Home / Narasi Islam / Hidayah / Menjadi Haji Mabrur Seorang Diri

Menjadi Haji Mabrur Seorang Diri

Ka'bahdakwatuna.comIbadah haji dan jihad fii Sabilillah adalah dua amal ibadah yg bernilai tinggi di sisi Allah. Atas dasar itulah, Syeikh Abdullah bin al-Mubarak selalu menunaikan dua hal tersebut, tahun ini naik haji, tahun berikutnya berangkat berjihad, demikianlah secara selang-seling selalu dilakukannya, betapapun sibuk menderanya.

Tibalah saatnya Abdullah bin al-Mubarak berangkat haji. Setelah bekerja keras Abdullah bin Mubarak berhasil mengumpulkan bekal tak kurang 500 dinar uang emas. Dari kediamannya di Hijaz beliaupun pun berangkat menuju Makkah al Mukarramah.

Pada suatu waktu, setelah selesai menunaikan tahap demi tahap rangkaian ibadah haji, beliau tertidur dan bermimpi melihat dua malaikat yang turun dari langit.
“Berapa banyak jamaah yang datang tahun ini?” Tanya malaikat kepada malaikat lainnya.

“600.000,” jawab malaikat lainnya.
“Berapa banyak dari mereka yang ibadah hajinya diterima?”
“Tidak satupun”

Percakapan ini membuat Abdullah gemetar.
“Apa?” Beliaupun menangis.
“Semua orang ini telah datang dari belahan bumi yang jauh, dengan kesulitan yang besar dan keletihan di sepanjang perjalanan, berkelana menyusuri padang pasir yang luas, dan semua usaha mereka menjadi sia-sia?” Pikir Ibnu Mubarak sedih

“ Kecuali hanya seorang tukang sepatu di Damaskus yang dipanggil Ali bin Mowaffaq.” Kata malaikat yang pertama.

“Dia tidak datang menunaikan ibadah haji, tetapi ibadah hajinya diterima dan seluruh dosanya telah diampuni. Bahkan berkat dialah ibadah seluruh jamaah haji ini diterima oleh Allah.” Lanjut malaikat pertama menerangkan.

Ketika Abdullah Ibnu Mubarak mendengar percakapannya itu, maka terbangunlah ia dari tidurnya, dan langsung berangkat ke Damasykus mencari orang yang bernama Ali bin Muwaffaq itu. Dia telusuri tempat tinggal Muwaffaq sampai beliau temukan. Dan ketika diketuk pintunya, keluarlah seorang lelaki dan segera ia bertanya tentang namanya.

“Assalamu ‘alaykum warahmatullahi wabarakatuh!” Sapa Ibnu Mubarak sambil mengetuk pintu.

“Siapakah namamu dan pekerjaan apa yang kau lakukan?” Tanya Ibnu al-Mubarak kepada lelaki yang ditemuinya.

“Aku Ali bin Muwaffaq, penjual sepatu. Siapakah Anda?”

Kepada lelaki itu Ibnu al-Mubarak menerangkan jadi dirinya dan maksud kedatangannya. Setelah tahu siapa yang datang serta maksud dan tujuannya. Tiba-tiba Muwaffaq menangis dan jatuh pingsan.

Ketika sadar, Ibnu Mubarak memohon agar Muwaffaq berkenan untuk menceritakan semua yang dia alami terkait dengan hajinya. Dia mengatakan bahwa selama 40 tahun dia telah rindu untuk melakukan perjalanan haji ini. Untuk itu telah terkumpul dana sebanyak 350 dirham dari hasil berdagang sepatu. Maka tahun ini dia memutuskan untuk pergi ke Mekkah.

Suatu hari istrinya yang sedang hamil mencium aroma sedap makanan yang sedang dimasak tetangga sebelah rumahnhya. Kemudian si istri memohon kepadanya agar ia bisa mencicipinya sedikit. Lalu Muwaffaq pergi menuju tetangga sebelah, mengetuk pintunya kemudian menjelaskan situasinya.

Saat Muwaffaq mengutarakan maksud kedatangannya, tetangga itupun mendadak menagis.

“Sudah tiga hari ini anakku tidak makan apa-apa,” katanya.
“Hari ini aku melihat keledai mati tergeletak dan memotongnya kemudian memasaknya untuk mereka. Ini bukan makanan yang halal bagimu.” Terang tetangganya sambil menangis.

Saat mendengar cerita itu hati Muwaffaq serasa terbakar. Maka tabungan yang terkumpul untuk berhaji sebanyak 350 dirham diberikan kepadanya.

“Belanjakan ini untuk anakmu,” kata Muwaffaq.
“Inilah perjalanan hajiku.” kata Muwaffaq dalam hati.

“Malaikat berbicara dengan nyata di dalam mimpiku,” kata Abdullah Ibnu Mubarak selepas menemui Muwaffaq.

“Dan Penguasa kerajaan surga adalah benar dalam keputusanNya.”

