Home / Narasi Islam / Ekonomi / Hukum Bisnis MLM dan Money Game (Bagian Kedua)

Hukum Bisnis MLM dan Money Game (Bagian Kedua)

Uangdakwatuna.com – Sebagai catatan akhir dalam rangka pertimbangan memasuki bisnis MLM sekaligus sebagai filter teknis agar tidak terjebak kepada pola MLM konvensional yang tidak meneerapkan sistem syariah sebagian kadang melakukan praktik eksploitatif yang tidak adil melalui skema sistem piramida marketing. Hal itu berpotensi menimbulkan fenomena penyesatan intelektual kalau tidak dikatakan sebagai kebohongan dalam kampanye dan propaganda MLM konvensional sebagaimana 10 catatan yang ditulis oleh Robert L. Fitzpatrick dan Joyce K. Reynolds dalam bukunya False Profits: Seeking Financial and Spiritual Deliverance in Multi-Level Marketing and Pyramid Schemes, Herald Press Charlotte) sebagai berikut:

Pertama: MLM dikenalkan sebagai bisnis yang menawarkan kesempatan yang lebih baik untuk mendapatkan banyak uang dibandingkan dengan bisnis lain maupun pekerjaan lain. Perlu dipelajari lebih lanjut bahwa bagi hampir semua orang yang menanamkan uang, MLM berakhir dengan hilangnya uang. Kurang dari 1% distributor MLM mendapatkan laba dan mereka yang mendapatkan pendapatan seumur hidup dalam bisnis ini persentasenya jauh lebih kecil lagi. Cara pemasaran dan penjualan yang tidak lazim menjadi penyebab utama kegagalan ini. Namun, kalau toh bisnis ini lebih berkelayakan, perhitungan matematis pasti akan membatasi terjadinya peluang sukses tersebut. Tipe struktur bisnis MLM hanya dapat menopang sejumlah kecil pemenang. Jika seseorang memerlukan downline sejumlah 1000 orang agar dia memperoleh pendapatan seumur hidup, maka 1000 orang downline tadi akan memerlukan sejuta orang untuk bisa memperoleh kesempatan yang sama. Jadi, berapa orang yang secara realistis bisa diajak bergabung? Banyak hal yang tampak sebagai pertumbuhan pada kenyataannya adalah pengorbanan distributor baru secara terus-menerus. Uang yang masuk ke kantong elite pemenang berasal dari pendaftaran para pecundang. Dengan tidak adanya batasan jumlah distributor di suatu daerah dan tidak ada evaluasi tentang potensi pasar, sistem ini dari dalamnya sudah tidak stabil.

Kedua: Jejaring (network) marketing (pemasaran mengandalkan jaringan) dikenalkan sebagai cara baru yang paling populer dan efektif untuk membawa produk ke pasar. Konsumen menyukai membeli produk dengan cara door-to-door. Perlu diperhatikan jika anda mengikuti aktivitas andalan MLM berupa penjualan keanggotaan secara terus-menerus dan mengamati hukum dasarnya, yakni penjualan eceran satu-satu ke konsumen, anda akan menemukan sistem penjualan yang tidak produktif dan tidak praktis. Penjualan eceran satu-satu ke konsumen merupakan cara kuno, bukan trend masa depan. Penjualan secara langsung satu-satu ke teman atau saudara menuntut seseorang untuk mengubah kebiasaan belanjanya secara drastis. Dengan demikian, seseorang mendapatkan pilihan terbatas, kerap kali membayar lebih mahal untuk sebuah produk, membeli dengan tidak nyaman, dan dengan kagok mengadakan transaksi bisnis dengan teman dekat atau saudara. Ketidaklayakan penjualan door-to-door inilah yang menjadi alasan kenapa pada kenyataannya MLM merupakan bisnis yang terus-terusan menjual kesempatan menjadi distributor.

Ketiga: Di suatu saat kelak, semua produk diklaim akan dijual dengan model MLM. Para pengecer, mall, katalog, dan sebagian besar pengiklanan akan mati karena MLM. Perlu dicamkan bahwa kurang dari 1% dari keseluruhan penjualan dilakukan melalui MLM dan banyak volume dari penjualan ini terjadi karena pembelian oleh para distributor baru yang sebenarnya membayar biaya pendaftaran untuk sebuah bisnis yang selanjutnya akan dia tinggalkan. MLM tidak akan menggantikan cara-cara pemasaran yang sekarang ada. MLM sama sekali tidak bias menyaingi cara-cara pemasaran yang lain. Namun yang lebih pasti, MLM melambangkan program investasi baru yang meminjam istilah pemasaran dan produk. Produk MLM yang sesungguhnya adalah keanggotaan (menjadi distributor) yang dijual dengan cara menyesatkan dan membesar-besarkan janji mengenai pendapatan. Orang membeli produk guna menjaga posisinya pada sebuah piramid penjualan. Pendukung MLM senantiasa menekankan bahwa anda dapat menjadi kaya, jika bukan karena usaha keras anda sendiri maka kekayaan itu berasal dari seseorang yang tidak anda kenal yang mungkin akan bergabung dengan downline anda, atau istilah orang MLM “big fish”. Pertumbuhan MLM adalah perwujudan bukan dari nilai tambahnya terhadap ekonomi, konsumen, maupun distributor, namun lebih merupakan perwujudan dari tingginya ketakutan ekonomi dan perasaan tidak aman serta meningkatnya impian untuk menjadi kaya dengan mudah dan cepat. MLM tumbuh dengan cara yang sama dengan tumbuhnya perjudian dan lotere.

Keempat: MLM dinilai sebagai gaya hidup baru yang menawarkan kebahagiaan dan kepuasan. MLM merupakan cara untuk mendapatkan segala kebaikan dalam hidup. Perlu diperhatikan lagi bahwa daya tarik paling menyolok dari industri MLM sebagaimana yang disampaikan lewat iklan dan presentasi penarikan anggota baru adalah ciri materialismenya. Perusahaan-perusahaan besar Fortune 100 akan tumbang sebagai akibat dari janji-janji kekayaan dan kemewahan yang disodorkan oleh penjaja MLM. Janji-janji ini disajikan sebagai tiket menuju kepuasan diri. Pesona MLM yang berlebihan mengenai kekayaan dan kemewahan bertentangan dengan aspirasi sebagian besar manusia berkaitan dengan karya yang bernilai dan memberikan kepuasan untuk sesuatu yang menjadi bakat dan minatnya. Singkatnya, budaya bisnis MLM membelokkan banyak orang dari nilai-nilai pribadinya dan membelokkan aspirasi seseorang untuk mengekspresikan bakatnya.

Kelima: MLM sering mendeklarasikan dirinya sebagai adalah gerakan spiritual dalam bisnis. Perlu mendapatkan pencerahan lebih lanjut bahwa peminjaman konsep spiritual (kerohanian) maupun emosional seperti kesadaran akan kemakmuran dan visualisasi kreatif untuk mengiklankan keanggotaan MLM, penggunaan kata-kata seperti “komunitas” dan “kekeluargaan” untuk menggambarkan kelompok penjualan, dan klaim bahwa MLM merupakan pelaksanaan prinsip-prinsip agama adalah penyesatan besar dari ajaran-ajaran rohani sekalipun menurut penulis buku ini dikaitkan dengan kristiani dan injil. Mereka yang memusatkan harapan dan impiannya pada kekayaan dalam doa-doanya jelas kehilangan pandangan akan spiritualitas murni sebagaimana yang diajarkan oleh semua agama yang dianut umat manusia. Penyalahgunaan ajaran-ajaran spiritual ini pastilah pertanda bahwa penawaran investasi MLM merupakan penyesatan. Jika sebuah produk dikemas dengan bendera atau agama tertentu, waspadalah! “Komunitas”, “kekeluargaan” dan “dukungan” yang ditawarkan oleh organisasi MLM kepada anggota baru semata-mata didasarkan pada belanjanya. Jika pembelanjaan dan pendaftarannya menurun, maka menurun pula tingkat keterlibatannya dalam “komunitas” tersebut.

