Rubrik Kaifa Ihtada

Rubrik ini berisi kejadian, essai, atau artikel yang mengkisahkan bagaimana seseorang mendapatkan petunjuk, mencari pelajaran, memperjuangkan kebenaran, dan menemukan hikmah. "Al-hikmatu dhaallatul mu'min, annaa wajadahaa fahuwa ahaqqu bihaa" (Hikmah itu adalah sesuatu yang hilang dari orang beriman, di manapun dan bagaimana pun itu ditemukan, maka ia lebih berhak untuk mendapatkannya).

Redaksi menerima kiriman artikel untuk rubrik Kaifa Ihtada. Kirimkan artikel Anda melalui FORM yang kami sediakan.

Kirim Artikel Anda

Desa Oeue, Pesona Muslim di Selatan Indonesia

29/6/2009 | 06 Rajab 1430 H | Hits: 584
Oleh: Aksi Cepat Tanggap
Kirim Print
aksicepattanggap NTT

Senyum anak-anak Desa Oeue (dok. ACT Foundation)

dakwatuna.com - Kalimat yang sempat mampir di benak ketika menyebut Nusa Tenggara Timur adalah, panas dan gersang. Ketika mendarat di Bandara Eltari, 9 Juni 2009 lalu, kesan panas masih belum hilang meskipun kegersangannya tidak seperti yang dibayangkan. Justru sebaliknya, kesan baru yang muncul adalah, eksotis, cantik dan menawan. Sebuah pulau yang membangkitkan semangat untuk menelusuri lebih dalam keindahannya.

Sejenak memandangi laut biru di pantai Lasiana, di Kota Kupang, menyejukkan mata. Mentari yang menerpa hamparan laut menimbulkan efek cahaya berkelap-kelip mirip kepingan kaca yang bertaburan di tengah laut, dipadu dengan gemericik air laut yang malu-malu bergantian mencumbu pantai. Menambah kekaguman akan keindahan pulau di Selatan Indonesia ini.

Pesona Nusa Tenggara Timur tak hanya di Kupang, melainkan sampai ke pedalaman pulau ini. Menempuh perjalanan tidak kurang dari 112 km dari kota Kupang, tibalah kami di Soe, ibukota Kabupaten Timur Tengah Selatan (TTS). Di kota kecil itu, tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) menjemput seorang relawan yang juga merupakan tokoh masyarakat setempat, H. Abdul Rahman. Perjalanan dilanjutkan menuju Kecamatan Oeekam sekitar 57 km dari Soe. Di kota Soe, tim menunggu lagi seorang relawan sambil berbelanja barang-barang yang akan diberikan di tempat tujuan. Lokasi yang dituju adalah Desa Oeue, jauh berada di pedalaman di Kecamatan Amunaban Timur yang masih berada di wilayah TTS. Lokasinya sudah dekat dengan negeri tetangga, Timor Leste.

Tak berapa lama, orang yang ditunggu pun tiba. Zulkarnain Nobisa namanya, putra kepala suku (kepala desa) Oeue. Dari namanya, jelas ia seorang muslim. Muslim di NTT terbilang minoritas, mengingat NTT dikenal dengan sebutan Pulau Seribu Gereja karena mayoritas penduduknya beragama nasrani. Keterbalikan dari pulau tetangganya, Nusa Tenggara Barat (NTB) yang disebut Pulau Seribu Masjid. Zulkarnain Nobisa, pria berusia 37 tahun itu terlihat energik dan berwibawa. Sejenak berbincang dengannya, siapapun akan menangkap kesan ia seorang yang cerdas dan berwawasan. Rupanya, ia pernah kuliah di Bandung dan kemudian setelah meraih titel sarjana kembali lagi ke desanya untuk mengabdi.

