Home / Berita / Skotlandia Beri Penghargaan Pimpinan Islamic Relief

Skotlandia Beri Penghargaan Pimpinan Islamic Relief

dakwatuna.com – Kairo, Skotlandia, baru-baru ini menganugerahi penghargaan kepada manajer Islamic Relief,  atas upayanya memberi bantuan kepada ribuan orang dan mereka yang ditimpa musibah dari penjuru dunia.

“Saya ucapkan selamat kepada Habib (Malik), yang memenangkan penghargaan ini atas komitmennya terhadap kerja sosial skala internasional selama bertahun-tahun,” demikian ujar Menteri Kebudayaan, Fiona Hyslop, seperti yang dilaporkan The Times, 23 Januari

“Memang sangat pedih ketika penghargaan ini diberikan saat sang penerima kini tengah melakukan upaya internasional untuk mendukung mereka yang mengalami tragedi bencana  kemanusiaan di Haiti,” ujar Fiona.

Habib, 43 tahun, menerima Penghargaan Kemanusiaan Burn, karena dinilai konsisten dalam usaha menyelamatkan orang-orang yang ditimpa musibah di berbagai belahan dunia.

“Kerja saya bersama Islamic Relief, tidak pernah untuk diri saya sendiri, melainkan demi jutaan manusia di sana yang tak mampu bersuara, yang menjerit namun tidak pernah didengar,” ujar Habib.

Penghargaan Burn adalah salah satu penghargaan tertinggi terhadap aksi kemanusiaan yang digagas oleh Robert Burn, warga Skotlandia. Burn dulu pun lahir sebagai anak keluarga miskin dan kehidupannya digambarkan sebagai puisi kemiskinan.

Diluncurkan pada 2002, Penghargaan Kemanusiaan Burn, merupakan bagian advokasi untuk perubahan sosial–ide pendiri yayasan. Penghargaa itu khusus diberikan untuk mengapresiasi grup maupun individu yang membantu dan memperkaya kehidupan orang lain dengan mengorbankan diri mereka melalui tenaga, kerja keras, bimbinga, uang dan usaha.

Peraih penghargaan akan menerima pula 1759 guinea (sekitar Rp28 jutaan), jumlah yang merupakan tahun kelahiran Robert Burn, dan piala yang khusus dibuat oleh pengrajin, bukan pabrikan.

Beberapa nama yang pernah menerima penghargaan ini sebelumnya, termasuk pengacara hak asasi manusia Guantanamo Bay, Clive Stafford Smith, pakar biologi ternama yang memecahkan kode gnome manusia, Sir John Sulston, dan aktivis perdamaian dan Chernobyl, Adi Roche.

Duta Anak Yatim-Piatu

Habib adalah asli Libanon. Ia mendedikasikan waktunya membantu ribuan orang yang teracabik akibat musibah di penjuru dunia. “Saya pernah berjalan dengan seorang wanita selama tiga jam hanya untuk mendapat satu ember air dan kemudian berjalan pulang selama tiga jam lagi,” kenangnya.

“Saat itu embernya begitu berat sehingga saya tak mampu mengangkat, namun ia melakukan itu setiap hari.”

Selain menjadi manager Islamic Relief, Habib juga anggota Komite Darurat Bencana (DEC), organisasi induk yang bekerja sama dengan lembaga bantuan Inggris untuk membantu krisis di penjuru dunia. Organisasi terakhir didirikan pada Oktober 2003.

Ia telah terlibat dalam berbagai kegiatan kemanusiaan di dunia, termasuk dalam bantuan kemanusian di Indonesia pasca-tsunami di Aceh, 2004, lalu pemulihan pascagempa berat pada 2005 di Pakistan, juga di Sudan, Nigeria, Somalia dan Haiti.

Kini, sang manajer Islamic Relief tengah sibuk menggalang dana untuk bantuan korban gempa masif id Haiti. Ia berhasil mengumpulkan hingga 30 juta Pound atau sekitar Rp453 milyar dalam waktu lima hari.

“Sangat sulit bagi kami, dalam zona nyaman, di Inggris. Kami tidak benar dapat sungguh-sungguh membayangkan bagaimana kondisi di sana,” ujarnya.

“Hanya karena musim salju yang buruk, kita telah mengeluh gara-gara tak cukup punya garam. Hanya karena mobil mereka selip di jalan, mereka merasa telah mengalami masalah luar biasa nyata,” imbuh Habib

Sebagai pekerja sosial yang kerap membantu orang-orang tertimpa bencana, masih sangat melekat dalam kenangan Habib, pemandangan-pemandangan manusia menderita yang mengguncang hati.

“Jika anda menyaksikan, itu semua akan menusuk hati anda,” ujarnya.

Didirikan di Birmingham pada 1948, Islamic Relief ialah LSM yang bergerak di bidang penguatan ekonomi rakyat yang berkelanjutan dan pembangunan sosial yang bekerja sama dengan komunitas lokal melalui bantuan dan program-program pengembangan.

“Anak-anak yatim-piatu dan janda yang saya temui di luar sana, mereka tak dapat datang ke sini. Jadi saya serap semua penderitaan mereka dan menjadi duta mereka di sini,” ujar Habib

“Saat saya berdiri di atas panggung, saya adalah satu dari mereka.” (RoL)

About these ads

Redaktur: Ulis Tofa, Lc

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (4 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Tim dakwatuna adalah tim redaksi yang mengelola dakwatuna.com. Mereka terdiri dari dewan redaksi dan redaktur pelaksana dakwatuna.com

Lihat Juga

Kalau Tuhan Beri Aku