Home / Berita / Nasional / Menteri Agama: Ahmadiyah Harus Dibubarkan

Menteri Agama: Ahmadiyah Harus Dibubarkan

Menteri Agama, Suryadharma Ali (blogspot.com)
dakwatuna.comMenteri Agama, Suryadharma Ali mengatakan bahwa Jamaah Ahmadiyah harus segera dibubarkan.

Menurut dia, Ahmadiyah bertentangan dengan Surat Keputusan Bersama Tiga Menteri. “Seharusnya Ahmadiyah segera dibubarkan. Kalau tidak dibubarkan permasalahannya akan terus berkembang,” kata Suryadharma usai mengikuti rapat gabungan di Gedung DPR, Senayan, Senin 30 Agustus 2010.

Dia mengatakan, dalam SKB Tiga Menteri sudah jelas dinyatakan bahwa ajaran Ahmadiyah tidak boleh disebarluaskan karena menyimpang dari Islam. “Maka itu, kalau mengaku Islam…ya menyebarkan ajaran yang sesuai dengan Islam,” kata dia.

Menurut Suryadharma, pembahasan pembubaran Ahmadiyah itu segera dilakukan dalam waktu dekat. Kementerian Agama dan instansi terkait akan segera membicarakan pembubaran itu secara intensif. “Nantilah setelah lebaran,” kata dia. (vivanews)

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (25 votes, average: 9,76 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Tim dakwatuna adalah tim redaksi yang mengelola dakwatuna.com. Mereka terdiri dari dewan redaksi dan redaktur pelaksana dakwatuna.com
  • Al-Faruq

    Alhamdulillah…Segala puji bagi Allah SWT dan kemuliaan untuk Rasulullah SAW

  • yasin

    apapun bentuknya yang menyimpang dengan syari’at atau ajaran ISLAM,harus di musnahkan

  • ….inkonsistensi surya darma ali……..ahmadiyah harus dibubarkan, malah gandeng mesra dengan panji gumilang……..

  • heri

    حَدَّثَنَا
    عَبْدُ الرَّزَّاقِ، أخبرَنَا مَعْمَرٌ، عَنْ أَيُّوبَ، عَنْ حُمَيْدِ
    بْنِ هِلَالٍ الْعَدَوِيِّ، عَنْ أَبِي بُرْدَةَ، قَالَ: قَدِمَ عَلَى
    أَبِي مُوسَى مُعَاذُ بْنُ جَبَلٍ بِالْيَمَنِ، فَإِذَا رَجُلٌ عِنْدَهُ،
    قَالَ: مَا هَذَا؟ قَالَ: رَجُلٌ كَانَ يَهُودِيًّا فَأَسْلَمَ، ثُمَّ
    تَهَوَّدَ، وَنَحْنُ نُرِيدُهُ عَلَى الْإِسْلَامِ، مُنْذُ قَالَ:
    أَحْسَبُهُ شَهْرَيْنِ، فَقَالَ: وَاللَّهِ لَا أَقْعُدُ حَتَّى تَضْرِبُوا
    عُنُقَهُ، فَضُرِبَتْ عُنُقُهُ، فَقَالَ: قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ ”
    أَنَّ مَنْ رَجَعَ عَنْ دَيْنِهِ فَاقْتُلُوهُ “، أَوْ قَالَ: ” مَنْ
    بَدَّلَ دَيْنَهُ فَاقْتُلُوهُ ”

    Telah
    menceritakan kepada kami ‘Abdurrazzaaq : Telah mengkhabarkan kepada
    kami Ma’mar, dari Ayyuub, dari Humaid bin Hilaal Al-‘Adawiy, dari Abu
    Burdah, ia berkata : Mu’aadz bin Jabal datang dan menemui Abu Muusaa di
    Yaman, yang ketika itu ada seorang laki-laki di dekatnya. Mu’aadz
    berkata : “Siapakah orang ini ?”. Abu Muusaa menjawab : “Seorang
    laki-laki yang dulunya beragama Yahudi, lalu masuk Islam, dan setelah
    itu kembali lagi menjadi Yahudi – dan kami menginginkannya ia tetap
    beragama Islam – semenjak dua bulan lalu. Mu’aadz berkata : “Demi Allah,
    aku tidak akan duduk sebelum engkau penggal leher orang ini”. Lalu
    orang itu pun dipenggal lehernya. Mu’aadz berkata : “Allah dan Rasul-Nya
    telah memutuskan bahwa siapa saja yang kembali dari agamanya (kepada
    kekafiran), maka bunuhlah ia” – atau : “Barangsiapa yang mengganti
    agamanya, maka bunuhlah ia” [Diriwayatkan oleh Ahmad, 5/231; shahih].

