Home / Narasi Islam / Resensi Buku / Ma’alim fi Ath-Thariq (Review)

Ma’alim fi Ath-Thariq (Review)

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

dakwatuna.comMa’alim fi Ath-Thariq (معالم في الطريق) adalah buku yang fenomenal dan revolusioner. Mengapa fenomenal? Sebab buku ini telah membuat penulisnya, Sayyid Quthb, digantung. Sedangkan para pembacanya di banyak negara, dicurigai; kalau-kalau mereka bisa menjadi teroris. Buku ini sempat dilarang di beberapa negara yang represif seperti Mesir, negara asal Sayyid Quthb dan Ma’alim fi Ath-Thariq. Bahkan, buku ini direkomendasikan dilarang oleh intelijen di negeri ini.

Buku ini dikatakan revolusioner karena ia hadir dengan ide yang berbeda dengan kebanyakan buku-buku lain yang sezaman dengannya. Saat itu memang banyak negara muslim yang sudah memerdekakan diri dari penjajah. Namun problem ternyata tidak serta merta berakhir. Di antara problem baru itu adalah, para penguasa militer atau otoriter yang menguasai sebagian besar negara muslim. Mereka memandang Islam sebagai ancaman, dan tidak ingin Islam menjadi way of life. Di sisi yang lain, umat Islam terpuruk dalam keterbelakangan dan tidak percaya diri dalam menghadapi Barat.

Manhaj Islam untuk Kebangkitan Umat

Ide-ide Sayyid Quthb dalam Ma’alim fi Ath-Thariq yang sebenarnya diambilkan dari manhaj Islam ini dianggap baru karena sekian lama ia terpendam dalam puing-puing sejarah umat. Prinsip dakwah dalam manhaj Al-Qur’an, Jihad fi sabilillah, dan ketauhidan. Ini bukan sesuatu yang baru mestinya, dari dulu sudah ada. Namun, dengan metode yang sistematis dan gaya bahasa yang khas, Sayyid Quthb menjadikan hal-hal itu lebih hidup dan memiliki daya dobrak! Ia menjadi penyemangat serta menumbuhkan ruh juang bagi pembacanya.

Ma’alim fi Ath-Tahriq ini terdiri dari 12 bab dan diawali dengan mukadimah. 4 bab di antaranya merupakan intisari Tafsir Fi Zhilalil Qur’an, yaitu; طبيعة المنهج القراني (Karakter Manhaj Al-Qur’an), التصور الإسلامي والثقافة (Pandangan Islam dan Kebudayaan), الجهاد في سبيل الله (Jihad fii Sabiilillah), dan نشأة المجتمع المسلم وخصائصه (Tumbuhnya Masyarakat Muslim dan Karakteristiknya). Sementara 8 bab lain merupakan bab yang perlu dituliskan Sayyid Quthb untuk memperjelas dan memperkuat inti sari itu di samping untuk memenuhi tujuan utama buku ini ditulis. Yakni, sebagai petunjuk jalan yang akan dilalui para pionir kebangkitan umat, yang juga akan ditunjukkan kepada umat. Dengan adanya pionir inilah umat akan bangkit. Dengan eksisnya umat Islam inilah tugas manusia sebagai khalifah dan abdullah serta peran umat Islam sebagai ummatan daa’iyan dan ummatan syaahidan bisa diimplementasikan. Dengan demikian, kepemimpinan barat yang rapuh karena tidak memiliki “nilai-nilai” yang membuatnya layak memimpin akan diambil alih oleh umat Islam.

Jika pionir kebangkitan umat menginginkan keberhasilan sebagaimana keberhasilan generasi pertama, mereka harus meneladani karakter mereka. Oleh Sayyid Quthb mereka disebut جيل قراني فريد (Generasi Qur’ani yang Istimewa), yang juga dijadikan judul bab setelah mukadimah. Ada 3 faktor utama keberhasilan generasi ini; sumber rujukannya adalah Al-Qur’an dan steril dari pengaruh manhaj lain, mereka mempelajari Al-Qur’an untuk mengamalkan/mengaplikasikan, dan saat mereka masuk Islam dan mendapat Al-Qur’an seketika mereka melepas seluruh kejahiliyahan.

