Home / Berita / Muslim AS Kecam Peristiwa Fort Hood

Muslim AS Kecam Peristiwa Fort Hood

dakwatuna.com – Washington, Kalangan muslim di AS mengkhawatirkan dampak negatif  yang dapat menimpa mereka pascainsiden penembakan di pos militer Fort Hood, Texas.

Pada insiden tersebut, Mayor Nidal M. Hassan diduga melakukan penembakan pada penghuni pos militer itu hingga menewaskan 13 orang dan melukai 30 lainnya, Kamis (5/11). Insiden yang diduga dilakukan psikiater tentara muslim keturunan Palestina tersebut memicu beragam tanggapan dari sejumlah tokoh muslim di negeri Paman Sam itu, Sabtu (7/11).

Motif pelaku masih dalam penyelidikan, namun sejumlah laporan mengindikasikan tekanan yang diderita Hassan akibat banyak menangani tentara yang menderita gangguan mental post-trauma sepulang dari Iran dan Afghanistan. Ia juga disebut mengalami stres akibat usikan yang diterimanya dari anggota militer yang lain karena kemuslimannya.

Reaksi anti-muslim berkembang dengan cepat di Texas pascainsiden ini. “Jihad di Fort Hood?” menjadi headline Jihad Watch blog, beberapa saat setelah Hassan diindentifikasi sebagai tersangka. Institut Arab Amerika mengatakan mereka menerima telepon ancaman dari lelaki tak dikenal, sesaat setelah laporan sementara mengenai insiden itu diumumkan.

Keamanan juga menjadi isu sensitif, sejumlah masjid dan tempat shalat Jumat diperketat pengamanannya mengantisipasi efek balik insiden penembakan tersebut. Di Washington, Chicago, dan tempat-tempat lainnya, beberapa pengurus masjid meminta tambahan patroli dari polisi setempat. Di Garden Grove, Kalifornia, aparat polisi berjaga di sekitar masjid sebagai tindakan pencegahan.

Waspada

Hussam Ayloush, direktur Council on American-Islamic Relations (CAIR) wilayah California Selatan memperingatkan umat Islam di sana agar waspada dan menghidari mengekspos identitasnya bila tidak perlu. Ia mengatakan, sejak terjadinya insiden tersebut, banyak organisasi muslim di sana menerima lusinan ancaman mati dan surat elektronik berisikan kata-kata kebencian. “Ini adalah saat kita harus duduk dan berdoa bersama agar orang Amerika menjadi lebih kuat, bersatu, dan toleran,” katanya.

Andre Carson, senator Indiana dari kubu Demokrat, mengingatkan semua pihak agar tetap berfokus pada penyelesaian masalah kesehatan mental prajurit ketimbang membahas agama pelaku penembakan. “Kejadian ini tidak menggambarkan sedikitpun tentang Islam sebagaimana tak sedikitpun aksi Timothy McVeigh mencerminkan ajaran Kristiani,” tutur satu dari dua muslim yang duduk di Kongres ini. Timothy McVeigh adalah pelaku pengeboman di Oklahoma yang menewaskan 168 jiwa, 14 tahun silam.

Presiden AS, Barrack Obama, mencoba mengendurkan tekanan kepada tersangka penembakan dengan memuji para tentara. Ia berkata, prajurit-prajurit telah membela negara itu dalam satu seragam yang sama dan mengingatkan pada publik akan keberagaman di balik seragam tersebut. Ia menegaskan, sebagian besar warga negara AS adalah imigran maupun keturunan imigran, dan mereka semua memiliki kedudukan yang sama.

“Semua tentara adalah orang Amerika, dari keturunan apapun ia berasal, apapun keyakinannya, dan di pos manapun ia ditempatkan. Mereka ada yang Kristen, Muslim, Yahudi, Hindu, dan tak beragama, namun menunjukkan semangat patriotisme yang serupa,” urainya. ap/c15/ahi/RoL

Redaktur: Ulis Tofa, Lc

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (7 votes, average: 8,43 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Tim dakwatuna adalah tim redaksi yang mengelola dakwatuna.com. Mereka terdiri dari dewan redaksi dan redaktur pelaksana dakwatuna.com
  • ilato

    Terimakasih Mr Presiden Obama, atas komentarnya pada kasus ini. Karena perbuatan yg dilakuakan oleh Hasan hanya efek dari kedinasannya di militer atau ada unsur kejiwaan, jadi bukan masalah agama Islam, mohon dapat dimengerti dan dipahami oleh rakyat Amerika.

Lihat Juga

Ilustrasi. (isaacribeiro.com.br)

Memasuki Era Digital, Pengusaha Muslim Harus Melek Teknologi