Home / Narasi Islam / Life Skill / Sang Bunda dan Sang Bayi (Untuk Para Pendidik dan Pembelajar)

Sang Bunda dan Sang Bayi (Untuk Para Pendidik dan Pembelajar)

bunda-dan-anakdakwatuna.comSuatu hari Rasulullah SAW ditanya oleh sahabatnya: “Ya Rasulullah, kepada siapa aku harus berbakti paling baik?”Jawab Rasul: “Kepada ibumu”‘ “Lalu?”,tanya sang sahabat kembali. Jawab Rasul: “Kepada ibumu”‘ “Lalu?”, tanya kembali sang sahabat, kembali Rasul menjawab: “Kepada ibumu” Sang sahabat bertanya kembali “Lalu?”, jawab Rasul “Kepada ayahmu”. Demikianlah, sebuah perkataan / hadits yang singkat tetapi berdasarkan perenungan yang panjang akan makna hakiki seorang ibu. Perenungan ini pula yang menggerakkanku menulis kolom ini.

Renungan ini mengantarkanku pada sebuah fenomena bahwa ternyata sosok ibu adalah contoh atau profil pendidik yang terbaik, sementara itu sang bayi pun merupakan profil pembelajar terbaik. Mari kita telusuri profil mereka (lihat gambar).

Ketika sang bayi terbangun dan menangis di malam hari, dengan sigap sang ibu pun ikut bangun, dengan lembut ia menggantikan popok sang bayi, lalu memberikan yang terbaik untuk sang bayi yaitu ASI nya dan menemaninya sampai sang bayi pun tertidur pulas. Sungguh semua itu dilakukannya hampir tanpa keluhan, bahkan dengan bahagianya dia menjalankan amanah tersebut. Bagaimana bisa? Kasih sayang jawabnya. Andaikan kita para pendidik mampu mengadopsi jawaban tersebut dalam menjalankan amanah mendidik kita, niscaya luar biasa percepatan belajar yang akan terjadi pada anak didik kita. Rasa cinta dan kasih sayang membuat amanah menjadi mudah & membahagiakan.

Ingatkah kita bagaimana sang bunda menyediakan berbagai jenis mainan di sekeliling kita. Betapa kita merasakan bagaimana bentuk dan warna mainan itu membuat mata kita aktif tajam memperhatikannya, suara mainan itu membuat telinga kita aktif asyik mendengarkannya, bagaimana gerakan mainan itu membuat tangan dan kaki kita menjadi tak bisa diam. Dan kita pun menjadi semakin cerdas karenanya. Maka mari belajarlah dari sang bunda bagaimana dia memfasilitasi, untuk menjadikan anak didik  menjadi semakin cerdas.

Berdiri, melangkah dan berjalan merupakan sebuah proses yang rumit dalam perkembangan sang bayi. Ketika sang anak berusaha berdiri, lalu terjatuh, bangun berdiri dan terjatuh lagi, bangun lagi, dengan kesabaran yang luar biasa sang bunda terus mendampingi dan terus memotivasi kita untuk bisa . Dalam hatinya dia berkata “Suatu hari anakku pasti akan bisa!”. Rasanya tak ada seorang pun ibu yang  putus asa ketika melihat bayinya terjatuh kembali dalam usahanya untuk mampu berdiri, lalu dia berkata,”Sudahlah nak, kamu memang tak bakat berdiri, merangkak sajalah…”Masih adakah kita kurang sabar dan merasa putus asa dengan prestasi yang  baru dicapai anak didik kita?

Sosok sang ibu sebagai pemotivasi sungguh luar biasa. Betapapun kecilnya perkembangan yang dicapai sang bayi, tetapi ungkapan wajah bahagia dan senyum dari sang bunda selalu ditampakkannya, membuat sang bayi menjadi lebih termotivasi lagi. Betapa kita perhatikan bagaimana sang bayi mencapai percepatan belajar yang luar biasa dalam lingkungan yang begitu memotivasi. Tatkala sang bayi baru mampu melangkah satu langkah, maka tepukan tangan, seruan gembira dan bahagia dari sang ibu dan orang-orang di sekelilingnya, membuat sang bayi semakin termotivasi untuk melangkah lebih maju lagi. Bagaimanakah kita mampu menyediakan lingkungan yang begitu memotivasi untuk anak didik kita?

Sang bunda paham benar apa jenis makanan yang tepat untuk tahapan usia bayinya. Marilah kita pahami tahapan anak didik kita dan berikanlah ‘makanan terbaik’ untuknya sesuai tahapannya.

Majalah-majalah yang memuat informasi-informasi perkembangan anak hampir selalu laris terjual. Rasa haus sang bunda akan informasi yang diperlukannya dalam mengasuh dan membesarkan putranya, membuatnya menjadi pembelajar sepanjang usia. Marilah kita para pendidik untuk lebih bertekad menjadi pembelajar sejati. Kita boleh putus sekolah, tetapi kita tak boleh putus belajar.

