Home / Dasar-Dasar Islam / Tazkiyatun Nufus / Memburu Keutamaan Seribu Bulan Lailatul Qadar

Memburu Keutamaan Seribu Bulan Lailatul Qadar

Ilustrasi - QS. Al-Qadr (blogspot/kinaizzati)

dakwatuna.comAllah SWT berfirman: “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya pada malam Al-Qadr (lailatul qadr/malam kemuliaan). Dan tahukah kamu apakah malam Al-Qadar itu? Malam itu lebih baik dari seribu bulan. Turun para malaikat dan ar-Ruuh pada malam itu dengan izin Tuhan mereka untuk segala urusan. Malam itu penuh kesejahteraan sampai terbit fajar.” (Q. S. Al-Qadr: 1 – 5) Dalam tafsirnya, Ibnu Katsir rahimahuLlah mengatakan, bahwa suatu ketika Rasulullah SAW menceritakan kepada para sahabat RA tentang seorang pria dari Bani Israil yang menggunakan senjatanya di jalan Allah SWT selama seribu bulan. Hal ini membuat sahabat RA terkejut. Kemudian Allah SWT menurunkan ayat: ‘Sesungguhnya Kami telah menurunkannya pada malam Al-Qadr. Dan tahukah kamu apakah malam Al-Qadr itu? Malam itu lebih baik dari seribu bulan.’

Dalam surat ini Allah SWT mengabarkan bahwa Ia SWT telah menurunkan Al-Quran pada malam Al-Qadr. Sebuah malam yang sangat berkah yang lebih baik dari seribu bulan, yang jika kita hitung maka nilainya sama dengan sekitar 83 tahun lebih 4 bulan. Sesungguhnya seseorang yang beribadah pada malam itu maka sama baginya dengan beribadah selama 83 tahun 4 bulan lamanya pada malam atau hari-hari biasa. Sebuah keutamaan yang sangat luar biasa, yang Allah SWT anugerahkan kepada umat Muhammad SAW yang berumur relatif lebih pendek dibanding umat terdahulu. Tafsir ayat: ‘Turun para malaikat dan ar-Ruuh pada malam itu dengan izin Tuhan mereka untuk segala urusan’, Ibnu Katsir menjelaskan dalam tafsirnya, bahwa pada malam Al-Qadr, malaikat yang turun pada malam itu semakin banyak karena banyaknya berkah dan rahmat pada malam itu. Para malaikat itu turun bersamaan dengan rahmat dan berkah dan mereka akan turun kepada orang-orang yang membaca Al-Quran, dan akan mengelilingi majelis-majelis dzikir serta meletakkan sayapnya pada orang yang menuntut ilmu sebagai penghormatan.

Sedang yang dimaksud dengan ar-Ruuh, Ibnu Katsir menjelaskan, bahwa itu adalah Jibril as. dengan pengungkapan yang khusus, namun ada pula yang berpendapat bahwa itu adalah sejenis malaikat seperti tersebut dalam Surat An-Naba (Wallahu a’lam). Mengenai firman Nya: ‘untuk segala urusan’, berkata Mujahid bahwa malam itu sejahtera dan selamat dari segala urusan. Riwayat lain mengatakan bahwa yang dimaksud adalah pada malam itu setan tidak bisa berbuat kejahatan.

Sedang mengenai ayat terakhir: ‘Malam itu penuh kesejahteraan sampai terbit fajar’, berkata Sa’id bin Manshur, ‘berkata kepada kami Hisyam dari Abu Ishaq bin Asy-Syaib, tentang firman Allah: ‘Untuk segala urusan. Malam itu penuh kesejahteraan sampai terbit fajar’, ia berkata, para malaikat menyejahterakan malam Al-Qadr itu bagi para penghuni masjid hingga terbit fajar.’

