11:51 - Jumat, 31 Oktober 2014
DR. Amir Faishol Fath

Rahasia Amanah

Rubrik: Editorial | Oleh: DR. Amir Faishol Fath - 21/10/09 | 14:15 | 02 Dhul-Qadah 1430 H

Dakwahdakwatuna.com - Kata amanah satu akar dengan kata iman, aman. Dalam surah Al-Mu’minun:8 Allah menyebutkan bahwa di antara ciri ahli surga adalah menjaga amanah. Ustadz Sayid Quthub menjelaskan dalam tafsirnya, maksud amanah dalam ayat tersebut adalah amanah iman. Dari sini kita mendapatkan beberapa pelajaran:

Pertama, bahwa menjaga amanah adalah bagian dari iman. Sungguh dipertanyakan iman seseorang yang sering berbuat khianat, tidak menjalankan amanah sebagaimana mestinya. Karena itu Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam, menjelaskan bahwa di anatara ciri manusia munafiq adalah: “Bila berbicara berdusta, bila berjanji melanggar dan bila dipercaya mengkhianati.” Dari sini nampak bahwa masalah amanah –apapun namanya- : jabatan, harta, anak dan lain sebagainya, itu kelak pasti akan dipertanggungjawabkan di sisi Allah swt.

Itulah yang membuat Umar bin Khaththab tidak enak tidur ketika diberikan kepadanya amanah kepemimpinan. Umar masih selalu menagis, sekalipun semua rakyatnya telah menikmati buah keadilan yang ia tegakkan. Menangis karena takut kalau kelak di hari Kiamat ketahuan bahwa ada seekor kuda yang tergelincir jatuh disebabkan sebuah lubang di jalan yang belum ia perbaiki. Umar merasa bahwa semua itu pasti Allah mintai pertanggungjawabannya. Kesadaran seperti inilah seharusnya yang dimiliki oleh setiap pemimpin terhadap amanah ya ia pikul.

Ingat bahwa rakyat memilih supaya disejahterakan, bukan dibikin semakin menderita. Maka setiap penderitaan rakyat kelak di hari kiamat pasti akan dipikulkan oleh Allah kepada pemimpinnya.

Kedua, bahwa untuk menjalankan amanah secara jujur dibutuhkan iman yang kokoh. Iman bahwa Allah melihat segala perbuatannya, maka ia hati-hati karena takut kepada-Nya. Iman bahwa dunia bukan segala-galanya, melainkan akan dihancurkan dan akan diganti dengan alam Akhirat. Di sanalah setiap insan akan diadili di hadapan Allah yang Maha Mengetahui, maka ia bersungguh-sungguh menjalankan amanah tersebut. Bila seseorang benar-benar mengimani makna amanah ini, maka tidak ada amanah yang dikhianati.

Sungguh telah terbukti dalam sejarah, bahwa hancurnya sebuah negeri dan terlantarnya kemanusiaan adalah kerana kebusukan akhlak pemimpinnya dalam menjaga amanah. Ingat bahwa segala fasilitas untuk memenuhi kebutuhan manusia sudah Allah sediakan secara seimbang. Tidak mungkin Allah mendzalimi makhluk-Nya. Maka jika ternyata ditemukan ketimpangan di sana-sini itu pasti terjadi karena adanya kedzaliman yang diperbuat oleh manusia sendiri.

Benar, dunia ini tidak butuh banyak kehebatan dan keahlian manusia. Dunia ini sudah Allah lengkapi segala fasilitasnya. Bertahun-tahun manusia telah menjalani hidup di muka bumi. Dan terbukti bahwa memang Allah sediakan segala kebutuhan manusia. Berdasarkan ini, sebenarnya dunia ini hanya butuh satu kata: “kejujuran” (menjaga amanah). Bila kualitas ini hilang dari perilaku manusia, jangan di harap keseimabangan hidup akan berjalan dengan baik, apapun keahlian dan kehebatan teknologi yang dicapai manusia.

Ketiga,  kata amanah identik dengan kata aman. Ini menunjukkan bahwa menjaga amanah dan menjalankannya dengan baik itu identik dengan memberikan rasa aman kepada kemanusiaan. Sebaliknya mengkhianati amanah adalah identik dengan menyebarkan kegelisahan bagi kemanusiaan.

Bila seorang kepala rumah tangga tidak amanah pasti penghuni rumah tangga tersebut tidak akan mendapatkan rasa aman. Istri dan anak pasti akan tercekan kegelisahan sepanjang masa. Lebih luas lagi, bila seorang pemimpin desa tidak amanah, pasti seluruh penduduk desa tersebut akan merasa menderita. Lebih besar lagi, bila seorang pemimpin kabupaten atau propinsi tidak amanah, sungguh bisa dipastikan bahwa seluruh rakyat di kabupaten atau di propinsi tersebut akan terseok-seok, jatuh dalam jurang penderitaan tak terhingga. Lalu bayangkan apa yang akan menimpa sebuah negeri bila sang pemimpin negeri dan seluruh jajaran kebinetnya tidak amanah? Wallahu a’lam bishshawab.

DR. Amir Faishol Fath

Tentang DR. Amir Faishol Fath

Lahir di Madura,15 Februari 1967. Setelah tamat Pondok Pesantren Al Amien, belajar di International Islamic University Islamabad IIUI dari S1 sampai S3 jurusan Tafsir Al Qur’an. Pernah beberapa tahun menjadi… [Profil Selengkapnya]

Redaktur: Ulis Tofa, Lc

Keyword: , , , , , , ,


Beri Nilai Naskah Ini:

Nilai 1Nilai 2Nilai 3Nilai 4Nilai 5Nilai 6Nilai 7Nilai 8Nilai 9Nilai 10 (35 orang menilai, rata-rata: 9,34 dalam skala 10)
Loading...Loading...


Akses http://m.dakwatuna.com/ dimana saja melalui ponsel atau smartphone Anda.
Iklan negatif? Laporkan!
  • Aisyah Ratnaningsih

    Sekecil apapun amanah itu, nanti diakhirat akan diminta pertanggung jawabannya. Mari kita jaga amanah kita, dengan menjalankan amanah yang telah diberikan. keep istiqomah!!!!

    • http://gogglemail slamet

      benar sekali pak ustad baik buruknya suatu negeri tergantung dari para pemimpin

  • noname

    kudunya para pemimpin pada baca ni artikel. biar pada mikir,,

Iklan negatif? Laporkan!
84 queries in 1,482 seconds.