Keenam: Sukses dalam MLM itu diklaim mudah dan semua teman dan saudara harus dijadikan prospek. Mereka yang mencintai dan mendukung anda akan menjadi konsumen anda seumur hidup. Perlu dicamkan kembali bahwa komersialisasi ikatan keluarga dan persahabatan yang diperlukan bagi jalannya MLM adalah unsur penghancur dalam masyarakat dan sangat tidak sehat bagi mereka yang terlibat. Mencari keuntungan dengan memanfaatkan ikatan keluarga dan kesetiakawanan sahabat akan menghancurkan jiwa sosial seseorang. Kegiatan MLM menekankan pada hubungan yang mungkin tidak akan bisa mengembalikan pertalian yang didasarkan atas cinta, kesetiaan, dan dukungan. Selain dari sifatnya yang menghancurkan, pengalaman menunjukkan bahwa hanya sedikit sekali orang yang menyukai atau menghargai suasana dirayu oleh teman atau saudara untuk membeli produk.

Ketujuh: Anda dimotivasi untuk dapat melakukan MLM di waktu luang sesuai kontrol anda sendiri karena sebagai sebuah bisnis, MLM menawarkan fleksibilitas dan kebebasan mengatur waktu. Beberapa jam seminggu dapat menghasilkan tambahan pendapatan yang besar dan dapat berkembang menjadi sangat besar sehingga kita tidak perlu lagi bekerja yang lain. Perlu dipikirkan kembali bahwa pengalaman puluhan tahun yang melibatkan jutaan manusia telah menunjukkan bahwa mencari uang lewat MLM menuntut pengorbanan waktu yang luar biasa serta ketrampilan dan ketabahan yang tinggi. Selain dari kerja keras dan bakat, MLM juga jelas-jelas menggerogoti lebih banyak wilayah kehidupan pribadi dan lebih banyak waktu. Dalam MLM, semua orang dianggap prospek. Setiap waktu di luar tidur adalah potensi untuk memasarkan. Tidak ada batas untuk tempat, orang, maupun waktu. Akibatnya, tidak ada lagi tempat bebas atau waktu luang begitu seseorang bergabung dengan MLM. Di balik selubung mendapatkan uang secara mandiri dan dilakukan di waktu luang, sistem MLM akhirnya mengendalikan dan mendominasi kehidupan seseorang dan menuntut penyesuaian yang ketat pada program-programnya. Inilah yang menjadi penyebab utama mengapa begitu banyak orang tenggelam begitu dalam dan akhirnya menjadi tergantung sepenuhnya kepada MLM. Mereka menjadi terasing dan meninggalkan cara interaksi yang lain.

Kedelapan: MLM dianggap bisnis baru yang positif dan suportif mendukung yang memperkuat jiwa manusia dan kebebasan pribadi. Perlu dicamkan kembali bahwa MLM sebagian besar berjalan karena adanya ketakutan. Cara perekrutan selalu menyebutkan ramalan akan runtuhnya model-model distribusi yang lain, runtuhnya kekokohan ekonomi Amerika, dan sedikitnya kesempatan di bidang lain (profesi atau jasa). Profesi, perdagangan, dan usaha konvensional terus-menerus dikecilkan artinya dan diremehkan karena tidak menjanjikan “penghasilan tak terbatas”. Menjadi karyawan adalah sama dengan perbudakan bagi mereka yang “kalah”. MLM dinyatakan sebagai tumpuan terbaik terakhir bagi banyak orang. Pendekatan ini, selain menyesatkan kerapkali juga menimbulkan dampak menurunkan semangat bagi orang yang ingin meraih kesuksesan sesuai visinya sendiri tentang sukses dan kebahagiaan. Sebuah bisnis yang sehat tidak akan menunjukkan keunggulannya dengan menyajikan ramalan-ramalan buruk dan peringatan-peringatan menakutkan.

Kesembilan: MLM merupakan pilihan terbaik untuk memiliki bisnis sendiri dan mendapatkan kemandirian ekonomi yang nyata. Perlu dipertimbangkan kembali secara masak bahwa MLM bukanlah self-employment (usaha mempekerjakan sendiri) yang sejati. “Memiliki” keanggotaan distributor MLM hanyalah ilusi. Beberapa perusahaan MLM melarang anggotanya memiliki keanggotaan MLM lain. Hampir semua kontrak MLM memungkinkan dilakukannya pemutusan keanggotaan dengan gampang dan cepat. Selain dari putus kontrak, downline dapat diambil alih dengan berbagai alasan. Keikutsertaan dalam MLM menuntut orang untuk meniru model yang ada secara ketat, bukannya kemandirian dan individualitas. Distributor MLM bukanlah pengusaha (enterpreneur), namun hanya pengikut pada sebuah sistem hirarki yang rumit di mana mereka hanya punya sedikit kendali.

Kesepuluh: MLM sering menolak dianggap sebagai program piramid karena adanya produk (barang) yang dijual dan bukan money game.

Perlu diamati bahwa penjualan produk sama sekali bukan penangkal bagi MLM untuk lolos dari undang-undang anti program piramid, juga bukan jawaban atas tuduhan tentang praktek perdagangan yang tidak sehat (unfair) sebagaimana dinyatakan dalam undang-undang negara bagian maupun federal di Amerika. MLM bisa menjadi bisnis yang legal jika sudah memenuhi prasyarat tertentu yang sudah ditetapkan oleh FTC (Federal Trade Commission) dan Jaksa Agung negara bagian. Banyak MLM jelas-jelas melanggar ketentuan tersebut dan sementara ini tetap beroperasi karena belum ada yang menuntut.

Hal itu juga merupakan potensi moral hazard yang dapat terjadi di Indonesia. Di Amerika contohnya, pengadilan sempat menetapkan angka 70% untuk menentukan legalitas MLM. Maksudnya, minimal 70% produk yang dijual MLM harus dibeli oleh konsumen non-distributor. Ketentuan ini tentu saja akan membuat hampir semua MLM masuk kategori melanggar hukum. Para pelaksana MLM terbesar mengakui bahwa mereka hanya menjual 18% produknya ke non-distributor. Bisnis MLM tumbuh dan perusahan-perusahaan MLM pun bermunculan. Kegiatan penarikan anggota ada di mana-mana. Akibatnya, terkesan seolah-olah bisnis ini merupakan gelombang bisnis masa depan, model bisnis yang sedang mendapatkan momentum, semakin banyak diterima dan diakui secara legal, dan sebagaimana yang digembar-gemborkan oleh para penggagasnya, MLM akan menggantikan sebagian besar model pemasaran dan penjualan jenis lain. Banyak orang menjadi percaya dengan pengakuan bahwa keberhasilan dapat diperoleh siapa saja yang secara setia mengikuti sistem ini dan menerapkan metode-metodenya, dan bahwa pada akhirnya semua orang akan menjadi distributor MLM.

Dengan pengalaman penulis buku ini selama 14 tahun di bidang konsultan korporat untuk bidang distribusi dan setelah lebih dari 6 tahun melakukan riset dan menulis mengenai MLM, berhasil mengumpulkan informasi, fakta, dan masukan-masukan yang menunjukkan bahwa bisnis MLM pada dasarnya adalah bentuk lain dari kebohongan pasar bebas. Hal ini bisa dianalogikan dengan menyebut pembelian tiket lotere sebagai “usaha bisnis” dan memenangkan hadiahnya sebagai ” pendapatan seumur hidup bagi siapa saja”. Validitas pernyataan industri MLM tentang potensi pendapatan si distributor, penjelasannya yang mengagumkan tentang model bisnis jaringan, dan pengakuannya tentang penguasaan dalam distribusi produk adalah persis seperti validitas penampakan makhluk luar angkasa ET. Pada realitas kebanyakan, prestasi ekonomi MLM seringnya dibayar dengan angka kegagalan yang tinggi dan kerugian finansial bagi jutaan orang yang mencoba membeli ataupun bergabung sebagai distributor.