Keutamaan lain dari Lailatul Qadar selain dari surat Al-Qadr, juga dapat dilihat dari hadits Rasulullah SAW: “Barangsiapa yang beribadah pada malam Al-Qadr karena iman dan mengharapkan keridhaan Allah, diampunilah dosa-dosanya yang terdahulu.” (HR. Bukhari – Muslim)

Lalu, kapankah Lailatul Qadr tersebut datang? Mengenai hal ini Al-Hafizh Ibnu Hajar mengatakan bahwa terdapat sekitar 40 perbedaan pendapat berkenaan dengannya. Beberapa pendapat mengatakan bahwa ia jatuh pada malam ke-21, sedang sebagian lain mengatakan malam ke-27 (merupakan salah satu pendapat terkuat) dan masih banyak lagi, dengan masing-masing hujjahnya. Bahkan sebagian pendapat mengatakan bahwa tidak ada seorangpun yang dapat mengetahui pasti kapan tepatnya Lailatul Qadr tersebut datang. Namun, yang jelas, bahwa Lailatul Qadr tersebut jatuh di antara 10 malam terakhir dari Bulan Ramadhan, sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah SAW: “Adalah Rasulullah SAW beri’tikaf pada sepuluh yang akhir dari bulan Ramadhan, dan beliau bersabda: ‘Hendaklah kalian mencari lailatul qadar pada sepuluh yang akhir dari bulan Ramadhan.’” (H. R. Bukhari – Muslim)

Dan ini lebih dikhususkan lagi pada malam-malam ganjil pada sepuluh malam terakhir tersebut, sebagaimana sabda Rasulullah SAW: “Sesungguhnya pernah ditampakkan kepadaku lailatul qadar, kemudian dijadikan aku lupa, atau aku lupa kepadanya, maka hendaklah kalian mencarinya pada sepuluh malam yang akhir; di malam-malam yang ganjil.” (H. R. Bukhari – Muslim)

Hal ini lebih dikhususkan lagi pada tujuh malam terakhir, seperti dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Umar RA, katanya: “Bahwa ada beberapa orang sahabat Nabi SAW bermimpi melihat malam Al-Qadr pada tujuh yang terakhir. Kemudian Rasulullah SAW bersabda: “Saya melihat mimpi kalian, saya setuju, yaitu pada tujuh yang akhir. Siapa saja yang hendak mencarinya, maka carilah pada tujuh yang terakhir.”” (HR. Bukhari – Muslim). Hal inilah yang juga pernah dikatakan Ibnu ‘Umar RA dalam salah satu perkataannya: “Hendaklah kalian mencarinya pada sepuluh malam terakhir! Jika seorang di antara kalian lemah atau tidak mampu, maka janganlah ia melalaikan tujuh yang tersisa.“ (Riwayat Ahmad, Muslim dan Thayalisy)

Salah satu tandanya seperti yang disebutkan dalam beberapa riwayat adalah matahari terbit dengan cahaya putih tidak bersinar-sinar, atau pada riwayat lain matahari terbit dengan tidak memiliki sinar kuat. Ada pula yang menambahkan dengan tanda-tanda lain. Namun bagi sebagian pihak hal ini menimbulkan pertanyaan yang banyak dan diskusi yang panjang, sehingga cukuplah bagi kita untuk giat mencarinya di antara sepuluh hari/malam yang terakhir tersebut.

Hal yang perlu diingat di sini, adalah karena penentuan tanggal hijriyah yang (masih) tidak sama di antara kaum muslimin saat ini, maka mencarinya di malam sepuluh terakhir secara keseluruhan adalah lebih utama bagi sebagian pendapat.

Dirahasiakannya waktu jatuhnya malam Al-Qadr ini oleh Allah SWT, menurut Yusuf Qaradhawi, mengandung banyak sekali hikmah. Andaikata kita dapat mengetahui jatuhnya malam Al-Qadr tersebut, niscaya akan hilang semangat beribadah pada Bulan Ramadhan dengan mencukupkan diri dengan beribadah hanya pada malam tersebut saja. Dengan dirahasiakannya waktu malam Al-Qadr tersebut, maka dapat mendorong kita untuk bersemangat mencarinya terutama di malam-malam akan berakhirnya bulan Ramadhan. Hal ini akan dapat menjadikan akhir Ramadhan semakin semarak yang memiliki dampak positif baik untuk masing-masing individu ataupun bagi jamaah.

