Home / Berita / Internasional / Sekolah Ala Nabi Bertahan di Kenya

Sekolah Ala Nabi Bertahan di Kenya

dakwatuna.com – WAJIR, NORTHERN KENYA, Dari jantung sebuah desa di kota Wajir, wilayah Kenya yang didominasi Muslim, lantunan jernih ayat-ayat suci Alquran bergema memecah kesuyian. Lantunan itu berasal dari para siswa sekolah Alquran di desa tersebut.

Ini merupakan sekolah yang menggunakan sistem tradisional dalam mengajarkan Alquran. Banyak sekolah sejenis yang sering disebut dugsi, tersebar di masjid-masjid yang ada di wilayah timur laut Kenya. Dugsi merupakan sebuah sistem pendidikan Islam yang berkembang di wilayah yang banyak dihuni oleh kalangan Suni dari Somalia.

Para sejarawan Islam mengungkapkan, sekolah-sekolah sejenis ini telah ada di Timur Tengah dan Afrika sejak abad ke-7. Jika ditelusuri ke akarnya, sistem pendidikan di sekolah ini juga pernah ada di Arab Saudi pada masa Nabi Muhammad.

Moalim Nur Osman, seorang guru di sebuah sekolah Alquran di Wajir, mengatakan, sistem tradisional yang diterapkan di sekolah itu mengingatkan pada sistem di masa Rasulullah Muhammad. Sebab, kata dia, sistem ini memang telah diterapkan pada masa itu. “Sistem pendidikan Islam tradisional ini berasal dari jaman Nabi Muhammad S.A.W,” ujar Osman seperti dikutip IOL, akhir pekan lalu (6/12).

Osman mengatakan, sekolah jenis ini sangat populer di Kenya. Osman tak asal bicara. Ia yang duduk di sebuah kursi tradisional di hadapan sebanyak 70 muridnya, mengatakan, bertahun-tahun dugsi tetap mampu bertahan dan beroperasi memberikan pengajaran kepada para pemuda Islam.

”Kami merasa, sekolah Alquran dengan sistem tradisional ini telah memainkan peran besar, dalam membentuk kepribadian para pemuda Islam dalam menyebarkan ajaran agama Islam,” ujar dia.

Menurut Osman, meski masih menggunakan sistem pengajaran tradisional, keberadaan dugsi telah mampu melahirkan sebuah lingkungan yang kondusif, tentu bagi para pemuda Islam untuk belajar dan menghafal Alquran, yang merupakan landasan utama dalam pendidikan Islam.

Paling tidak, ungkap Osman, dibutuhkan waktu selama tiga tahun bagi seorang siswa untuk bisa menghafal Alquran. ”Ini akan menjadi landasan bagi kehidupan para siswa, dan kami yakin di kemudian hari mereka akan menjadi orang-orang yang religius,” ujar dia.

Osman mengatakan, sekolah tempat ia mengajar, telah berlangsung selama 30 tahun. Selama masa itu pula, jelas dia, sekolah ini meletakkan dasar-dasar yang kuat bagi para siswanya untuk mempelajari ajaran-ajaran Islam.

Di sekolah ini, jelas Osman, para siswa setiap hari membaca ayat-ayat Alquran yang tertulis dengan huruf emas pada lempengan kayu. Para siswa, kata dia, setiap hari menghabiskan waktu selama empat jam untuk membaca dan menghafal Alquran.

”Perjuangan pertama di sekolah ini adalah mempelajari Alquran,” kata Ahmed Ali, seorang murid dugsi seperti dikutip Islamonline, kemarin. Ahmed mengatakan, ia dan siswa lainnya mengambil pelajaran Alquran dua kali setiap hari. Selain itu, dugsi merupakan sebuah upaya alternatif.

Sebab, dengan keberadaan dugsi yang tak mendapatkan bantuan dana dari pemerintah, Muslim di wilayah Wajir khususnya, masih mampu memberikan pendidikan agama dengan baik kepada generasi muda mereka. Dengan demikian, ajaran agama Islam.

Syekh Abdulwahab Sheikh Issack, seorang pejabat di Dewan Imam dan Penceramah Kenya, mengatakan, dugsi merupakan cara informal yang paling memungkinkan dilakukan di sebuah masyarakat yang masih tertinggal dalam segi materi.

”Dugsi menawarkan akses pendidikan yang murah, terutama dalam pendidikan Islam,” kata Issack. Ia menyatakan pula, dugsi juga menjadi tempat yang baik bagi pendidikan nilai-nilai Islam kepada generasi muda Islam.

Menurut Issack, dugsi juga merupakan tempat pengajaran dasar Alquran dan bahasa Arab. Bahkan, banyak kalangan yang mengakui, sekolah-sekolah semacam itu merupakan sebuah elemen penting bagi transfer nilai dan sosialisasi tentang Islam.

Syekh Mohamed Abdi, guru di sebuah dugsi, mengatakan, dugsi memberikan pengajaran Islam kepada siswa dan memainkan peran agama serta sosial dalam masyarakat. Dugsi pun bisa dianggap sebagai agen perubahan dalam masyarakat.

Abdi berharap, dugsi akan tetap bisa bertahan sampai kapan pun. Ia mengatakan, masyarakat selama ini mendukung sekolah-sekolah tradisional, seperti dugsi, tempat para guru sepenuhnya tak dibayar atau hanya mendapatkan bayaran sedikit uang dari murid-muridnya.  Para siswa dugsi, dengan kemampuannya membaca dan menghafal Alquran, kelak mampu meniti ‘karier’ di bidang agama. ”Saya ingin menjadi seorang kadhi. Saya harus belajar Alquran. Oleh karena itu, saya harus hadir terus di dugsi,” kata seorang siswa, Mohamed Ali. iol/fer/taq/RoL

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (11 votes, average: 8,91 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Tim dakwatuna adalah tim redaksi yang mengelola dakwatuna.com. Mereka terdiri dari dewan redaksi dan redaktur pelaksana dakwatuna.com
  • Andriyan

    Sama saja di Indonesiapun begitu, pendidikan nonformal berbasis agama Islam termajinalkan….Di kab Way-kanan, cntohnya.. demi mencapai target pnddkan bersetara nas, murid SD pulng sklh smpai jam 14.00, dlnjutkan lgi dngn Les smpi jam 16.00, Hingga rencana kami mndrikan MADIN, tak jadi karna terbentur dana dan wktu anak didik yg hbs tersita dipendidikan sekuler… Entah bagaimana nasib aqidah anak2 di Kab Way-kanan umumnya & Kec. Baradatu pd khususnya……

Lihat Juga

Setelah puluhan tahun, Bendera Merah Putih Akhirnya bisa berkibar di Dusun Cindakko. (Nurhayani/Putri/PKPU)

Setelah Puluhan Tahun, Baru Kali ini Merah Putih Berkibar di Dusun Cindakko