Home / Berita / Internasional / Eropa / Jihad Ramadhan Muslim di Belgia

Jihad Ramadhan Muslim di Belgia

Ilustrasi - Seorang muslimah menyeberang jalan di Belgia. (dailytravelphotos)

dakwatuna.com – Brussels. Angelina Le memeluk agama Islam dua tahun lalu, setelah per jalanan yang panjang mencari `pengetahuan’ di berbagai tempat. Dia menjadi Muslimah saat tengah melakukan riset di Pakistan. “Itu adalah bunga akademis saya yang membawa saya ke jalan Islam,” Ujar Le, seperti dikutip dari Ramadhanzone.com.

Ramadhan pertama Le setelah resmi mengucap sahadat ketika dia kembali ke Belgia. Menjadi seorang Muslimah, bagi dia seperti kelahiran kedua. Saat itu, dia mengaku masih sangat rapuh karena merasa puasa seorang diri.

Selama di Pakistan, semuanya mudah bagi Le, karena merupakan sebuah negara Muslim. Dia hanya perlu menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar. Sebaliknya, selama Ramadhan pertama di Belgia, dia menghadapi beberapa kesulitan lantaran tidak ada yang memfasilitasi kehidupan Muslim, khususnya mualaf. “Kita tidak punya waktu atau ruang untuk berdoa sehingga harus menemukan semua jenis alternatif,” kata Le.

Pada awal Ramadhan pertama, yang paling sulit bagi Le adalah bagaimana meyakinkan temanteman dan keluarganya bahwa ia tidak dicuci otak untuk menjadi seorang Muslim. Selain itu, mereka juga takut Le berniat bunuh diri perlahan-lahan karena tidak makan pada siang hari. “Berada di lingkungan Muslim kurang tantangan, jadi ini merupakan tantangan yang ideal untuk menguji kekuatan dan pertempuran saya melawan hawa nafsu,” papar Le.

Pada akhir minggu pertama puasa, Le merasa sangat kesepian. Kemudian, dia memutuskan pergi ke masjid untuk shalat Isya dan tarawih. Dia pergi menggunakan pakaian panjang dan menutupi rambutnya dengan kerudung. “Saya merasa senang saat itu karena menjadi bagian dari komunitas Muslim yang sesungguhnya.”

Le mengatakan, mayoritas Muslim yang ada di Masjid Agung Brussel berasal dari komunitas Muslim Maroko. Mereka terkenal dengan kehangatan dan keramahan. “Mereka memberi saya makan masakan lezat buatan Maroko, seperti harira (biskuit yang terbuat dari kacang dan madu), zaitun, dan kue dadar. Semoga Tuhan memberkati mereka,” katanya bersyukur.

Keimanan Le bertambah kuat ketika dia melakukan shalat berja maah. “Perasaan ini sangat penting bila Anda tidak datang dari latar belakang Muslim. Bertemu keluarga baru,” paparnya. Sayangnya, Le tidak merayakan Idul Fitri pada akhir Ramadhan karena harus bekerja.

Masjid-masjid di Belgia, seperti juga di Masjid Agung Brussel, tidak dapat mengakomodasi semua kebutuhan umat Muslim di sana karena berbagai keterbatasan. Oleh karena itu, kata Imam Masjid Agung Brusel, Syekh Abu `Amr, banyak orang melakukan shalat di luar dengan mendirikan tenda.

Namun faktanya, kata Syekh Abu `Amr, jumlah Muslim yang datang ke masjid tersebut meningkat dari hari ke hari, baik kaum imigran atau mualaf. Selama 20 hari pertama Ramadhan di Masjid Brussel, jumlah jamaah berkisar antara 2.500 dan 3.000 orang. “Menjelang sepuluh hari terakhir Ramadhan meningkat menjadi 5.000,” ujarnya, seperti dikutip islamonline.net.

Tak ada toleransi Di sisi lain, salah satu tantangan yang dihadapi umat Islam di negara Eropa, seperti Belgia, adalah waktu singkat antara Maghrib dan Subuh. Syekh Abu `Amr mengatakan, lama berpuasa di sana berkisar antara 15-16 jam. “Fakta ini merupakan dilema nyata bagi pengusaha dan siswa Muslim karena padatnya kegiatan sehari-hari mereka,” jelas Abu `Amr. Jam kerja di Belgia selama Ramadhan sama dengan jam kerja normal sehari-hari. Tidak ada toleransi bagi umat Islam pada harihari suci tersebut.

Syekh Abu `Amr mencontohkan Muslim yang bekerja di dalam gudang bawah tanah. Di sana, suhu dan tekanan tidak biasa sehingga menyebabkan semua pekerja menjadi begitu haus. Setiap orang yang bekerja di sana semestinya harus minum setidaknya satu setengah liter air selama jam kerja.

Namun begitu, umat Muslim di sana tetap berpuasa. Mereka melakukannya sebagai jihad yang sesungguhnya. Masjid di Belgia, meski tidak mempunyai kapasitas yang banyak untuk menampung jamaah dan minim fasilitas, tetap mengadakan kegiatan selama Ramadhan. Setiap harinya, masjid-masjid memberikan makanan sahur dan berbuka puasa. Di sana juga diadakan shalat tarawih berjamaah, kuliah Islam mingguan, ceramah harian, dan mendistribusikan kitab suci Alquran dan buku agama dalam bahasa yang berbeda untuk memperkenalkan Islam dengan benar. (irf/c06/RoL)

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (18 votes, average: 9,33 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Tim dakwatuna adalah tim redaksi yang mengelola dakwatuna.com. Mereka terdiri dari dewan redaksi dan redaktur pelaksana dakwatuna.com
  • Chi Nenekoi

    subhanaallah

Lihat Juga

Ilustrasi. (fanpop.com)

Renungan di Akhir Ramadhan