Struktur MLM, di mana posisi pada rantai penjualan yang tak berujung dicapai dengan cara menjual atau membeli barang, secara matematis tidak bisa dipertahankan. Juga, system MLM yang memungkinkan direkrutnya distributor dalam jumlah tak terbatas dalam suatu kawasan pemasaran jelas-jelas tidak stabil. Bisnis inti MLM, yakni penjualan langsung, berlawanan dengan trend dalam teknologi komunikasi yakni distribusi yang cost-effective (berbiaya rendah), dan ketertarikan membeli pada pihak konsumen. Kegiatan penjualan secara eceran dalam MLM pada kenyataannya merupakan topeng dari bisnis utamanya, yaitu menggaet pemilik uang (investor) ke dalam organisasi pyramid yang menjanjikan pertumbuhan pendapatan yang berlipat-ganda.Sebagaimana pada semua program piramid, pendapatan para distributor di posisi puncak dan keuntungan para perusahaan pemberi sponsor berasal dari masuknya para investor (penanam uang) baru secara terus-menerus di tingkat bawah. Jika dilihat secara kasar dari segi keuntungan perusahaan dan kekayaan kelompok elite di posisi puncak, model MLM akan tampak seolah-olah tidak akan ada matinya bagi para mitra bisnis, persis seperti program pyramid sebelum akhirnya tumbang atau dituntut oleh pihak berwenang. Konstituen atau penopang utama industri MLM bukanlah publik konsumen namun para penanam uang yang menaruh harapan.

Pasar bagi para penanam uang ini tumbuh subur di saat-saat terjadinya perubahan ekonomi, globalisasi, dan PHK karyawan, seperti pada momentum krisis keuangan. Janji-janji tentang perolehan financial dengan mudah serta kaitan antara kekayaan dengan kebahagiaan tertinggi juga berperan besar dalam kondisi pasar ini. Karenanya, arah pemasaran MLM ditujukan terutama kepada calon (prospek) distributor, bukannya berupa promosi produk ke para pembeli. Produk MLM yang sesungguhnya bukanlah jasa, vitamin, nutrisi, krim kulit, alat kesehatan dan produk konsumsi lainnya, namun sesungguhnya program investasi bagi para distributor yang secara seringnya menyesatkan digambarkan dengan pendapatan tinggi, lompatan ekonomi keluarga, penggunaan waktu sedikit, modal kecil, dan sukses dalam waktu singkat serta mandiri.

Karena berbagai pelanggaran syariah pada sistem MLM konvensional, Saudi Arabia mengharamkan MLM yang tertuang dalam Fatwa Lajnah Daimah Saudi nomor 22935 demikian halnya Majma’ Fiqh (Lembaga Fikih) Sudan dalam keputusan rapat nomor 3/23 tertanggal 17 Rabiul Akhir 1424/17 Juni 2003, sepakat mengharamkan jenis jual beli dengan sistem MLM.Selain itu, perlu juga diketahui juga ciri-ciri bisnis money game yang jelas haram yang seringnya berkedok MLM. Perlu diingat bahwa bisnis yang hanya mengandalkan perekrutan saja seperti itu (tanpa ada produk yang dijual) disebut Bisnis Piramid. Kadang-kadang, bisnis piramid ini disebut juga Bisnis Money Game. Di Indonesia, bisnis ini lazim disebut Bisnis Penggandaan Uang. Dari beberapa sumber diantaranya APLI sebagaimana juga dikemukakan konsultan financial planner (Safir Senduk; 2008) dapat diketahui ciri-ciri bisnis yang dapat diindikasikan sebagai bisnis Money Game sebagai berikut:

Perusahaan yang mengadakan bisnis itu biasanya mengatakan bahwa bisnisnya adalah bisnis MLM. Penggunaan istilah MLM oleh perusahaan money game biasanya adalah karena mereka tidak ingin bisnis orang jadi malas bergabung jika mereka terang-terangan menyebut nama money game. Karena itu mereka biasanya menyebut dirinya MLM, walaupun nama mereka tidak tercantum dalam APLI (APLI adalah singkatan dari Asosiasi Penjual Langsung Indonesia, sebuah asosiasi yang salah satu fungsinya adalah menyaring mana perusahaan yang betul-betul berbisnis penjualan langsung, entah itu dengan menggunakan sistem MLM atau tidak).Anda akan diminta membayar sejumlah dana yang cukup besar hanya untuk mendaftar saja. Jumlahnya bervariasi, tapi minimal biasanya sekitar Rp 400 ribuan. Jumlah itu sebetulnya bisa dianggap cukup besar, mengingat Perusahaan MLM yang sejati biasanya hanya meminta biaya pendaftaran yang besarnya biasanya tidak sampai Rp 150 ribuan (itu pun tidak termasuk produk).

Rendahnya biaya pendaftaran pada perusahaan MLM adalah agar semua orang bisa memiliki kesempatan yang sama untuk bisa bergabung. Sedangkan pada perusahaan money game, tingginya biaya pendaftaran yang diminta adalah karena mereka harus membayar bonus penghasilan bagi orang-orang di atas Anda yang sudah lebih dulu bergabung.Pada Perusahaan MLM sejati, biaya pendaftaran biasanya harus bisa dijangkau, karena bonus penghasilan yang akan dibayarkan hanya akan dibebankan pada produk yang terjual saja, bukan dari biaya pendaftaran.Bisnis money game biasanya tidak memiliki produk untuk dijual kepada konsumen. Padahal ini sebetulnya merupakan faktor kunci dari sebuah bisnis MLM yang sejati. Karena itulah, agar bisa terlihat sebagai sebuah MLM, beberapa perusahaan money game biasanya lalu membuat produk untuk bisa dijual. Namun seringkali yang ada adalah bahwa produk yang dijual tersebut memiliki kualitas dan mutu yang biasa-biasa saja kalau tidak mau disebut asal-asalan.

Pada Perusahaan MLM, harus ada produk yang dijual (entah itu berupa barang atau jasa), dan produk tersebut haruslah memiliki kualitas yang cukup baik agar bisa bersaing di pasar. Faktor produk ini sebetulnya juga merupakan faktor kunci dari sebuah perusahaan untuk bisa disebut sebagai sebuah MLM atau tidak. Kalau bisnis yang ditawarkan tersebut tidak memiliki produk, atau mutu produknya asal-asalan saja, sulit disebut sebagai bisnis MLM. Itu jelas money game.Bisnis money game seringkali hanya menguntungkan orang orang yang pertama bergabung. Sedangkan orang-orang yang bergabung belakangan seringkali cuma ‘ketiban pulung’, entah itu perusahaannya bangkrut, lari atau ditutup, atau karena orang yang bergabung belakangan seringkali tidak bisa memiliki penghasilan yang lebih besar daripada orang yang bergabung lebih dulu.Karena itulah bisnis seperti itu juga disebut Bisnis Piramida.

