Home / Berita / Nasional / Pesantren Bukan Sumber Radikalisasi

Pesantren Bukan Sumber Radikalisasi

dakwatuna.com – Jakarta, Masyarakat diminta untuk tidak menggeneralisasikan institusi atau lembaga pesantren sebagai sumber atau tempat pengajaran hal-hal yang menyimpang atau radikal karena persepsi seperti itu sama sekali tidak benar.

“Kita tidak boleh melakukan generalisasi seperti itu,” kata Dekan Fakultas Imu Politik Universitas Islam Negeri (UIN) Bahtiar Effendy dalam diskusi “Terorisme di Tengah Masyarakat Modern” di Jakarta, Kamis.

Bahtiar memaparkan, lembaga pendidikan pesantren telah melahirkan banyak tokoh Islam yang terkemuka seperti Wahid Hasyim, Din Syamsuddin, Nurcholish Madjid, dan Hidayat Nur Wahid.

Sedangkan pola pengajaran yang terdapat dalam kurikulum pesantren, ujar dia, sama saja dengan yang diajarkan baik pada masa lampau maupun pada zaman sekarang ini.

Ia juga mengingatkan, pesantren pada zaman penjajahan juga dikenal sebagai tempat yang melahirkan banyak pejuang yang bergerak melawan kaum kolonial di Indonesia. Karenanya, Bahtiar menyesalkan bila terdapat pihak yang mengusulkan bahwa kurikulum dan semua buku yang diajarkan di semua pesantren harus ditinjau dan diseleksi lagi.

Menurut dia, penyebab dari timbulnya pemikiran radikal bukanlah muncul di pesantren, tetapi berasal dari tempat lain. Bahtiar misalnya menyesalkan pemerintah yang tidak bisa mendeteksi sejumlah bekas sukarelawan dari Indonesia yang ikut berperang di Afghanistan pada masa pendudukan Uni Sovyet di era 80-an.

Para “veteran” perang di Afghanistan itu dicemaskan masih menyimpan sejumlah memori seperti pada masa perang terdahulu, meski pada saat ini ia telah berada kembali di Indonesia.

Pembicara lainnya, ulama Inggris Syeikh Ahmad Babikir mengatakan, permasalahannya bukanlah terletak pada lembaga pendidikan, tetapi pada apa materi yang telah diajarkan. Untuk itu, guru di Islamic Schools Center Inggris itu mengimbau kepada setiap muslim agar memastikan bahwa anak mereka mendapat pendidikan Islami yang baik dan benar.

Saat ini, ujar Babikir, telah banyak kaum muslim yang tidak benar-benar memahami makna dari kata Islam, Iman, dan juga Jihad.

Dalam diskusi tersebut juga dihadiri Produser Senior Canadian Broadcasting Corporation (CBC) Nazim Baksh, Dosen Senior Islamic College of South Africa Seraj Hendricks, dan jurnalis senior Inggris Abdurrahman Malik. ant/ism/rep

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (4 votes, average: 6,50 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Tim dakwatuna adalah tim redaksi yang mengelola dakwatuna.com. Mereka terdiri dari dewan redaksi dan redaktur pelaksana dakwatuna.com
  • beberin

    mmg itu yg pengen ngerubah kurikulim itu muncul td mlm di metro TV, inisial KH,,,,org UIN jg padahal,,,perubahan kurikulum agama baik umum atau pesantren mulai setara SD sd SMU dgn alasan tdk ada yg mereview, agar yg pertama2 diberikan adalah ttg kemanusian, ilmu alam, toleransi,,,,,(wah ini kan aneh sekali Pak KH ini dimana2 yg di ajarkan Islam adalah Tauhid dan aqidah dulu),,,bukannya yg mengajarkan hal2 yg disebut Pak KH ini adalah ajaran org2 JIL,,,,?!??!

  • Umi Wilfa & Nazih

    Saya sepakat bahwa pesantren bukan sumber radikalisasi. Mengutip perkataan ulama Inggris Syeikh Ahmad Babikir bahwa permasalahannya bukanlah terletak pada lembaga pendidikan, tetapi pada apa materi yang telah diajarkan. Untuk itulah sebagai orang tua perlu memastikan bahwa anaknya mendapatkan pendidikan Islam yang benar dan baik tentunya.

  • Assalamu ‘alikum wr wb

    Pondok pesantren sudah terbukti melahirkan tokoh-tokoh nasional dalam menegakkan negeri ini,selain itu ulama-ulama negeri ini juga hasil dari pendidikan pesantren. Bila ada jebolan pesantren yang melakukan tindakan yang negatif sebetulnya hanya sebagian kecil dan prosentasenya sangat kecil.Dan ini tidak bisa dipukul rata bahwa pesantren melahirkan radikalisme.Teruskan pendidikan pesantren di Indonesia.

    Wassalamu ‘alaikum wr wb

    Wadiyo

  • anti JIL

    Tole – tole

Lihat Juga

Muhammad Maksum dan motornya. (Rahmatullah Andre)

Pak Maksum, “Tulang Belulang” yang Keliling Dunia Demi Melihat Putranya Mondok