Hal ini sesuai dengan hadits Rasulullah Saw, dari Ubadah bin Shamit RA, katanya: “Nabi SAW keluar untuk mengkabarkan kepada kami perihal lailatul qadar. Kemudian (di tempat kami) ternyata ada dua sahabat yang sedang berdebat. Maka beliau bersabda kepada mereka: ’Saya sengaja datang ke sini, untuk memberi kabar tentang lailatul qadar. Sebab si fulan dengan si fulan bersilang pendapat lalu diangkat (dari dalam hatiku, sehingga saya lupa ketentuan tanggalnya), tapi mudah-mudahan itu membawa kebaikan buat kalian.’“ (H. R. Bukhari)

Kata (terjemahan) ’tapi mudah-mudahan itu membawa kebaikan bagi kalian’ diartikan oleh beberapa pendapat bahwa dengan keadaan yang demikian kaum muslimin akan lebih bersungguh-sungguh untuk mendapatkan malam Al-Qadar tersebut, sehingga dengan tidak diketahuinya (waktu jatuh malam tersebut) ibadah yang dilakukan kaum muslimin akan menjadi lebih banyak dibanding jika kaum muslimin mengetahuinya.

Bagi kita, kaum muslimin, mencari dan ’memburu’ malam Al-Qadar tersebut adalah sesuatu yang disunnahkan oleh Rasulullah SAW. Hal ini dicontohkan langsung oleh Rasulullah SAW, yang beliau SAW sendiri sangat giat mencari malam tersebut dengan semakin banyak beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT, meramaikan malam, membangunkan keluarga dan mempererat sarungnya (tidak mendekati istri-istri beliau SAW RA, untuk banyak beribadah).

Anjuran-anjuran beliau SAW untuk mengisi malam Al-Qadar tersebut dengan banyak ibadah terlihat dalam hadits seperti yang juga telah dituliskan di atas: “Barangsiapa yang beribadah pada malam Al-Qadr karena iman dan mengharapkan keridhaan Allah, diampunilah dosa-dosanya yang terdahulu.” (HR. Bukhari – Muslim)

Dan juga sebuah hadits lain yang diriwayatkan dari ’Aisyah RA, katanya: “Saya bertanya: ’Yaa Rasulullah, bagaimana pendapat Anda seandainya saya tahu malam jatuhnya lailatul Qadar itu, apakah yang harus saya ucapkan waktu itu?’ Maka ujar Nabi SAW: ’Katakanlah: Allahumma innaka ’afuwwun tuhibbul ’afwa fa’fu’annii (Yaa Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf dan Suka Memaafkan, maka maafkanlah aku ini)’“ (H. R. Ahmad, Ibnu Majah, Turmudzi)

Secara ringkas, dapat disimpulkan beberapa amaliyah menjaring dan memburu malam Lailatul Qadr sebagai berikut:

1. Menghidupkan malam Lailatul Qadar adalah bukti keimanan seseorang. Dari Abu Hurairah RA, bersabda Nabi SAW: “Barangsiapa menghidupkan malam Lailatul Qadar dengan iman dan mengharap ridha Allah SWT maka diampuni dosanya yang terdahulu.” (HR Bukhari, I/61, hadits no. 34)

2. Menggapai Lailatul Qadar hendaklah dalam keadaan berpuasa: Dari Abu Hurairah RA Nabi SAW bersabda: “Barangsiapa menghidupkan malam Lailatul Qadar dengan iman dan mengharap ridha Allah SWT maka diampuni dosanya yang terdahulu, dan barangsiapa berpuasa Ramadhan dalam Iman dan mengharap ridha ALLAH SWT maka akan diampuni dosanya yang telah lalu.” (HR Bukhari, VI/468, hadits no. 1768)