Beliau bernama Abdullah bin al-Mubarak, Abu Abdurrahman al-Marwazy, Maula Bani Hanzhalah. Beliau lahir di salah satu kota yang terdapat di Khurasan yang dikenal dengan nama Marwaz pada tahun 118H /726 M dari rahim seorang ibu keturunan Khawarizmi (Persia) dan ayah yang berkebangsaan Turki. Secara fisik beliau sangat mirip dengan ayahnya. Beliau wafat pada tahun 181 H/797 M setelah beliau kembali dari berjihad, dan jasad beliau yang mulia dikuburkan di desa Hayyat Bagdad.

Abdullah bin al-Mubarak tumbuh dan besar di Marwaz yang merupakan kota kelahirannya, beliau terdidik di tengah keluarga shaleh yang senantiasa menjaga nilai-nilai keislaman lagi wara’. Pada masa awal pertumbuhan dan perkembangannya beliau belajar pada sebuah sekolah dan menimba ilmu-ilmu dasar disana, maka pada masa itu tampaklah kecerdasan dan kecepatan beliau dalam menghafal sebagaimana persaksian salah seorang temanyang selalu bersamamnya dia berkata: “Ketika kami masih duduk ditaman kanak-kanak akau bersama Ibnu al-Mubarak melewati seseorang yang sedang berkhutbah, dimana khutbah yang disampaikan oleh orang tersebut sangat panjang, setelah khutbah selesai Ibnu al-Mubarak berkata kepadaku: ‘Aku telah menghafalkan seluruh isi khutbah tersebut’. Seseorangyang ada disekitarnya mendengarkan perkataan Ibnu al-Mubarak lalu berkata: ‘kalau memang demikian sampaikanlah khutbah yang baru saja disampaikan oleh khatib tadi!’, kemudian Ibnu al-Mubarak mengulangi isi khutbah tersebut tanpa menambah dan menguranginya”. (aj)

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (50 votes, average: 9,52 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Aidil Heryana, S.Sosi
"Aidil" adalah panggilan kesehariannya. Lahir di Jakarta pada tahun 1964 dan sekarang telah dikaruniai Allah 4 orang anak. Manajer SDM di Ummigroup Media ini adalah lulusan dari SMA Negeri 8 Jakarta, LIPIA (I'dadul Lughoh Masa'iyah), dan Institut Agama Islam Al-Aqidah. Pernah aktif di Kerohanian Islam (Rohis) SMAN 8 Jakarta, dan di Bi'tsatud Du'at PKPU. Saat ini mengemban amanah sebagai Pembina Yayasan Sahabat Insani. Moto hidupnya adalah "Hidup Mulia atau Mati Mulia".
  • ALLAHUAKBAR….

    alangkah mulia engaku wahai ABU…

  • Assalaqmu’alaikum Wr.Wb.
    Subhanallah!!! Suatu hikmah yang mulia, semoga menjadi ibrah untuk kami. Insya ALLAH.

  • Assalamu’alaikum Wr.Wb.
    Subhanallah!!! Suatu hikmah yang mulia, semoga menjadi ibrah untuk kami. Insya ALLAH.

  • Subkhanalloh semoga Alloh SWT merahmatinya

  • nina

    subhanallah smoga Allah merahmatinya dan smoga mnjd ibroh bagi kita. Amiin.

  • Subhanallah…betapa mulianya beliau.

  • indria taheer

    subhanallah…

  • elang pitak

    Demi waktu Isya, Aku menangis membacanya
    Ia begitu ikhlas dan mulia
    Selagi diriku dipeluk rindu tanah suci
    Tak satu dinarpun mulai dikumpulkan
    Tak bisa berhaji, pun tak bisa memberi
    Sedang blekberi rela kubeli
    Duhai Ali tukang sepatu sungguh mulia
    Sedangkan aku baru menempel saja dibawah sendal jepitnya..

    • alkibrit

      kesadaran dicintai menerbangkan sajadah malam ke tanah suci

  • sati

    Subhanallah…Maha Besar ALLAH, yg Maha Tahu atas segala isi hati Manusia.

  • Nur’aini

    SUBHANALLOH…………Masih adakah orang seperti Ali bin Mowafaq di zaman sekarang???

  • fatih

    ijin mengutip artikel ya pak/bu

    Jazakumullah

  • Subhanallah Allahu Akbar,ya Allah jadikanlah hambaMu ini yang gemar bersodakoh dan memberi pertolongan kepada orang yang membutuhkan.Aku berlindung kepadaMu dari sipat kikir ya Allah.

  • Haji plus

    Subhanaallah, sungguh mulya hati ibnu muwaffaq, semoga dizaman modern seperti ini masih banyak orang seperti beliau

Lihat Juga

Menteri Agama Lukman Hakin Saifuddin mengatakan, hingga saat ini, visa jamaah haji  gelombang dua mendatang belum semua selesai. (kabarmakkah.com)

Hingga kini, Visa Haji Gelombang Dua Belum Selesai