Home / Suara Redaksi / Editorial / Ikhlaslah Berjuang

Ikhlaslah Berjuang

genggam-tangan
ikhlas berjuang

dakwatuna.com “Sesungguhnya hari ini adalah satu hari di antara hari-hari Allah, tidak pantas diisi dengan kebanggaan dan kesombongan atau keangkuhan. Ikhlaskanlah amal dan jihadmu dan tujulah Allah dengan amalmu, karena hari ini menentukan hari-hari yang akan datang.” (Orasi Khalid bin Walid di tengah berkecamuknya perang Yarmuk)

Kata ikhlas sudah begitu sering kita dengar dalam berbagai kesempatan. Bagi setiap pejuang dan prajurit dakwah, semestinya ikhlas tidak boleh lagi menjadi sekadar retorika, melainkan ia harus hadir dan ada dalam diri kita, menyatu dalam pikiran, hati, dan menjadi jiwa dari setiap nafas dan gerak amal dan perjuangan kita. Bersamanya kita memulai hari-hari, dengannya kita membangun ukhuwah dan menapaki jalan dakwah ini.

Bukan tanpa maksud Imam Hasan Al-Banna meletakkan ikhlas dalam rukun baiatnya. Jika ada satu saja gerak kita yang tidak ikhlas, berarti kita secara syar’i telah mengkhianati Allah dan telah mengkhianati komitmen kita sendiri dan pada sebuah organisasi. Na’udzu billah min dzalik.

Karena itu, saudaraku yang kucintai karena Allah, sudah sepatutnya kita menyadari dengan sepenuh hati, bahwa sejak pertama kali bergabung dengan suatu organisasi atau suatu jamaah, ikhlas telah menjadi tuntutan dan kewajiban yang mengikat diri kita sampai Allah swt. menentukan putusan-Nya; menampakkan kemenangan bagi dakwah ini atau kita syahid dalam menegakkan dan membelanya.

Di sini saya tidak akan menguraikan makna ikhlas dengan kata-kata, kita semua bahkan telah menghafalnya di luar kepala. Saya ingin mengajak kita semua untuk merenungi bersama kata-kata ini:

Apakah kita telah menjadikan ikhlas sebagai sesuatu yang menyatu dalam diri kita, melebur, menjasad, mendarah daging, menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari diri kita?

Apakah ikhlas telah merasuk dalam pemikiran kita sehingga membuat kita menjadi produktif sekaligus kreatif dalam mengeluarkan gagasan untuk membangun dakwah Islam tanpa tendensi apapun selain kepada Allah?

Apakah ikhlas telah melebur dalam hati kita sehingga menjadikan kita mampu memandang segala permasalahan dalam dakwah ini dengan jernih, dan menjadikan kita mampu membangun ukhuwah, ukhuwah yang sebenarnya bukan sekadar hiasan kata?

Apakah ikhlas telah menjadi jiwa dari setiap amal yang kita lakukan, sehingga menjadikan kita rela melaksanakan apapun perintah dan kebijakan organisasi atau jamaah dengan penuh tanggung jawab, tanpa rasa berat dan tidak berharap balasan atas semua itu kecuali hanyalah dari Allah Taala?

Wahai saudaraku, para aktivis dakwah yang saya cintai karena Allah, apakah ikhlas baru sekadar kata tanpa makna, atau ia cuma retorika yang kita suapkan kepada para objek dakwah kita?

Takutlah kepada Allah, karena Dia Maha Melihat, Maha Mendengar, Maha Kuasa atas segala sesuatu. Sesungguhnya kemenangan dakwah ini sejak dulunya selalu terkait dengan keikhlasan para prajuritnya. Apa yang kita inginkan ketika berdakwah dan berjuang menyebarkan nilai-nilai Islam?

Motivasi awal dan keinginan kita adalah meraih ridha Allah. Semua kerja dan aktivitas dakwah yang kita lakukan sebagai sarana atau alat untuk meraih keridhaan Allah, lain tidak. Bagi kita, ridha Allah adalah imbalan terbesar dan termahal, karena itu kita sudah merasa cukup dengan imbalan itu.

Yakinlah bahwa Allah akan terus menyertai perjuangan kita selama perjuangan kita murni, bersih dari noda yang mengotorinya, selama motivasi dan keinginan kita dalam perjuangan ini tidak bergeser atau berubah. Karena itu, sekali lagi, Ikhlaslah dan teruslah pelihara keikhlasan itu sampai Allah Taala memberikan kemenangan atau kita mendapatkan keridhaan-Nya di sisi-Nya sebagai syuhada!

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (41 votes, average: 8,71 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Dra. Anis Byarwati, MSi.
Lahir di Surabaya tahun 1967. Menikah pada tahun 1989 dan dikaruniai delapan anak. Kuliah pertama ditempuh di Akademi Pimpinan Perusahaan Jakarta jurusan Financial Management. Gelar S1 diraih dari dua tempat, yaitu di Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Hikmah Jakarta program Khusus berbahasa Arab dengan spesialisasi Tafsir-Hadits dan Sekolah Tinggi Agama Islam At-Taqwa Bekasi Jurusan Dakwah dan Penyiaran Islam. Gelar S2 diperoleh dari Program Pasca Sarjana Kajian Timur Tengah dan Islam Universitas Indonesia (UI) Jurusan Ekonomi dan keuangan Syariah dengan pilihan konsentrasi Perbankan Syariah.

