Erdogan Berencana Mundur dari Pentas Politik Pasca Pemilu 2011

9/11/2009 | 20 Zulqaedah 1430 H | Hits: 217
Oleh: Tim dakwatuna.com
Kirim Print

dakwatuna.com – Perdana Menteri (PM) Turki, Rajab Tayyib Erdogan kemarin (07/11.2009) mengumumkan bahwa Pemilu Parlemen yang akan digelar pada tahun 2011 nanti merupakan ajang partisipasinya yang terakhir dalam arena percaturan politik Turki.

Dalam sambutannya di muktamar tentang kebudayaan di Istanbul, Erdogan menegaskan bahwa ia tidak akan mengubah keputusanya dan akan memberikan kesempatan ini kepada generasi berikutnya untuk mengemban amanah. Dalam kesempatan itu juga, Erdogan kembali menyatakan bahwa Pemilu Legislatif tahun 2011 yang akan berjalan selama empat tahun berikutnya adalah akhir interaksinya dengan kegiatan politik.

Pada hari Sabtu kemarin, Erdogan mengemukakan bahwa tidak ada alasan krusial untuk menyelenggarakan Pemilu sebelum tiba jadwal yang telah ditetapkan, yaitu tahun 2011.

Erdogan menyatakan, beredarnya berita pada minggu lalu yang mengasumsikan bahwa Pemilu akan dipercepat satu tahun sebelum waktunya, itu tidak benar.

Krisis Diplomatik

Di saat yang berbeda, kunjungan Presiden Sudan, Umar Basyir ke Turki dalam rangka menghadiri Konferensi Ekonomi pada minggu-minggu ini menyebabkan hubungan diplomasi Turki-Uni Eropa menjadi labil.

Di samping menuntut Turki meninjau kembali undanganya terhadap Umar Basyir untuk menghadiri Muktamar Islam, Uni Eropa juga meminta Turki untuk menangkap dan menyerahkan Umar Basyir ke Mahkamah Kriminal Internasional (ICC) dengan tuduhan telah melakukan kejahatan perang dan kejahatan kemanusiaan di kawasan Darpur, Sudan.

Menaggapi peringatan ini, Presiden Turki, Abdullah Gul malah mengganggap Uni Eropa telah melakukan intervensi terhadap urusan dalam negeri Turki. “Uni Eropa ingin mengitervensi kebijakan kita. Padahal pertemuan ini sebatas Konferensi Tingkat Tinggi organisasi di tubuh umats Islam dan sama sekali bukan pertemuan bilateral”, ujarnya.

Sebelumnya Pemerintah Turki telah mengumumkan secara resmi bahwa Turki tidak ingin menangkap Presiden Sudan, Umar Hasan Basyir ketika ia berkunjung ke Turki dalam rangka menghadiri Konferensi Ekonomi.
Pejabat terkait mengatakan, “Ankara tidak pernah menandatangani perjanjian (MoU) dengan ICC. Oleh karena itu, kebijakan-kebijakan ICC sama sekali tidak megikat Turki secara konstitusi.”

Di samping itu, pihak terkait juga menegaskan bahwa kebijakan ICC ini memang tidak didukung oleh Dewan Keamanan Internasional. (Mh/alm/sinai)


Beri Nilai Naskah Ini:

Nilai 1Nilai 2Nilai 3Nilai 4Nilai 5Nilai 6Nilai 7Nilai 8Nilai 9Nilai 10 (6 orang menilai, rata-rata: 9,17 dalam skala 10)
Loading ... Loading ...


Kirim komentar Anda.



Naskah Terkait Sebelumnya:


Pembaca Naskah Ini, Juga Membaca:

Akses http://www.dakwatuna.com/wap dimana saja melalui ponsel, Blackberry atau iPhone Anda.
Kirim Print
  • Print
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google Bookmarks
  • BlinkList
  • email
  • LinkedIn
  • Live
  • MySpace
  • PDF
  • Ping.fm
  • Reddit
  • Slashdot
  • Technorati
  • Twitter
  • Yahoo! Bookmarks
  • Yahoo! Buzz
  • MSN Reporter

Kirim komentar Anda

XHTML: Anda dapat menggunakan tag berikut ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Catatan: Redaksi menerima komentar terkait naskah yang ditayangkan, maksimal sebanyak 500 karakter. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim dan tidak menggambarkan pandangan Redaksi. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap spam, tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau hal negatif lainnya yang terkait dengan penyakit lidah (afatul lisan). Komentar yang mengandung alamat/URL situs web, pada umumnya dianggap sebagai spam yang akan dihapus oleh sistem secara otomatis. Jaga privasi Anda sendiri dengan tidak mencantumkan alamat email dan nomor telepon Anda di ruang komentar ini.

   sisa karakter

« Naskah Sebelumnya
Naskah Sesudahnya »