Ketika tiba waktunya, maka sang bunda akan membawa bayinya ke Posyandu, Puskesmas atau bidan agar bayinya memperoleh imunisasi. Disadari sang bunda bahwa proses itu sesaat akan menyakitkan bayinya, panas yang meningkat akan dideritanya selama satu atau dua hari. Tetapi keinginannya yang kuat untuk menjadikan bayinya lebih terjaga kesehatannya membuat sang bunda dengan tabah menjalani proses sesaat anaknya tersakiti. Bagaimana kita dapat ‘mengimunisasi’ anak didik kita?

Dalam setiap kesempatan yang ada, terlebih ketika memandangi bayinya yang sedang tertidur pulas, hampir tak pernah terlewatkan betapa ikhlas sang bunda memanjatkan dengan penuh kekhusyu’an do’a-do’a untuk anaknya. Mengapa kita tak mencoba untuk membiasakan mendoakan kebaikan untuk setiap anak didik kita?

Saya yakin masih cukup banyak ‘pesan dari sang bunda’ yang dapat kita lihat, telinga kita dengar dan hati kita pahami. Renungkanlah…

Sekarang mari kita alihkan perhatian kita pada sang bayi yang ternyata memiliki profil pembelajar terbaik.

Perhatikanlah bagaimana proses belajar sang bayi, betapa tinggi rasa ingin tahunya. Tatkala kita sodorkan padanya sebuah mainan, dengan serta merta dia ingin mengetahui mainan itu. Dipegangnya lalu digerakkannya dan dipandanginya seluruh permukaan benda itu, setelah puas lalu dia masukkan mainan ke mulutnya untuk mengetahui rasanya. Lalu biasanya dilemparkannya mainan itu untuk mengetahui reaksinya dan akhirnya diraihnya kembali mainan itu. Adakah rasa ingin tahu kita selaku pembelajar sebesar itu? Rasa ingin tahulah yang mengantar kita pada temuan-temuan terbaru. Ibnu Abbas ra pernah ditanya seorang sahabatnya, “Bagaimana engkau bisa secerdas ini?”, jawab beliau: “Dengan akal yang gemar berfikir dan dengan lisan yang gemar bertanya”Betapa tinggi rasa ingin tahu beliau. Ikutilah….

Ketika sang anak berusaha berdiri, lalu terjatuh, bangun berdiri dan terjatuh lagi,  adakah dia mengenal rasa putus asa dalam dirinya? Dia tidak mengenal kata putus asa! Bahkan dalam hatinya dia berkata “Suatu hari aku pasti akan bisa, seperti yang lain pun bisa!”. Masih adakah kita begitu mudah untuk kurang sabar dan cepat merasa putus asa dengan prestasi yang  baru kita capai saat ini selaku pembelajar?

Jika kita memberikan sebuah mainan kotak kecil pada sang anak, maka di tangan si kecil mainan kotak  itu dapat menjadi mobil-mobilan, kapal terbang, perahu, rumah-rumahan dan berbagai macam mainan lainnya dapat tercipta dalam imajinasinya. Benar-benar sebuah miniatur kreativitas. Apakah pola pikir rutinitas masih mendominasi kita? Mengapa kita enggan mencoba mencari pendekatan lain yang di luar kerutinan kerja kita? Padahal ada banyak jalan lebih baik sebanyak ikhtiar kita untuk menemukannya. Buatlah lebih baik, tidak asal beda. Make it better, not just different.

Saya yakin masih begitu banyak pesan yang dapat kita peroleh dari sang ‘ pembelajar’ bayi.. Lengkapilah oleh Anda daftar ‘pesan-pesan bunda dan bayi’ ini . Fa’tabiruu yaa ulil abshaar.

(Jazaakumulloh kepada para mahasiswa UNJ, Unnes Semarang dan Guru-guru Al Azhar Kebayoran dan Bintaro atas  sumbangan renungannya)

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (103 votes, average: 9,67 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Trainer, Konsultan SDM.
  • Rai Sita

    subhanallah…Semoga kita menjadi pembelajar sejati sepanjang hayat…dan pendidik terbaik sepanjang masa..Penuh inspirasi buat ana yang baru mau memulai mengajar…Jazakumullah

  • empon

    sy membaca hy atasnya sj,selalu begitu tentang hadits ini dan sy sangat membenarkan,ok ini dr segi pendidikan.bagaimana ketika kita sudah menikah mana yang harus di dahulukan ibu atau suami.seperti apa realisasinya

  • Nurhayati

    Alhamdulillah……….hari ini aku dapatkan pelajaran yang sangat berharga. Semoga aku bisa menjadi ibu sekaligus pendidik yang baik dan cerdas bagi anak-anakku. amin

  • agama hanya untuk diyakini dan diamalkan sepenuh hati maka ia beriman. atau untuk diingkari dan ditinggalkan maka ia kafir. jadi bukan untuk diperdebatkan. rido orang tua (ibu dan ayah yg salehah dan saleh) adalah rido Allah. rido suami (yg saleh juga tentu–syarat dan ketentuan berlaku) adalah rido Allah. semoga kita menjadi orang tua, ibu, ayah, istri, suami yang bertakwa sebagai Muslim, Mukmin, dan Mukhlis. shg anak2 dan orang2 yg kt cintai jg mnjd Muslim yang Mukmin dan Mukhlis. Amin.