    Juga dari atsar para shahabat radliyallaahu ‘anhum :

    حَدَّثَنَا
    أَبُو الْيَمَانِ الْحَكَمُ بْنُ نَافِعٍ، أَخْبَرَنَا شُعَيْبُ بْنُ
    أَبِي حَمْزَةَ، عَنِ الزُّهْرِيِّ، حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ
    عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُتْبَةَ بْنِ مَسْعُودٍ، أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ
    رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: ” لَمَّا تُوُفِّيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى
    اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكَانَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
    وَكَفَرَ مَنْ كَفَرَ مِنْ الْعَرَبِ، فَقَالَ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ
    عَنْهُ: كَيْفَ تُقَاتِلُ النَّاسَ؟ وَقَدْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى
    اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى
    يَقُولُوا لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، فَمَنْ قَالَهَا فَقَدْ عَصَمَ
    مِنِّي مَالَهُ، وَنَفْسَهُ إِلَّا بِحَقِّهِ، وَحِسَابُهُ عَلَى اللَّهِ،
    فَقَالَ: وَاللَّهِ لَأُقَاتِلَنَّ مَنْ فَرَّقَ بَيْنَ الصَّلَاةِ،
    وَالزَّكَاةِ، فَإِنَّ الزَّكَاةَ حَقُّ الْمَالِ، وَاللَّهِ لَوْ
    مَنَعُونِي عَنَاقًا كَانُوا يُؤَدُّونَهَا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى
    اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَقَاتَلْتُهُمْ عَلَى مَنْعِهَا، قَالَ عُمَرُ
    رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: فَوَاللَّهِ مَا هُوَ إِلَّا أَنْ قَدْ شَرَحَ
    اللَّهُ صَدْرَ أَبِي بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، فَعَرَفْتُ، أَنَّهُ
    الْحَقُّ ”

    Telah
    menceritakan kepada kami Abul-Yamaan Al-Hakam bin Naafi’ : Telah
    mengkhabarkan kepada kami Syu’aib bin Abi Hamzah, dari Az-Zuhriy : Telah
    menceritakan kepada kami ‘Ubaidullah bin ‘Abdillah bin ‘Utbah bin
    Mas’uud, bahwasannya Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu berkata : Ketika Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam wafat, dan kekhalifahan digantikan oleh Abu Bakr radliyallaahu ‘anhu; kafirlah sekelompok orang ‘Arab (setelah Islamnya). ‘Umar radliyallaahu ‘anhu berkata : “Bagaimana engkau hendak memerangi mereka (karena enggan menunaikan zakat), padahal Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : ‘Aku
    diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka berkata tidak ada
    tuhan yang berhak disembah selain Allah. Barangsiapa yang telah
    mengatakannya, maka terlindungilah dariku hartanya dan dirinya kecuali
    dengan haknya. Adapun perhitungannya ada di sisi Allah”. Abu Bakr
    berkata : “Demi Allah, sungguh aku akan memerangi orang yang memisahkan
    antara shalat dan zakat, karena zakat itu adalah hak harta. Demi Allah,
    seandainya mereka menahan dariku untuk membayarkan anak kambing yang
    dulu mereka bayarkan kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, sungguh aku akan memerangi mereka dengan sebab itu”. ‘Umar radliyallaahu ‘anhu berkata : “Demi Allah, tidaklah hal itu dikatakannya kecuali Allah telah melapangkan dada Abu Bakr radliyallaahu ‘anhu, lalu aku pun mengetahuinya bahwa apa yang dikatakannya itu adalah kebenaran” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 1400].

  • heri

    Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata tentang sebab kekafiran orang yang enggan menunaikan zakat tersebut :

    وقد
    اتفق الصحابة والأئمة بعدهم على قتال مانعي الزكاة وإن كانوا يصلون الخمس
    ويصومون شهر رمضان،وهؤلاء لم يكن لهم شبهة سائغة، فلهذا كانوا مرتدين، وهم
    يقاتلون على منعها وإن أقروا بالوجوب كما أمر الله، وقد حكي عنهم أنهم
    قالوا: إن الله أمر نبيه بأخذ الزكاة بقوله (خذ من أموالهم صدقة) وقد سقطت
    بموته.

    “Para shahabat dan imam-imam setelah mereka telah sepakat
    untuk memerangi orang-orang yang enggan membayar zakat, meskipun mereka
    mengerjakan shalat lima waktu dan berpuasa di bulan Ramadlan. Mereka
    tidak memiliki syubhat yang bisa dibenarkan. Oleh karena itu, mereka
    adalah orang-orang yang murtad, dan mereka diperangi karena keengganan
    mereka (membayar zakat), meskipun mereka mengakui akan kewajibannya
    sebagaimana yang diperintahkan Allah. Dan telah dihikayatkan dari
    mereka, bahwasannya mereka berkata : ‘Sesungguhnya Allah memerintahkan
    Nabi-Nya untuk memungut zakat berdasarkan firman-Nya : ‘Ambillah zakat dari sebagian harta mereka’ (QS. At-Taubah : 103), dan kewajiban zakat telah gugur dengan kematian beliau” [Majmuu’ Al-Fataawaa, 28/519].

    Atau jika kita pahami bahwa Abu Bakr radliyallaahu ‘anhu
    memerangi mereka bukan karena murtad, namun hanya sekedar tidak
    menunaikan zakat; maka itu semakin memperkuat hujjah hukum bunuh bagi
    orang murtad. Seandainya mereka meninggalkan salah satu kewajiban dalam
    Islam (yaitu zakat) saja boleh ditumpahkan darahnya melalui peperangan,
    lantas bagaimana keadaan orang yang statusnya menanggalkan keseluruhan
    syari’at Islam untuk menjadi kafir/murtad ?.