Al-Qur’an telah mengajarkan jalan dakwah bagi generasi pertama umat ini, جيل قراني فريد (Generasi Qur’ani yang Istimewa). Dan manhaj Al-Qur’an dalam dakwah ini seharusnya diikuti oleh para pionir kebangkitan umat. Bagaimana karakteristiknya? Sayyid Quthb menjelaskan bahwa jalan pertama adalah pembinaan aqidah. Inilah yang serius dilakukan selama 13 tahun fase Makkiyah, dan Al-Qur’an tidak melompat pada pembahasan lain, apalagi masalah cabang/furu’iyah. Ini pula yang dijadikan seruan dakwah oleh Rasulullah, meskipun peluang mendapatkan perlawanan lebih besar dari pada dakwah lain. Rasulullah tidak mendakwahkan nasionalisme Arab, tidak pula keadilan sosial dan perbaikan moral. Meskipun ketiga hal terakhir ini peluangnya lebih besar untuk didukung orang-orang Arab, tetapi ia bisa menjadi tuhan baru atau bersifat rapuh. Sedangkan aqidah, tauhid, ia akan terpatri kuat memberi daya dorong yang hebat, di samping itulah kebenaran hakiki yang harus menjadi pondasi setiap perubahan.

Perubahan yang terjadi karena tauhid adalah perubahan revolusioner pada diri seseorang atau bangunan umat. Sebab perubahan Islam berarti peralihan dari mengikuti manhaj makhluk menuju manhaj Pencipta. Perubahan Islam berarti meninggalkan sistem produk manusia untuk memilih sistem ciptaan Allah. Perubahan Islam berarti mencampakkan hukum buatan hamba untuk merengkuh dan mengaplikasikan hukum Allah. Perubahan inilah yang akan memuliakan manusia, serta membawa mereka menuju rahmat, setelah hidup penuh dengan kehinaan dan kelemahan.

Pionir umat yang akan melakukan misi perubahan revolusioner ini harus percaya diri dengan manhajnya; manhaj Islam, manhaj Al-Qur’an. Maka, persoalan jihad juga harus diterima apa adanya sebagaimana konsep Al-Qur’an yang telah dijelaskan Sayyid Quthb dalam Fi Zhilalil Qur’an saat menafsirkan surat Al-Anfal dan At-Taubah. Intinya, jihad bukan defensif, tetapi ofensif. Manhaj yang sama seperti dipahami Ibnul Qayyim dalam Zaadul Maad. Saat dakwah dihalangi oleh kekuatan politik atau kekuasaan, maka jihad harus menetralisasi kekuatan itu sehingga dakwah bebas disebarkan. Konsep inilah yang ditakuti oleh musuh-musuh Islam termasuk Inggris pada waktu itu sehingga mereka memesan kematian Sayyid Quthb kepada pemerintahan Gamal Abdul Nasir.

Kekeliruan

Ma’alim fi Ath-Thariq adalah buku yang luar biasa. Namun, bukan berarti ia tidak lepas dari kekeliruan. Tulisan Sayyid Quthb dalam bab لااله الا الله منهج حياة (Laa ilaaha Illallah Manhaj Kehidupan) yang membagi manusia menjadi masyarakat Islam dan masyarakat jahiliyah, lalu menyatakan bahwa masyarakat sekarang (saat Ma’alim fi Ath-Thariq ditulis) semuanya masyarakat jahiliyah merupakan sebuah kekeliruan. Tetapi, jika kita mengetahui latar belakang kondisi dan situasi saat Sayyid Quthb menulis buku ini, kita akan bisa memaklumi kekeliruan ini terjadi. Dan, jika kita membandingkannya dengan Fi Zhilalil Qur’an, tampak bahwa ini sebatas kekeliruan, bukan manhaj takfir sebagaimana yang dituliskan orang-orang yang membencinya.

Ilham?

Tulisan Sayyid Quthb dalam bab terakhir هذا هو الطريق (Inilah Jalan Itu) seakan-akan seperti ilham yang dianugerahkan Allah SWT bahwa ia hidup tidak lama lagi. Tiang gantungan telah menunggunya. Dalam bab ini ia mengakhiri buku terakhirnya ini dengan menjelaskan bahwa para pekerja Allah bukan penentu hasil, mereka hanya perlu beramal. Bisa jadi mereka mendapatkan kemenangan dan berkuasa untuk menegakkan dinullah, bisa jadi ia seperti kisah ashaabul ukhdud; mati namun keimanan telah menyebar, kemenangan hakiki di sisi Allah SWT.

Maka, para pekerja Allah pasti mendapatkan 4 hal. Pertama, hasil di dunia berupa ketenteraman hati, perasaan bangga, bebas dari tarikan dan ikatan, takut dan bimbang. Kedua, saat meninggalkan dunia berupa sanjungan dari malaikat dan kehormatan. Ketiga, di akhirat ia mendapatkan hisab yang mudah dan kenikmatan yang besar. Keempat, ridha Allah SWT.