  • Ahmad

    Alhamdulillah……, terima kasih kepada Yth. Bapak M Apud Kusaeri, Dipl.Rad. SPd. MSi. atas artikelnya yang begitu dahsyat, sehingga kami lebih motivasi untuk tetap berbakti kepada kedua orang tua kami yang telah dipanggil Yang Maha Kuasa, dan kami berusaha menerapkan Pendidik dan Pembelajar yang baik dalam rumah tangga kami semoga menjadi keluarga yang sakinah mawaddah warohmah… Aamiin… Jazakallah khoiron katsiir…

    • Saya mau memberi koment soal imunisasi, dalam islam sendiri tidak pernah ada pemberian imunisasi, sementara anda mengajarkan cara-2 menjaga dan mendidik anak secara islami, apakah anda tahu bahwa imunisasi itu halal a/ haram? bukankah di dalam diri manusia itu sendiri sudah ada imunitas/kekebalan tubuh yang sudah di berikan Allah kepada manusia..? bukankah Allah lebih tahu tentang makhluk ciptaannya dari pada manusia itu sendiri? krn dari berbagai informasi yg di dapat, telah byk kontroversi soal Imunisasi itu sendiri. Terima kasih

  • Subhanallah,… sebuah pencerahan yg ringan namun memiliki makna yg sangat dalam… Jazakallah Khoir…

  • Dewi

    Assalamu’alaikum,
    Surga berada di telapak kaki ibu, hormati dan sayangi ibu tanpa harus melanggar syari’ah yang telah ditetapkan oleh Allah SWT, amin.

  • juns

    Maha Suci Alloh … pencerahan yang luar biasa. Semoga kita bisa terus menjadi pendidik dan sekaligus pembelajar yang cerdas…

  • Andri Gunawan

    Hendaknya artikel ini disebarluaskan….
    Manfaat dengan membacanya sangat luar biasa. Hayoo, para Blogger Indonesia Copy-Paste Artikel ini di blog masing-masing. Dan tak ketinggalan pula, para Publisher Majalah dan Media Cetak lainnya untuk ikut menyebarluaskan artikel Hebat ini…

  • ummu aisyah

    naskah yang bagus, sayang kurang up to date dari segi kesehatan, sudah banyak fakta ilmiah tentang imunisasi jadi seorang ibu yang kritis dimasa kini adalah yang aware terhadap kenyataan adanya konspirasi dunia to face muslim, fakta yang saya dapat dari teman yang merupakan seorang dokter adalah di israel tidak ada program vaksin untuk anak2 mereka… karena menurut fakta ilmiahpun imunisasi hanyalah memasukkan bahan kimia dosis tinggi kepada anak2 kita..

  • subhanallah,…sebuah perenungan yang luar biasa…yang tanpa sadar semua itu telah dilakukan oleh para ibu…

  • wulan sari

    smoga kita bisa menjalankan amanah sbg pendidik dg baik amin…

  • subhanallah,…. sebagai seorang ibu yang baru punya anak, saya sangat bangga atas kesabaran ibu saya yang telah merawat saya

  • Zery

    Trnyata kasih sayang yg tulus dr seorang ibu, dan prilaku polos seorang bayi dapat mmberikan bnyak contoh utk proses blajar mengajar…subhanallah..

  • Ghazali29

    oh ibu..diriku dri tiada mnjadi ada,tuhan pinjamkan aku rahimmu untuk kdunia,dalam dakapanmu aku dibesarkan dgan agamamu aku dbri didikan,tagisanku diwaktu kecil egkau menahan dgan penuh kesabaran,aku bersyukur padamu wahai tuhan,mengurniakan aku sorang ibu yg penyayang…sayangilah ibu mu wahai teman sekalian…

  • oh ibu..diriku dri tiada mnjadi ada,dari rahimmu tuhan pinjamkan aku untuk k dunia,sgala tagisanku diwaktu kecil engkau menahan dgan senyuman,dari dakapanmu aku dibesarkan,dengan agamamu aku diberi didikan,oh tuhan aku bersyukur kepadamu mengurniakan aku seorang ibu yg penyayang…..berbaktilah kepada ibumu wahai teman sekalian,tanda berterimakasih kepada ibumu yg telah mem besarkan….

  • dindasiti

    IZIN kopy….trims

  • Jamie_grage

    Subhanallah …Izin share dan copi
    Terima kasih

Lihat Juga

Pemeriksanaan Mata Pada Anak (inet). (visia.info)

Cara Berikut Bisa Mengatasi Mata Minus pada Anak