DR. Amir Faishol Fath

Umat Islam, Bersatulah!

3/1/2009 | 05 Muharram 1430 H | Hits: 2.942

Kirim Print

dakwatuna.com – Dalam surah Ali Imran: 103, Allah swt. memerintahkan agar kita berpegang teguh terhadap tali Allah dan jauhi perpecahan. Dalam ayat tersebut Allah berfirman: wa’tashimuu bihablillah jamii’aw walaa tafarraquu. Dalam kata wa’tashmuu terkesan makna keharusan bersungguh-sungguh memegang tali Allah. Jangan main-main –apalagi mempermainkan– sedikitpun. Lalu dari kata jamii’aa, tergambar makna bersama-sama, saling melengkapi, penuh nuansa persaudaraan, tanpa sedikitpun permusuhan. Lalu dipertegas lagi dengan kata walaa tafarraquu yang artinya jangan berpecah belah. Allah tidak berfirman: walaa takhtalifuu (jangan berbeda pendapat), sebab perbedaan pendapat dalam wilayah fikih adalah fitrah. Masing-masing manusia Allah bekali kecerdasan akal yang berbeda. Pun juga masing-masing mempunyai kesungguhan yang berbeda dalam mencari ilmu. Maka sudah pasti perbedaan pendapat akan sulit dihindari. Karenanya Allah tidak melarang perbedaan pendapat.

Berdasarkan hal tersebut, perbedaan pendapat pasti akan terjadi sekalipun di zaman Rasulullah saw. Banyak riwayat yang merekam perbedaan pendapat antara para sahabat seperti perbedaan pendapat terhadap teks hadits yang memerintahkan shalat Ashar di Bani Quraidzah. Sebagian sahabat paham bahwa maksudnya bukan tempatnya, melainkan segeranya pergi ke Bani Quradzah. Sebab, shalat Ashar ada waktunya yang tidak bisa ditunda. Namun sebagian sahabat memahami hadits apa adanya, sekalipun kemudian mereka shalat Ashar setelah masuk waktu Maghrib di Bani Quraidzah. Tetapi ternyata perbedaan pendapat tersebut tidak mebuat mereka berpecah-belah. Mereka tetap bersatu dan bersinergi. Demikian juga perbedaan pendapat antara para imam madzhab fikih yang empat: Hanafi, Maliki, Hanbali, dan Syafi’i. Mereka sangat toleran dan saling menghormati. Bahwa perbedaan fikih bukan suatu yang harus menyebabkan perpecahan. Ketika Imam Syafi’i diminta menjadi imam shalat Subuh di pusat wilayah madzhab Hanafi, ia tidak membaca qunut. Ketika ditanya, ia menjelaskan bahwa itu sikap hormat terhadap pendapat madzhab Hanafi yang tidak membaca qunut pada saat shalat Subuh.

Lebih-lebih sekarang, kita menyaksikan umat Islam dibantai dari berbagai arah. Bukan hanya serangan pemikiran, melainkan lebih dari itu: serangan senjata yang menelan ratusan nyawa. Maka bukan saatnya lagi kita centang perenang sibuk dengan perbedaan fikih, perbedaan bendera partai, atau perbedaan nama golongan. Allah yang kita sembah masih sama. Kiblat shalat kita juga masih sama. Jumlah rakaat shalat fardhu kita tidak ada bedanya. Nabi yang kita ikuti juga sama. Nama agama kita sama. Tempat kita melaksanakan ibadah haji juga sama. Lalu apa yang akan membuat kita tidak mau bekerja sama? Apakah hanya karena perbedaan pemahaman terhadap satu teks ayat atau hadits secara fikih lalu kita berpecah belah, saling menjatuhkan bahkan saling menyesatkan?

Sejauh yang saya amati, perbedaan antara kelompok umat Islam yang ada masih sekitar perbedaan fikih dan cara berdakwah. Sebagian mengambil yang tradisional dan sebagian lebih akademis. Sebagian menitikberatkan kepada dakwah dari masjid ke masjid, dan sebagian yang lain fokus pada ashalah sunnah sesuai dengan teks sahih dari Rasulullah saw. Karenanya, kelompok ini sangat teliti mengecek kesahihan hadits dan menyajikannya secara ilmiah. Sebagian fokus pada perbaikan sosial politik supaya lebih bersih, lebih memihak kepada kemaslahan masyarakat secara umum dan lebih sesuai dengan ajaran Islam yang kaffah. Sebagian yang lain memilih misi dakwahnya mengcounter pemikiran sesat. Semua kondisi ini sungguh tidak cukup alasan untuk berpecah-belah.

Karena itu, ayo bersatulah, wahai umat Islam! Umat ini sangat membutuhkan persatuan kalian. Tidak ada persaudaraan tanpa persatuan. Allah tidak akan pernah menurunkan rahmat dan pertolonganNya kepada umat yang berpecah-belah. Karena itu, tanamkan budaya ishlah “fa ashlihuu” karena ini jalan satu-satunya untuk menegakkan persaudaraan (ukhuwah). Allah berfirman dalam surah Al-Hujuraat: 10:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu; dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat).”

