Home / Berita / Menanti Kejujuran Polisi

Menanti Kejujuran Polisi

dakwatuna.comPeristiwa ‘heroik’ itu bukanlah sebuah drama. Penyerbuan belasan jam yang diiringi rentetan senjata itu pun bukan juga sebuah ‘reality show’ televisi. Penyerbuan membabi buta dan jauh dari nilai-nilai kemanusiaan itu jelas peristiwa nyata. Tapi, kemudian menimbulkan beragam pertanyaan, khususnya kepada polisi dan tim antiterornya.

Yang mengganjal dan menjadi pertanyaan publik, menyangkut kejujuran polisi. Betulkah orang yang tewas diberondong senjata tanpa perlawanan di dalam rumah itu adalah Noordin M Top? Mengapa polisi harus membuka operasi rahasia ini ke televisi sehingga disiarkan secara langsung? Bukankah operasi terorisme di negara mana pun bersifat tertutup dan sangat rahasia, tetapi kok di sini begitu terbuka?

Pertanyaan lainnya, mengapa polisi tidak memberi kesempatan kepada orang yang diduga sebagai teroris itu untuk menyerahkan diri? Konvensi Jenewa memberikan ruang terbuka bagi aparat untuk mengimbau pelaku di dalam rumah itu untuk menyerah. Ada semacam negosiasi antara polisi dan ‘teroris’ itu agar tidak terjadi pertumpahan darah.

Polisi malah terus menghujani rumah kecil itu dengan peluru hingga pengepungan belasan jam itu pun berakhir sia-sia: tersangka di dalam rumah itu tetap saja tewas. Dan, kini polisi dituntut untuk jujur agar mengungkap hasil tes DNA korban yang tewas itu, apakah Noordin atau bukan. Jika bukan Noordin, siapa orang naas yang tidak memiliki kesempatan untuk diajak berdialog itu?

Saat ini, beredar kabar telah keluarnya hasil autopsi atas jenazah itu, yang disinyalir ternyata bukan Noordin M Top. Media-media asing sudah memberitakan kabar itu, sementara sejumlah kalangan juga sudah sejak akhir pekan lalu meyakini bahwa itu memang bukan Noordin.

Lalu, siapa orang itu? Kaki tangan Noordin? Kata siapa? Bagaimana jika korban itu bukan siapa-siapa alias individu yang tak ada kaitannya dengan kegiatan teror? Pertanyaan ini penting dijawab polisi, tentu dengan jujur. Publik ingin keterkejutan atas tayangan penggerebekan itu terjawab dengan jelas. Apalagi, kita melihat ada indikasi pelanggaran HAM di sana.

Kita mendukung upaya pemberantasan terorisme sampai ke akar-akarnya, karena itu jelas tindakan kejahatan. Tetapi, kita juga ingin polisi tidak semena-mena memburu dan membunuh orang tanpa memberikan kesempatan untuk menyerah. Wajar, jika kemudian Komnas HAM harus turun tangan menyelidiki kasus Temanggung itu, apakah telah terjadi pelanggaran HAM atau tidak.

Kita berharap polisi juga tidak main tuduh atas individu-individu yang saat ini masuk daftar buronan. Bagaimana perasaan keluarga mereka melihat kerabat atau saudaranya dikatakan sebagai teroris? Bagaimana perasaan anak-anak dan istri pria yang tewas di Temanggung itu jika itu bukan Noordin?

Jelas, polisi harus lebih mengedepankan sikap profesionalitas. Sikap ini yang sampai saat ini masih jauh kita lihat dari korps coklat-coklat ini, baik itu dalam penanganan terorisme maupun mengatur lalu lintas di jalan raya. Profesionalisme tampaknya masih menjadi barang mahal di kepolisian meski upaya-upaya menuju ke sana terus dilakukan. (rep)

About these ads

Redaktur: Ulis Tofa, Lc

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (19 votes, average: 9,05 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Tim dakwatuna adalah tim redaksi yang mengelola dakwatuna.com. Mereka terdiri dari dewan redaksi dan redaktur pelaksana dakwatuna.com
  • ternyata memang bukan NMT

  • budisoleh

    polisinya carmuk

Lihat Juga

Ilustrasi. (change.org)

SNH: Lamban Tangani Kasus Penistaan, Polisi Diujung Tanduk

Organization