Home / Berita / Nasional / Geliat Bisnis di Hotel Syariah

Geliat Bisnis di Hotel Syariah

dakwatuna.com – Jakarta. Jika menyebut Hotel Sofyan, pikiran Imam mengawang-awang ke tahun 1980-an. Saat itu ada sebuah klub malam Santai Music Club di hotel yang berada di Jl Saharjo, Tebet, Jakarta Selatan itu. Tamu-tamu akan dimanjakan dengan perempuan-perempuan cantik yang siap menemani tamu sampai ke dalam kamar hotel.

“Para lady companion (LC) itu duduk-duduk di dalam sebuah ruangan yang bisa dilihat dari luar. Mereka seperti di dalam aquarium. Mereka bertugas menemani tamu di klub malam bahkan bisa dibooking ke luar,” kenang Imam, karyawan yang bekerja di wilayah Pancoran tersebut saat berbincang-bincang dengan detikcom, Senin (11/7/2010).

Selain memiliki klub malam dan karaoke, hotel yang terletak di depan Universitas Sahid itu, juga memiliki diskotek dan panti pijat. Karena memiliki akomodasi hiburan yang lumayan lengkap, banyak para penikmat hiburan malam yang berkunjung ke kawasan hotel tersebut. Apalagi tarif menginap di hotel tersebut relatif murah, yakni Rp 180 ribuan per malam.

Karena tarifnya yang murah, kata Imam, banyak tamu yang memanfaatkan hotel tersebut hanya untuk tempat berkencan saja. “Hotel itu lebih sering dipakai untuk kencan short time aja. Karena harganya murah,” beber Imam.

Kondisi tersebut diakui Riyanto Sofyan, pemilik grup Hotel Sofyan. Saat ditemui detikcom, Riyanto tidak menampik kalau hotel miliknya yang ada di wilayah Tebet tersebut, dahulu kerap dijadikan sasaran bagi pria hidung belang atau para penikmat hiburan malam. Menurut Riyanto, di antara hotel-hotel Grup Sofyan, Hotel Sofyan Tebet tingkat huniannya yang paling tinggi. Sementara Hotel Sofyan Cikini serta Hotel Sofyan Betawi, tingkat huniannya biasa-biasa saja.

“Kalau di Hotel Sofyan Tebet, satu kamar saja yang check-in bisa 2 sampai 3 tamu. Mereka umumnya hanya memakai kamar untuk berkencan singkat saja,” ungkap Riyanto.

Namun, kondisi Hotel Sofyan Tebet kini jauh berbeda. Semua itu dimulai dengan penutupan Santai Music Club pada 1998. Setahun kemudian, giliran diskotek Terminal dan panti pijat yang ada di hotel tersebut ditiadakan. Lenyapnya tempat-tempat hiburan tersebut terang saja berpengaruh terhadap tingkat hunian hotel saat itu. Bayangkan, dari 140 persen tingkat hunian di hotel tersebut melorot tinggal 40 persen saja. Kondisi ini bertahan hingga 2 tahun lamanya.

Perubahan drastis yang dilakukan pemilik terhadap Hotel Sofyan Tebet sengaja dilakukan. Orang tua dari artis Marshanda tersebut, ingin merubah konsep hotel yang sarat hiburan malam menjadi hotel berkonsep syariat atau sesuai dengan norma keislaman. Dijelaskan Riyanto, dirinya mulai merubah konsep hotel setelah mendapat supervisi dari Salim Segaf Al Jufri, yang saat ini menjadi Menteri Sosial.

“Saya mulai kenal Pak salim Segaf sejak 1994, waktu itu beliau masih jadi dubes dan belum ada Partai keadilan Sejahtera (PKS),” jelas Riyanto.

Selama 4 tahun mengaji ke Salim Segaf, membuat pandangan Riyanto tentang pengelolaan hotel berubah drastis. Sejak saat itu ia menyadari bahwa untuk memajukan bisnis perhotelan tidak selalu dekat dengan alkohol atau seks.

Memang diakui Riyanto, awal perubahan yang dilakukan terhadap Hotel Sofyan Tebet
berpengaruh terhadap penghasilan hotel tersebut. Banyak tamu langganan yang bertanya, “Ini hotel atau masjid”. Sebab jangankan tempat hiburan, minuman beralkohol pun tidak lagi bisa dijumpai. Akhirnya para pelanggan pun angkat kaki selamanya. Tapi hal itu bukan berarti bisnis Hotel Sofyan tamat. Hotel Sofyan Cikini dan Cut Meutia, juga menerapkan sistem pengelolaan dengan konsep syariat.

“Ketika tingkat hunian hotel yang di tebet turun, tingkat hunian Hotel Sofyan Cikini dan Betawi meningkat sekitar 15-30 persen. Jadi, secara kumulatif kerugian di Hotel Sofyan Tebet bisa ditutupi,” terangnya.

Selanjutnya, untuk menormalisasi penghasilan hotel miliknya yang ada di Tebet, Riyanto kemudian merogoh kocek sebesar Rp 2 miliar pada 2001, untuk melakukan renovasi ruangan-ruangan di hotel tersebut. Selain membenahi kamar hotel, pengelola juga menyulap ruangan yang sebelumnya jadi klub malam dan diskotek sekarang menjadi ruang meeting. Dengan renovasi yang dilakukan, penghasilan dari Hotel Sofyan Tebet saat ini kembali seperti dahulu. Konsep hotel untuk hiburan malam kini berganti dengan konsep hotel untuk pertemuan bisnis.

“Meski tingkat hunian sekitar 80 persen tapi ratenya Rp 280 ribu nett. Jadi kalau dihitung-hitung sama saja,” ujarnya.

Hotel Sofyan Grup kini makin yakin kalau hotel berbasis syariat, yang tidak dianggap menarik oleh hotel lain, justru bukan ancaman omset akan menurun. Hotel syariat ternyata punya pasar yang cukup menjanjikan. Tentu saja tanpa esek-esek, alkohol dan narkoba. “Justru dengan konsep syariat ini, tamu atau keluarga merasa nyaman dan aman menginap. Tidak ada alkohol atau tempat hiburan yang berbau maksiat, maka kenyamanan mereka jadi terjaga,” tutupnya. (ddg/fay/dtc)

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (11 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Tim dakwatuna adalah tim redaksi yang mengelola dakwatuna.com. Mereka terdiri dari dewan redaksi dan redaktur pelaksana dakwatuna.com
  • antonio

    Subhanallah, hidup Syari’ah….

  • mukaromah

    Assalam`alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
    Subhanallah….I Love Syari`ah
    Sebelumnya saya mau tanya…..Untuk Hotel Syari`ah lowongan kerja apa saja yang dibutuhkan?

Lihat Juga

bank syariah

Good Corporate Governance (GCG) di Bank Syariah dan Bank Konvensional