Wallahu a’lam bishshawab.

Dr. Amir Faishol Fath


Beri Nilai Naskah Ini:

Nilai 1Nilai 2Nilai 3Nilai 4Nilai 5Nilai 6Nilai 7Nilai 8Nilai 9Nilai 10 (8 orang menilai, rata-rata: 7,75 dalam skala 10)
Loading ... Loading ...


Akses http://www.dakwatuna.com/wap dimana saja melalui ponsel, Blackberry atau iPhone Anda.
Kirim Print
  • Print
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google Bookmarks
  • BlinkList
  • email
  • LinkedIn
  • Live
  • MySpace
  • PDF
  • Ping.fm
  • Reddit
  • Slashdot
  • Technorati
  • Twitter
  • Yahoo! Bookmarks
  • Yahoo! Buzz
  • MSN Reporter

Ada 20 komentar untuk naskah ini. Kirim komentar Anda.

  • badrudin mengatakan:

    sesungguhnya orang mukmin itu seperti satu tubuh,apabila yang satu merasa sakit,maka yang lain pun merasa sakit,sesungguhnya kebiadaban Israel la’natullah,semoga Allah segera membalasnya,bukan semata-mata masalah tanah palestina tapi karena kebencian mereka terhadap ummat Islam.Allah yang Maha Besar pasti punya rencana yang lebih besar untuk menghancurkan mereka

  • heny mengatakan:

    ya, betul….umat Islam harus bersatu…jangan saling menghujat, tapi harus saling mengingatkan, saling mendukung dan saling menguatkan…..

  • Ridwan mengatakan:

    Kaum Muslimin seluruh dunia harus bersatu seperti pada masa Rasulullah SAW dan para Khalifahnya

  • Ismi mengatakan:

    Sekarang bukan waktunya lagi mempermasalahkan mazhab mana yang paling benar. Sekarang waktunya untuk menyegerakan tindakan. Karena diluar sana saudara2 kita di Palestin, afghanistan, irak bahkan di Indonesiapun sedang menjerit memohon pertolongan, memohon kepedulian kita. Melalui forum ini, saya memohon kepada Allah untuk memberi kekuatan kepada saudara-saudara muslim saya didalam menghadapi kezoliman yang sedang menimpa mereka.

  • ammar sholahuddin mengatakan:

    Assalamu’alaikum
    Mungkin ada hala-hal yang mendasar “perbedaan” ummat Islam sekarang dengan zaman Rasulullah dan generasi terbaik sesudahnya, terutama dalam menjalnkan Syari’at Agama, Perbedaan tersebut antara lain adalah menyangkut motivasi dalam menjalankan syari’at beragama. Sehingga dengan motivasi yang berbeda tersebut, membuat Ummat menjadi bercerai berai.

  • Ghozali mengatakan:

    Assalamualaikum wr.wb.
    Banyak upaya-upaya musuh Islam yang sedang memecahbelah kesatuan Umat Islam, maka marilah kita ikat kembali ukhuwah Islam di antara kita,mulailah dari lingkungan kecil yaitu jiwa kita sendiri, orang-orang yang paling dekat,masyarakat di sekitar kita,lebih jauh lebih jauh dan mendunia,semoga kalimatullah makin bersinar di muka bumi ini.

  • Abu Nabil mengatakan:

    Ayo ummat islam, kita rapatkan shoff barisan, Serukan takbir untuk palestina dan umaat muslim dipenjuru dunia.

  • Ibrahim Hasibuan mengatakan:

    saya bersedia pertaruhkan jiwa atas nama Allah untuk membantu penderitaan yang di alami warga palestina,.apalah yang dapat kita perbuat selain membenahi diri kita sendiri agar mereka tahu kita tidak lemah dan kita mempunyai akhlak dan budi pekerti sebagai umat islam.

  • Ibrahim Hasibuan mengatakan:

    saya bersedia pertaruhkan jiwa atas nama Allah untuk membantu penderitaan yang di alami warga palestina,.apalah yang dapat kita perbuat selain membenahi diri kita sendiri agar mereka tahu kita tidak lemah dan kita mempunyai akhlak dan budi pekerti sebagai umat islam.

  • ROBA'I AL BENGKALISI mengatakan:

    Sesungguhnya hewan2 ternakan akan lebih mudah di mangsa oleh binatang liar apabila ia terpisah dari kumpulannya,maka dari itu bersatulah…

Kirim komentar Anda

XHTML: Anda dapat menggunakan tag berikut ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Catatan: Redaksi menerima komentar terkait naskah yang ditayangkan, maksimal sebanyak 500 karakter. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim dan tidak menggambarkan pandangan Redaksi. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap spam, tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau hal negatif lainnya yang terkait dengan penyakit lidah (afatul lisan). Komentar yang mengandung alamat/URL situs web, pada umumnya dianggap sebagai spam yang akan dihapus oleh sistem secara otomatis. Jaga privasi Anda sendiri dengan tidak mencantumkan alamat email dan nomor telepon Anda di ruang komentar ini.

   sisa karakter

« Naskah Sebelumnya
Naskah Sesudahnya »