ARTIKEL POPULER PEKAN INI: Bukan Jomblo, Tapi Single

Muslim Menggunakan Nama Hindu Demi Pekerjaan

30/12/2009 | 13 Muharram 1431 H Please wait
Oleh: Tim dakwatuna.com
Kirim Print

dakwatuna.com – Kairo, Sejumlah umat Islam di India terpaksa harus mengubah nama-nama mereka menjadi nama Hindu untuk mendapatkan kesempatan kerja di industri berlian yang tertutup bagi Muslim. “Kita tidak akan mendapatkan pekerjaan jika kita dikenal sebagai Muslim,” ungkap Allarakha Khan, seorang pekerja Muslim yang menggunakan nama Hindu, kepada India Express, Selasa (29/12) kemarin.

“Kami telah melakukan hal ini sudah cukup lama, dan kami akan sangat berhati-hati untuk tidak mengungkapkan nama atau alamat asli kami di tempat kerja,” tambah dia.

India yang mayoritas penduduknya Hindu, dengan 140 juta penduduk Muslim merupakan negara bependuduk Muslim terbesar ketiga di dunia setelah Indonesia dan Pakistan. Umat Islam India telah menderita secara sosial dan ekonomi selama puluhan tahun. Mereka telah lama mengeluh atas kecilnya persentase mereka dalam instansi kepolisian, militer, dan departeman pemerintah lainnya.

Mereka juga mengeluhkan kecilnya kesempatan belajar di universitas negeri. Mereka akhirnya mendaftar ke institusi pendidikan yang lebih rendah dan akibatnya, tingkat pengangguran umat Islam lebih tinggi daripada umat mayoritas, Hindu, bahkan dari umat minoritas lainnya seperti umat Kristen dan Sikh.

Membayar Mahal

Mehboob Pathan bersama putra dan putrinya terpaksa mengubah nama mereka dengan nama Hindu untuk mencari pekerjaan di industri berlian. “Seperti saya, ayah saya juga menyembunyikan identitas agamanya hanya agar bisa mendapatkan pekerjaan,” tegas anak Pathan, Mushtaq, yang berganti nama Hindu Mukesh.

Tragisnya, dengan menyembunyikan identitas keislaman mereka, keluarga ini harus membayarnya dengan harga mahal. Sang ayah, Mehboob Pathan, dengan nama Hindu Jayenti Bhatti, menghilang dan keluarga telah melaporkan ketidakhadirannya. Namun, mereka mengalami shock berat saat sang ayah ditemukan terbunuh dalam sengketa moneter dan jenazahnya dikremasi (dibakar) sebagai seorang Hindu.

“Bagaimana mungkin polisi mengurus jenazahnya dengan cara Hindu?” ungkap Mushtaq kesal. “Sebuah pengusutan dapat menunjukkan bahwa ia adalah Muslim.” Tapi, polisi bersikeras bahwa keluarga sudah terlambat.

“Kami mengurus jenazahnya sesuai ritus Hindu karena tidak mengetahui bahwa ia seorang Muslim,” kata inspektur polisi, VR Malhotra. “Keluarga datang terlambat dan kita sekarang tak berdaya,” tambah dia.

Dalam Islam, kremasi tidak diperbolehkan karena dianggap tidak menghormati mayat dan Islam mengajarkan untuk menghormati manusia, baik dalam kondisi hidup maupun mati. Ini adalah kewajiban Muslim sebagai sebuah komunitas (fardhu kifayah) untuk memastikan bahwa setiap Muslim yang meninggal dengan benar dicuci, dikafani, dan dimakamkan sesuai dengan ajaran Islam. “Kami terlalu miskin untuk melakukan apa pun,” kata Mushtaq tak berdaya. iol/taq/RoL

email

Keyword: , , , , ,


Beri Nilai Naskah Ini:

Nilai 1Nilai 2Nilai 3Nilai 4Nilai 5Nilai 6Nilai 7Nilai 8Nilai 9Nilai 10 (7 orang menilai, rata-rata: 9,57 dalam skala 10)
Loading ... Loading ...


Naskah Terkait Sebelumnya:


Akses http://m.dakwatuna.com/ dimana saja melalui ponsel, Blackberry atau iPhone Anda.
« Naskah Sebelumnya
Naskah Sesudahnya »
BERITA POPULER PEKAN INI: Ibunda Hidayat Nur Wahid Meninggal Dunia