Home / Narasi Islam / Dakwah / Intima Pada Gerakan Dakwah

Intima Pada Gerakan Dakwah

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
berbaris
Kuatkan Afiliasi, Wujudkan Kekuatan

dakwatuna.comJika kita memperhatikan perjalanan hidup kita, kita akan menemukan bahwa Allah telah memberikan kita nikmat dan karunia yang tidak terhingga kepada kita. Dimulai ketika kita terlahir dalam keluarga muslim dan hingga sekarang, Allah masih memberikan kita nikmat iman dan Islam. Berapa banyak manusia yang terlahir dalam lingkungan keluarga non-muslim hingga dewasa, bahkan sampai ajal menjemput. Mereka tetap tidak mendapatkan atau menjaga fitrah penciptaannya, yaitu Islam seperti disebutkan dalam hadits “kullu mauluudin yuuladu ‘alal fithrah” (tiap bayi dilahirkan atas fitrah Islam).

Saudaraku…

Bukankah ini karunia besar yang patut kita syukuri? Allah mencela dan mengancam orang yang tidak mensyukuri nikmat dengan siksa yang pedih nanti di akhirat,

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (Ibrahim:7)

Kelimpahan nikmat dan kebaikan yang Allah berikan kepada manusia disebutkan dalam beberapa ayat, di antaranya:

تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Maha suci Allah yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Al-Mulk:1)

Al-Qur’an mengungkapkan keberlimpahan kebaikan Allah dengan ungkapan “tabarak” yang arti sebenarnya adalah Maha Pemberi kebaikan yang berlimpah dan tak terhingga. Pengertian ini dapat kita lihat di ayat lain yang menyebutkan,

“Dan jika kalian menghitung nikmat Allah, kalian tidak akan dapat menghitungnya.” (Ibrahim:34)

Hal di atas cukup untuk menjadi alasan pribadi bagi seorang muslim untuk bersyukur dan membela Islam. Dalam tinjauan yang lebih luas lagi, Islam bukan hanya agama pribadi, tetapi juga sebuah arus dan ideologi yang harus diperjuangkan agar nilai-nilainya berjalan di muka bumi. Untuk tujuan ini, maka intima (berafiliasi) kepada Islam dan perjuangan dakwah Islam menjadi suatu keharusan dan wujud dari rasa syukur manusia kepada Allah Taala.

Islam adalah ideologi dan risalah Allah yang harus sampai kepada seluruh manusia atau menjadi rahmat bagi semesta. Tugas besar ini memerlukan orang-orang yang memiliki komitmen dan loyalitas serta keterikatan yang kuat kepada Islam. Pembelaan dan keberpihakan kita kepada Islam merupakan wujud intima kita kepada Islam dan gerakan dakwah. Ekspresi kesyukuran kita atas semua nikmat ini harus benar-benar terwujud.

Saudaraku…

Intima kepada Islam bukan berarti mengungkung manusia, mengikat manusia dan merasa tidak merdeka. Sisi lain dari pemahaman intima yang dapat diwujudkan adalah seperti yang dikatakan Imam Syafi’i dalam suatu syairnya,

الحُرُّ مَنْ رَاعَى وِدَادَ لحَظَةٍ أَو انْتَمَى لمِنَ أَفَادَهُ لَفْظَة

“Orang yang merdeka adalah orang menjaga (merawat) kasih sayang (ukhuwah) yang hanya sebentar atau orang yang berafiliasi kepada orang yang telah memberikan manfaat meski hanya satu kata.”

Dakwah dan tarbiyah telah memberikan sesuatu yang banyak kepada kita. Kita bukan hanya menerima ukhuwah sesaat dari saudara kita lainnya, bahkan bertahun-tahun kita telah hidup menjalin ukhuwah. Ilmu dan nilai yang bermanfaat buat kehidupan telah banyak kita dapatkan dari murabbi kita, dari qiyadah kita dan saudara sejawat kita. Jadi kita telah banyak berutang kepada dakwah dan pelaku dakwah itu sendiri, apalagi kepada Allah Taala, sumber segala kebaikan.

Dengan banyaknya kebaikan yang kita dapatkan dari dakwah dan tarbiyah, maka kita belum dapat dikatakan merdeka jika kita tidak dapat berterima kasih kepada para dai, murabbi, qiyadah, mas’ul (penanggung jawab) kita yang telah menunaikan hak ukhuwah kepada kita. Bukan hanya lahzhah(beberapa menit), tetapi bertahun-tahun kita merasakan kebaikan ukhuwah tersebut.

