ARTIKEL POPULER PEKAN INI: Bukan Jomblo, Tapi Single
Mochamad Bugi

Cara Memperlakukan Istri

16/4/2009 | 21 Rabbi al-Thanni 1430 H Please wait
Oleh: Mochamad Bugi
Kirim Print

Suami Istri (blogspot.com)dakwatuna.com - “Hai orang-orang beriman, tidak halal bagi kamu mewarisi wanita dengan cara paksa, dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan perbuatan keji yang nyata. Dan bergaullah dengan mereka secara patut.  Kemudian jika kamu tidak menyukai mereka maka bersabarlah, karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (An-Nisa: 19)

Menikah adalah fitrah manusia. Rasulullah saw. menyebut menikah sebagai sunahnya. Bahkan, Nabi berkata, siapa yang membenci sunahnya, tidak termasuk dalam golongannya.

Setiap kita, pasangan muslim dan muslimah yang melakukan pernikahan, paham betul bahwa tujuan menikah yang utama adalah untuk mendapatkan ridha Allah. Setelah itu untuk mewujudkan keluarga yang sakinah mawahdah wa rahmah dan meneruskan keturunan dengan memperoleh anak-anak yang saleh dan salehah. Kita juga menyadari bahwa lembaga keluarga yang kita bentuk adalah wadah untuk melaku proses perubahan, baik untuk diri kita sendiri, keluarga, dan masyarakat.

Sepasang suami-istri yang dipersatukan oleh ikatan pernikahan juga sadar bahwa keluarga adalah organisasi kecil yang memiliki aturan dalam pengelolaannya. Karena itu, sepasang suami-istri harus bisa memahami hak dan kewajiban dirinya atas pasangannya dan anggota keluarga lainnya.

Sepasang suami-istri dalam berinteraksi di rumah tangga sepatutnya melandasi hubungan mereka dengan semangat mencari keseimbangan, menegakkan keadilan, menebar kasih sayang, dan mendahulukan menunaikan kewajiban daripada menuntut hak.

Kewajiban seorang istri terhadap suaminya adalah pertama, mentaati suami. Namun, dalam mentaati suami juga ada batasannya. Batasan itu adalah seperti yang disabdakan Rasulullah saw., “Tidak ada ketaatan terhadap makhluk untuk bermaksiat kepada Allah, Sang Pencipta.”

Kewajiban seorang istri terhadap suami yang kedua adalah menjaga kehormatan dirinya, suami, dan harta keluarga. Ketiga, mengatur rumah tangga. Keempat, mendidik anak-anak. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, Rasulullah saw. bersabda, “Wanita adalah pengasuh dan pendidik di rumah suami, dan bertanggung jawab atas asuhannya.” Keluarga adalah prioritas seorang istri, meski tidak ada larangan baginya untuk melakukan peran sosialnya di masyarakat seperti berdakwah, misalnya.

Dan kewajiban lain seorang istri kepada suaminya adalah berbuat baik kepada keluarga suami.

Sedangkan kewajiban seorang suami kepada istrinya adalah pertama, membayar mahar dengan sempurna. Kedua, memberi nafkah. Rasulullah saw. bersabda, “Takutlah kepada Allah dalam memperlakukan wanita, karena kamu mengambil mereka dengan amanat Allah dan kamu halalkan kemaluan mereka dengan kalimat Allah; dan kewajiban kamu adalah memberi nafkah dan pakaian kepada mereka dengan baik.”

Ketiga, suami wajib memberi perlindungan kepada istrinya. Keempat, melindungi istri dari siksa api neraka. Ini perintah Allah swt., “Hai orang-orang yang beriman, selamatkan dirimu dan keluargamu dari api neraka.”

Kewajiban keempat, mempergauli istri dengan baik. Allah berfirman, “Dan pergaulilah mereka dengan cara yang baik.” (An-Nisa: 19)
Rasulullah saw. bersabda, “Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya; dan sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap istrinya.” (Tirmidzi)

Muasyarah bil ma’ruf

Di ayat 19 surat An-Nisa di atas, Allah swt. menggunakan redaksi “muasyarah bil ma’ruf”. Makna kata “muasyarah” adalah bercampur dan bersahabat. Karena mendapat tambahan frase “bil ma’ruf”, maknanya semakin dalam. Ibnu Katsir dalam tafsirnya menulis makna “muasyarah bil ma’ruf” dengan “perbaikilah ucapan, perbuatan, penampilan sesuai dengan kemampuanmu sebagaimana kamu menginginkan dari mereka (pasanganmu), maka lakukanlah untuk mereka.”

Sedangkan Imam Qurthubi dalam tafsirnya menerangkan makna “muasyarah bil ma’ruf” dengan kalimat, “Pergaulilah istri kalian sebagaimana perintah Allah dengan cara yang baik, yaitu dengan memenuhi hak-haknya berupa mahar dan nafkah, tidak bermuka masam tanpa sebab, baik dalam ucapan (tidak kasar) maupun tidak cenderung dengan istri-istri yang lain.”