Kalau di Perusahaan MLM yang ssesungguhnya, walaupun Anda bergabung belakangan, Anda bisa punya kesempatan untuk mendapatkan penghasilan yang jauh lebih besar daripada orang-orang di atas Anda yang sudah bergabung lebih dahulu. Sekarang tinggal keputusan Anda apakah akan bergabung dengan bisnis money game yang ditawarkan kepada Anda atau tidak. Sayangnya, di Indonesia belum ada undang-undang yang mengatur tentang bisnis seperti itu dan ketegasan sanksi kecuali terkenai pasal umum tentang penipuan dan penggelapan dan KUHPidana, sehingga pada akhirnya masyarakat pulalah yang harus menaggung sendiri risiko kerugian dan penipuan tersebut oleh perusahaan yang mengaku MLM yang tidak bertanggungjawab.Dengan demikian, Perusahaan MLM Tiansi yang Saudara tanyakan yang konon produk yang dijualnya berasal dari China belum termasuk dalam daftar MLM Syariah sehingga tidak dijamin kehalalannya. Disamping itu, semua produknya harus mendapatkan sertifikat Halal MUI untuk dipastikan kehalalan bisnis MLMnya. Wallahu A’lam. Wabillahit Taufiq wal Hidayah

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (72 votes, average: 8,42 out of 10)
Loading...Loading...
Dr. Setiawan Budi Utomo
Penulis adalah Alumnus terbaik Fakultas Syariah Madinah Islamic University, Arab Saudi. Saat ini aktif sebagai Anggota Dewan Syariah Nasional dan Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI), Dewan Syuro Ikatan Dai Indonesia (IKADI), Dewan Penguji Ujian Sertifikasi Akuntansi Syariah, Ketua Tim Akuntansi Zakat, anggota Komite Akuntansi Syariah Ikatan Akuntan Indonesia (IAI), Dewan Penguji Ujian Sertifikasi Akuntansi Syariah, Anggota Tim Koordinasi Penerbitan Surat Berharga Syariah Negara dalam Valas, Anggota Tetap Tim Ahli Syariah Emisi Sukuk (Obligasi Syariah), Dewan Pakar Ikatan Ahli Ekonomi Syariah (IAEI), Dewan Pakar Shariah Economic and Banking Institute (SEBI), Anggota Tim Kajian Tafsir Tematik Lajnah Pentashih Al-Qur’an Depag, Dosen Pasca Sarjana dan Pengasuh Tetap Fikih Aktual Jaringan Trijaya FM, Pegiat Ekonomi Syariah dan Referensi Fikih Kontemporer Indonesia. Penulis juga merupakan salah satu peneliti di Direktorat Perbankan Syariah Bank Indonesia (BI).

Lihat Juga

Ilustrasi - Emas (saifulizwan.com)

Evaluasi Penerapan Gadai Emas Syariah

  • Mudjahidin

    Sebuah pencerahan bagi mereka yang menggeluti dunia bisnis, terutama bisnis online. MLM sudah banyak dimodifikasi. Di satu sisi MLM bisa berarti memberikan penghargaan kepada mereka telah bekerja (merekrut). Namun di sisi yang lainnya keuntungan upline semakin berlipat. Perlu diskusi sampai sejauh mana MLM salah atau benar?

  • http://amiruddin.blogdetik.com Abu Zindan

    Assalaamu’alaikum Ustadz.
    mohon maaf, Saya adalah salah satu distributor MLM. Saya melihat ketidakjelasan arah & maksud tulisan Bapak. Termasuk referensi yg digunakan. Perlu adanya pandangan yg lebih komperhensif didasari atas keilmuan yg dalam dan pengalaman yg cukup. Dan saya percaya, Syariah Islam bernilai universal, syamil wa mutakammil..Jualah sesuatu yg bernilai baik dengan profesionalisme, mutu, dan budaya yang baik. Bukan berlindung di balik tameng “Syariah” dan “tokoh Muslim”.Wallahu’alam

  • http://www.cahlorrel.co.cc/ Muzani

    Saya kira, hati kita bisa menentukan, tentang apa yang kita kejar dalam MLM.
    Uang kah?
    Ibadah kah?
    Penjualan produk kah?
    Barokah kah?
    Ridho-Nya kah?

    Selama MLM tidak merugikan/mendzolimi diri sendiri maupun orang lain berarti seharusnya tidak masalah…

    mari berpikir, dan senantiasa meningkatkan Taqwa kita kepada-Nya.
    Mari kita teladani Rasulullah dalam hal berjual beli dan lain sebagainya, yang sudah pasti bernilai ibadah.
    ..
    Maha Suci Allah yang telah membuat perbedaan menjadi indah..

  • http://www.kendaga.co.cc ahmad yulianto

    assalamu’alaikum wr.wb.
    owh… jadi begitu ya ustadz, terima kasih sekali….
    wassalamu’alaikum wr.wb.

  • http://badruddin69.wordpress.com BOY

    MLM merupakan cara penjualan yang sangat efektif sehingga ini dapat terus dikembangkan, asalkan produk yang ditawarkan jelas.

  • Zulfy eL Hanief

    afwan ana g ngerti euy

  • gatot sujianto

    afwan ustad.
    saya adalah anggota MLM saat ini, ketika bergabung dalam bisnis MLM ini. banyak hal yang saya petik bukan hanya dari sisi materi akan tetapi dari sisi nilai-nilai kehidupan. mohon penjelasannya lebih spesifik. karena saya melihat tidak semua MLM itu membawa dampak yang negatif. terima kasih.

  • Andri

    Betul. Para downline baru hanya memberikan keuntungan bagi elite MLM tersebut, sementara nasibnya sama sekali tidak jelas. Saran saya bagi yang tidak berpengalaman di bidang networking gak usah coba-coba ikutan.

  • Hafidz

    Semua yang menamakan bisnis MLM, hampir dipastikan ada unsur mengambil keuntungan dari jerih payah orang lain, baik yang ada unsur jual barang, dan apalagi yang hanya berkedok investasi.

    Mengenai sisi lain yg di dapat selain materi seperti pendapat saudara saya yg lain, saya pikir itu tidak ada hubungannya dengan hukum thd cara yg diterapkan di MLM itu sendiri.

    Salam

  • hardja

    assalaamu’alaikum wr wb..

    saya juga salah satu member MLM. awalnya saya memang merasa tertipu dengan perusahaan MLM di mana saya terdaftar. tapi setelah saya flashback, saya temukan bahwa sebenarnya ‘korban-korban’ MLM itu lahir karena:
    1. Tidak bisa melihat peluang ketika bergabung tapi memaksakan diri bergabung karena tergiur iming-iming bonusnya.
    2. Kalau peluang saja tidak dilihat, bagaimana mereka memiliki strategi menjalankannya?
    3. Tidak adanya kerjasama tim yang solid pada tim di mana ‘korban’ itu terdaftar…
    4. Akumulasi 3 alasan di atas sudah cukup untuk membuat ‘korban’ merasa depresi dan merasa telah tertipu bahkan menyatakan bahwa bisnis MLM itu buruk. Mereka menafikkan 1 kenyataan hukum bisnis, yaitu:

    a. high risk high return, low risk low return
    b. no pain, no gain
    c. kesuksesan besar pasti diwarnai banyak sekali kegagalan (musibah/cobaan) kecil

  • http://dokternasir.web.id Nasir

    Artikel ini sama saja dengan menggeneralisasikan semua MLM yang beredar di negara kita, padahal dalam kenyataan di lapangan, yang menentukan kebaikan dan keburukan MLM itu sebenarnya terletak pada 6 pilar-nya yaitu, kualitas produk, marketing plan, company profile, support system, bonus dan reward, aktivitas internasional. Lebih lengkap silahkan baca http://dokternasir.web.id/multi-level-marketing-dalam-perspektif-fiqih-islam/
    Perkara byk yg gagal krn tidak menjalankan sesuai support systemnya.

