22:53 - Selasa, 30 September 2014

Hasil Hitungan Astronomi: Idul Fitri 1431 H Jatuh pada 10 September 2010

Rubrik: Nasional | Kontributor: dakwatuna.com - 07/09/10 | 15:02 | 28 Ramadhan 1431 H

Profesor Riset Astronomi, Astrofisika Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), Thomas Djamaludin (facebook)

dakwatuna.com – Bandung. Dari hasil perhitungan astronomi, Hari Raya Idul Fitri 1413 H/2010 jatuh pada hari Jumat (10/9). Namun untuk kepastiannya, masih akan digelar sidang isbat pada 8 September besok yang akan dihadiri oleh para ahli hisab, organisasi Islam, dan ahli astronomi.

Menurut Profesor Riset Astronomi, Astrofisika Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), Thomas Djamaludin, dari hasil perhitungan astronomi pada Rabu (8/9), bulan masih dibawah ufuk dan hilal belum terlihat. Dengan demikian, Hari Raya Idul Fitri bisa dipastikan jatuh tanggal 10 September 2010.

“Insyallah satu Syawal jatuh pada jumat 10 September, karena pada 8 September bulan masih di bawah ufuk, sehingga semua kriteria belum masuk awal Syawal,” kata Thomas, pada acare perhitungan arah Kiblat Digital di Masjid Salman ITB Jalan Ganeca, belum lama ini.

Thomas juga mengatakan, sejumlah ormas Islam kerap berbeda pendapat dalam perhitungan penentuan 1 Syawal sehingga dalam pelaksanaan hari raya masih ada perbedaan di masyarakat Indonesia. Namun untuk tahun ini, kata Thomas, diperkirakan hasil perhitungan semua ormas akan sama. Dengan begitu, tidak akan ada perbedaan pelaksanaan hari lebaran tahun ini.

Meski sidang isbat baru akan digelar Rabu (8/9), namun Thomas yakin dalam sidang nanti tidak akan ada perbedaan dalam penentuan penetapan Hari Raya Idul Fitri 2010 hal ini didasari pada penentuan puasa hari pertama yang penetapannya sama hingga semua umat menjalankan ibadah puasa pada hari yang sama.

“Insyallah lebaran tahun ini semua akan merayakan pada hari yang sama,” ujarnya.

Terkait masih adanya beberapa organisasi Islam yang berbeda dalam penetapan awal Ramadhan kemarin, Thomas mengatakan hal tersebut lebih dikarenakan masih kurangnya sosialisasi mengenai perhitungan hisab dengan teknologi.

“Mereka lebih percaya pada pimpinan mereka yang juga masih percaya pada perhitungan hisab lama,” kata Thomas.

Meyikapi hal ini, lanjut Thomas, perlu adanya sosialisasi serta pendekatan kepada organisasi Islam tersebut. Hal ini perlu dilakukan agar tidak ada lagi perbedaan dalam penetapan awal Ramadhan maupun 1 Syawal. Selain itu, tambah Thomas, pemerintah juga diharapkan bisa menetapkan kriteria dalam perhitungan rukyat. “Perlu ada pedoman bersama untuk kriteria perhitungan rukyat agar tidak ada lagi perbedaan,” tandasnya. (tj/ts/kemenag)

Redaktur: Hendra

Keyword: , , , , , ,


Beri Nilai Naskah Ini:

Nilai 1Nilai 2Nilai 3Nilai 4Nilai 5Nilai 6Nilai 7Nilai 8Nilai 9Nilai 10 (12 orang menilai, rata-rata: 7,25 dalam skala 10)
Loading...Loading...


Akses http://m.dakwatuna.com/ dimana saja melalui ponsel atau smartphone Anda.
Iklan negatif? Laporkan!
Iklan negatif? Laporkan!
60 queries in 1,467 seconds.