Penulis mempunyai minat tinggi di bidang sejarah Islam dan khususnya sejarah pemikiran ekonomi Islam. Untuk minatnya ini, penulis secara serius menuangkannya dalam sebuah buku yang ditulisnya bersama Dosen Senior PSKTTI-UI Karnaen Perwataatmadja, berjudul JEJAK REKAM EKONOMI ISLAMI- Refleksi Peristiwa Ekonomi dan Pemikiran Para Ahli Sepanjang Sejarah Kekhalifahan. Buku yang diterbitkan bulan Maret 2008 ini sekarang menjadi salah satu referensi utama dalam Studi Sejarah Pemikiran Ekonomi Islami di almamaternya dan di beberapa perguruan tinggi lainnya.

Disamping itu, keseharian penulis disamping sebagai ibu rumah tangga, aktifis organisasi, juga sebagai aktifis dakwah dan pembicara diberbagai forum diskusi, seminar dan kajian Islam. Keaktifannya berdakwah merupakan manifestasi dari motto hidupnya: Isy Kariman aw Mut Syahidan (Hidup Mulia atau mati sebagai Syuhada).
  • Yaa Allah, ikhlaskanlah kami dalam berjuang bersama gerakan dakwah ini….

  • Assalamu ‘alaikum wr wb

    Jazzakumullohu khoiron katsiro atas kiriman artikelnya Insya Alloh menambah pengetahuan dan keImanan saya.Semoga Alloh membalas dengan balasan yang berlipat ganda. Amien

    Insya Alloh mari kita mohon kekuatan kepada Alloh SWT agar dalam berjuang menegakkan Agama Alloh dihindarkan dari sifat riya’ dan sebagainya, walaupun hal ini bukan pekerjaan yang mudah tetapi perlu dilatih setiap hari agar tingkat keikhlasan kita bisa maksimal.

    Semoga Alloh SWT memberi kekuatan kepada kita Amien.

    Wassalamu ‘alaikum wr wb

    wadiyo

  • Abdullah Nashiruddien Al Ghuraba’

    Assalamualaikum…
    Nilai keikhlasan tak ternilai hanya dengan ucapan, tapi dengan tindakan dan perbuatan, karena Allah azza wa jalla akan memperhitungkan apa-apa yang telah kita lakukan dan kita perbuatan,maka bersabarlah wahai orang2 yang beriman dan ikhlaskan hatimu hanya untuk-Nya. waallahu a’lam bishowab.
    Nashrun minallahu wa fathun ghorib.
    Wassalam,,,,

  • ndien

    Ya Robbana…
    Bantulah hamba untuk selalu ingat dan syukur serta beribadah dengan ikhlas kepadaMu…

    Artikel bagus…Memberi semangat baru!!

  • yap setuju sekali…smua hal itu harus didahului dengan keikhlasan,bagaimana mungkin dakwah yg kita sampaikan bisa merasuk ke penerimanya klo si pemberinya tidak mempunyai rasa ikhlas,bukankah sesuatu yg dari hati akan sampai ke hati…???

  • Umi Wilfa & Nazih

    Keikhlasan adalah hal yg mudah dilafalkan tapi susah dipraktikan karena penyakit riya dan sombong selalu mendampinginya. Artikel tsb bisa mengingatkan kembali kepada kita sampai sejauh mana keikhlasan kita dalam berjuang, beramal, dan bertindak. Semoga Alloh memudahkan kita tuk bisa ikhlas dengan mengharap keridlo an dari Nya.

  • Acu Saepudin

    …..smga kita termasuk yang di ridhai Allah karena yang bisa mengetahui dan mencatat keikhlasan hanya Allh dan para tentara2-Nya yaitu malaikat

  • sulis

    kejujuran niat ikhlas karena Allah SWT adalah salah satu syarat sebuah keberkahan akan kita dapatkan dari setiap aktifitas kita. jadi memang sudah menjadi hal yang wajib “ikhlas” itu ada dalam diri kita sebagai hamba Nya. selamat berjuang untuk menjadi orang-orang yang mukhlisin.amiin.

  • teguhwi

    oke banget… cuma gmana ya cara menghadapi orang-orang yang menghancurkan keikhlasan yang telah kita bina?……

  • kustia

    Subhanalloh….bener kali ya,,,dan pasti bener klo ikhlash itu kunci segalanya dalam hidup ini….”agar kita tegar disaat yg lain terlempar, agar tunduk di saat yg lain angkuh, agar teguh disaat yg lain runtuh”

  • ikhlas

  • saya bangga pada anda bu…
    anda berilmu dan pandai…
    saya sebagai..laki-laki, walau pun kecil….bangga mempunyai ibu yang seperti ini…
    semoga kesehatan tetap dilimpahkan ke pada mu bu..

  • umu salma

    dampak ikhlas sangat luar biasa, manakala ikhlas sebagai sesuatu yang menyatu dalam diri kita, melebur, menjasad, mendarah daging, menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari diri kita. Maka, dampaknya keindahan hidup di dunia dan akhirat akan tercapai. Bekerja menjadi menyenangkan, menolong berbuah kebahagiaan, memberi menjadi ringan, berdakwah tidak melelahkan, bersedekah penuh keyakinan, berkasih sayang dari lubuk hati, silaturahmi menjadi gaya hidup yang indah, tidak ada bawahan atau atasan, profesional dalam bekerja, selalu kreatif dan inovatif, bekerja keras tanpa pamrih, dan.. dan….dan… masih berderet deret kalimat yang berbuah anal yang abadi, dipetik di akhirat…. yaqin bisa….! InsyaAllah bisa…!

    • yyh

      Smg trus menebarkan kebaikan,shg teertanam bibit->buah kr terhujam dg ikhlas mu wahai ummi,sejarah akan mencacat sebagai ladang amal di dunia&akhirat.sbg tinta emas murni

Lihat Juga

Ilustrasi. (Sri Wahyuni)

Mereka yang Katanya Ikhlas Beramal