  • Hafidz

    Saya tidak pernah ikut MLM, karena belum ada MLM yang mencantumkan di slogan bisnisnya dengan label Halal dari lembaga yang punya otoritas mengeluarkan. Mohon diinformasikan kalau ada yang tahu, MLM yang mana yg bersertifikat halal.

    Pemikiran saya simpel saja utk MLM, yaitu jual beli. Jual beli syarat syahnya menurut fiqih , ada penjual, pembeli, ada barang, terjadi kesepakatan / akad harga, dibayar sesuai kesepakatan. Selesai tidak ada embel – embel lain. Mohon dikoreksi jika ada syarat syahnya jual beli yang salah. Salam.

  • Abdullah

    Aswrwb. Bisnis MLM banyak dzolimnya karena beberapa hal:
    1. Produk yang dijual lebih dominan adalah ‘mimpi’ untuk menjadi kaya, bukan produknya itu sendiri. Hal itu bisa dilihat di lapangan, banyak yang gabung dengan bisnis model ini tapi produknya tetap beli dimana saja. Contohnya pulsa (produk lain bisa disesuaikan saja). Terkait pulsa ini, ada orang kampung yang gabung. Dia harus keluar uang tambahan untuk buka rekening. Belum lagi ongkos transportasi untuk isi ulang pulsa, padahal beda harga di pasaran dengan di bisnis ini kadang tidak nyampai Rp. 500,-.
    2. Jadi jelas, kalau itungannya jual beli produk, sudah tidak saling menguntungkan.
    3. Selain JUAL BELI ‘MIMPI’ menjadi kaya tersebut, bisnis model ini juga cenderung mengarahkan pada permainan saham atau ‘titik’. Sudah jelas itu mengarahkan pada money game.
    . bersambung (wallahu a’lam)

  • joko

    ana pikir MLM dan cara marketing biasa hampir sama yaitu perpindahan barang dari tangan ke tangan (jual beli), kalau ada nilai bisnis itu karena orang melihat adanya peluang. Yang harus dinilai adalah ada perbedaan antara MLM dan money game, yang ini banyak yang tidak bisa membedakan sehingga menyama ratakan semua, tentu itu tidak adil. sebelum berkomentar mohon pelajari lebih detil dari dua sisi, sehingga pendapat kita tidak menyesatkan orang lain.terkadang ada yang belum pernah terjun ke MLM tapi sudah berkomentar, ada yang merasa tidak mampu menjalankan terus jadi penghujat. saya pikir di bidang apapun pasti ada yang gagal dan berhasil. dan pada kenyataannya orang kerja di kantoran juga bekerja untuk atasannya, artinya kalau kita mau jujur positif saja. wallahu a’lam.

  • Hafidz

    Ngapain ikut pekerjaan yang hukumnya tidak jelas dan banyak kontraversi, dan banyak para ahlli agama dan fikih yang melarang bahkan mengharamkannya. Kalau yang sudah terlanjur mantap menghalalkannya, silahkan saja dan harus perlu dipelajari, dibalik kesuksesan satu orang pebisnis MLM hitung saja berapa ribu orang yang hanya kenyang dengan impian kesuksesan materi karena iming2 dan teori2 muluk 2 MLM.

    Saya sdh baca di web dokternasir.web.id yg salah satunya dg MLM bisa menjalin silaturrahmi, saya tidak setuju dengan silaturrahmi yang dibangun hanya dengan pamrih dan hitungan untung rugi, krn akan tercipta jg persaudraan yg semu.

    Emang ada kerja kantoran yg memfatwakan haram ?

    • abu syifa

      astagfirullah
      smua bidang, smua tempat, smua cara, slalu ada halal dan haramnya
      ada baik ada buruknya. apakah bekerja kantoran slalu halal, atau mlm slalu haram?
      bahkan makan nasi pun bisa jadi haram.
      tetapi makan babi bisa jd halal.
      islam itu kompreshensif, lengkap dan adil.
      jd berkomentarlah dg ilmu, objektifitas, niat karena Allah, agr apa yg kita bicarakan bernilai ibadah.
      afwan

  • Mochamad Bugi

    Bagi yang ingin berdiskusi lebih lanjut tentang hukum bisnis MLM, Dr. Setiawan Budi Utomo memberi ruang untuk itu di http://www.ustadzsbu.blogspot.com. Silakan dimanfaatkan. @redaktur dakwatuna.com

  • http://www.bajupoeti.com H Afrizal MT

    Sangat setuju dengan tulisan ini, hanya dengan kerja keras, berdoa, bekerja sama dan bertawakal, sesorang bsia sukses. Bukan dengan janji dan impian…

  • Ansusalkar

    Tolong direview juga http://www.mppsyariah.com yg diklaim secara syariah

  • http://www.komunitas-nurani.blogspot.com denny alghifari

    Sepengetahuan saya orang yang negative dengan MLM Biasanya bukan karena dilandaskan denga pengetahuan yang benar terhadap industri MLM.Banyak dilandaskan karena sekedar melihat ke gagalan orang lain dlm industri tersebut.Atau juga karena kemampuan menganalisis yang sangat lemah & subyektif.Olehkarena itu saya bersedia sharing dg orang yang berani untuk membuka fikirannya terhadap apapun.

  • Ari

    Yg sdh yakin dg ke-halalan MLM ya silakan gabung. Yg masih ragu2 : setiap perkara ada yg halal & haram, yg diantaranya adalah subhat, maka ciri orang yg beriman adalah menjauhi sesuatu yg bersifat subhat.

  • Dwi

    Saya rasa MLM hanya memberikan harapan / impian belaka saja. Sejauh ini saya blom melihat keberhasilan MLM mendongkrak ekonomi kerakyatan. Indonesia sdh saatnya mengeluarkan peraturan / UU yg berkaitan dgn bisnis yg menyesatkan ini ( MLM ), sehingga ruang geraknya dibatasi.

  • http://baguskusuma.wordpress.com Bagus Kusuma

    Asslm
    Ustad Setiawan kurang memberikan pembahasan yang balance tentang MLM. Tulisan ini menggeneralisir semua MLM. Kenyataannya memang ada MLM yang halal dan Haram. Masing-masing memiliki hal yang berbeda. MLM yang baik tidak sekedar mengiming-imingi dengan mimpi kososng tetapi memberikan juga pendidikan tentang cara menggapai impian tersebut sehingga menjadi kenyataan. BUkankah impian hari ini adalah kenyataan esok hari Ustad? Ngomong-ngomong ustad Setiawan gak pernah menanggapi komentar ya?

    Teman-teman mungkin mau diskusi MLM dengan saya ? email saja di [email protected]. Facebook juga boleh :)

    • Silvy82

      Ngomong-ngomong ustad Setiawan gak pernah menanggapi komentar ya? ===>ane juga nungguin itu, ternyata seperti menunggu godot

  • Ukhi

    Tulisan diatas, tdk menyimpulkan, hanya memberi pandangan.
    Kesimpulannya tgantung pemahaman pembaca.
    Kalau saya:
    Cenderung setuju Mlm ini haram.

  • endro

    jaman semakin edan, hukum yang haram bisa jadi remang-remang, bahkan halal, waspada jangan ikut MLM.

  • firnando

    Assalammualaikum ya Ustad…

    Ana adalh seorg distributor MLM yg mgkin termuda di INDonesia…
    MLM memang memberikan sebuah janji..
    Namun MLM yang memberikan Ultimatum
    “Wakuli’malu payarallahu amaluku warasuluhu wal mu’minun…”
    Anda bisa memberikan penjelasan panjang lebar ttg MLM…
    Anda tdk memberikan spesifikasi untuk MLM yg SYARIAH dan yg Convensional….
    Yg belum tentu semuanya seperti yg ada jelasin..
    Buktinya,,
    MLM yg sedang ana jalani menjelaskan bhwa “Siapa Yang Bekerja Dan Berkomitmen,Dia bisa mengalahkan Prestasi UPLINEnya…”
    Bagaimana dg Perusahaan Racun Masyarakat Seperti CIgarette Company?Beranikah Antum berkomentar?atau takut ntar merka ga’ ngasih pendapatan bg bangsa ini….
    tlg dijawab ya… !!!!

