Home / Dasar-Dasar Islam / Tazkiyatun Nufus / Menutup Aurat (Bagian ke-3): Aurat Wanita Dan Hukum Menutupnya

Menutup Aurat (Bagian ke-3): Aurat Wanita Dan Hukum Menutupnya

Ilustrasi: ibu memakaikan kerudung ke anak (blogspot.com - serambidakwah)

Aurat Wanita Dan Hukum Menutupnya

Yang menjadi dasar aurat wanita adalah:

1. Al-Qur’an

Allah SWT berfirman :

“Dan katakanlah kepada wanita-wanita yang beriman : Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang biasa nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan khumur (jilbab)nya ke dadanya”. (QS. An-Nur : 30-31)

Ayat ini menegaskan empat hal :

a. Perintah untuk menahan pandangan dari yang diharamkan oleh Allah.

b. Perintah untuk menjaga kemaluan dari perbuatan yang haram.

c. Larangan untuk menampakkan perhiasan kecuali yang biasa tampak.

d. Perintah untuk menutupkan khumur ke dada. Khumur adalah bentuk jamak dari khimar yang berarti kain penutup kepala. Atau dalam bahasa kita disebut jilbab.

Allah SWT berfirman :

“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang-orang mukmin : Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal dan oleh karenanya mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (Qs. Al-Ahzab: 59).

Jilbab dalam bahasa Arab berarti pakaian yang menutupi seluruh tubuh (pakaian kurung), bukan berarti jilbab dalam bahasa kita (lihat arti kata khimar di atas). Ayat ini menjelaskan pada kita bahwa menutup seluruh tubuh adalah kewajiban setiap mukminah dan merupakan tanda keimanan mereka.

2. Hadits Nabi SAW

Dalam riwayat Aisyah RA, bahwasanya Asma binti Abu Bakar masuk menjumpai Rasulullah dengan pakaian yang tipis, lantas Rasulullah berpaling darinya dan berkata : Hai Asma, sesungguhnya jika seorang wanita sudah mencapai usia haidh (akil baligh) maka tak ada yang layak terlihat kecuali ini, sambil beliau menunjuk wajah dan telapak tangan. (HR. Abu Daud dan Baihaqi).

Hadits ini menunjukkan dua hal:

  1. Kewajiban menutup seluruh tubuh wanita kecuali wajah dan telapak tangan.
  2. Pakaian yang tipis tidak memenuhi syarat untuk menutup aurat.

Dari kedua dalil di atas jelaslah batasan aurat bagi wanita, yaitu seluruh tubuh kecuali wajah dan dua telapak tangan. Dari dalil tersebut pula kita memahami bahwa menutup aurat adalah wajib. Berarti jika dilaksanakan akan menghasilkan pahala dan jika tidak dilakukan maka akan menuai dosa.

Kewajiban menutup aurat ini tidak hanya berlaku pada saat shalat saja namun juga pada semua tempat yang memungkinkan ada laki-laki lain bisa melihatnya.

A. Aurat wanita bersama wanita

Wanita bersama dengan kaum wanita, bagaikan laki-laki bersama dengan laki-laki, diperbolehkan melihat seluruh badannya kecuali antara lutut dan pusarnya, kecuali diindikasikan akan membawa fitnah, maka tidak boleh menampakkan bagian tubuh itu. Hanya saja kepada wanita yang tidak seagama, wanita muslimah tidak boleh menampakkan auratnya sebagaimana kepada sesama wanita muslimah. Karena wanita yang tidak seagama berstatus orang lain bagi wanita muslimah. Allah berfirman :

Artinya: …atau wanita-wanita Islam…. (QS. An Nur/24:30)

B. Aurat wanita di hadapan laki-laki

Keberadaan wanita di hadapan lawan jenisnya memiliki rincian hukum yang berbeda-beda, yaitu:

a. Di hadapan laki-laki lain, yang tidak ada hubungan mahram.

Maka seluruh badan wanita adalah aurat, kecuali wajah dan telapak tangan. Karena keduanya diperlukan dalam bermuamalah, memberi dan menerima.

Pandangan laki-laki kepada wajah dan telapak tangan wanita bisa diklasifikasikan dalam tiga kelompok, yaitu:

1. Tidak diperbolehkan dengan sengaja melihat wajah dan telapak tangan wanita lain tanpa tujuan syar’i. Dan jika tanpa sengaja melihatnya maka segera harus memalingkan pandangan seperti yang telah dijelaskan pada pandangan faj’ah (tanpa sengaja).