    عَنْ
    مَعْمَرٍ، عَنِ الزُّهْرِيِّ، عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ
    بْنِ عُتْبَةَ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ: أَخَذَ ابْنُ مَسْعُودٍ قَوْمًا
    ارْتَدُّوا عَنِ الإِسْلامِ مِنْ أَهْلِ الْعِرَاقِ، فَكَتَبَ فِيهِمْ
    إِلَى عُمَرَ، فَكَتَبَ إِلَيْهِ: ” أَنِ اعْرِضْ عَلَيْهِمْ دِينَ
    الْحَقِّ، وَشَهَادَةَ أَنْ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ، فَإِنْ قَبِلُوهَا
    فَخَلِّ عَنْهُمْ، وَإِنْ لَمْ يَقْبَلُوهَا فَاقْتُلْهُمْ، فَقَبِلَهَا
    بَعْضُهُمْ فَتَرَكَهُ، وَلَمْ يَقْبَلْهَا بَعْضُهُمْ فَقَتَلَهُ ”

    Dari
    Ma’mar, dari Az-Zuhriy, dari ‘Ubaidullah bin ‘Utbah, dari ayahnya, ia
    berkata : Ibnu Mas’uud menawan satu kaum yang murtad dari Islam dari
    kalangan penduduk ‘Iraaq. Ia menulis kepada ‘Umar perihal mereka. ‘Umar
    membalas surat tersebut kepada Ibnu Mas’uud yang berkata : “Tawarkan
    kepada mereka agama yang benar (Islam) dan syahadat Laa ilaha illallaa.
    Apabila mereka menerima, bebaskan mereka. Namun bila mereka tidak
    menerimanya, bunuhlah mereka”. Maka sebagian orang-orang murtad itu
    menerimanya, lalu Ibnu Mas’uud pun membiarkannya (membebaskannya); dan
    sebagian tidak menerimanya, dan ia pun membunuhnya [Diriwayatkan oleh
    ‘Abdurrazzaaq, 10/168-169 no. 18707; shahih].

  • heri

    حَدَّثَنَا
    عَبْدُ الرَّحِيمِ بْنُ سُلَيْمَانَ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ
    عُبَيْدٍ الْعَامِرِيِّ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ: كَانَ أُنَاسٌ يَأْخُذُونَ
    الْعَطَاءَ وَالرِّزْقَ وَيُصَلُّونَ مَعَ النَّاسِ، وَكَانُوا يَعْبُدُونَ
    الْأَصْنَامَ فِي السِّرِّ، فَأَتَى بِهِمْ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ،
    فَوَضَعَهُمْ فِي الْمَسْجِدِ، أَوْ قَالَ: فِي السِّجْنِ، ثُمَّ قَالَ: ”
    يَأَيُّهَا النَّاسُ، مَا تَرَوْنَ فِي قَوْمٍ كَانُوا يَأْخُذُونَ
    مَعَكُمُ الْعَطَاءَ وَالرِّزْقَ وَيَعْبُدُونَ هَذِهِ الْأَصْنَامَ؟ ”
    قَالَ النَّاسُ: اقْتُلْهُمْ، قَالَ: ” لَا، وَلَكِنْ أَصْنَعُ بِهِمْ
    كَمَا صَنَعُوا بِأَبِينَا إبْرَاهِيمَ، فَحَرَّقَهُمْ بِالنَّارِ ”

    Telah
    menceritakan kepada kami ‘Abdurrahiim bin Sulaimaan, dari ‘Abdurrahmaan
    bin ‘Ubaid, dari ayahnya, ia berkata : “Ada sekelompok orang yang
    mengambil bagian harta dari baitul-maal,
    shalat bersama orang-orang lainnya, namun mereka menyembah berhala
    secara diam-diam. Maka didatangkanlah mereka ke hadapan ‘Aliy bin Abi
    Thaalib, lalu menempatkan mereka di masjid – atau di penjara – . ‘Aliy
    berkata : ‘Wahai sekalian manusia, apa pendapat kalian tentang satu kaum
    yang mengambil bagian harta dari baitul-maal bersama kalian, namun
    mereka menyembah berhala-berhala ini ?’. Orang-orang berkata : ‘Bunuhlah
    mereka !’. ‘Aliy berkata : ‘Tidak, akan tetapi aku melakukan sesuatu
    kepada mereka sebagaimana mereka dulu (yaitu para penyembah berhala)
    melakukannya kepada ayah kita Ibraahiim’. Lalu ia membakar mereka dengan
    api[3]” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah 10/142 & 12/392; sanadnya shahih].

    عَنِ
    الثَّوْرِيِّ، عَنْ سِمَاكِ بْنِ حَرْبٍ، عَنْ قَابُوسَ بْنِ مُخَارِقٍ،
    أَنَّ مُحَمَّدَ بْنَ أَبِي بَكْرٍ، كَتَبَ إِلَى عَلِيٍّ يَسْأَلُهُ عَنْ
    مُسْلِمَيْنِ تَزَنْدَقَا، فَكَتَبَ إِلَيْهِ ” إِنْ تَابَا، وَإِلا
    فَاضْرِبْ أَعْنَاقَهُمَا

    Dari
    Ats-Tsauriy, dari Simaak bin Harb, dari Qaabuus bin Mukhaariq :
    Bahwasannya Muhammad bin Abi Bakr menulis surat kepada ‘Aliy yang
    menanyakan kepadanya tentang dua orang muslim yang berubah menjadi
    zindiq. Lantas ‘Aliy menulis balasan kepadanya : “Jika bertaubat, maka
    taubatnya diterima. Jika tidak, penggallah leher mereka berdua”
    [Diriwayatkan oleh ‘Abdurrazzaaq 10/170-171 no. 18712; hasan].

