20:32 - Senin, 22 Desember 2014

MUI Minta Siaran tak Mendidik tak Ditayangkan Selama Ramadhan

Rubrik: Berita | Kontributor: dakwatuna.com - 11/08/09 | 15:45 | 19 Shaban 1430 H

dakwatuna.com – Jakarta. Majelis Ulama Indonesia (MUI) meminta kepada perusahaan atau lembaga penyiaran agar tidak menayangkan program siaran yang tidak mendidik pada Ramadhan. Pasalnya, program siaran yang terutama masuk dalam ‘klasifikasi D’ itu dinilai akan mengganggu umat Islam beribadah di bulan Ramadhan.

”Program siaran yang masuk dalam ‘klasifikasi D’, sesuai Pedoman Perilaku Penyiaran (PPP) adalah tayangan yang mengandung tema dominan yang membahas secara mendalam persoalan-persoalan seperti intrik dalam keluarga, perselingkuhan, perceraian dan sebagainya,” tandas Said Budairy, Ketua Komisi XI bidang Informatika dan Media Massa MUI pada Republika di Jakarta, Selasa (11/8).

Lebih lanjut dikatakan Budairy bahwa siaran yang terkategori ‘klasifikasi D’ juga termasuk tayangan yang mengandung muatan kekerasan secara dominan, dan vulgar (terang-terangan). Bisa juga mengandung materi yang mengerikan bagi anak-anak dan remaja. Mengandung pembicaraan, pembahasan atau tema mengenai seks seperti perilaku seks menyimpang, pekerja seks komersial atau homoseksualitas.

”Bisa juga program ‘klasifikasi D’ tersebut mengandung penggambaran tentang dunia gaib, paranormal, klenik, praktik spiritual magis, mistik, kontak dengan roh,” tambahnya. Dikatakan Said bahwa program siaran dalam Klasifikasi D, menurut aturan yang ada, hanya boleh ditayangkan antara pukul 22.00-03.00.

Dijelaskannya bahwa pada bulan Ramadhan, pukul 22.00, orang-orang baru saja selesai shalat tarawih setelah melanjutkan tadarus Aquran. Anak-anak dan remaja umumnya tidak lantas tidur, tapi melepaskan perutnya yang kenyang dengan menonton televisi.

”Kemudian pada pukul 03.00, waktunya siap-siap makan sahur. Artinya, tayangan antara 22.00-03.00, praktis ditonton semua umur, termasuk anak-anak,” ungkap Said. Namun demikian, lanjutnya, memang ada beberapa tayangan terkategori ‘Klasifikasi D’ yang bersifat positif. ”Kalau yang seperti itu mau ditayangkan, ya silakan, tapi tetap harus sangat selektif,” paparnya. (ROL/osa/taq)

Redaktur: Hendra

Keyword: , , , , , ,


Beri Nilai Naskah Ini:

Nilai 1Nilai 2Nilai 3Nilai 4Nilai 5Nilai 6Nilai 7Nilai 8Nilai 9Nilai 10 (6 orang menilai, rata-rata: 9,00 dalam skala 10)
Loading...Loading...


Akses http://m.dakwatuna.com/ dimana saja melalui ponsel atau smartphone Anda.
Iklan negatif? Laporkan!
  • bj@linx

    Nah kalau aturannya demikian dan jelas jelas dilanggar kenapa MUI tak meminta pemerintah untuk mencabut hak siar mereka yang melanggar..mestinya bukan hanya bulan Ramadhan…Pemerintah sbg regulator harusnya mengatur dan melindungi hak-hak masyarakat dan dalam pemanfaatan frekwensi publik stasiun TV harus mentaati aturan. Kalau masyarakat merasa terganggu dengan siaran siaran TV, sebagai pemilik frekwensi masyarakat punya hak untuk meminta pemerintah menghentikannya dan MUI dapat mewakilinya.

  • http://azzamudin.wordpress.com wadiyo

    Assalamu ‘alaikum wr wb

    Jazzakumullohu khoiron katsiro atas artikelnya Insya Alloh menambah wawasan umat Islam dalam menyikapi hal-hal yang berkembang terhadap lingkungan kita.Semoga himbauan MUI tersebut direspon umat Islam dan pemerintah selaku pemegang kekuasaan yang bisa mengendalikan siaran Televisi.
    Harapan lain semoga ada komponen umat Islam yang mulai mengumpulkan kekuatan untuk membuat setasiun Televisi sendiri sehingga ada alternatif lain yang sesuai dengan ajaran agama Islam.

  • Muhammad Sutarsah

    sepakat… apa yg ditonton meski ada semacam himbauan (kayak rating di kanan atas layar), tapi sangat2 tidak terkontrol, dan banyak anak2 yang spontan memaknai adegan di TV. Jika Bangsa ini masih peduli dengan masa depan generasi yang akan datang, STOP siaran televisi yg tidak baik untuk ditonton.

  • mulyadi

    Saya juga dari dulu tidak setuju yang namanya tayangan2 yg tidak mendidik itu. Sekarang kpd bapak/ibu yg baru saja kami pilih saatnya kami menunggu gebrakannya.

  • puri

    Semoga tidak hanya di bulan ramadhan saja namun sebaiknya di bulan-bulan lainnya juga harus lebih diperhatikan juga tontonan televisi untuk anak-anak. Agar anak-anak Indonesia lebih cerdas, dan berakhlak baik .

  • Ibnu

    Saya setuju sekali dengan batasan tersebut, kalau memang bisa dilakukan, dan kalau PEMERINTAH juga ikut bisa memahami, mengkaji, serta memantau apa yang sedang terjadi di masyarakat kita??.

    Yang bisa sekarang saya lakukan adalah membatasi keluarga kami dengan siaran TV! karena saya sadar tidak sepenuhnya kita hanya berharap kepada “OKNUM PEMERINTAH” yang masih kurang peduli terhadap rakyatnya.

    Mari kita menjaga keluarga kita masing-masing dari yang kurang baik menurut ajaran kita.

Iklan negatif? Laporkan!
105 queries in 1,409 seconds.