3. Mencari Lailatul Qadar itu pada 10 malam yang terakhir: Dari Aisyah RA berkata: “Adalah Nabi SAW biasa mencari Lailatul Qadar pada 10 malam yang terakhir.” (HR Bukhari, VII/147, hadits no. 1880)

4. Mencari Lailatul Qadar itu pada 10 terakhir tersebut terutama pada malam-malam Witirnya: Dari Aisyah RA: “Adalah Nabi Saw mencari Lailatul Qadar pada malam-malam witir di 10 hari terakhir.” (HR Bukhari, VII/145, hadits no. 1878)

5. Hadits paling seringnya tentang Lailatul Qadar adalah tgl 27 tapi terjadi juga tanggal 23-nya: Dari Abdullah bin Unais RA, bersabda Nabi Saw: “Aku melihat Lailatul Qadar lalu aku dibuat lupa waktunya, dan ditampakkan padaku saat Subuhnya aku sujud di tanah yg basah, lalu kata Abdullah: Maka turun hujan atas kami pada malam 23, maka Nabi SAW shalat Shubuh bersama kami, lalu beliau SAW pulang dan nampak bekas air dan tanah di dahi dan hidung beliau SAW, lalu dikatakan: Maka Abdullah bin Unais berkata tanggal 23 itulah Lailatul Qadar.” (HR Muslim, VI/80, hadits no. 1997)

6. Lailatul Qadar itu bisa didapati dalam keadaan jaga maupun juga dalam kondisi tidur dalam bentuk mimpi yang benar. Dari Ibnu Umar RA: “Ada beberapa orang laki-laki sahabat Nabi SAW yang bermimpi melihat Lailatul Qadar pada 7 malam terakhir, maka sabda Nabi SAW: Aku juga melihat apa yang kalian mimpikan itu jatuhnya pada 7 malam terakhir, maka barangsiapa yang ingin mencarinya maka carilah pada 7 malam terakhir tersebut.” (HR Bukhari, VII/142, hadits no. 1876)

7. Lailatul Qadar itu tidak panas, tidak dingin, tidak ada awan, tidak ada angin, tidak hujan. “Pada malam Lailatul Qadar itu tidak panas dan tidak dingin, tidak berawan dan tidak hujan dan tidak berangin, tidak juga terang dengan bintang-bintang, tanda di pagi harinya adalah Matahari terbit bercahaya lembut.” (HR As-Suyuthi dalam Jami’ Shaghir, di-shahih-kan oleh Albani dalam Shahihul Jami’, XX/175, no. 9603)

8. Tapi kadang-kadang Lailatul Qadar itu disertai juga dengan hujan. Dari Abu Said Al-Khudri RA, bersabda Nabi Saw: “… Aku melihat Lailatul Qadar lalu aku dibuat lupa kapan waktunya, maka barangsiapa yang ingin mencarinya maka carilah pada 10 hari terakhir pada malam2 witirnya dan aku melihat diriku pada malam tersebut sujud di atas tanah yang basah… Maka kami kembali dan kami tidak melihat ada awan di langit, maka tiba-tiba ada awan dan turun hujan sampai airnya menembus sela-sela atap masjid yang terbuat dari pelepah Kurma, maka aku melihat Nabi SAW sujud di atas tanah yang basah, sampai kulihat bekas tanah yang basah itu di dahi beliau SAW” (HR Bukhari, VII/174, hadits no. 1895)

9. Pagi hari setelah Lailatul Qadar cahaya Matahari putih tapi tidak silau. Berkata Ubay bin Ka’ab RA: “Demi ALLAH yang Tiada Tuhan kecuali DIA, sungguh malam tersebut ada di bulan Ramadhan, aku berani bersumpah tentang itu dan demi ALLAH aku tahu kapan malam itu, yaitu malam yang kita diperintah Nabi SAW untuk menghidupkannya yaitu malam 27 dan tanda-tandanya adalah Matahari bersinar di pagi harinya dengan cahaya putih tapi tidak menyilaukan.” (HR Muslim, IV/150, hadits no. 1272)