    Wassalamu’alaikum…

  • intanyuliani

    Taqwa = berhati – hati, ibarat seperti berjalan di atas jalanan penuh duri harus memilih jgn sampai terinjak duri.

  • http://- Akhmad

    Untuk semua mohon dalam menyampaikan pandangan perihal MLM / bisnis jaringan kita lihat prinsip muamalah islami :
    1. Tabadul al-manafi’ (tukar-menukar barang/jasa/fasilitas yang bernilai manfa’at);
    2. ‘An taradlin (kerelaan dari kedua pihak yang bertransaksi dengan tidak ada paksaan);
    3. ‘Adamu al-gharar (tidak berspekulasi yang tidak jelas / tidak transparan),
    4. ‘Adamu Maysyir (tidak ada untung-untungan atau judi seperti barang yang sudah disentuh harus dibeli),
    5. ‘Adamu Riba (tidak ada sistem bunga-berbunga),
    6. ‘Adamu al-gasysy (tidak ada tipu muslihat),
    7. ‘Adamu al-najasy (tidak melakukan najasy yaitu menawar barang hanya sekedar untuk mempengaruhi calon pembeli lain sehingga harganya menjadi tinggi),
    8. Ta ‘awun ‘ala al-birr wa al-taqwa (tolong menolong dalam kebaikan dan taqwa)
    9. Musyarakah (kerja sama).
    Islam membolehkan membuat persyaratan / perjanjian dalam transaksi apapun yang disepakati oleh semua pihak, seperti dalam sistem BONUS / JUALAH di…

    • abu syifa

      syukron komentarnya cukup mendidik.

  • Ari

    Mungkin komentar yg ada bisa menanggapi point2 knp MLM (konvensional) “tidak halal” spt disampaikan ustadz, sehingga kami2 yg blm bgitu paham bisa lebih paham. Tidak sekedar komentar singkat tanpa disertai dg counter attack yg akurat. Barangkali… Trus terang an masih ragu dg MLM.

  • firnando

    MLM………..

    Kenapa Qt harus mengomentari usaha yang belum tentu dilarang ALLAH????

    Padahal ada sebuah MLM SYARIAH yg sedang berusaha tumbuh tuk dalam Gerakan membangun Perekonomian Religius.Bahkan pernah membuat Perusahaan Yahudi La’natullah mengalami penurunan penghasilan hingga 45% karena bersaing dengan MLM SYARIAH ini…
    Bagaimana dengan Perusahaan-perusahaan Racun (jarum,GUDANG,mild) Yang beredar di INDONESIA?????

    Mereka dengan terang-terangan memperlihatkan usaha meraka.

    Qt cuma bisa duduk diam.ngoceh dari depan televisi…

    Tak jarang Qt jg ikut mengkonsumsi produk mereka…

    Apakah karena mereka telah ngasih bangsa ini pajak, lantas qt biarin mereka gitu aja????

  • Thara

    Ass
    saya cuma mau berbagi pengalaman sj ttg bisnis MLM. Saya mengatakan bisnis MLM itu haram, krn tdk sesuai dgn tata cara syariah jual beli islam. Saya tdk suka dgn cara anggota MLM yg membujuk masyarat utk bergabung dgn bisnis itu, dgn cra paksaan. Krn menurut saya, itu sdh sgt mengganggu hak dan privacy saya. Suatu hari sy prnh ditawarkan suatu bisnis oleh teman saya lwt telpon. Tetapi sblm dy memberitahukan dgn detail bisnisnya, saya diajak ktemuan dgnnya. Stlh sy brtemu dgnnya beserta teman2nya, saya dianjurkan untuk bayar uang 40jt. Lantas sy berfikir, uang sbegitu bnyknya tdk mungkin sy miliki, krn status sy sbg mahasiswa saat ini. Lalu sy memutuskan utk tdk ikutan dan trtarik mengikuti bisnis itu. Beberapa hr kemudian, anggota MLM tsb, terus2an meneror dan mengganggu kuliah sy. Mereka terus2an membujuk sy utk bergabung dgn mreka dan mjd anggotanya. Mrka blg, tak apa sy byar 2jt sj. Saya tetap menolak,dan pd suatu hr mrka nekat dtngi kos2an sy pd pukul 11mlm. Mreka trus2an…

    • abu syifa

      itu money game. bukan MLM.

    • hendra

      gak jelas cerita nya, tidak memenuhi unsur elemen MLM : yang saya liat dari cerita ini hanya ada uang dan bujukan untuk bergabung…. klo mau berimbang sebutkan ada produknya, ada upaya presentasi sehatnya (sistem bagi hasilnya/keuntungannya), kasih pilihan calon IBO mau atau tidak menjalani bisnisnya (klo mau berarti ada upaya belajar berdagang)… dll.

      namun saya juga bukan member MLM, klo kita mau menolaknya cukup katakan saya tidak bisa menjalani bisnis ini, saya sudah bersyukur apa yang saya punya saat ini, dan saya tak ingin membahas bisnis ini lagi, baiknya kita ganti tema… insya ALLah manjur (butuh keberanian seperti keberanian orang yang mengejar anda)

  • Emod

    Saya sudah 4 kali gabung dengan 4 macam MLM, sudah terbukti semua hanya illusi dan angan-angan, MLM syariah saya belum coba, sebaiknya jangan pernah coba-coba gabung di MLM deh!!!

  • ade

    ana suka dengan penjelasannya jadi tambah ilmu dalam memilih dan memilah yg disebut dengan bisnis MLM

  • http://nuranitours.wordpress.com syamsudin

    Mending bisnis sendiri aja walau MLM doktrinnys bisnis sendiri.

  • nisa

    salamun’alaik..kalau ana join MLM yg berunsurkan syariah??dan produknya memang diketahui umum tentang kewujudannya baaimana ustz?ana mohon penjelasan ustaz secepat mungkin.syukran

  • http://www.tiluk.blogspot.com iyandri

    Diharapkan masyarakat dapat membedakan antara money game dengan MLM yang murni secara teliti, dan tidak hanya bisa mendoktrin sesuatu tanpa melihat sumber yang jelas. Alhamdulilah dengan membaca artikel ini saya jadi semakin luas mengenai seluk beluk bisnis MLM.

  • rodijah

    Mohon penjelasannya tentang DBS, karena perkembangannya sangat cepat, melibatkan Aa Gym sebagai komisarisnya, dan kabarnya, jg melibatkan MUI Bandung..Syukron

  • kesha

    thara: itumah bukan orang yang mau pasarin mlm.. tapi NII paling

  • http://www.sahabatmuslim.com sahabatmuslim.com

    Ustadz Apabila saya membuat program untuk toko online dimana apabila ada orang yang berkenan memasang banner iklan toko saya di blog mereka. Kemudian ada pengunjung pada blog tersebut dan mengklik banner dan akhirnya membeli produk yang dijual di web sahabatmuslim. Maka orang yang memasang banner tersebut akan mendapatkan komisi sebesar 2% dari total transaksi belanja dari pengunjung yang tadi. Program ini tidak pake sistem piramida, jadi tidak ada downline/komisi bertingkat, Apakah dibolehkan?

