16:47 - Senin, 21 April 2014

Menyerahkan Pengaturan Pada Allah

Rubrik: Opini | Kontributor: Agung Yulianto - 06/01/10 | 16:22 | 19 Muharram 1431 H

dakwatuna.com – Maqam tertinggi dari seorang Salik (Penempuh Jalan Rohani) adalah ketika secara bulat menyerahkan seluruh urusan hidupnya pada Allah. Siapa pun yang menyerahkan pengaturan dirinya kepada Allah, maka Allah SWT akan memberikan pengaturan terbaik untuknya (al-Tanwir fi isqath al-Tadbir karangan Ibn AthaiLlah).

Bentuk berserah diri kepada Allah persis seperti awal shalat. Takbir berarti mengakui bahwa hanya Allah yang Maha Besar. Laa Quwwata illa biLlahi. Doa iftitah mengajarkan untuk menyerahkan seluruh diri kita, fisik, perasaan dan pikiran, kepada Pencipta langit dan bumi, dan agar kita termasuk dalam orang yang lurus dan berserah diri (haniifan musliman) dan bukan termasuk orang yang musyrik. Selanjutnya menandaskan bahwa seluruh shalat, ibadah, hidup dan mati hanya untuk Allah Rabb semesta alam, dan kita tidak pantas menyekutukan dengan sesuatupun, dan demikianlah kita diperintahkan dan semoga kita termasuk orang yang berserah diri.

Sadari sikap ini dengan sepenuh pikiran dan perasaan, siap diatur oleh Allah SWT. Hanya Allah tempat bergantung sedangkan diri kita tidak ada apa-apanya. Ketika kita menggantungkan hanya kepada Allah (1) dan kita menisbikan diri (0) maka kita jumpai 1 dibagi 0 adalah tidak terhingga.

Seorang ustadz ditanya oleh jamaah pengajian ibu-ibu, “apa hukumnya melahirkan dibantu dokter pria sedangkan ada dokter wanita?”. Sang ustadz mengatakan, “Bayi gajah jauh lebih besar dari bayi manusia, dan lubang keluar bayi gajah tidak lebih besar dari lubang keluar bayi manusia, tetapi tidak ada bayi gajah dilahirkan Cesar. Sedangkan manusia sekarang lebih 50% melahirkan bayinya dengan Cesar”.
Ketika manusia bergantung dan mengandalkan kepada selain Allah, maka Allah akan menyerahkan urusan dan hasilnya pada apa yang ia gantungi. Selanjutnya hidupnya hanya akan mengikuti kaidah sebab-akibat belaka, yang lemah tidak memiliki kekuatan apa-apa.

Sebaliknya, dengan mengandalkan pertolongan Allah berarti kita mengandalkan kekuatan yang tak terhingga sebagaimana nabi Musa menyeberangi laut Merah, nabi Ibrahim tidak terbakar api, umat Islam mampu memimpin peradaban dunia selama 700 tahun, dan Rasulullah SAW dari seorang diri hingga kini lebih dari 1,5 miliar manusia beriman kepada Allah SWT.

Bagaimana prakteknya?

Menyerahkan pengaturan pada Allah berarti menempuh jalan Allah. Jalan lurus, jalan yang Allah berikan nikmat, jalan para nabi, shiddiqiin, jalan para syuhada dan orang-orang shalih. Siapa yang menempuh jalan ini akan mendapatkan kebahagiaan dan kenikmatan hakiki, menjumpai surga dunia sebelum pada akhirnya memasuki surga akhirat yang abadi.

Menyerahkan pengaturan kepada Allah berarti tidak akan mengambil jalan yang tidak diridhai Allah, memaksakan segala cara untuk memuaskan nafsunya semata.
Menyerahkan pengaturan pada Allah berarti melakukan ikhtiar secara maksimal. Ia menyadari bahwa, setelah menyerahkan pilihan hidup dan pengaturan urusannya kepada Allah, kewajibannya hanyalah menjalankannya dengan sepenuh tenaga, segenap pikiran dan kesungguhan. Barulah ia boleh tawakal dengan ikhlas dan penuh ridha, mengembalikan hasilnya kepada Allah. Dan selanjutnya kembali siap mendapatkan arahan untuk pengaturan selanjutnya.

Menyerahkan pengaturan kepada Allah bukanlah menjadi berkinerja rendah. Sebagaimana, salah satu definisi zuhud, sebagai salah satu sifat utama seorang salik, adalah “hariitsun ‘ala maa yanfa’uh” atau getol bersungguh-sungguh pada hal yang bermanfaat. Hal ini menjelaskan bahwa, orang yang bekerja dengan motivasi keimanan seharusnya melahirkan kinerja yang jauh melampaui orang yang bekerja dengan motivasi keduniaan.

Serahkan pengaturan pada Allah dan bersiaplah memasuki Dimensi Quantum (Dimensi Keimanan) yang luar biasa. Bersiaplah menyaksikan kuasa Allah wujud dalam keseharian kita. Bersiaplah menempuh jalan spiritual yang berisi kenikmatan hakiki. Allahu a’lam

Redaktur: Ulis Tofa, Lc

Keyword: , , , , , ,


Beri Nilai Naskah Ini:

Nilai 1Nilai 2Nilai 3Nilai 4Nilai 5Nilai 6Nilai 7Nilai 8Nilai 9Nilai 10 (42 orang menilai, rata-rata: 9,52 dalam skala 10)
Loading ... Loading ...


Akses http://m.dakwatuna.com/ dimana saja melalui ponsel atau smartphone Anda.
Iklan negatif? Laporkan!
  • 5322 hits
  • Email 4 email
  • ridwan manan

    Syukron tausyiahnya,membuka kesadaran kita makna “LA HAULA WA LA QUWWATA ILLA BILLAH”.Salah satu kelemahan ummmat Isalam adalah kurangnya tawakkal.Mohon izin untuk copy paste

  • risa

    syukron pak…hm…jadi teringat…mohon izin untuk copy paste

  • Kukun Kurnia

    Seandainya saya, keluarga, saudara, tetangga, teman saya dan semua umat islam bisa menyerahkan / menggantungkan segala urusannya kepada Allah SWT, Subhanallah…harum surga sudah bisa tercium didunia ini….amin

  • d2mq

    Materi seperti ini yang Paliiiing saya sukai…
    terima kasih kasih…..
    mohon izin untuk copy ke web site saya..
    wassalam
    dede

  • wadiyo

    Jazzakumullohu khoiron katsiro atas artikelnya Insya Alloh bermanfaat bagi umat sebagai materi kajian dalam rangka menegakkan agama Alloh

  • syafiah

    sangat bermanfaat karena pada saat yang tepat. Syukron jazakallah…

  • tini

    allahu akbar!!!
    Allah Maha Besar….yang lain kecil…
    knp masih ada yang bergantung dg yang kecil, kl ada yg lebih Besar dan Maha segala2 nya???

  • MUHAMMAD EKA

    Hanya menambahkan saja … Islam adalah agama praktek, bukan agama teori

  • Zain_hamaed

    Dalam kehidupan ini yang lain hanyalah bayangan semu dan hanyalah Dia (Allah SWT) yang maha dahsyat dan maha perkasa…. Semoga kita termasuk orang yang bertawakal dan berserah diri. Amin…

Iklan negatif? Laporkan!
105 queries in 1,138 seconds.