Manfaat yang kita dapatkan dari perkataan murabbi kita bukan hanya lafzhah(sepatah dua patah), tetapi ribuan kata dalam bentuk arahan, taujih, materi dan berbagai pelajaran telah kita dapatkan, bahkan sebagian kita ada yang membukukan materi yang mereka dapatkan.

Sudah sepantasnya dan tanpa ragu-ragu, kita harus memberikan kontribusi kita kepada dakwah dan gerakan dakwah ini sebagai wujud dan bukti intima kita kepada Islam.

Misi dakwah telah dibebankan kepada para dai. Mereka adalah manusia. Kepada merekalah kita menunjukkan intima Islam kita. Kepada murabbi, kepada mas’ul, kepada qiyadah dan kepada mereka yang urusan kita menjadi tanggungannya kita bekerja sama dan beramal jamai.

Ketaatan kita kepada qiyadah dan mas’ul merupakan cerminan intima kita kepada gerakan dakwah, karena Allah telah memerintahkan kita untuk taat kepada pemimpin.

Saudaraku…

Jika nikmat keislaman kita syukuri dengan berwala’ (memberikan loyalitas) kepada Allah, kepada Rasul dan kepada pemimpin Islam, maka nikmat berukhuwah dapat kita syukuri dengan senantiasa berafiliasi kepada gerakan dakwah dalam kerja dan ketaatan kepada kebijakan dakwah, insya Allah. Wallahu a’lam

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (42 votes, average: 8,14 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Samin Barkah, Lc., ME
Lelaki Betawi yang pernah merantau. S1 Lulusan Universitas Al-Azhar, Mesir dan S2 pada Ekonomi Syariah di IEF Trisakti, Jakarta. Bekerja, berjuang dan berkorban untuk hidup dan kehidupan.
  • Thabat dan intima’ pada Islam dan dakwah serta tarbiyyah. ana rasa dua perkataan (sekurang-kurangnya) yang perlu bergerak seiring dari segi perlaksanaannya. Kerna apa? Kerna manusia itu sentiasa diuji dengan pelbagai hambatan yang acap kali mengendurkan intima’ pada jalan dakwah itu. WA.

    Moga rasa syukur kita sentiasa membuak-buak, segar sentiasa. Insya Allah.

  • alhamdulillah…allah telah memberikan seorang murabbi yg sangat luar biasa sabar dan pengertianya n ga lupa teman2 seperjuangan,ida ,nela,diana,ana,moga kita tetap solid n bisa memberi kontribusi yg besar untuk dakwah ini..amin.ALLAHU AKBAR

  • Dng kasih sayang Allah,kebaikan yg kita terima dan kita rasakan tidak pernah ternilai dng dunia ini setelah kita bergabung dng gerakan dakwah. Lewat gerakan dakwah ini kita lebih mengenal Islam dng sudut pandang yg lengkap dan menyeluruh.
    Di gerakan dakwah inilah kita “lebih’ merasakan bahwa “kita adalah saudara seluruh kaum muslimin”

  • Acu Saepudin

    sgala puji bgi Allah smoga Allah SWT memberikan kebaikan kepada orang-orang yang berbuat kebaikan….
    salam dakwah…..
    Kita saling doakan semoga kita semua termasuk golongan yang senantiasa mengamalkan apa yang telah kita dapatakan yang baik menjadi amalan yang menjadi ringan pelaksanaanya dan berat timbangannya disisi Allah…..
    amin………..
    T A K B I R …..3X

  • Andi Wibisana

    Alhamdulillaahi rabbil ‘aalamiiin… ya Allaah, segala puji kepadaMu, kedua tungkai kaki ini masih Engkau kokohkan berada di atas jalan da’wah kepadaMu, syaraf keshabaran ini masih Engkau tebalkan dalam rekatan ukhuwah dalam gerakan da’wah ini, tawadhu kepada syari’atMu membuahkan tha’at kepada qiyadah jama’ah ini dan kebijakannya… Sungguh ini semua adalah episode hidup yang dapat kita banggakan dihadapan Mahkamah Yaumil Akhir kelak.

  • mIrNa ImI

    Firman Allah dalam AL-Qur’an “siapa yang menolong agama Allah, niscaya Allah akan menolongnya”.
    moga Islam akan tegak dan kokoh berdiri di atas muka bumi dgn menebarkan segala keindahan yg dimilikinya n moga suatu saat nanti, entah kapan itu Trjadi… makin banyak mc di slruh pnjuru dunia yg mencicipi manisnya BrIman n Indahnya BrIslam,,, Amiiin.

Lihat Juga

Logika Dakwah: Melanjutkan Agenda Pemimpin Sebelumnya, Bukan Meninggalkan, Apalagi Menggantinya