Home / Berita / Solidaritas Ribuan Aktivis Internasional Peringati 1 Tahun Invasi Gaza

Solidaritas Ribuan Aktivis Internasional Peringati 1 Tahun Invasi Gaza

dakwatuna.comLebih dari 1.000 delegasi dari 42 negara telah mendaftar untuk berpartisipasi dalam aksi 31 Desember sebagai hari Kebebasan Gaza yang sekaligus akan menandai peringatan satu tahun invasi Israel dan seruan untuk mengakhiri pengepungan yang telah membawa 1,5 juta orang ke jurang bencana.

Penyelenggara telah menutup pendaftaran pada 30 November lalu untuk memberikan para pejabat Mesir cukup waktu dalam mengizinkan kelompok tersebut memasuki Gaza. Namun di lain pihak, penyelenggara menutup pendaftaran lantara membludaknya relawan yang telah mendaftarkan diri. “Belum ada yang pernah mengumpulkan massa sebanyak ini untuk masuk Gaza,” kata koordinator, Ann Wright, yang memiliki keterampilan sebagai pensiunan kolonel tentara AS. Ia sendiri nanti akan turun mengatur logistik kelompok besar ini.

Sejak pendaftaran ditutup pada 30 November, panitia masih terus dikunjungi setiap hari oleh orang-orang yang meminta dirinya untuk dimasukkan ke daftar calon anggota aksi. “kami terpaksa harus menolak 15 hingga 20 orang setiap harinya,” kata Emily Siegel. “Hal ini sudah beberapa minggu terjadi sejak pengumuman lewat email ke orang-orang di seluruh dunia yang ingin bergabung. Saya merasa tidak enak menolak mereka untuk bergabung dalam aksi ini, namun kami juga harus mulai berpikir realistis karena banyaknya dukungan. Semula kami menargetkan akan membawa 300 orang tapi sekarang kami malah memiliki lebih dari 1.000 orang.”

Delegasi internasional ini berharap untuk dapat bergabung dengan 50.000 orang Palestina lainnya di Gaza, termasuk siswa, guru, petugas kesehatan, kelompok perempuan, petani dan nelayan. Long march ini akan dimulai di lingkungan di Gaza utara di mana hampir setiap bangunan hancur pada saat serangan Israel. Kemudian perjalanan akan terus berlanjut sepanjang tiga mil ke perbatasan Erez dengan Israel. Pada saat yang sama, aktivis Israel dan Palestina akan berbaris menuju persimpangan Erez dari sisi Israel. Setelah mencapai perbatasan, para peserta di kedua belah pihak akan melepaskan balon terbang, layang-layang dan gelombang bendera untuk menunjukkan solidaritas mereka antara satu sama lain.

Menandai peringatan satu tahun dari invasi Israel Desember 2008 yang menewaskan lebih dari 1.400 jiwa, inisiatif ini dirancang untuk menarik perhatian dunia atas pengepungan yang terus berkelanjutan hingga memenjarakan 1,5 juta warga Palestina di Gaza.  Namun demikian, dengan kondisi perbatasan yang masih tertutup, tidak ada jaminan bahwa aktivis internasional ini akan diizinkan masuk Gaza melalui perbatasan Israel dan Mesir.

Kedua pemerintah telah menutup perbatasan mereka, tapi kadang-kadang bagi orang Mesir akan diberikan pengecualian. Itu sebabnya Tighe Barry, pria yang telah menjadi wakil delegasi internasional ini, telah melakukan perjalanan ke daerah tersebut sebanyak enam kali dalam beberapa bulan demi mempersiapkan aksi ini. “Kami telah mengatakan kepada para delegasi bahwa tidak ada jaminan kita akan bisa masuk ke Gaza, tetapi kita tentu melakukan segala sesuatu yang secara manusiawi mungkin untuk meyakinkan orang Mesir agar membiarkan kami masuk,” kata Barry dari Kairo, tempat dimana ia telah menghabiskan hari-harinya untuk negosiasi dengan pejabat di Kementerian Luar Negeri, di samping mengatur akomodasi hotel, makanan dan bus untuk 1.000 orang calon peserta aksi.

Keragaman delegasi internasional ini sangat mengesankan, dengan orang-orang yang datang dari Austria, Yaman, Belgia, Bangladesh, sampai Brazil. Sekitar 100 siswa yang berusia antara 17-18 tahun juga telah mendaftarkan diri. Para pengunjuk rasa ini termasuk diantaranya berprofesi sebagai hakim, dokter dan ahli fisika, pengusaha dan serikat repetisi. Selain itu anggota dari kalangan agama seperti imam, rabi dan pendeta juga akan turut hadir.

Sementara itu kelompok afinitas juga terbentuk dari seniman, perempuan, veteran militer, diplomat, pengacara dan petugas kesehatan. Seorang pelukis dari California, Kathleen Crocetti, akan membangun sebuah mosaik peringatan kepada semua orang yang tewas selama invasi. Dan dengan tujuan yang sama, Julia Hurley, seorang mahasiswa dari New York, telah mengumpulkan ribuan dolar untuk membeli perlengkapan sekolah bagi anak-anak Palestina yang telah dilarang oleh Israel.

Nora Hassanaien, seorang mahasiswa Inggris di Universitas Warwick, memiliki keluarga yang tinggal di Gaza. Namun hingga saat ini Nora belum bisa mendapatkan izin untuk mengunjungi keluarganya lantaran masih ditutupnya perbatasan. “Melihat kekejaman di televisi tahun lalu sementara diri ini tidak dapat berbuat apa-apa, memang membuat saya merasa benar-benar hancur,” kenangnya. “Ini akan sangat berarti bagi saya untuk menjadi bagian dari aksi damai bersama orang dari seluruh dunia yang bersatu dalam solidaritas.”

Sama halnya dengan Nora, Hilary Minch yang merupakan seorang pekerja bangunan asal Irlandia mengatakan, “Ini akan menjadi sesuatu yang sangat pedih jika kelak mengunjungi Gaza. Ini akan diisi dengan kesedihan, mengingat apa yang dialami orang-orang Gaza untuk bertahan dalam penderitaan yang panjang. Aku ingin berdiri di samping mereka dan menunjukkan solidaritasku. Ini adalah hal penting yang akan aku lakukan.” (mirzah/pnn/knrp)

Redaktur: Ulis Tofa, Lc

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (14 votes, average: 9,36 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Tim dakwatuna adalah tim redaksi yang mengelola dakwatuna.com. Mereka terdiri dari dewan redaksi dan redaktur pelaksana dakwatuna.com

Lihat Juga

Ilustrasi - Peta Turki. (Foto: Google)

Sikap Dunia Internasional Terhadap Upaya Kudeta di Turki