    حَدَّثَنَا
    مُحَمَّدُ بْنُ كَثِيرٍ، أَخْبَرَنَا سُفْيَانُ، عَنْ أَبِي إِسْحَاق،
    عَنْ حَارِثَةَ بْنِ مُضَرِّبٍ، أَنَّهُ أَتَى عَبْدَ اللَّهِ، فَقَالَ:
    مَا بَيْنِي وَبَيْنَ أَحَدٍ مِنْ الْعَرَبِ حِنَةٌ، وَإِنِّي مَرَرْتُ
    بِمَسْجِدٍ لِبَنِي حَنِيفَةَ فَإِذَا هُمْ يُؤْمِنُونَ بِمُسَيْلِمَةَ،
    فَأَرْسَلَ إِلَيْهِمْ عَبْدَ اللَّهِ فَجِيءَ بِهِمْ فَاسْتَتَابَهُمْ
    غَيْرَ ابْنِ النَّوَّاحَةِ، قَالَ لَهُ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى
    اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: ” لَوْلَا أَنَّكَ رَسُولٌ لَضَرَبْتُ
    عُنُقَكَ فَأَنْتَ الْيَوْمَ لَسْتَ بِرَسُولٍ، فَأَمَرَ قَرَظَةَ بْنَ
    كَعْبٍ فَضَرَبَ عُنُقَهُ فِي السُّوقِ، ثُمَّ قَالَ: مَنْ أَرَادَ أَنْ
    يَنْظُرَ إِلَى ابْنِ النَّوَّاحَةِ قَتِيلًا بِالسُّوقِ ”

    Telah
    menceritakan kepada kami Muhammad bin Katsiir : Telah mengkhabarkan
    kepada kami Sufyaan, dari Abu Ishaaq, dari Haaritsah bin Mudlarrib,
    bahwasannya ia pernah menemui ‘Abdullah (bin Mas’uud), lalu berkata :
    “Tidaklah antara diriku dengan seorang pun dari bangsa ‘Arab permusuhan.
    Sesungguhnya aku telah telah melewati masjid Bani Haniifah yang mereka
    itu beriman kepada Musailamah (Al-Kadzdzab). ‘Abdullah mengutus utusan
    kepada mereka. Mereka pun didatangkan kepada ‘Abdullah dan diminta untuk
    bertaubat, kecuali Ibnun-Nawwaahah. Ibnu Mas’uud berkata kepadanya :
    “Aku mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : ‘Seandainya engkau bukan utusan, sungguh akan aku penggal lehermu’. Dan kami sekarang bukan lagi berstatus sebagai utusan”.[4]
    Ibnu Mas’uud menyuruh Quradhah bin Ka’b untuk memenggal lehernya di
    pasar. Lantas ia berkata : “Siapa yang ingin melihat Ibnun-Nawwaahah
    dibunuh di pasar ?” [Diriwayatkan oleh Abu Daawud no. 2762].

  • heri

    Maalik bin Anas rahimahullah setelah membawakan hadits dari Zaid bin Aslam : ‘barangsiapa yang mengubah agamanya, maka penggallah lehernya’; berkata :

    وَمَعْنَى
    قَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيمَا نُرَى
    وَاللَّهُ أَعْلَمُ مَنْ غَيَّرَ دِينَهُ فَاضْرِبُوا عُنُقَهُ: أَنَّهُ
    مَنْ خَرَجَ مِنَ الْإِسْلَامِ إِلَى غَيْرِهِ مِثْلُ الزَّنَادِقَةِ
    وَأَشْبَاهِهِمْ، فَإِنَّ أُولَئِكَ إِذَا ظُهِرَ عَلَيْهِمْ قُتِلُوا
    وَلَمْ يُسْتَتَابُوا، لِأَنَّهُ لَا تُعْرَفُ تَوْبَتُهُمْ، وَأَنَّهُمْ
    كَانُوا يُسِرُّونَ الْكُفْرَ وَيُعْلِنُونَ الْإِسْلَامَ، فَلَا أَرَى
    أَنْ يُسْتَتَابَ هَؤُلَاءِ وَلَا يُقْبَلُ مِنْهُمْ قَوْلُهُمْ، وَأَمَّا
    مَنْ خَرَجَ مِنَ الْإِسْلَامِ إِلَى غَيْرِهِ وَأَظْهَرَ ذَلِكَ،
    فَإِنَّهُ يُسْتَتَابُ، فَإِنْ تَابَ وَإِلَّا قُتِلَ، وَذَلِكَ لَوْ أَنَّ
    قَوْمًا كَانُوا عَلَى ذَلِكَ، رَأَيْتُ أَنْ يُدْعَوْا إِلَى
    الْإِسْلَامِ وَيُسْتَتَابُوا، فَإِنْ تَابُوا قُبِلَ ذَلِكَ مِنْهُمْ،
    وَإِنْ لَمْ يَتُوبُوا قُتِلُوا، …….