Adapun Tafsir Al-Manar menerangkan makna  ”muasyarah bil ma’ruf” dengan kalimat, “Wajib atas orang beriman berbuat baik terhadap istri mereka, menggauli dengan cara yang baik, memberi mahar dan tidak menyakiti baik ucapan maupun perbuatan, dan tidak bermuka masam dalam setiap perjumpaan, karena semua itu bertentangan dalam pergaulan yang baik dalam keluarga.”

Di antara bentuk perlakuan yang baik adalah melapangkan nafkah, meminta pendapat dalam urusan rumah tangga, menutup aib istri, menjaga penampilan, dan membantu tugas-tugas istri di rumah.

Salah satu hikmah Allah swt. mewajibkan seorang suami ber-muasyarah bil ma’ruf kepada istrinya adalah agar pasangan suami-istri itu mendapatkan kebahagiaan dan ketenangan dalam hidup. Karena itu, para ulama menetapkan hukum melakukan “muasyarah bil ma’ruf” sebagai kewajiban yang harus dilakukan oleh para suami agar mendapatkan kebaikan dalam rumah tangga.

Karena itu, para suami yang mendambakan kebaikan dalam rumah tangganya perlu mendalami tabiat perempuan secara umum dan tabiat istrinya secara khusus. Jika menemukan ada sesuatu yang dibenci dalam diri istri, demi kebaikan keluarga temukan lebih banyak kebaikan-kebaikannya. Suami juga harus tahu apa perannya dalam rumah tangga. Dan, jangan pernah mencelakan istri dengan kekerasan, baik secara fisik maupun mental. Ketika seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah saw.,” Apa hak istri terhadap suaminya?” Rasulullah saw. menjawab, “Memberi makan apa yang kamu makan , memberi pakaian apa yang kamu pakai, tidak menampar mukanya, tidak membencinya serta tidak boleh memboikotnya.”

Bagaimana jika timbul perselisihan? Cekcok antara suami-istri adalah hal yang manusiawi. Jika Rasulullah saw. memberi toleransi waktu tiga hari bagi dua orang muslim saling mendiamkan satu sama lain, alangkah baiknya jika suami-istri saling mendiamkan di pagi hari, di malam harinya sudah bisa saling senyum lagi. Kenapa?

Sebab, pasangan suami-istri muslim dan muslimah paham betul bahwa perselisihan mereka adalah gangguan Iblis. Rasulullah saw. pernah menerangkan kepada para sahabat, “Sesungguhnya Iblis meletakkan singgasananya di atas air, kemudian dia mengirim pasukannya, maka yang paling dekat kepadanya, dialah yang paling besar fitnahnya. Lalu datanglah salah seorang dari mereka seraya berkata: aku telah melakukan ini dan itu, Iblis menjawab, kamu belum melakukan apa-apa. Kemudian datang lagi yang lain melapor, aku mendatangi seorang lelaki dan tidak akan membiarkan dia, hingga aku menceraikan antara dia dan istrinya, lalu Iblis mendekat seraya berkata, “Sangat bagus kerjamu” (Muslim)

Begitulah, Iblis menjadikan menceraikan pasangan suami-istri sebagai prestasi tertinggi tentaranya. Karena itu, Islam mencegah perbuatan yang bisa menyebabkan perselisihan suami-istri. Karena itu, jika cekcok dengan pasangan hidup Anda, segera selesaikan masalahnya. Upayakan selesaikan masalah rumah tangga sendiri. Jangan menghadirkan pihak ketiga. Jika belum selesai juga, hadirkan seseorang yang bisa menjadi hakim yang bisa diterima kedua belah pihak.

Seiring dengan panjangnya perjalanan waktu dan lika-liku kehidupan, kadang ikatan pernikahan mengkendur. Karena itu, perkuat lagi ikatan itu dengan mengingat-ingat kembali tujuan pernikahan. Bangun komunikasi yang positif. Komunikasi adalah kunci keharmonisan. Karena itu, pahami betul cara berkomunikasi pasangan Anda. Dan, hidupkan syuro dalam keluarga. Bahkan untuk urusan kecil sekalipun perlu dibicarakan bersama. Insya Allah, Allah swt. akan memberi kebaikan yang banyak dalam keluarga Anda. Amin.

email

Keyword: , , , , , , , ,


Beri Nilai Naskah Ini:

Nilai 1Nilai 2Nilai 3Nilai 4Nilai 5Nilai 6Nilai 7Nilai 8Nilai 9Nilai 10 (173 orang menilai, rata-rata: 9,14 dalam skala 10)
Loading ... Loading ...


Naskah Terkait Sebelumnya:


Akses http://m.dakwatuna.com/ dimana saja melalui ponsel, Blackberry atau iPhone Anda.
  • http://www.rahmatslamet.blogspot.com Rahmat Slamet suhendi

    Robbanaa hablanaa min Azwajina wa dzurriyyatina Kurrota a’yun waj ‘alni lil muttaqiina imaama “Yaa..Alloh, berikanlah kami pasangan hidup dan keturunan yang menyejukkan hati dan jadikanlah aku sebagai pemimpin dari orang-orang yang bertaqwa”

  • UMIAZZAMI

    YA ALLAH HAMBA BERSYUKUR ATAS SEGALA NIKMATMU SMG SEMAKIN MENAMBAH SUJUD HAMBA..

