Home / Berita / Virginia: Belajar Agama Lewat Kegiatan Pramuka

Virginia: Belajar Agama Lewat Kegiatan Pramuka

dakwatuna.com – Washington, ”Demi kehormatanku, aku berupaya untuk selalu mengabdi pada Tuhan dan negaraku, membantu orang di setiap waktu, dan menjalankan aturan yang berlaku,” kata Mena, saat mengucapkan janji kepanduan sambil mengangkat tiga jari tangan kanannya.

Mena, gadis Muslim berusia 15 tahun dari utara Virginia itu, menikmati pengalaman menyenangkan sejak bergabung dengan kepanduan di Islamic Center di Virginia, tiga tahun lalu. Ia bergabung dengan Cadette and Senior Girl Scouts di All Dulles Area Muslim Society (ADAMS).

Dengan senyum lebar, gadis berjilbab itu mengungkapkan, pertemuannya dengan orang-orang yang berbeda dari beragam latar belakang. Ia pun menguraikan, banyak kesempatan yang diperolehnya dengan menjadi seorang pandu.

Salah satu pengalaman yang begitu membuat Mena senang adalah saat ia berkesempatan untuk bertandang ke Gedung Putih. ”Seperti pada tahun pertama saya ikut kepanduan, saya bertemu dengan Presiden Bush (George W Bush),” ujarnya seperti dikutip Islamonline.

Saat itu, jelas Mena, digelar upacara bendera dan pertandingan soft ball di Gedung Putih. Razia Sohail, seorang ketua kelompok di kepanduan, mengatakan, kepanduan telah menarik banyak minat sebagai sebuah aktivitas bagi anak-anak Muslim.

”Kepanduan menjadi sangat populer. Banyak orang tua yang meminta anak mereka untuk bergabung di kepanduan,” ujar Sohail. Hampir semua Islamic Center yang besar atau masjid-masjid memiliki kegiatan kepanduan di masing-masing wilayah.

Sohail mengungkapkan, di ADAMS, terdapat lebih dari 200 anak laki-laki dan perempuan yang ikut dalam kepanduan. Berdasarkan data Boy Scouts of America, kelompok kepanduan Muslim telah mengalami peningkatan pesat sejak dua tahun terakhir.

Lembaga ini menyatakan, sekitar 2.000 pandu laki-laki mendaftarkan diri di 112 kelompok melalui sekolah-sekolah Islam atau masjid. Untuk pandu perempuan, tak diketahui angka pastinya. Sebab, biasanya mereka tergabung dalam kelompok pandu non-Muslim yang sudah ada.

Banyaknya orang tua yang mendorong anaknya bergabung dalam kepanduan bukan tanpa pertimbangan. Mereka menilai, kepanduan adalah kegiatan yang sesuai ajaran Islam. ”Saya pikir, prinsip Islam teradopsi baik dalam kepanduan,” kata Navid Khan, seorang ayah beranak tiga.

Khan menambahkan, konsep kepanduan adalah sebuah aktivitas yang sehat dan bermanfaat. Konsep ini mengajarkan para pandu untuk membantu orang lain melakukan hal yang benar, bersih, berani, dan mengajarkan berlaku jujur. ”Saya pikir, inilah yang diajarkan Islam.”

Dua anak perempuan Khan telah bergabung dengan Junior Scout Troops dan kini anak laki-lakinya, Adam, siap bergabung dengan Daizy Troops. Sementara itu, Karima Shammad, seorang ibu beranak dua, mengatakan kepanduan memberi anak-anaknya lingkungan sempurna.

Dalam kepanduan, jelas Shammad, juga banyak contoh positif bagi anak-anaknya. ”Ini membuat mereka memiliki rasa tanggung jawab dan terlibat dalam pelayanan kepada masyarakat. Semua hal ini membantu mereka berkembang,” katanya.

Shammad pun menepis kekhawatiran bahwa kepanduan akan membuat anak-anak keluarga Muslim, khususnya perempuan, terganggu keyakinannya. Ia menyatakan, dulu ia adalah seorang pandu perempuan bahkan bergabung dengan kelompok pandu perempuan non-Muslim.

Menurut Shammad, jika anak perempuannya yang kini bergabung dengan kepanduan, melihat aktivitas yang tak berhubungan dengan Islam selama interaksi di kelompok kepanduan non-Muslim, ia melihat hal itu akan menjadi kesempatan yang mendidik bagi anaknya.

Kondisi itu, kata Shammad, menjadi kesempatan bagi anaknya melihat lebih jauh dan bertanya mengapa mereka melakukan sesuatu terkait keyakinannya. Ini kesempatan baik untuk berdialog dan melihat bagaimana orang lain menjalankan keyakinannya.

”Kami tinggal di sebuah komunitas yang luas. Kami, Muslim, bukanlah masyarakat yang tertutup dan anak-anak tentu akan berkomunikasi dengan orang lain,” jelas Shammad. Bagi Saira, yang ikut kepanduan sejak TK, berinteraksi dengan orang lain adalah hal yang menyenangkan.

Termasuk, kata Saira yang kini berusia 16 tahun, saat kelompoknya bertemu dengan kelompok non-Muslim dari sekitar Kota Falls Church di berbagai kegiatan. ”Saya juga selalu merasa senang mengatakan kepada orang lain bahwa saya seorang pandu,” katanya.

Menurut Rahima Ullah, ketua Brownie Troops, aktivitas seperti berkemah bersama kelompok non-Muslim, memberikan kesempatan bagi para pandu bergaul dengan masyarakat lebih luas. ”Kepanduan adalah tentang menjadi inklusif,” ungkapnya. iol/fer/taq/RoL

About these ads

Redaktur: Ulis Tofa, Lc

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (4 votes, average: 9,75 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Tim dakwatuna adalah tim redaksi yang mengelola dakwatuna.com. Mereka terdiri dari dewan redaksi dan redaktur pelaksana dakwatuna.com
  • Niken Ali

    dari awal aku selalu nanemin “different it’s ok” untuk anakku…

Lihat Juga

Menteri agama Turki menerima perwakilan muslim Rohingya. (Islammemo.cc)

Menag Turki: Dunia Islam Bertanggungjawab atas Tragedi Muslim Rohingya

Organization