    “Dan makna sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam ‘barangsiapa yang mengubah agamanya’, menurut kami – wallaahu a’lam
    – : barangsiapa yang keluar dari Islam kepada selainnya seperti
    zanaadiqah dan yang semisalnya, maka jika hal itu (yaitu kezindiqan)
    nampak pada diri mereka, dibunuh tanpa diminta untuk bertaubat. Karena
    tidak diketahui taubat mereka, dan mereka menyembunyikan kekufuran
    mereka dengan menampakkan keislaman. Aku tidak berpendapat mereka itu
    diminta untuk bertaubat (sebelum dibunuh), dan tidak diterima perkataan
    (taubat) mereka. Adapun bagi orang yang keluar dari Islam kepada
    selainnya (misal : Nashrani, Yahudi, Majusi, dan yang lainnya – Abul-Jauzaa’),
    dan menampakkannya, maka mereka diminta untuk bertaubat. Jika mereka
    bertaubat, diterima, dan jika tidak, maka dibunuh……” [Al-Muwaththaa’, 3/553, tahqiq : Saliim Al-Hilaaliy].

    Praktek Maalik bin Anas rahimahullah tentang kaum zanaadiqah yang murtad dari Islam :

    حدثنا
    سليمان بن أحمد ثنا الحسن بن إسحاق التستري ثنا يحيى بن خلف ابن الربيع
    الطرسوسي – وكان من ثقات المسلمين وعبادهم – قال : كنت عند مالك بن أنس
    ودخل عليه رجل فقال : يا أبا عبد الله ما تقول فيمن يقول القرآن مخلوق ؟.
    فقال مالك : زنديق اقتلوه، فقال : يا أبا عبد الله، إنما أحكى كلاما سمعته،
    فقال لم أسمعه من أحد، إنما سمعته منك، وعظم هذا القول

    Telah
    menceritakan kepada kami Sulaimaan bin Ahmad : Telah menceritakan
    kepada kami Al-Hasan bin Ishaaq At-Tustariy : Telah menceritakan kepada
    kami Yahyaa bin Khalaf bin Ar-Rabii’ – dan ia termasuk kalangan
    terpercaya (tsiqaat) dan ahli ibadah dari kaum muslimin – , ia
    berkata : Aku pernah di sisi Maalik bin Anas, dan masuklah seorang
    laki-laki menemuinya lalu berkata : ”Wahai Abu ’Abdillah, apa yang
    engkau katakan tentang orang yang mengatakan Al-Qur’an adalah makhluk
    ?”. Maalik menjawab : ”Zindiiq, bunuhlah ia”. Lalu laki-laki berkata :
    ”Wahai Abu ’Abdillah, aku hanya meriwayatkan perkataan yang aku dengar
    saja”. Maka Maalik berkata : ”Aku tidak pernah mendengar dari seorang
    pun kecuali dari engkau”. Maalik pun menganggap besar
    perkataan ini [Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah, 6/325; shahih].

  • heri

    Ijmaa’ hukum bunuh berlaku pada laki-laki yang murtad. Adapun untuk wanita yang murtad, maka salaf berbeda pendapat. Yang raajih, tetap dihukum bunuh sesuai dengan keumuman nash.

    Ada sebagian orang yang mengklaim ketidakvalidan ijmaa’ di atas berdasarkan riwayat dari Ibraahiim An-Nakha’iy rahimahullah.

    عَنِ
    الثَّوْرِيِّ، عَنْ عَمْرِو بْنِ قَيْسٍ، عَنِ إِبْرَاهِيمَ، قَالَ فِي
    الْمُرْتَدِّ يُسْتَتَابُ أَبَدًا “، قَالَ سُفْيَانُ: هَذَا الَّذِي
    نَأْخُذُ بِهِ

    Dari
    Ats-Tsauriy, dari ‘Amru bin Qais, dari Ibraahiim, ia berkata tentang
    orang murtad : “Diminta untuk bertaubat selamanya”. Sufyaan berkata :
    “Pendapat inilah yang kami ambil” [Diriwayatkan oleh ‘Abdurrazzaaq no.
    18697; shahih].

    Ada beberapa ulama mengomentari perihal perkataan Ibraahiim An-Nakha’iy rahimahullah ini, di antaranya Ibnu Qudaamah yang berkata :

    وقال النخعي : يستتاب أبدا وهذا يفضي إلى أن لا يقتل أبدا وهو مخالف للسنة والاجماع

    “An-Nakha’iy
    berkata : ‘Diminta untuk bertaubat selamanya’. Ini dipahami bahwa orang
    murtad tidak dibunuh selamanya. Perkataan/pemahaman tersebut
    menyelisihi sunnah dan ijmaa’” [Al-Mughniy, 10/72].

    Yang lebih penting dari komentar Ibnu Qudaamah di atas adalah memahami perkataan Ibraahiim An-Nakha’iy rahimahumallah itu sendiri. ‘Abdullah bin Wahb rahimahullah membawakan riwayat Ibraahiim lebih lengkap sebagai berikut :

    قَالَ
    سُفْيَانُ: وَأَخْبَرَنِي عُمَرُو بْنُ قَيْسٍ، عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ
    يَزِيدَ أَنَّهُ قَالَ: الْمُرْتَدُّ يُسْتَتَابُ أَبَدًا كُلَّمَا رَجَعَ

    Telah
    berkata Sufyaan : Dan telah mengkhabarkan kepadaku ‘Amru bin Qais, dari
    Ibraahiim bin Yaziid (An-Nakha’iy), bahwasannya ia berkata : “Orang
    murtad diminta untuk bertaubat selamanya, setiap kali ia kembali (pada
    kekafiran)” [Diriwayatkan oleh ‘Abdullah bin Wahb dalam kitab Muhaarabah hal. 60].

