20:06 - Kamis, 23 Oktober 2014
Iman Santoso, Lc

Aspek Hukum Puasa Ramadhan

Rubrik: Fiqih Ahkam | Oleh: Iman Santoso, Lc - 14/08/10 | 19:06 | 05 Ramadhan 1431 H

Ilustrasi (inet)

Ilustrasi (inet)

Syarat syaratnya puasa Ramadhan:

dakwatuna.com – Puasa Ramadhan wajib dilakukan bagi seseorang yang memenuhi lima syarat :

1. Islam

2. Baligh

3. Berakal

4. Mukim

5. Sehat.

6. Tidak dalam keadaan haidh atau nifas.

Rukun Puasa :

1. Niat, puasa dianggap tidak sah tanpa disertai dengan niat yang dilakukan di malam hari sebelum terbitnya fajar. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam :

” إنما الأعمال بالنيات “

“Sesungguhnya amal perbuatan itu tergantung pada niatnya” HR. Bukhori dan Muslim.

2. Menahan diri dari hal hal yang bisa membatalkan puasa, seperti makan, minum, bersetubuh dengan istri, mulai terbit fajar sampai terbenamnya matahari.

Hal hal yang membolehkan seseorang untuk berbuka puasa :

1. Safar

2. Sakit.

3. Mengandung dan menyusui.

4. Jompo, atau usia lanjut.

5. Kehausan dan kelaparan, yang melampaui batas

Hal hal yang disunnahkan dalam berpuasa :

1. Sahur walaupun dengan seteguk air,

2. Menyegerakan berbuka.

3. Berdo’a ketika akan berbuka.

4. Menahan anggota tubuh untuk tidak melakukan hal hal yang bisa mengurangi pahala puasa.

5. Berusaha untuk mandi janabah atau mandi setelah haidh atau nifas sebelum fajar, agar puasanya sejak pagi sudah dalam keadaan suci, walaupun jika mandinya dilakukan setelah fajar tetap puasanya dianggap sah.

6. Memberi makan pada orang lain untuk berbuka puasa, baik makanan ringan, minuman atau lainnya, walaupun yang lebih utama adalah yang mengenyangkan.

7. I’tikaf, terutama pada sepuluh hari yang terakhir di bulan Ramadhan.

Hal hal yang dimakruhkan ketika berpuasa :

1. Puasa wishol (dua hari bersambung tanpa berbuka).

2. Melakukan hubungan mesra dengan istri tanpa bersetubuh, seperti mencium, meraba, dan lain lain, karena dikhwatirkan bisa mengeluarkan air mani yang bisa membatalkan puasa, dan dikhawatirkan jatuh dalam persetubuhan yang haram untuk dilakukan, yang bisa memberatkan dalam hukuman.

3. Berlebih lebihan dalam melakukan hal yang mubah, seperti mencium wangi wangian disiang hari bulan Ramadhan.

4. Mencicipi makanan, karena dikhawatirkan bisa tertelan dan bisa tercampur ludah yang kemudian tertelan.

5. Berkumur dan istinsyaq (menghirup air dengan hidung) secara berlebihan, karena dikhwatirkan bisa tertelan yang mengakibatkan puasanya menjadi batal.

Hal hal yang bisa membatalkan puasa:

Yang membatalkan puasa dan mengharuskan untuk qodho:

1. Makan dan minum dengan sengaja, jika makan dan minum itu dilakukan tidak dengan sengaja, seperti lupa atau dalam paksaan, maka tidak membatalkan puasa, dan tidak mengharuskan untuk diqodho. “Barang siapa yang lupa sedangkan ia sedang berpuasa, kemudian ia makan atau minum, maka teruskan puasanya, karena ia telah diberi makanan dan minuman oleh Allah swt.” (HR Jamaah)

2. Minuman atau obat obatan yang bisa berfungsi seperti makanan, seperti infus, vitamin, dan lainnya.

3. Muntah dengan sengaja, jika muntah tanpa sengaja maka puasanya tidak batal, dan tidak wajib diqodho.

4. Haidh dan nifas walaupun sedikit dan terjadi sesaat menjelang terbenamnya matahari.

5. Istimna’, yaitu mengeluarkan air mani dengan sengaja, baik dengan onani, menghayal, atau mencium istrinya.

6. Memasukkan sesuatu yang bukan makanan pokok melalui lobang yang bisa sampai pada perut besar, seperti gula, garam, mentega, dan lain lain.

7. Makan, minum dan bersetubuh dengan meyakini bahwa matahari sudah terbenam atau fajar belum terbit, ternyata sebaliknya, matahari belum terbenam atau fajar sudah terbit. Dalam keadaan seperti ini batallah puasa dan baginya wajib mengqodhonya di kemudian hari.

Yang membatalkan puasa dan mengharuskan qodho dan kaffarah:

Jima’ atau bersetubuh di siang hari bulan Ramadhan, dengan sengaja, walaupun tanpa mengeluarkan air mani, dan kewajiban ini berlaku bagi keduanya, laki laki dan wanita. Seperti yang terjadi pada seorang badui yang datang pada Nabi dan menceritakan bahwa ia telah melakukan hubungan suami istri, maka kemudian Nabi mewajibkan ia untuk membayar kaffarah, yaitu secara berurutan; memerdekakan budak, jika tidak mampu puasa dua bulan berturut turut, dan jika tidak mampu memberi makan 60 orang miskin. (HR. Jama’ah dari Abi Hurairah. Lihat : Nailul Author 4/214)

Iman Santoso, Lc

Tentang Iman Santoso, Lc

Pengasuh Pesantren Al-Qur’an Hidayatul Islam Jakarta. [Profil Selengkapnya]

Redaktur: Hendra

Keyword: , , , , ,


Beri Nilai Naskah Ini:

Nilai 1Nilai 2Nilai 3Nilai 4Nilai 5Nilai 6Nilai 7Nilai 8Nilai 9Nilai 10 (11 orang menilai, rata-rata: 7,36 dalam skala 10)
Loading...Loading...


Akses http://m.dakwatuna.com/ dimana saja melalui ponsel atau smartphone Anda.
Iklan negatif? Laporkan!
  • Muchlis

    Assalamu ‘alaikum Wr.Wb.
    Saya pernah mendengar bahwa haid adalah syarat syahnya shalat, sehingga ada orang yang tetap puasa meskipun dia haid. Mohon informasi dalil yang menyatakan haid itu merupakan syarat syah puasa Pak Ustadz.

  • Ilham Syahrulla

    walah ngarang. blajar lg yg bener jangan menyesatkan. jelas2 haid ga boleh solat jangankan solat nyentuh alquran aja ga boleh.

Iklan negatif? Laporkan!
77 queries in 1,423 seconds.