Tulisan ini disarikan dari Bedah Buku معالم في الطريق oleh penulis pada 20 Ramadhan 1430 H di Masjid KH. Faqih Usman, UMG.

(hdn)

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (31 votes, average: 9,32 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Abu Nida
Alumni Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG). Sewaktu kuliah, ayah dua orang anak ini aktif di sejumlah organisasi kemahasiswaan. Menjadi Sekretaris Umum Himafai UMG selama dua periode, Kadep Kaderisasi dan MP (Majelis Permusyawaratan) KAMMI Gresik. Pernah juga menjadi Ketua UKMKI Untag Surabaya. Saat ini mendapatkan amanah sebagai Sekretaris Yayasan Al-Ummah, Ketua Lajnah Tarbiyah Thulabiyah Kabupaten Gresik, dan Trainer Trustco Gresik.
  • Mohamad Rosyid

    Dari tulisan Sayyid Quthb dalam bab terakhir هذا هو الطريق (Inilah Jalan Itu) seakan-akan seperti ilham yang dianugerahkan Allah SWT bahwa ia hidup tidak lama lagi. Tiang gantungan telah menunggunya. Dalam bab ini ia mengakhiri buku terakhirnya ini dengan menjelaskan bahwa para pekerja Allah bukan penentu hasil, mereka hanya perlu beramal. Bisa jadi mereka mendapatkan kemenangan dan berkuasa untuk menegakkan dinullah,
    SUBAHANALLOH
    LAAKHOUFUN ALAIHIM WALAAHUM YAHJANUUN

  • Kiko

    Hamasah. Membaca tulisan-tulisan Sayyid Quthb memang menambah semangat juang. Suka dengan review ini. Jazaakallah khair.

  • Taufik

    Sayyid Qutb dan bukunya ma’alim fi at thariq harus menjadi rujukan utama bagi aktivi dakwah

  • Fajel

    betapa berharganya iman (terlebih jika membaca Fi Zhilalil Qur’an) dan betapa iman itu menuntut perubahan dari setiap individu dari sisi penghambaannya hanya kepada Allah dalam artian yang sebenarnya, dari segi kehidupan yaitu dari kesempitan hidup di dunia menuju kelapangan hidup di dunia dan akhirat, dan dari sisi perjuangan yaitu dari kelaliman berbagai agama menuju keadilan Islam. Dari sini maka akan kita cermati bahwa dalam realitas kekinian banyak orang yang mengaku beragama Islam,

  • Fajel

    sedangkan keloyalannya diserahkan dengan ikhlas kepada selain Allah, apalagi yang kita tuntut adalah muslim yang seperti dijelaskan dalam buku ini. Sehingga jika kita perhatikan hal pertama yang harus diseru kepada masyarakat, baik yang ada dalam masyarakat tersebut banyak yang beragama Islam maupun tidak, adalah panji Tauhid bukan panji-panji yang lain. Sehingga seruan terhadap iman harus didahulukan di atas seruan yang lain.

  • Fajel

    Sehingga tidak ada kerancuan ketika kita berdakwah seperti perkataan “ini kan masyarakat muslim, nggak perlu dong menyerukan keimanan lagi, mereka kan udah beriman”. Sehingga, menurut saya, pengungkapan Masyarakat sekarang semua adalah Masyarakat Jahiliyah, adalah untuk mempermudah kita untuk tetap menyerukan Tauhid, baik itu orang yang mengaku beragama Islam atau tidak. Terlebih jika kita mengetahui karakteristik Masyarakat Jahiliyah, seperti yang ditulis dalam buku Muhammad Quthb.

  • Fajel

    Hal ini bukan berarti saya membela mati-matian Sayyid Quthb, tetapi hanya untuk berbagi pemahaman saya ketika membaca buku ini. Wallahu’alam

  • Fajel

    Menurut saya, ketika saya membaca buku Ma’alim fi Ath-Thariq ini, yang dimaksud dengan Masyarakat Jahilyah disini bukan berarti menganggap bahwa masyarakat yang ada sekarang telah kafir semua, tetapi lebih kepada klasifikasi dakwah, karena apa, menurut saya, ketika kita mulai berdakwah maka akan terjadi kebingungan, yaitu apa yang akan kita dakwahkan kepada masyarakat, terutama masyarakat dimana notabenya masyarakat tersebut beragama Islam,

  • Fajel

    jika kita membaca buku ini, kita akan mengetahui bahwa

Lihat Juga

Perjalanan ke Tapal Batas Indonesia-Malaysia