    SUNGGUH INDAH MENJADI ISTRI, TUNTUNLAH HAMBA MJD ISTRI YG SALIHAH SHG KEINDAHAN DAN KEBERKAHAN INI BERLANJUT DIAKHIRAT KELAK.

    JADIKAN KM SUAMI ISTRI YG SALING SETIA, MENJAGA, MEMULIAKAN, MENGHORMATI DLM SETIAP KEADAAN. AMIN YA ALLAH

  • salman al-farisi

    ya Allah, sebentar lagi aku menikah…semoga berkah berada diantara kami…ampuni kami jika dihati ini masih terbersit nfasu syetan. Allah-ku aku hanya ingin cinta darimu…doakan saya saudaraku seiman…

  • Mariam

    Saya sangat memahami naskah dengan subject “Cara memperlakukan Isteri” tersebut.. tapi bagaimana kalau suami saya tidak lagi memberi nafkah (uang belanja), sudah lebih dari 3 bulan.. Apa karena saya juga bekerja, sehingga dia tidak mau memberi makan keluarganya..?? kalau keadaan seperti ini, mungkin saya akan minta pisah aja… karena saya merasa kerja keras, tinggalkan anak2 demi mencukupi kehidupan keluarga.. bukannya terbalik..??

    • agus basri

      Sambunglah org yg memutus silaturrahim dgnmu. Berilah hadiah kpd org yg enggan memberimu & jgn hiraukan org yg menzholimimu. (HR. Ahmad) Sahabat FB….Selalu sj ada sisi + & – dlm interaksi. Klu – saat interaksi, meletupkan bunga-2x api kekecewaan & kebencian, jangan biarkan kebencian berkeLANJUTan. Mknya ambil + nya ketika berinteraksi, shg yg muncul rasa cinta dan sayang, kuat persaudaraan & tolong menolong.

  • ss

    kewajiban lain seorang istri :baik kpd keluarga suaami. Gmn jika case’nya: keluarga suami prnah melakukan kesalahan :iri,dengki, syirik,membicarakan d belakang,menjelek2kan ke orang lain seolah2 si istri ini tidak ada artinya…dan seolah2 keluarganya tdk rela bahwa laki2 ini punya istri? nextnya akhirnya si istri tdk kuat karna suami membela keluarganya yg jelas2 brsalah dengan berani meminta cerai?…setelah si istri berani minta cerai barulah si suami pelan2 menyadari kekeliruannya..namun sakit hati si istri sangatlah dalam, bukan berarti tdk baik k keluarga suami, namun untuk akrab n percaya sepenuh hati sudah sedemikan susahnya..sehingga cenderung untuk cuek trhd klrg suami karna trauma juga,karena baik or jelek diomongin di belakang dan selalu dijelek2kan. Apa yg bs dilakukan untuk melupakan trauma n kedzaliman keluarga suami?

  • Eva

    Good Artikel for couple

    • agus basri

      Selalu sj ada sisi + & – dlm interaksi. Klu – saat interaksi, meletupkan bunga-2x api kekecewaan & kebencian, jangan biarkan kebencian berkeLANJUTan. Mknya ambil + nya ketika berinteraksi, shg yg muncul rasa cinta dan sayang, kuat persaudaraan & tolong menolong.

  • http://www.yahoo.com arif

    bismillah…. terimaksih ya Alloh.. kau telah beri kesempatan pada kami untuk memiliki seorang istri yang bisa belajar untuk mensyukuri… meski berat sekali….. semoga pemaparan diatas bisa menjadi sebuah perenungan buat kami bahwa menikah hanyalah salah satu sarana buat kita untuk beribadah….

  • http://ayahmeha.blogspot.com ayahmeha

    ijin link & muat di blog saya.

    tulisan yg bagus.

  • tanti

    RT dibangun atas komitmen k-2 pasangan u/ sll beribadah kpd Allah. Hak&kwjbn kedua pasangan seyogyanya di pahami & djalankan. Namun dtengah pjalanan pst akn ada kerikil yg mhalau. Disitulah komitmen kita diuji dan jgn lupa u/ slg mengingatkan satu dg yg lain. Smg kami bs mbangun keluarga yg dridhoi&dberkahi Allah. Amin…

  • Dian sri

    Allah ku mohon
    Pertemukan hamba dengan jodoh hamba
    Jadikan dia laki-laki yang sholih
    Dan jadikan hamba wanita yang sholihah
    Panjangkan umur kami
    Berikan keselamatan hidup di dunia dan akhirat
    Berikan kepada kami , kebarokahan hidup di dunia dan akhirat
    Jadikan ikatan ini semakin menamba kecintaan kami kepadaMu, wahai Allah
    Semakin tunduk,
    Semakin taat
    Semakin bertaqwa
    Semakin yakin dan tawakal
    Semakin istiqomah,
    Aamiin ya Allah ya Rabbal ‘alamin

« Naskah Sebelumnya
Naskah Sesudahnya »
BERITA POPULER PEKAN INI: Ibunda Hidayat Nur Wahid Meninggal Dunia