Home / Berita / Internasional / Asia / Perang dan Korupsi Perbanyak Anak Jalanan Afghanistan

Perang dan Korupsi Perbanyak Anak Jalanan Afghanistan

Seorang anak di kamp pengungsian, Kabul, Afghanistan, 14 Ag 2010 (AP Photo)

dakwatuna.com – Kabul. Di satu tempat penampungan anak-anak yang tak beruntung di Kabul, gadis-gadis muda yang malu-malu bangkit untuk melaksanakan kewajiban mereka sebagai Muslimah yang berpuasa saat menyambut duta besar Amerika Serikat (AS) yang datang berkunjung.

Sementara itu para guru, dengan bangga menyaksikan remaja Afghanistan, yang pernah ditinggalkan tanpa belas kasihan di jalanan.

Meskipun begitu, kenyataan yang mengganggu di negara yang dicabik perang tersebut –tempat negara Barat memerangi pasukan gerilyawan untuk mempertahankan pemerintah sahabat– ialah sedikitnya 600.000 anak jalanan tak memiliki jaring pengaman untuk menangkap mereka.

Masalah itu, kata banyak ahli, bertambah parah dengan meningkatnya perang dan merebaknya korupsi kendati ada aliran dana lebih dari 35 miliar dolar AS dari donor asing sejak Taliban digulingkan dari kekuasaan pada 2001.

Bahaya bagi anak-anak tersebut sangat banyak, kata mereka, mulai dari narkotika sampai aksi perlawanan, dari gerombolan penjahat sampai pelecehan seksual.

“Kemiskinan bertambah parah di Afghanistan dan anak-anak dipaksa mencari kerja,” kata Shafiqa Zaher, seorang pekerja sosial buat Aschiana, kelompok yang menerima bantuan AS untuk melakukan kegiatannya, kepada wartawan Reuters, Andrew Hammond.

Zaher biasa keluyuran di jalan-jalan Kabul dan taman, tempat anak jalanan berkeliaran dan mendekati mereka untuk melihat apakah mereka tertarik pada pendidikan.

“Kami membawa anak-anak dan memperlihatkan kepada mereka apa yang kami kerjakan di sini dan apakah mereka setuju kami mengunjungi keluarga dan berbicara dengan mereka,” katanya.

Sebanyak 7.000 anak di berbagai kota besar utama Afghanistan mengikuti pelajaran di sekolah Aschiana, tempat biaya makanan dan alat tulis ditanggung dan sebagian keluarga bertugas jadi penaja.

Kebanyakan dari mereka punya rumah, bahkan sekali pun itu adalah bekas bangunan yang tersisa dari perang tanpa akhir di negeri tersebut, kata Zaher. Tapi penjaga mereka seringkali tak mampu dan tak bisa bekerja.

Studi oleh Komisi Hak Asasi Manusia Independen Afghanistan (AIHRC) pada 2008 menemukan di Kabul saja sebanyak 60.000 anak kecil yang sudah bekerja meski di bawah usia 18 tahun.

Nader Nadery, komisaris senior AIHRC, mengatakan itu adalah dari beberapa dasawarsa konflik di Afghanistan.

“Dalam tiga sampai empat tahun belakangan, makin banyak orang yang kehilangan tempat tinggal dari daerah yang terpengaruh perang –Helmand, Kandahar, Ghazni– telah mengalir ke kota Kabul untuk mencari perlindungan,” katanya.

Satu masyarakat pengungsi, terutama dari Sangin di Helmand, tempat pasukan AS memimpin satu operasi terhadap aksi perlawanan tahun lalu, mengandalkan bantuan Aschiana di daerah kumuh Kabul.

Dalam tiga dasawarsa perang, penduduk di negeri itu telah berlipat jadi lebih dari 30 juta dan ibukota berdebu di gunung tersebut telah membengkak jadi kota dengan empat juta warga.

“Berdasarkan sejarah, Kabul dan Afghanistan tak pernah menghadapi krisis manusia ini, yang tak memiliki tempat berteduh. Mereka semua miskin tapi setidaknya mereka mempunyai rumah,” kata Nadery.

Ia mengatakan, korupsi, yang menjadi inti pertikaian diplomatik antara Presideh Hamid Karzai dan Washington serta masalah utama dalam pemilihan anggota parlemen pada September, membuat situasi bergeser dari buruk jadi tambah parah.

Menurut satu laporan PBB pada Maret, korupsi yang merajalela membuat orang miskin berada di bawah cengkeraman orang yang kuat sementara pasukan asing yang ingin mewujudkan keamanan menutup mata.

“Hubungan langsung antara kemiskinan dan korupsi selalu ada,” kata Nadery. “Kebanyakan proyek pembangunan terhenti atau tak sampai ke daerah tempat bantuan itu mestinya dapat mempengaruhi kehidupan orang miskin akibat korupsi yang terlibat.” (Uu.C003/P003/ant)

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 9,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Tim dakwatuna adalah tim redaksi yang mengelola dakwatuna.com. Mereka terdiri dari dewan redaksi dan redaktur pelaksana dakwatuna.com
  • Ajie M. S

    sangat memilukan, apalagi mengingat bahwa anak-anak merupakan golongan manusia yang tidak berdaya dan masih membutuhkan sokongan.

Lihat Juga

gadget

Anak-Anak di Era Digital dan Media Sosial