Home / Berita / Internasional / Australia / Muslim Australia Temui Kesulitan Bangun Masjid

Muslim Australia Temui Kesulitan Bangun Masjid

Ilustrasi - Salah satu Masjid di Australia (islamicawakening)

dakwatuna.com – Brisbane. Keinginan komunitas Muslim di negeri kanguru Australia untuk mendirikan masjid atau pusat peribadatan menemui kesulitan yang meningkat sejak peristiwa 11 September 2001 di New York, kata satu sumber.

Namun alasan yang melandasi penolakan proyek pembuatan masjid lebih disebabkan oleh ketidakpahaman tentang Islam, kata Ketua Program Pembangunan Masjid Algester Brisbane, Abdul Rahman Deen, kepada ANTARA di Brisbane, Selasa.

“Saat ini memang lebih sulit (untuk mendirikan masjid-red) dibandingkan sebelum kejadian 11 September 2001,” katanya.

Menurut dia, masyarakat lebih waspada terhadap pembangunan masjid tapi keberatan mereka itu lebih disebabkan oleh kurangnya pengetahuan mereka tentang Islam dan bagaimana Muslim beribadah.

Lebih lanjut Deen mengatakan bahwa saat ini di Brisbane terdapat 10 masjid yang sudah terbangun dan sedang dalam proses pembangunan.

Ketika proposal pembangunan Masjid Algester disampaikan kepada Balai Kota, masyarakat setempat diberikan kesempatan untuk menyampaikan keberatan mereka dalam kurun waktu 21 hari.

Pada saat itu, ujar Deen, ada dua pernyataan penolakan dari warga setempat sehingga Balai Kota meminta agar proyek Masjid Algester menyelesaikan masalah ini terlebih dahulu.

“Yang mereka khawatirkan biasanya soal parkir. Ada juga yang menduga masjid akan menimbulkan kebisingan karena setiap azan akan menghasilkan suara layaknya gereja membunyikan bel. Mereka takut nanti masjid membunyikan bel atau azan 5 kali sehari secara nyaring, dan kami bilang kami tidak akan seperti itu,” ujar Deen.

Kurangnya pengetahuan masyarakat lokal tentang Islam juga membuat panitia pembuatan masjid harus mengupayakan agar nilai-nilai dan ajaran Islam tersampaikan kepada masyarakat.

Deen juga mengatakan bahwa agar proposal pembangunan masjid tidak terlalu sulit, bunyi proposal haruslah disebut sebagai proyek pembangunan rumah ibadah, bukan pembangunan masjid.

“Tempat ibadah bisa untuk gereja, kuil, masjid. Apa saja yang penting rumah ibadah,” katanya.

Beberapa masjid di Brisbane saat ini adalah dulunya gereja, namun oleh orang Islam dibeli dan dialihkan menjadi masjid, suatu proses yang relatif lebih mudah daripada pembuatan masjid baru.

Terkait dengan persepsi masyarakat Australia secara umum, Deen menyebutkan bahwa banyak orang Australia tidak terlalu takut dengan arus Islamisasi atau terorisme yang kerap dilekatkan dengan komunitas muslim.

“Sekitar sembilan dari 10 orang Australia tidak mempraktikkan agama yang mereka anut. Tapi mereka akan berkata kepada kita sebagai Muslim `Saya tidak mempraktikkan agama, kamu mempraktikkan ajaran agama kamu dan saya menghormati kamu atas itu`,” demikian Deen memaparkan. (ANT/A024)

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (7 votes, average: 9,57 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Tim dakwatuna adalah tim redaksi yang mengelola dakwatuna.com. Mereka terdiri dari dewan redaksi dan redaktur pelaksana dakwatuna.com

Lihat Juga

Evaluasi 2 Tahun Pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla: Sektor Industri dan Pembangunan