    Jadi,
    maksud perkataan Ibraahiim adalah orang tersebut tetap diminta untuk
    bertaubat setiap kali ia murtad. Oleh karena itu, perkataan An-Nakhaaiy
    sebelumnya tidak cukup kuat dan sharih (jelas) untuk membatalkan ijmaa’. Al-Bukhaariy rahimahullah berkata dalam Shahiih-nya :

    بَاب
    حُكْمِ الْمُرْتَدِّ وَالْمُرْتَدَّةِ وَاسْتِتَابَتِهِمْ، وَقَالَ ابْنُ
    عُمَرَ، وَالزُّهْرِيُّ، وَإِبْرَاهِيمُ: تُقْتَلُ الْمُرْتَدَّةُ

    “Baab : Hukum tentang laki-laki dan wanita yang murtad. Telah berkata Ibnu ‘Umar, Az-Zuhriy, dan Ibraahiim : ‘Wanita yang murtad dibunuh” [Shahiih Al-Bukhaariy, 7/279].

    Dan ini riwayat Ibraahiim dengan sanadnya :

    عَنْ
    مَعْمَرٍ، عَنْ سَعِيدٍ، عَنْ أَبِي مَعْشَرٍ، عَنِ إِبْرَاهِيمَ: ” فِي
    الْمَرْأَةِ تَرْتَدُّ، قَالَ: تُسْتَتَابُ، فَإِنْ تَابَتْ، وَإِلا
    قُتِلَتْ ”

    Dari
    Ma’mar, dari Sa’iid, dari Abu Ma’syar, dari Ibraahiim tentang wanita
    murtad, ia berkata : “Diminta untuk bertaubat. Jika ia bertaubat,
    taubatnya diterima. Namun jika ia tidak bertaubat, dibunuh”
    [Diriwayatkan oleh ‘Abdurrazzaaq no. 18726].

  • heri

    Tidak diketahui apakah Ma’mar mendengar riwayat Sa’iid bin Abi ‘Aruubah setelah atau sebelum ikhtilaath-nya.
    Selain itu, riwayat Ma’mar dari penduduk Bashrah – dan Ibnu Abi
    ‘Aruubah adalah orang Bashrah – terdapat beberapa kekeliruan,
    sebagaimana dikatakan Abu Haatim dan Ibnu Ma’iin rahimahumullah. Wallaahu a’lam. Namun Ma’mar mempunyai mutaba’ah dari Sufyaan Ats-Tsauriy dan Muhammad bin Bisyr sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah 10/141. Abu Ma’syar mempunyai mutaba’ah dari Hammaad bin Abi Sulaimaan. Oleh karena itu, riwayat Ibraahiim ini shahih.
    Ditambah lagi keterangan riwayat Ats-Tsauriy yang diriwayatkan
    ‘Abdurrazzaaq no. 10142 tentang harta orang murtad yang dibunuh – yang
    menjelaskan kesepakatannya terhadap perkataan An-Nakha’iy hanyalah
    berkaitan dengan persyaratan taubat saja. Wallaahu a’lam.

    Ini adalah indikasi yang sangat kuat bahwa maksud perkataan Ibraahiim An-Nakhaa’iy rahimahullah tidak seperti yang mereka inginkan.

    Ada syubhat lain untuk menolak hadd bunuh
    bagi orang murtad. Banyak ayat dalam Al-Qur’an yang berkaitan dengan
    kemurtadan, namun tidak ada satu pun di antaranya yang menjelaskan hukum
    bunuh tersebut.

    Jawab :

    Ini adalah syubhat usang sebagaimana syubhat
    kaum Mu’tazilah atau pengingkar sunnah. Jika yang bersangkutan tidak
    berhujjah dengan As-Sunnah (Al-Hadits), maka kita tidak perlu bersusah
    payah untuk menjawabnya, karena permasalahannya harus ditarik pada hal
    yang lebih mendasar, yaitu kehujjahan As-Sunnah. Bukan pada bahasan
    hukum bunuh bagi orang murtad. Namun jika yang bersangkutan ‘mengaku’
    berhujjah dengan As-Sunnah, sudah seharusnya ia mengambil keduanya.
    As-Sunnah menjelaskan hukum yang ada di dalam Al-Qur’an. As-Sunnah
    menjelaskan bagaimana Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam memahami dan mengamalkan Al-Qur’an. Allah ta’ala berfirman :

    وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

    “Dan
    Kami turunkan kepadamu Al Qur’an, agar kamu menerangkan kepada umat
    manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka
    memikirkan” [QS. An-Nahl : 44].

    Tahukah
    kita apa konsekuensi jika riwayat dihukumi shahih atau hasan ?.
    Konsekuensinya, apa yang dikhabarkan oleh para perawi hadits adalah
    benar adanya dan ada wujudnya. Jika mereka meriwayatkan perkataan, maka
    perkataan itu memang pernah dikatakan. Jika mereka meriwayatkan
    perbuatan, maka benar bahwa perbuatan itu pernah dilakukan. Valid.