Bersama Zul, panggilan akrab pria berperawakan tegap itu, kami menuju Desa Oeue. Mulanya hanya jalan biasa, beraspal rapih tanpa berlubang sepanjang puluhan kilometer. Setibanya di Desa Pisan, Kecamatan Amunaban Timur, jalan mulai berubah. Naik turun bukit melintasi jalan terjal berbatu, meniti jembatan kayu bahkan menyeberangi sungai berbatu tanpa jembatan. Beberapa jam kemudian tibalah kami di sebuah desa, itulah Desa Oeue. Sepintas tidak ada yang berbeda antar desa ini dengan desa lainnya di TTS, struktur bangunan rumahnya sama persis. Dinding yang terbuat dari batang pohon Goang, beratap jerami. Jenis rumah mereka sama dengan rumah orang-orang Papua. Rumah berukuran kecil seperti mangkuk terbalik, mirip tenda dome dengan satu pintu. Di Papua, rumah sejenis ini disebut Honai. Di NTT mereka menyebutnya Sao.

Namun tak berapa lama, kami menyadari perbedaan besar Desa Oeue dengan desa-desa lainnya di Kecamatan Oeekam. Mulanya kami melihat dua anak perempuan kecil yang anggun mengenakan jilbab, si kakak tengah menggendong adiknya, keduanya menatap kami penuh rasa ingin tahu. Ketika kami sapa, “assalaamu’alaikum” , kakaknya menjawab dengan senyum, sementara mata sang adik masih menatap penuh tanya.

Zulkarnain Nobisa pun buka suara, “Mungkin ini mobil pertama yang mereka lihat. Karena hampir tidak pernah ada mobil yang masuk ke desa ini”. Zul pun mengungkapkan, bahwa Desa Oeue adalah satu-satunya desa yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Tercatat 1.028 jiwa atau sekitar 312 kepala keluarga beragama Islam yang tinggal di desa tersebut.

Tingkat religiusitas masyarakat Oeue terlihat dengan adanya empat masjid yang berdiri dan berfungsi tidak hanya sebagai tempat ibadah semata. Mereka juga menggunakan masjid untuk membahas segala persoalan kemasyarakatan yang biasa dipimpin oleh Kepala Desa Oeue, Arifin Nobisa, ayah dari Zulkarnain Nobisa. Masing-masing masjid terletak cukup strategis dan selaras, dua masjid berdiri di dua batas desa, dua lainnya di tengah desa. Sehingga segala informasi tentang keummatan di seluruh desa dapat terjaga dengan baik. Misalnya saja, ketika ada seorang warga yang diketahui murtad (keluar dari agama Islam), maka secara cepat dapat diketahui dan diselesaikan sebaik-baiknya. Jika penyebabnya faktor ekonomi, maka permasalahan itu pun dirundingkan dan kemudian dicarikan jalan terbaik untuk menyelesaikannya.

Secara umum, kondisi perekonomian masyarakat Oeue boleh dibilang dibawah garis kemiskinan. Mereka masih tinggal di rumah Sao yang sangat sederhana, sebagian besar bahkan berukuran kecil dan tanpa alas. Padahal untuk rumah Sao berukuran cukup besar dan terbilang mewah hanya cukup mengeluarkan uang sekitar 3-5 juta rupiah saja. Terdengar kecil di telinga kita yang asal Jakarta dan kota lainnya, namun sebaliknya bagi masyarakat di Oeue, juga desa-desa lainnya di pedalaman NTT.

Wanita-wanita di Oeue, terbiasa mengenakan jilbab atau kerudung mulai dari anak-anak hingga yang dewasa. Sayangnya, jilbab dan kerudung mereka terlihat sangat lusuh tak berwarna cerah, “Ini saja yang kami punya…” jawab salah seorang anak yang sempat kami tanya. Artinya, mereka tak punya cukup jilbab atau kerudung untuk berganti setiap hari. Bahkan beberapa ibu mengaku tak punya sehelai kain untuk menutup bagian kepalanya.

Di masjid-masjid pun tak banyak alquran yang tersedia. Zulkarnain sempat menyindir kami, “kapan datang lagi ke Oeue bawalah perlengkapan sholat dan alquran yang banyak”. Yang dimaksud Zul, termasuk pakaian-pakaian untuk para muslimah Oeue juga kain sarung untuk para pria. Anak-anak di NTT berpakaian ala kadarnya, kaos lusuh, robek kantongnya, bolong di ketiaknya adalah yang terbaik yang mereka punya. Mungkin pakaian terburuk yang kita punya di rumah bisa jadi yang terbaik bagi mereka.