  • anis

    Assalamu’alaikum
    sy mau tanya,klo MLMnya ssepert K-LINK itu gimna?mhon penjelasannya

    • Skom_600

      kalo yg sy tau K-LINK sudah dpt sertifikat Syariah tuch dari MUI… kr rekrutmnt member sponsor tidak dapt   uang atau prosentase sama sekali… dan pengembangan pribadi yg lebih di k-link…

  • aa_condet

    Saya lebih suka bisnis sendiri, meski berawal dr yg kecil…lebih bisa dipertanggungjawabkan kelak, insyaAllah. Sesuatu yg pro-kontra lebih dekat ke Syubhat. Yang pasti2 aja lah. Mendingan MLP…multi level pahala. Jika Anda aktivis dakwah, mending lebih giat di MLP aja, biar makin berkah. Makin banyak MLM, harga produk biasanya makin mahal bagi konsumen biasa…

    • wis-sby

      alhamdulilah sobat,

  • mustika

    assalamu’alaykum…
    penjelasan tentang DBS dari komentar diatas dimana ya…?ana juga perlu nih ustz….ana dan suami ditawarkan sm murobi, jadi percaya saja…

  • anang

    o…jadi gak boleh ya ikut ber-MLM?

  • evi herawati

    Iya nih, kalau DBS hukumnya gimana?

    • budi

      artikel yang bagus kita perbincangkan bersama dilain kali kita bisa sharing lebih dalam lagi mengenai bisnis mlm ini :)

    • http://www.primaagency.blogspot.com sari wibowo

      iya nih..blom ada tim yang mengkaji sistem DBS karena di san juga ada bonus prekrutan dari hasil pembayaran keanggotaan

  • wira

    assalamualaikum..
    iya, ustad..ttg DBS bgm neh? ane baca di salah satu media Islam terkemuka, secara tersirat, bisnis itu juga belum jelas. sementara demam DBS melanda dimana2..ditunggu penjelasannya, ustad. kasihan umat Islam..

  • selis

    benar, ustd kalo DBS bagaimana ?
    katanya sudah punya dewan syariah !
    sebenarnya menurut islam bagaimana ?

  • chawhat2000

    Wah.. Wah maaf ya… Anda jelas kurang pemahan tentang MLM,

  • awe

    Saya baru sadar walau pernah jd korban.Ternyata luar biasa ya MLM…kesesatannya…
    Barangkali memang karena penggagas awalnya para kapitalis materialis yg tdk fhm syariah, tp knp koq msh sj ada yg ikut2n….Astaghfirullah.

  • Kharis Hardiyanto

    mz2.. ini zona abu2… ati2…

    yang saya tw Rasulullah menganjurkan untuk bergerak di sektor riil… jgn sm yg g jelas… tanggungjawabnya sulit..

  • Ibrahim Aji

    MLM merupakan pilihan, tapi baiknya pada presentasi MLM tidak mendiskreditkan orang yg bekerja di sektor riil.

  • tjahyono

    Assalamu’alaikum wr.wb.

    Ustadz…mau tanya kalau program haji/umroh yang dilakukan oleh PT.Mitra Permata Mandiri (MPM – http://klikmpm.com ) bagaimana hukumnya, terima kasih atas jawabannya.

    Wassalamu’alaikum wr.wb.
    tjahyono

  • http://www.yahoo.co.id hamba Allah

    assalamu’alaikum wr.wb. ustadz saya mau menanyakan bagaimana hukum MLM “ANNION”?mohon penjelasannya. jazakallah

  • Verde Wigid Putra

    saya ingin tanya pendapat ustad ttg bisnis tvi express berikut link2 rujukan http://www.kaskus.us/showthread.php?t=4275731 dan http://www.kaskus.us/showthread.php?t=4113555
    dan http://www.kaskus.us/showthread.php?t=3504949.
    bisnis ini telah mersesahkan hati saya, dan hati umat.
    karena para tokohnya sudah menjalar ke orang2 dakwah…
    terimakasih, penjelasan ustad.

  • formula bisnis mlm

    Saya baru menemukan penjelasan tentang bisnis MLM beserta hukumnya secara lengkap gamblang dan masuk akal di sini. Terima Kasih.

  • Andriyani

    jadi,, MLM itu termasuk halal atau haram?
     

    • hendra

      segala sesuatu yang dikerjakan beramai-ramai itu hasilnya akan lebih baik, dalam bisnis jaringan yang sehat, yang ada produk untuk dijual, lalu mengajarkan kepada member baru cara berjualan yang sehat… menurut saya tidak salah. saya bukan anggota MLM mbak, distributor membeli kepada penyedia barang/produksi barang tanpa ada jalur transport/akomodasi (mengurangi biaya yang perjalanannya terlalu panjang).. sah-sah saja distributor menjual secara retail/eceran/paketan dengan mengambil untung yang tidak melewati batas(harga wajar)… oya tambahan network/jaringan… sudah dicontohkan Rosul lewat ibadah SHOLAT… beda sholat sendirian dengan berjamaah, pahalanya juga beda, dagang sendirian dgn network tentu beda pula hasilnya

  • dima

    maaf pak ustad,,sepertinya anda blom mengenal 100% MLM..

    sebaiknya anda mencari informasi lebih tepat dengan mewawancarai beberapa narasumber terpercaya dari berbagai macem MLM di Indonesia dlu..baru mengambil kesimpulan…
    sya dlu mantan MLM,bukan brarti saya membela..ada beberapa point yang disebutin pak ustad yang di beberapa MLM gak sperti itu dan beberapa lagi di MLM kacangan sperti itu seperti yang pak ustad sebutkan…
    1 lagi money game dngan MLM tu beda tipis(bukan brarti sama) sperti banyak orang awam yang menafsirkan bahwa bank syariah dan konvensional itu sama,padahal berbeda…

    skali lagi bukan saya membela,tapi sbagai orang yang ingin terus belajar secara objektif..
    takutnya stahu saya mengharamkan sesuatu yang halal,hukumnya sama dengan menghalalkan sesuatu yang haram….
    maaf sebelumnya kalo ada kekurangan2…smoga kita bisa belajar bersama2 dan objektiv

  • Ongki_ki

    apakah ustat pernah join di mlm.???……. kalau ustat bilang orang sukses di mlm kurang dari 1%,,,,, bagaimana dengan bisnis di luar MLM…..apakah mereka yg sukses lebih dari 1%…….kalau ustat bilang sistem di MLM piramida…..emangnya bisnis hari ini sistemnya seperti apa….,,,,,yg pastinya yg paling sukses adalah yang teratas kan….misalkan direktur perusahaan pasti lebih kaya dong dari pada bawahannya…… ….. kalau ustat bilang MLM tidak membantu orang lain untuk sukses…….emangnya berapa banyak orang yg ustat bantu menjadi sukses……….. terakhir…..apakah ustat seorang pengusaha??????…….krn setahu sy biasanya orng diluar sana hanya pandai berkomentar aj……

  • http://twitter.com/Lativtine Lativtine

    hayo,, yang betul yg mana,, yg salah yg mana bingung to

  • http://www.facebook.com/bunnazkia Evi Shofianti

    ustadz, mengenai halal-haram saya fikir itu ada bagiannya.. sejauh yang saya tahu dari beberapa sumber yang mungkin kualitas keilmuannya tidak jauh dengan ustadz, saya melihat ada juga MLM yang memang “Sehat” ..

    Kalau saya pribadi berpendapat, bahwa MLM memberikan peluang bagi anggotanya untuk meningkatkan kualitas hidupnya .. uang memang bukan segalanya.. tapi banyak “manfaat” yang bisa dilakukan dengan uang..

    Di bisnis MLM yang “sehat”.. seseorang yang bekerja lebih keras, akan mendapatkan hasil lebih daripada yg lain, bahkan bisa menyalip beberapa lapis uplinenya. setidaknya di MLM yang saya ikuti banyak sekali yang begini kasusnya.