    Jika para pengingkar itu menolak riwayat-riwayat shahih, apalagi yang berasal dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, apakah mereka merasa lebih mengetahui hukum riddah daripada beliau ?. Apakah mereka menganggap beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam keliru dan mereka benar, sedangkan Allah ta’ala berfirman tentang diri beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam :

    وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى * إِنْ هُوَ إِلا وَحْيٌ يُوحَى

    “Dan
    tiadalah yang diucapkannya itu (Al Qur’an) menurut kemauan hawa
    nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan
    (kepadanya)” [QS. An-Najm : 3-4].

    Para pengingkar juga berhujjah dengan ayat ‘kebebasan beragama’[6] :

    لا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ

    “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam)” [QS. Al-Baqarah : 256].

    Jawab :

    Ayat-ayat di atas sama sekali tidak bertentangan dengan riwayat-riwayat tentang hadd bunuh
    bagi orang murtad – sebagaimana sangkaan mereka. Ayat di atas adalah
    benar bahwa tidak ada paksaan sama sekali untuk masuk agama Islam. Namun
    ayat tersebut turun sebelum ayat jihaad. Allah ta’ala kemudian berfirman :

    قَاتِلُوا
    الَّذِينَ لا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلا بِالْيَوْمِ الآخِرِ وَلا
    يُحَرِّمُونَ مَا حَرَّمَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَلا يَدِينُونَ دِينَ
    الْحَقِّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حَتَّى يُعْطُوا الْجِزْيَةَ
    عَنْ يَدٍ وَهُمْ صَاغِرُونَ

    “Perangilah
    orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada
    hari kemudian dan mereka tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan
    oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar
    (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al Kitab kepada
    mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam
    keadaan tunduk” [QS. At-Taubah : 29].

    Ini sesuai dengan sabda beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang telah disebutkan di atas :

    أُمِرْتُ
    أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَقُولُوا لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ،
    فَإِذَا قَالُوهَا وَصَلَّوْا صَلَاتَنَا وَاسْتَقْبَلُوا قِبْلَتَنَا
    وَذَبَحُوا ذَبِيحَتَنَا، فَقَدْ حَرُمَتْ عَلَيْنَا دِمَاؤُهُمْ
    وَأَمْوَالُهُمْ إِلَّا بِحَقِّهَا وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللَّهِ ”

    “Aku
    diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka mengatakan Laa
    ilaha illallaah. Apabila mereka telah mengatakannya, mengerjakan shalat
    seperti shalat kita, menghadap ke kiblat kita, dan menyembelih seperti
    sembelihan kami; maka diharamkan bagi kami atas darah mereka dan harta
    mereka, kecuali dengan haknya. Adapun perhitungannya ada di sisi Allah” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 393].

  • heri

    Nabi Muhammad saw adalah nabi terakhir

    Perkara bahwa nabi Muhammad saw adalah nabi
    terakhir, adalah perkara yang sudah pasti dan diyakini oleh semua umat
    Islam. Setelah risalah beliau tidak akan ada lagi nabi yang diutus
    Tuhan. Banyak sekali ayat-ayat Al Qur’an yang menjelaskan masalah ini,
    misalnya ayat 41 dan 42 surah Al Furqan, ayat 19 surah Al An’am, ayat 28
    surah Saba’, dan seterusnya. Begitu pula riwayat-riwayat yang tak
    terhitung jumlahnya menjelaskan akidah umat Islam yang satu ini, baik
    dari kalangan Ahlu Sunah maupun Syiah.

    Ada sebuah dialog antara seorang Muslim dengan orang Baha’i. Silahkan anda menyimaknya:

    Muslim:
    “Sebagaimana yang kalian nyatakan, kalian menerima kebenaran Islam dan
    Al Qur’an. Hanya saja kalian meyakini bahwa setelah Islam ada ajaran
    lain yang menghapus ajaran Islam. Aku ingin bertanya kepada kalian,
    bukankah banyak ayat-ayat Al Qur’an yang menjelaskan bahwa Islam adalah
    agama terakhir dan global hingga akhir jaman?”

    Baha’i: “Misalnya ayat apakah itu?”

    Muslim: “Di ayat ke-40 surah Al Ahzab Allah swt berfirman:

    “Bukanlah
    Muhammad itu ayah seseorang dari kalian, namun ia adalah utusan Allah
    dan nabi terakhir. Dan sesungguhnya Allah maha tahu akan segala
    sesuatu.” (QS. Al Ahzab: 40)

    Kata “khatamun nabiyyin” di ayat itu
    menjelaskan bahwa nabi Muhammad saw adalah nabi terakhir yang diutus
    Allah swt. Karana kata “khatm” itu berarti akhir dan yang mengakhiri.
    Jadi tidak ada nabi lain setelah Rasulullah saw yang membawa ajaran
    baru.”

    Bahai: “Khatam berarti cincin yang menjadi hiasan jari.
    Oleh karena itu yang dimaksud ayat tersebut adalah Rasulullah saw
    merupakan penghias nabi-nabi.”

