23:10 - Rabu, 26 November 2014

Semoga Allah Menjadikan Kita Hamba yang Istiqamah

Rubrik: Opini | Kontributor: Dawud - 21/09/10 | 11:23 | 12 Shawwal 1431 H

Ilustrasi (wordpress/obeyd)

dakwatuna.com – Alhamdulillah di hari yang telah menjauh dari Ramadhan ini, kita masih diberikan kekuatan oleh Allah untuk mengamalkan amal ibadah sunnah. kita masih mampu untuk sahur dan shaum Syawal, kemudian subuh berjamaah di masjid, membaca al ma’tsurat, serta shalat dhuha. Ini adalah karunia agung yang mesti kita syukuri. Mengapa? karena menjadi hal terberat untuk menjalankan amalan sunnah yang telah disebutkan tadi, di bulan Syawal yang hanya beberapa hari jaraknya dari bulan Ramadhan. Inilah tipu daya setan yang begitu lembut, membisikkan ke telinga kita agar bersantai sejenak setelah di sepanjang Ramadhan kemarin kita giat beribadah. Santai saja, jangan terlalu terburu-buru beramal.. bukankah Ramadhan lalu kita sudah banyak beramal? tenang saja, Syawal masih panjang..shaum sunnah bisa kapan saja, makanlah yang banyak hari ini. begitulah kira-kira suara-suara menggoda yang di bulan Syawal ini begitu banyak menelan korban. adakah kita salah satunya. Itu sebabnya kita wajib bersyukur kepada Allah manakala hari ini kita tetap istiqamah untuk meningkatkan amal ibadah, di Ramadhan atau setelah dan sebelumnya.

Memang kunci kekuatan iman adalah keteguhan (istiqamah). Banyak ayat yang menjelaskan keutamaan istiqamah. Di antaranya adalah QS. Fushillat : 30. Sungguh berbahagia mereka yang istiqamah, yaitu mereka yang terus menerus melaksanakan seluruh perintah Allah serta menjauhi larangan NYA (Al Hasan), memegang teguh Syahadat mereka hingga bertemu dengan Robbul ‘alamin (Imam Mujahid dan Ikrimah), serta teguh dalam mengenal dan mencintai Allah hingga tidak murtad (Imam Muqotil). Kepada merekalah yang istiqamah, kelak malaikat turun untuk menemani, baik ketika ajal menjelang (Ibnu Abbas ra), ketika di alam Kubur, serta ketika dibangkitkan kembali di hari Perhitungan (Qiyamah) – Waki’ bin Jarah -. Orang-orang yang teguh pendirian pun akan senantiasa optimis dan Allah angkat rasa takut dalam diri mereka akan kehidupan di masa hadapan yaitu di akhirat serta kehidupan yang telah berlalu baik terkait dengan kehidupan berkeluarga atau dalam membimbing anak-anak (Imam Mujahid). Orang-orang Istiqamah pun tidak akan takut dan bersedih karena mereka yakin Allah akan mengampuni dosa-dosa mereka (Atho bin Abi Robah) serta akan mendapatkan kabar gembira berupa surga di akhirat sana. (Tafsir Ma’alim al Tanzil Karya Imam al Baghawi).

Namun istiqamah itu tidak akan di diamkan begitu saja. Allah pasti akan menguji keistiqamahan kita dengan ujian yang bisa jadi tidak kita perkirakan sebelumnya. istiqamah itu memang bukan hiasan bibir tapi amalan yang perlu pembuktian. jika saja istiqamah hanya lantunan suara ceramah para dai, tentu banyak yang telah menjalankannya. Namun sayang, sekali lagi bahwa istiqamah itu memang benar-benar membutuhkan pembuktian.

Tidak usah jauh-jauh kita mencari bukti ujian istiqamah itu. Bukankah hari ini di bulan Syawal ini keistiqamahan kita pun tengah di uji, apakah kita tetap giat beribadah seperti di bulan Ramadhan atau bahkan sebaliknya? amal ibadah kita menjadi lemah dan melempem pasca Ramadhan. Sungguh menyedihkan seandainya secara drastis ibadah kita mendadak turun pasca Ramadhan. Bisa jadi hal ini menandakan dua hal. Pertama, tidak mabrur nya Ramadhan kita atau kedua lemahnya keistiqamahan kita. Terlebih apa yang terjadi di tengah masyarakat Muslim hari ini. sangat terasa betul turunnya semangat ibadah itu pasca Ramadhan. Tarawih yang setiap malam Ramadhan ditegakkan, kini tinggal cerita saja. shalat wajib berjamaah di masjid pun sudah menjadi kenangan yang sudah tak diceritakan lagi. Al-Qur’an pun kembali terlantar, setelah di bulan Ramadhan dengan penuh semangat hingga tengah malam di baca sampai khatam. semua nya kini kembali kepada kemalasan untuk beribadah. Mengapa ini terjadi? bahkan berulang-ulang di setiap tahunnya. Mungkin salah satu penyebabnya adalah kondisi para dai di tengah masyarakat itu sendiri mengalami penurunan dalam ibadah. ibarat pepatah yang sangat populer mengatakan Guru kencing berdiri, murid kencing berlari. Dai lemah beribadah, umat pun lari darinya.

sekali lagi, memang istiqamah itu mudah untuk diucapkan, tapi ia butuh pembuktian. Istiqamah terkadang begitu ringan di bibir, tapi berat di perbuatan. Surga memang begitu indah dan dipenuhi dengan kenikmatan dalam makna yang sesungguhnya. namun bukan perkara mudah untuk memasukinya. namun yang pasti Allah telah menjamin orang-orang yang istiqamah pasti akan mendapatkan kabar gembira berupa surga. lalu bagaimana dengan kita? Yakin masuk surga? Semoga Allah menjadikan kit semua hamba-hamba yang istiqamah. Aamiin.

Tentang Dawud

Ketua IKADI Kota Dumai - Riau [Profil Selengkapnya]

Redaktur: Hendra

Keyword: , ,


Beri Nilai Naskah Ini:

Nilai 1Nilai 2Nilai 3Nilai 4Nilai 5Nilai 6Nilai 7Nilai 8Nilai 9Nilai 10 (35 orang menilai, rata-rata: 9,14 dalam skala 10)
Loading...Loading...


Akses http://m.dakwatuna.com/ dimana saja melalui ponsel atau smartphone Anda.
Iklan negatif? Laporkan!
  • Ajang Saripudin

    Assalamu’alaikum
    Taqobbalallohu minna waminqum, minala’idzin walfaaidzin
    Terimakasih kepada tim Da’watuna yang telah istiqomah mengirimkan/menyampaikan artikel/tausyiahnya. Bagi saya sangat membantu & mengingatkan aktivitas yang dilakukan/dikerjakan sehari-hari.

    Wassalam
    Ajang & Keluarga

  • edi handoko

    subhanallah, semoga hambamu ini tetap istiqomah… dan selalu dalam lindunganmu….amin

  • ana

    “Yaa Muqallibul quluub tsabbit qalbi ‘alaa diinik”, amiin..

  • sary

    Subhanallah… smg bisa memotivasi diri. Mohon izin tag ya

  • Edi Hendra

    semoga kita diberikan hidayah untuk dapat istiqomah dalam keimanan. aamiiin….

Iklan negatif? Laporkan!
74 queries in 2,082 seconds.