Home / Berita / Misy’al: Cabut Inisiatif Damai Dengan Israel

Misy’al: Cabut Inisiatif Damai Dengan Israel

misy'al dan al-Aqshadakwatuna.com – Damascus, Ketua Biro Politik Hamas, Kholid Misy’al menegaskan, serangan terhadap bagian dari wilayah Al-Haram sekitar Al-Quds adalah penyerbuan terhadap Al-Aqsha juga.

Dalam pidatonya di Damascus menyusul penodaan Zionis terhadap Masjid Al-Aqsha, Ahad (25/10) Misy’al menyebutkan, bahaya yang sedang meliputi Palestina saat ini, terkait dengan upaya pemutusan arus listrik, pemadaman cahaya, larangan adzan di Al-Aqsha, penutupan gerbang Al-Aqsha dan larangan kaum muslimin tinggal di dalamnya serta bersiaganya kelompok Zionis di areal al-Haram al-Quds dalam waktu yang lama. Untuk pertama kalinya mereka melakukan kegiatan seperti ini untuk mengukuhkan klaim mereka terhadap Haikal dan untuk menyingkirkan masalah al-Quds dalam proses perundingan Arab-Zionis.

Misy’al menegaskan, Al-Quds bagi kita adalah seluruh wilayah Al-Quds mencakup dinding tembok dan semua pelataranya, bukan hanya yang terdapat di wilayah Abu Dais, ungkapnya. Al-Quds adalah milik kaum muslimin dan masehi. Zionis tidak berhak sama sekali terhadapnya. Ia mengajak bangsa Arab dan Islam untuk keluar melakukan aksi solidaritas terhadap Al-Aqsha.

Kemudian Misy’al mengajak semua pimpinan resmi Palestina dan sejumlah negara Arab untuk menarik semua inisiatif damai Arab dengan Israel, atau minimal menangguhkanya, menyusul sikap Zionis yang terus menodai Al-Quds serta Masjid Al-Aqsha. Secara khusus Misy’al menyerukan para pemimpin Palestina untuk menganulir semua perundinganya dengan Israel. Ia mempertanyakan, hasil yang diperoleh dari sejumlah perundingan dan apa yang didapat Entitas Zionis atas semua perundingan tersebut. Ia menjelaskan, semua pihak yang menyandarkan harapanya kepada perundingan Arab-Israel, sedikitpun tidak mendapatkan apa-apa. Bahkan sebaliknya hak-hak Islam dan Arab semakin tercerabut. Di sisi lain, negara Zionis semakin kukuh dalam sikapnya.

Kemudian Misy’al menyinggung masalah rekonsiliasi Palestina serta tuduhan sejumlah pihak pada gerakan Hamas. Ia menyatakan, Hamas selalu bersama rekonsiliasi lahir maupun batin. Akan tetapi pihaknya bersama faksi-faksi lain berhak mengungkapkan masalah rekonsiliasi ini dengan bahasa lain, agar rekonsiliasi berjalan baik, bermanfaat dan terbuka untuk dikritik. Sebagaimana terjadi pada kesepakatan Makkah sebelumnya, di mana kelompok Ramallah justru membelot dari perjanjian tersebut.

Sejak awal, Hamas mengetahui bahwa dialog Palestina-Palestina akan mengalami kesulitan khususnya dalam bidang politik yang sepertinya mustahil bisa didekatkan atau terjadi saling kesepahaman. Sebab satu pihak memandang bahwa perlawanan adalah satu-satunya jalan untuk kemerdekaan, semantara pihak lain berupaya menghabisi perlawanan. Akan tetapi Hamas berusaha untuk mengenyampingkan masalah ini, demi rakyat Palestina dan berupaya semaksimal mungkin merealisasikan rekonsiliasi walau hanya sementara. Jadi masalah Hamas bukan dengan individu tetapi terkait masalah plat form politik.

Sementara itu, pihak lain menginginkan dengan rekonsiliasi tersebut dapat mengembalikan Gaza pada pangkuanya dan menggelar pemilu yang diragukan transparansinya, di samping menyusun pimpinan perundingan dengan Israel. Hal ini tentu ditolak Hamas, demikian juga dengan faksi-faksi lainya.

Masalah lain bagi Hamas dan faksi-faksi lainya adalah penandatanganan kesepakatan sebelum segala sesuatunya dijelaskan. Di tegaskan, Hamas dan faksi-faksi lain selalu bersama rekonsiliasi akan tetapi menjadi keharusan untuk meneliti setiap point dalam kesepakatan sebelum ditanda tanganinya. (asy/ip)

About these ads

Redaktur: Ulis Tofa, Lc

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (6 votes, average: 7,50 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Tim dakwatuna adalah tim redaksi yang mengelola dakwatuna.com. Mereka terdiri dari dewan redaksi dan redaktur pelaksana dakwatuna.com

Lihat Juga

Dapat Informasi Hamas Uji Coba Roketnya di Utara Gaza, Israel Gentar