2. Melihat karena ada tujuan syar’i dan tidak ada fitnah, seperti melihat untuk melamar. Rasulullah menyuruh Mughirah bin  Syu’bah untuk melihat wanita yang hendak dinikahinya:

Jika salah seorang di antaramu, meminang seorang wanita maka jika ia mampu melihat bagian yang mendorongnya untuk menikahinya maka lakukanlah. (H.R. Ahmad, dan Abu Daud)

Dan untuk semua tujuan itu,  seseorang diperbolehkan melihat wajahnya, yang dengan melihat wajah itu sudah cukup untuk mengenalinya.

3. Memandang dengan syahwat, inilah pandangan terlarang, seperti yang disebutkan dalam hadits Nabi:

Nabi saw bersabda :

“Telah ditetapkan atas setiap anak Adam bagian dari zina, zina mata adalah pandangannya, zina mulut adalah ucapannya, zina telinga adalah mendengarkannya, zina tangan adalah memegangnya, zina kaki adalah melangkah menemuinya, nafsunya berharap dan berselera, kemaluannya membenarkan atau mendustakannya. (H.R. Ibnu Majah)

Asbabun nuzul ayat 30 ini sangat memperjelas kewajiban menjaga pandangan, yaitu kisah seorang laki-laki yang lewat di salah satu jalan di Madinah, ia memandangi seorang wanita. Dan wanita itupun membalas memandanginya. Setan ikut bermain menggoda keduanya, sehingga keduanya saling mengagumi. Sambil berjalan laki-laki itu terus memandangnya hingga ia menabrak tembok dan berdarah hidungnya. Ia berkata:

“Demi Allah! Saya tidak akan membasuh darah ini sebelum saya menemui Rasulullah SAW lalu saya ceritakan kejadian ini.”

Laki-laki itu segera menemui Nabi dan menceritakan kejadiannya. Nabi bersabda:

“Inilah hukuman dosamu”. Dan Allah menurunkan  ayat 30 dan 31 ini.[1]

Pengecualian dalam hukum ini adalah jika berada dalam keadaan terpaksa, seperti penglihatan dokter muslim yang terpercaya untuk pengobatan, khitan, atau penyelamatan dari bahaya kebakaran, tenggelam, dsb.

b. Di hadapan laki-laki yang memiliki hubungan mahram

Ada ulama yang mengatakan bahwa dalam kondisi itu wanita hanya boleh menampakkan bagian tubuh yang biasa terlihat sewaktu bekerja, yaitu: rambut, leher, lengan, dan  betis.

Allah berfirman :

“Dan hendaklah mereka menutup kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasan-nya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra  saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka” ( QS. An Nur/24:31)

c. Di hadapan suami

Seorang wanita di hadapan suaminya boleh menampakkan seluruh anggota badannya. Karena segala sesuatu yang boleh dinikmati, tentu boleh juga dilihat.

Allah berfirman :

kecuali kepada suami mereka, …,

Ada sebagian ulama yang mengatakan makruh melihat kemaluan. Karena Aisyah RA mengatakan tentang hubungannya dengan Nabi Muhammad SAW:

Artinya: “Saya tidak pernah melihat darinya dan ia tidak pernah melihat dariku. (H.R. At Tirmidzi)

d. Budak wanita di hadapan orang yang tidak boleh menikmatinya

Aurat budak wanita di hadapan laki-laki yang tidak boleh menikmatinya adalah seperti aurat laki-laki, yaitu antara lutut dan pusar. Dan jika di hadapan tuan yang boleh menikmatinya maka kedudukannya bagaikan istri dengan suaminya.

Allah berfirman :

atau budak-budak yang mereka miliki,….

— Bersambung

(hdn)


Catatan Kaki:

[1] Asy Syaukani, Fathul-Qadir, (Beirut: Dar El Fikr T th) Jilid IV h.25

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (60 votes, average: 9,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Lembaga Kajian Manhaj Tarbiyah (LKMT) adalah wadah para aktivis dan pemerhati pendidikan Islam yang memiliki perhatian besar terhadap proses tarbiyah islamiyah di Indonesia. Para penggagas lembaga ini meyakini bahwa ajaran Islam yang lengkap dan sempurna ini adalah satu-satunya solusi bagi kebahagiaan hidup manusia di dunia dan akhirat. Al-Quran dan Sunnah Rasulullah saw adalah sumber ajaran Islam yang dijamin orisinalitasnya oleh Allah Taala. Yang harus dilakukan oleh para murabbi (pendidik) adalah bagaimana memahamkan Al-Quran dan Sunnah Rasulullah saw dengan bahasa yang mudah dipahami oleh mutarabbi (peserta didik) dan dengan menggunakan sarana-sarana modern yang sesuai dengan tuntutan zaman.
  • Rodhi

    Asslm.wr.wb.
    Tolong dikoreksi tulisan di atas, khususnya tentang aurat wanita di hadapan wanita lain atau laki-laki muhrim. Apakah hanya antara pusar samapi lutut yang harus ditutup? Apakah boleh bertelanjang dada di depan mereka????

