwatuna sampaikn ke mbk atau mas shabra Shatilla, u/ memberikn kisah” para sahabat Rasululloh ttng bgmn menjg hati dan cinta sebelum menikah sbg penyeimbang, karena beberapa teman terbawa spirit ini tapi sayangnya mrk menunggu org2 yg dicintainya pdhl umur sdh sngt melebihi ckp umur,,, bs jd fitnah dn kerusakan datang beneran

    • Ibnu Sya’ban

      Sepertinya tulisan yang ini memang tulisan yang dibuat secara parsial. Nampak dari tulisan2 yang lain dimana juga dibuat secara parsial pada satu tema tertentu. Jadi, penulis sepertinya ingin agar pembaca membaca seluruh tulisan dari penulis.

      Misalnya pada judul “Argumentasi, Lelaki Shalih, dan Cinta” ini, penulis juga menyertakan penyeimbang bagi perempuan2 yang memilih “menunggu” orang yang dicintainya, dengan memaparkan solusi parsial pada tulisan yang berjudul “Juang Cinta Para Wanita.”

      CMIIMW

    • Dafa_manies

      oh begitu yh pak kripik,

  • http://www.facebook.com/ayhayy Rizki Firdianita

    Lantas jika sdh berumur msh sj menunggu orng yg dicinta? stidaknya artikel ini hrs ada pemaparan scr jls ttng kisah2 cinta dr pr sahabat yg lebih mengedepankn cinta karena Alloh yg tumbuh setelah menikah, shg akn mnjd penyeimbang dn tdk letter lek dijadikan patokan oleh bnyk org yg blm phm betul agama

  • http://www.facebook.com/ayhayy Rizki Firdianita

    Lantas jika sdh berumur msh sj menunggu orng yg dicinta? stidaknya artikel ini hrs ada pemaparan scr jls ttng kisah2 cinta dr pr sahabat yg lebih mengedepankn cinta karena Alloh yg tumbuh setelah menikah, shg akn mnjd penyeimbang dn tdk letter lek dijadikan patokan oleh bnyk org yg blm phm betul agama

  • http://www.facebook.com/puji.slowbutsure Pujianto Pyc

    menarik. ijin copy ya. :).

  • http://profiles.yahoo.com/u/WHP2F2YOBRLUSW52UPRYY5ZNRI Yoga

    bener2 manteppp..romeo n juliet jaoohhh..

  • http://farhansyaddad.wordpress.com/ abifasya

    Kisah yang sangat luarr biasa, izin COPAS

  • Harfan

    itu berarti aisyah r.a. nggak nikah pada usia 9 tahun…

  • Harfan

    itu berarti aisyah r.a. nggak nikah pada usia 9 tahun…

  • Harfan

    itu berarti aisyah r.a. nggak nikah pada usia 9 tahun…

  • wahyudi

    Membaca karya Shabra Shatilla serasa mewarnai dunia sastra tersendiri. Bahasa-bahasa dan kisah-kisahnya amat inspirasi… pengen belajar nih…

  • NESIST

    dari judulnya sih memang menarik, tp ternyata isinya menurut saya kurang. bukan ttg kisah cinta para sahabat, namun lebih dari itu.
    Bagaimana bila ditambahkan sedikit kata pada judulnya “Argumentasi Lelaki Shalih saat ini terhadap Cinta.” saya ingin mengetahui lebih jauh soal pandangan para pria dalam memutuskan siapakah yang akan menjadi pendamping hidupnya.

  • Fiptiloli

    subhanallah….ini yang saya tunggu-tunggu….
    izin share ya….

  • Hidden Pearl

    Subhanallah.
    Betapa Cinta itu adalah anugerah terindah.

  • Hidden Pearl

    Subhanallah.
    Betapa Cinta itu adalah anugerah terindah.

  • http://www.facebook.com/noormeisya.youmanies Noormeisya Youmanies

    Subhanallah.
    Betapa Cinta adalah anugerah terindah.

  • sakura efs

    ijin copas

  • sakura efs

    ijin copas

  • riri

    Ana setuju jika yg dimaksud dgn ‘cinta’ disini sbg ‘kerelaan’ atau ‘kecenderungan’, karena dlm muamalah maupun hubungan antar manusia memang hal itulah yg dicari, sbgmana keikhlasan dipandang sbg kondisi yg terbaik dlm beribadah kpd Allah SWT. smoga Allah snantiasa melembutkan hati kita dan menumbuhkan sifat Rahman-Rahiim pada kita smua… wallahu a’lam.

  • Safri

    Subhanallah…