10. Lailatul Qadar hanya bermanfaat bagi orang yang Iman dan mengharap ridha ALLAH SWT. Dari Abu Hurairah RA, dari Nabi SAW bersabda: “Barangsiapa yang bangun saat Lailatul Qadar lalu pas melihatnya, lalu sabda Nabi SAW: Dan orang tersebut beriman dan mengharap ridha ALLAH SWT maka diampuni dosanya yang telah lalu.” (HR Muslim, IV/147, hadits no. 1269)

11. Saat Lailatul Qadar Malaikat yang turun ke bumi lebih banyak dari Kerikil. Bersabda Nabi Saw: “Lailatul Qadar itu pada malam 27 atau 29, sungguh malaikat yang turun pada saat itu ke bumi lebih banyak dari jumlah batu kerikil.” (HR Thayalisi dalam Musnad-nya no. 2545; juga Ahmad II/519; dan Ibnu Khuzaimah dalam shahih-nya II/223)

12. Doa yang paling utama dan paling dibaca saat Lailatul Qadar. Dari Aisyah RA: Wahai Rasulullah, menurut pendapatmu jika aku tahu bahwa malam terjadinya Lailatul Qadar, maka doa apa yang paling baik kuucapkan? Sabda Nabi SAW: “Ucapkanlah olehmu, Ya ALLAH sesungguhnya ENGKAU adalah Maha Pemaaf, mencintai orang yang suka memaafkan, maka maafkanlah aku.” (HR Ahmad, Ibnu Majah dan Tirmidzi, di-shahih-kan oleh Albani dalam Al-Misykah, I/473 no. 2091)

Semoga Allah SWT Berkenan menjadikan kita termasuk ke dalam orang-orang yang dapat memanfaatkan Ramadhan dengan sebaik-baiknya, menjadikan kita termasuk ke dalam kelompok yang mendapatkan Lailatul Qadr tersebut, dan menjadikan kita termasuk golongan yang berhasil menyelesaikan Ramadhan ini dengan sebaik-baiknya sehingga keluar daripadanya sebagai seorang yang bertaqwa serta dapat mempertahankannya selama-lamanya. Amin.

Wallahu a’lam Wabillahit Taufiq wal Hidayah.

(Rujukan: Ibnu Katsir, Tafsir Juz ’Amma min Tafsir Al-Quran Al-’Azhim, Sayyid As-Sabiq, Fiqh Sunnah, Yusuf al-Qaradhawi, Fiqh ash-Shiyam)

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (14 votes, average: 8,71 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Dr. Setiawan Budi Utomo
Penulis adalah Alumnus terbaik Fakultas Syariah Madinah Islamic University, Arab Saudi. Saat ini aktif sebagai Anggota Dewan Syariah Nasional dan Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI), Dewan Syuro Ikatan Dai Indonesia (IKADI), Dewan Penguji Ujian Sertifikasi Akuntansi Syariah, Ketua Tim Akuntansi Zakat, anggota Komite Akuntansi Syariah Ikatan Akuntan Indonesia (IAI), Dewan Penguji Ujian Sertifikasi Akuntansi Syariah, Anggota Tim Koordinasi Penerbitan Surat Berharga Syariah Negara dalam Valas, Anggota Tetap Tim Ahli Syariah Emisi Sukuk (Obligasi Syariah), Dewan Pakar Ikatan Ahli Ekonomi Syariah (IAEI), Dewan Pakar Shariah Economic and Banking Institute (SEBI), Anggota Tim Kajian Tafsir Tematik Lajnah Pentashih Al-Quran Depag, Dosen Pasca Sarjana dan Pengasuh Tetap Fikih Aktual Jaringan Trijaya FM, Pegiat Ekonomi Syariah dan Referensi Fikih Kontemporer Indonesia. Penulis juga merupakan salah satu peneliti di Direktorat Perbankan Syariah Bank Indonesia (BI).

Lihat Juga

Ilustrasi. (sheikhrouf23.deviantart.com)

Fadhilah (Keutamaan) Adzan