  • puput

    bagaimana halnya wanita berjilbab saat kerja, diluaran pakai hotpant dan kaus aja…?
    Malah berhubungan dgn pria non muslim…?

  • lia

    ttg aurat muslimah pd wanita non muslim ayat y sesuai dg yg dijelaskan adalah: 24:31 bukan ayat 30. Jazakumullah

  • sepengetahuan saya jilbab dan khimar adalah dua benda yang berbeda, seperti yg memang dipaparkan di atas khimar adalah kerudung untuk menutup kepala, sedangkan jilbab adalah pakaian.
    Pengertian jilbab menurut Imam Al-Qurthubi ialah merupakan pakaian yang menutupi seluruh tubuh. jilbab berasal dari akar kata jalaba yang berarti menghimpun dan
    membawa. Jilbab pada masa nabi adalah pakaian luar yang menutupi segenap
    anggota tubuh dari kepala hingga kaki perempuan dewasa.

    dalam tafsirnya Imam Al-Qurthubi juga mengatakan bahwa al-jalaabiib
    dalam surat Al-Ahzab:59 merupakan jamak dari kata “al jilbaab” yaitu
    pakaian yang lebih besar dari “al khimar.”

    Jilbab adalah rida’ di atas khimar. Hal tersebut juga diungkapkan oleh
    Ibnu Masud, Ubaidah, Qatadah, Al Hasan Al Bashri, Said bin Jubair,
    Ibrahim An nakhai, Atha’ Al Khusarani. Dia seperti sarung (al izar) di
    zaman sekarang. Menurut Al Jauhari, jilbab adalah milhafah. Ummu Salamah
    menceritakan hadits berikut:

    “ketika diturunkan firmannya, ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke
    seluruh tubuh mereka’, maka kaum perempuan Anshor keluar seakan-akan di
    atas kepala mereka terdapat burung gagak, karena (tertutup oleh
    selimut).” (HR. Abu Dawud)

    Menurut Ali Mansur Nashif dalam kitab At Taaj al jaami’ Lil Ushulil fii
    Ahadits ar-Rosul, “jalaabibihinna” merupakan bentuk jamak dari kata
    jilbab yang artinya pakaian perempuan yang dipakai di luar kerudung dan
    baju gamisnya yang berfungsi menutupi seluruh tubuhnya. Menurut Munawir
    dan Al Ma’Louf dalam kamusnya kata jilbab diartikan sebagai baju kurung
    atau jubah.

    Diriwayatkan pula suatu hadits dari Ummu ‘Athiyah yang berkata: “
    Rosulullah saw telah memerintahkan kepada kami untuk keluar (menuju
    lapangan) pada saat hari raya Idul Fitri dan Idul Adha; baik perempuan
    tua, yang sedang haid, maupun perawan. Perempuan yang sedang haid
    menjauh dari kerumunan orang yang sedang shalat, tetapi mereka
    menyaksikan kebaikan dan seruan yang ditujukan kepada kaum muslim. Aku
    lantas berkata, “Ya Rosulullah saw, salahsatu antara kami tidak memiliki
    jilbab. “ Beliau kemudian bersabda, “Hendaklah salah seorang saudaranya
    meminjamkan jilbabnya.”

    Berdasarkan hadits tersebut cukup jelas menerangkan bahwa jilbab adalah
    pakaian yang wajib dikenakan saat ke luar, pakaian luar yang dikenakan
    oleh perempuan di atas pakaian yang digunakan sehari-hari (yang biasa
    digunakan di dalam rumah). Karena Ummu Athiyah bertanya tentang
    seseorang yang tidak memiliki jilbab, hal tersebut bukan berarti ia
    tidak memiliki pakaian dan tidak dalam kondisi telanjang, melainkan
    dalam keadaan menggunakan pakaian biasa yang dipakai di dalam rumah yang
    tidak boleh dipakai saat ke luar rumah.
    Terdapat pula riwayat yang disampaikan oleh Ibn ‘Abbas yang
    menyatakan bahwa jilbab adalah kain luar yang berfungsi untuk menutupi
    (pakaian keseharian perempuan) dari atas sampai bawah.

  • syukron atas ilmunya,afwan tadi ana ngopy tentang aurat lagi ada tugas…thank’s

Lihat Juga

Ilustrasi. (bidadarisurga.deviantart.com)

Wanita Jangan Cengeng!