Pola Baru dalam Bom Mega Kuningan

22/7/2009 | 00 Sya'ban 1430 H | Hits: 1.130
Oleh: Tim dakwatuna.com
Kirim Print

foto hotel marriotdakwatuna.com – Jakarta, Ada pola baru dalam serangan bom yang menimpa Hotel JW Marriott dan Hotel Ritz-Carlton di Mega Kuningan 17 Juli 2009. Salah satu yang baru itu yakni muncul dua kali serangan sekaligus dalam satu tempat. Lainnya?

“Ada yang konvensional yang melibatkan jaringan yang selama ini dikenal. Dan ada yang baru. Contohnya selama ini jaringan ini tidak pernah menjadikan satu target dua kali serangan,” ujar mantan investigator Bom Bali Hermawan Sulistyo ketika dihubungi detikcom, Rabu (22/7/2009).

Menurut Kiki, panggilan akrab Hermawan, belum pernah ada sebelumnya pelaku pengeboman menyerang dua kali di tempat yang sama. Kedua, Kiki menganalisa bom dirakit di dalam karena pendeteksi logam yang digunakan pihak hotel tak bisa mendeteksinya.

“Karena misalnya nginap di hotel. Itu juga nggak pernah ada sebelumnya,” ujar guru besar riset ilmu politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) ini.

Begitu juga dengan jenis bom, Kiki menganalisa ada bahan baru yang digunakan. Bom kali ini ada komponen black powder atau bubuk hitam seperti yang digunakan pada peristiwa bom sebelumnya, termasuk Bom Bali. Bubuk hitam yang terdiri dari Kalium Klorat (KClO3) dan Sulfur (S) itu, imbuh Kiki, berdaya ledak rendah namun yang tertinggi di antara bom berdaya ledak rendah itu. Kemudian ada beberapa racikan tambahan yang baru sebagai bahan peledaknya.

“Temuan sementara menunjukkan ada link dengan jaringan lama yang selama ini ada.  Bahan dasar jenis bom memang satu tipe dengan bom-bom sebelumnya tetapi ada bahan-bahan baru,” jelasnya.

Namun hal itu mesti dilakukan uji forensik yang tidak bisa sehari atau dalam hitungan jam.

“Yang baru, jenis komponennya yang tidak biasa. Tidak bisa disebutkan detail. Tetapi sebagai basis analisa dasar itu menunjukkan ada pemain lama ada pemain ‘baru’. Mungkin pemain ‘baru’ atau pemain lama dengan cara baru atau kombinasi keduanya,” tutur Kiki. (nwk/iy/dtk)


Beri Nilai Naskah Ini:

Nilai 1Nilai 2Nilai 3Nilai 4Nilai 5Nilai 6Nilai 7Nilai 8Nilai 9Nilai 10 (6 orang menilai, rata-rata: 7,83 dalam skala 10)
Loading ... Loading ...


Naskah Terkait Sebelumnya:


Akses http://www.dakwatuna.com/wap dimana saja melalui ponsel, Blackberry atau iPhone Anda.
Kirim Print
  • Print
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google Bookmarks
  • BlinkList
  • email
  • LinkedIn
  • Live
  • MySpace
  • PDF
  • Ping.fm
  • Reddit
  • Slashdot
  • Technorati
  • Twitter
  • Yahoo! Bookmarks
  • Yahoo! Buzz
  • MSN Reporter

Ada 2 komentar untuk naskah ini. Kirim komentar Anda.

  • toing mengatakan:

    Boom…Peristiwa ini seharusnya tidak terjadi kalau seluruh masyarakat indonesia bersatu..? Bersatunya kita silaturahmi kita, hanya untuk mencari celah kapan untuk menguasai agar dapat menindas orang2 yang selalu merintangi kepentingan diri dan kelompoknya bersatunya kita belum sampai pada tahap keikhlasan yang mendalam, kita belum mau menerima kekurangan dan kesalahan sendiri, sifat ego kita yang dikedepankan kita bagaikan bunglon tidak punya pendirian yang tegas kita masih mengekor siapa salah

  • muslim mengatakan:

    suatu kejadian merupakan ketentuan dr Allah dan kita seharusnya dapat mengambil hikmah didalamnya…. dan dijadikan pelajaran agar tidak terjadi lagi… keledai aja kl’ sudah terperosok di satu lobang tidak akan mengulangi perbuatan yg sama… peristiwa bom udah 2 kali terjadi di tempat yg sama.. ini membuktikan lemahnya keamanan kita… semoga peristiwa ini tidk terulang lagi di tanah air kita tercinta… insyaAllah

Kirim komentar Anda

XHTML: Anda dapat menggunakan tag berikut ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Catatan: Redaksi menerima komentar terkait naskah yang ditayangkan, maksimal sebanyak 500 karakter. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim dan tidak menggambarkan pandangan Redaksi. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap spam, tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau hal negatif lainnya yang terkait dengan penyakit lidah (afatul lisan). Komentar yang mengandung alamat/URL situs web, pada umumnya dianggap sebagai spam yang akan dihapus oleh sistem secara otomatis. Jaga privasi Anda sendiri dengan tidak mencantumkan alamat email dan nomor telepon Anda di ruang komentar ini.

   sisa karakter

« Naskah Sebelumnya
Naskah Sesudahnya »