Lokasi desa yang berada di pedalaman membuat mereka tak banyak memeroleh informasi seperti halnya kita yang setiap detik bisa mendapatkannya dengan sangat mudah. Informasi atau berita terbaru tentang keadaan luar baru mereka dapatkan jika orang seperti Zul kembali dari kota, mereka akan mengerumuni Zul untuk mendapatkan informasi yang juga tak sepenuhnya mereka pahami. Keterbatasan akses pun dirasakan berkenaan dengan urusan perekonomian. Jauhnya desa dari perkotaan yang merupakan sumber perekonomian membuat mereka bertahan hidup dengan mengandalkan hasil pertanian seadanya. Tanah di Oeue memang terlihat lebih subur dan hijau dari desa-desa lain di sekitarnya, hal tersebut menyebabkan udara di sekitar Oeue lebih segar. Atas dasar itulah Zulkarnain memberdayakan warga desa untuk mengembangkan beragam jenis tanaman yang bisa dijadikan bahan makanan yang tidak hanya untuk makan sehari-hari, melainkan untuk dijual ke kota. Zul bercita-cita meningkatkan taraf hidup warga Oeue dan memajukan desanya, meskipun berada jauh di pedalaman.

Dengan modal seadanya, mereka mengembangkan usaha perikanan dengan membuat beberapa tambak. Kami diajak ke sebuah lokasi di balik bukit untuk melihat langsung usaha bibit tanaman dan tambak ikan milik warga Oeue. “Ini baru permulaan, modalnya juga masih terbatas. Semoga dari Jakarta ada yang bisa membantu kami ya…” ujar Zul berterus terang.

Semangat Zul dan segenap masyarakat Oeue untuk bertahan dalam kehidupan dan juga ketaatan beragama, seolah tengah memberi satu pertunjukkan tentang episode perjuangan sebuah komunitas yang berupaya menjadi mandiri nan bermartabat. Sebuah perjuangan yang patut mendapat dukungan dari siapapun yang peduli atas keberlangsungan komunitas ini di pedalaman NTT. “Salam dari kami buat saudara-saudara di luar sana,” tutup Zulkarnain usai mengantarkan kami ke Kota Soe. (gaw/act)


Beri Nilai Naskah Ini:

Nilai 1Nilai 2Nilai 3Nilai 4Nilai 5Nilai 6Nilai 7Nilai 8Nilai 9Nilai 10 (16 orang menilai, rata-rata: 9,75 dalam skala 10)
Loading ... Loading ...


Ada 6 komentar. Kirim komentar Anda.



Pembaca Naskah Ini, Juga Membaca:

Akses http://www.dakwatuna.com/wap dimana saja melalui ponsel, Blackberry atau iPhone Anda.
Kirim Print
  • Print
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google Bookmarks
  • BlinkList
  • email
  • LinkedIn
  • Live
  • MySpace
  • PDF
  • Ping.fm
  • Reddit
  • Slashdot
  • Technorati
  • Twitter
  • Yahoo! Bookmarks
  • Yahoo! Buzz
  • MSN Reporter

Ada 6 komentar untuk naskah ini. Kirim komentar Anda.

Kirim komentar Anda

XHTML: Anda dapat menggunakan tag berikut ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Catatan: Redaksi menerima komentar terkait naskah yang ditayangkan, maksimal sebanyak 500 karakter. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim dan tidak menggambarkan pandangan Redaksi. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap spam, tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau hal negatif lainnya yang terkait dengan penyakit lidah (afatul lisan). Komentar yang mengandung alamat/URL situs web, pada umumnya dianggap sebagai spam yang akan dihapus oleh sistem secara otomatis. Jaga privasi Anda sendiri dengan tidak mencantumkan alamat email dan nomor telepon Anda di ruang komentar ini.

   sisa karakter

« Naskah Sebelumnya
Naskah Sesudahnya »