    Kalau di Bisnis konvensional?? mana ada pegawai yg gajinya bisa lebih besar dari atasannya?? mau jungkir balik peras keringat bercucuran darah juga tetep aja yang punya modal n pemilik perusahaan yang akan menerima “hasil Besar”nya.. bukankah di bisnis kovensional pun karyawan bisa menjadi “Big Fish”?

    Anggota MLM itu layaknya “marketer” sebuah perusahaan.. jasa periklanannya.. hasil sesuai dengan kerjanya.. kalau di bisnis konvensional .. “uang besar” hanya akan masuk ke “periklanan” dan tabungan deposito pemilik saham.. terus “big Fish” nya cuma dapat makanan “teri” aja kan yaaa??? jadi kalau melihat masalah “keadilan” mana yang adil dan tidak???

    wassalaamu’alaikum

  • yudi

    yang saya ingin tanya apakah anda ustadz pernah mengerjakan MLM dan gagal? seperti anda ngajak orang untuk sedekah misalnya, klo anda belum pernah bersedekah ajakan anda kpd umat untuk bersedekah tidak akan bernilai karena anda sendiri pun tidak pernah sedekah , hanya TEORI ! (contoh)

    sama halnya dg yg anda tulis di atas, bgm anda bisa mnyimpulkan sedangkan anda saja tdk pernah terjun di bidang nya, hanya dpt ilmu dri baca buku dan menyimpulkan dg pikiran anda saja. syukur2 antum pernah mengerjakan MLM, jadi tidak hanya berteori. pesan saya hati2 dalam membuat artikel yg antum sendiri pun tidak ahli di bidang nya. silahkan antum jawab d email saya [email protected]

  • Erna Susiawati

    bagi yg menyalahkan pandangan ini dan lebih membela MLM mungkin belum tahu dasar hukum jual beli yakni kita membeli barang dan membawa ke tempat kita kemudian kita menjual kpd orang lain atas dasar suka dan ikhlas.
    yang jelas Nabi Muhammad SAW melarang terjadinya dua akad dalam jual beli, sedangkan di dlm MLM terjadi 2 akad tersebut.
    akad I: kita mendaftar sebagai anggota dan membeli barang dengan harga member
    akad II: kita mencari downline u/ dijadikan member MLM tsbt

    sekarang banyak sekali para muslimin-mah yg ikut2an MLM dan menjadi leader, bila didebat ttg MLMnya mereka mengaku telah berilmu ISLAM tingkat tinggi shingga mereka tahu bahwa MLM adalah halal dengan alasan bahwa Mashab yg dianutnya membolehkan MLM. Subhanallah… mashab yg ilmunya berkembang belakangan malah dijadikan tameng, sedangkan sabda Nabi Muhammad SAW yg paling awal datang malah tidak dihiraukan

    “Nabi Saw, telah melarang dua pembelian dalam
    satu pembelian.”*1)

    Dalam hal ini, asy-Syafi’i memberikan keterangan
    (syarh) terhadap maksud bay’atayn fi bay’ah (dua pembelian dalam satu
    pembelian), dengan menyatakan:

    Jika seseorang mengatakan: “Saya jual budak ini
    kepada anda dengan harga 1000, dengan catatan anda menjual rumah anda kepada
    saya dengan harga segini. Artinya, jika anda menetapkan milik anda menjadi
    milik saya, sayapun menetapkan milik saya menjadi milik anda.”*2)

    Dalam konteks ini, maksud dari bay’atayn fi
    bay’ah adalah melakukan dua akad dalam satu transaksi, akad yang pertama adalah
    akad jual beli budak, sedangkan yang kedua adalah akad jual-beli rumah. Namun,
    masing-masing dinyatakan sebagai ketentuan yang mengikat satu sama lain,
    sehingga terjadilah dua transaksi tersebut include dalam satu aqad.

    selain itu lihatlah acara2 apresiasi trhadap para leader yg diselenggarakan spt jalan2 keluar negeri dengan penyelenggaraan yg sangah meriah,menginap di hotel paling mahal sedunia, kemudian disuguhi tarian khas negeri tersebut yakni tarian perut Subhanallah..hal2 seperti ini jugalah yg akhirnya disajikan.
    padahal dalam islam tidak menyaukai hal2 yg berlebihan/hura2.

    -awalnya ikutan bisnisnya yg sdh tahu hukumnya haram tp membuat kalimat2 sendiri supaya keharaman tsbt tersamarkan dan tersembunyi- akhirnya dimaklumi.
    -kemudian mengejar bonus2 yg bertebaran sepanjang tahun dg syarat pmbelian yg ditentukan padahal ga perlu2 amat- akhirnya dimaklumi
    -akhirnya dihadiahi jalan2 keluar negeri dan menghadiri pesta apresiasi dengan hura lalu diberi suguhan tari perut- akhirnya ya dimaklumi

    mau gimana lagi lha wong awalnya sudah dimaklumi, buntut2nya semua event yg diikuti ya dimaklumi ajah ato dianggap sah.

    pengalaman pribadi nyebur 6bln,wkt tahu dasar hukum jual beli dan yg bersabda adalah Nabi Muhammad SAW langsung kabuuuurrrrr tanpa basa-basi. daripada dosanya keburu BASI!!!!!!!!!!!!!!!

    • Rini Utami

      terima kasih ukhti utk penjelasannya. hampir tergoda ingin ikutan krn iming2 bergaji walau dari rumah. terima kasih sangat ukhti.

      • Erna Susiawati

        Mb.Rini, bersyukur anda belum nyebur. krn saya sdh pernah basah.
        seiring majunya teknologi justru kita harus lebih berhati2 dalam melangkah agar tdk tersesat.

    • puteri sheima

      mohon maaf Mbak Erna, saya msh byk kekurangan ilmu hukum islam, sumbernya darimana bhw, Nabi Muhammad SAW melarang terjadinya dua akad dalam jual beli ? jg apa keburukan/kerugian yg timbul akibat terjadinya 2 akad dlm jual beli ? krn setahu saya apapun yg dilarang/diharamkan Nabi Muhammad SAW, pasti berdampak negatif / kerugian buat kita!!!

    • hendra

      segala sesuatu yang dikerjakan beramai-ramai itu hasilnya akan lebih baik, dalam bisnis jaringan yang sehat, yang ada produk untuk dijual, lalu mengajarkan kepada member baru cara berjualan yang sehat… menurut saya tidak salah. saya bukan anggota MLM mbak, namun akad di MLM menurut saya cuma satu, yang mbak maksud akad I lebih tepat distributor membeli kepada penyedia barang/produksi barang tanpa ada jalur transport/akomodasi.. sah-sah saja distributor menjual secara retail/eceran/paketan dengan mengambil untung yang tidak melewati batas(harga wajar)… oya tambahan network/jaringan… sudah dicontohkan Rosul lewat ibadah SHOLAT… beda sholat sendirian dengan berjamaah, pahalanya juga beda, dagang sendirian dgn network tentu beda pula hasilnya

      • hendra

        tambahan, namun kebanyakan bisnis jaringan salah… tidak ada produk, tidak sehat cara berjualannya (ngerti aja lah triknya).. system bagi hasil antara perusahaan penyedia barang dengan distributor tidak adil, dan bla bla… kasian yang ikut korban MLM yang salah…

  • puteri sheima

    Kalau di Perusahaan MLM yang ssesungguhnya,walaupun Anda bergabung belakangan, Anda bisa punya kesempatan untuk mendapatkan penghasilan yang jauh lebih besar daripada orang-orang di atas Anda yang sudah bergabung lebih dahulu. Betul sekali Ustadz, hal itu yg ada hanya di PT VSI milik ustadz yusuf mansur. maaf bkn promosikan krn kita bisa menggunakan nalar menilai cara Bisnis di Veritra Sentosa Internasional.