    Muslim: “Semua ahli tafsir
    mengakui bahwa arti “khatam” di ayat itu adalah “pengakhir” atau “yang
    terakhir”, bukan cincin. Karena menurut ahli bahasa, kata khatam tidak
    pernah diungkapkan untuk mensifati manusia. Kata “khatam” yang berarti
    cincin itu pun pada mulanya berarti “pengakhir”, bukan cincin itu
    sendiri. Karena cincin sering digunakan sebagai stempel untuk mengakhiri
    surat, maka cincin disebut “khatam”.

    Coba lihat pendapat para ahli bahasa tentang arti “khatam”:

    Fairuzabadi
    dalam kitab Qamus Al Lughah berkata: “Khatm berarti mengecap dengan
    stempel. Juga berarti mengakhiri sesuatu, atau sesuatu telah sampai pada
    akhirnya.”

    Jauhari dalam kitab bahasanya Shihah berkata: “Khatm berarti sampai di akhir.”

    Ibnu
    Manzur dalam kitabnya Lisanul Arab berkata: “Katamul Qaum berarti orang
    terakhir pada suatu kaum. Sedang Khatamun Nabiyyin adalah nabi yang
    terakhir.”

    Raghib dalam kitabnya Al Mufradat berkata: “Khatamun
    Nabiyyin yakni Rasulullah saw dengan kedatangannya telah menutup risalah
    kenabian dan mengakhirinya.”

    Jadi, yang dimaksud dengan kata “khatam” dalam ayat tersebut adalah “terakhir”, bukan “hiasan” sebagaimana yang kalian yakini.”

    Baha’i:
    “Kata “khatam” memang benar disebut unutk cincin yang mengakhiri suatu
    surat karena berlaku sebagai stempel yang biasa dipakai orang-orang saat
    itu. Maka benar artinya nabi Muhammad adalah nabi yang membenarkan
    nabi-nabi sebelumnya sebagaimana stempel membenarkan isi surat di
    atasnya.”

    Muslim: “Dari segi bahasa dan percakapan dalam bahasa
    Arab, kata “khatam” tidak pernah digunakan sebagai pembenar sebagaimana
    yang kalian maksud. Kalau kalian katakan maksud “khatam” adalah “yang
    mengakhiri”, sebagaimana stempel itu mengakhiri sebuah surat, maka itu
    benar, dan artinya nabi adalah utusan Tuhan yang mengakhiri nabi-nabi.”

    Baha’i:
    “Ayat yang kau baca menyebut Rasulullah saw sebagai “khatamun
    nabiyyin”, yakni akhir para nabi; ayat itu tidak mengatakan beliau
    adalah akhir para rasul. Jadi mungkin saja ada rasul yang datang setelah
    beliau meskipun tidak ada nabi lain yang datang setelahnya!”

    Muslim:
    “Meskipun dalam Al Qur’an antara nabi dan rasul memiliki arti yang
    berbeda, misalnya Rasulullah saw menyebut nabi Ismail as sebagai nabi
    namun menyebut nabi Musa as sebagai rasul, namun masalah ini tidak bisa
    menjadi syubhat untuk permasalahan “khatamun nabiyyin”, karena nabi yang
    dimaksud adalah nabi yang diutus dari sisi Tuhan dan diberi wahyu
    oleh-Nya, entah diperintahkan untuk menyampaikannya ataupun tidak,
    sedangkan rasul adalah nabi yang diberi wahyu lalu diperintahkan untuk
    menyampaikannya. Jadi semua rasul adalah nabi, dan tidak semua nabi
    adalah rasul. Dengan demikian ayat tersebut mencakup para rasul. Ketika
    difirmankan tidak akan ada nabi setelah Rasulullah saw, maka artinya
    rasul pun tidak akan diutus setelah itu; sebagaimana yang sudah
    dijelaskan, rasul adalah nabi.”

    Baha’i: “Penjelasan tentang nabi
    dan rasul begini: setiap kali ada nabi, maka tidak ada rasul, dan setiap
    kali ada rasul, tidak ada seorang nabi. Jadi apa yang kukatakan benar.”

    Muslim:
    “Pengertian seperti itu bertentangan dengan pendapat para ulama dan
    ayat serta riwayat. Buktinya ayat di atas menyebut nabi Muhammad saw
    sebagai rasul dan juga nabi. Ia berfirman: “Tetapi ia adalah utusan
    Allah (Rasulullah) dan nabi terakhir.” Banyak pula riwayat yang
    menjelaskan bahwa beliau juga “khatamul mursalim”, yakni akhir para
    rasul, akhir para utusan Tuhan. Jadi tidak benar apa yang kalian
    katakan.”

    Baha’i: “Mungkin saja maksud “khatamun nabiyyin” adalah
    beliau merupakan pengakhir nabi-nabi tertentu saja. Bisa jadi yang
    dimaksud “para nabi” bukanlah semua nabi.”

    Muslim: “Lucu sekali
    pernyataan itu. Karena orang yang kurang lebih bisa bahasa Arab ketika
    membaca “an nabiyyin”, yang mana kata itu adalah jamak dan memiliki alif
    dan lam di sebelumnya, akan memahami bahwa kata itu umum, yang artinya
    mencakup seluruh nabi.”[1]

Lihat Juga

Pernyataan Sikap PP IKADI Tentang Aksi Damai Mengawal Pendapat Dan Sikap Keagamaan MUI