Home / Dasar-Dasar Islam / Al-Quran / Tafsir Ayat / Melepas Belenggu Taklid dan Fanatisme

Melepas Belenggu Taklid dan Fanatisme

Rantai - Belenggu (HaTphotography '09)dakwatuna.com“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Qur’an itu adalah benar”. (Fusshilat: 53)

Dr. Muhammad Abdullah As-Syarqawi mengomentari ayat di atas dengan mengatakan bahwa sesungguhnya Allah Yang Maha Suci dan Maha Tinggi, di dalam Al-Qur’an telah mendorong akal manusia agar senantiasa memperhatikan, berpikir, serta merenung agar akal dan kalbunya merasa puas terhadap aspek ketuhanan, risalah dan kebangkitan.

Sungguh anugerah terbesar Allah kepada umat manusia adalah akal. Jika potensi ini tidak difungsikan atau difungsikan tidak maksimal, maka akan melahirkan sikap jumud yang membawa kepada taklid dan fanatisme buta. Justru Islam datang membawa prinsip keseimbangan (washathiyyah) setelah ideologi sebelumnya sangat kental dengan jumud dan fanatisme. “Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang wasath (adil, pilihan, seimbang)”. (Al-Baqarah: 143)

Tindakan mengabaikan anugerah akal bisa menjerumuskan seseorang ke dalam siksa Allah seperti yang disaksikan sendiri oleh para penghuni neraka ketika mereka menyesali sikapnya dengan mengatakan, “Sekiranya kami mau mendengarkan atau menggunakan akal pikiran, niscaya kami tidak termasuk penghuni neraka yang menyala-nyala.” (Al-Mulk: 10)

Untuk keluar dari jebakan taklid buta, umat Islam dituntut untuk berani melakukan “ijtihad” sebagai salah satu pilar tegaknya syariat dalam kehidupan manusia. Ketertinggalan umat Islam dari hakikat agama dan persoalan dunia, tiada lain karena ketertutupan akal mereka yang hanya cukup dengan apa yang mereka terima secara turun temurun (taklid buta). “Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah”, mereka menjawab, “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari nenek moyang kami, walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun dan tidak mendapat petunjuk”. (Al-Baqarah: 170)

Di dalam ayat lain, Allah mencela sikap taklid buta dengan menjelaskan keterlibatan syaitan yang membelenggu manusia untuk tetap bersikap jumud dan mengedepankan fanatisme. ““Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah”, mereka menjawab, “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya”. Apakah mereka (akan mengikuti bapak-bapak mereka) walaupun syaitan itu menyeru mereka ke dalam siksa apai yang menyala-nyala”. (Luqman: 21)

Dr. Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buthi mengingatkan bahwa jati diri umat Islam sekarang ini telah hilang; ciri-ciri peradabannya telah cerai berai dan terlupakan. Saat ini  umat Islam hidup di bawah kekuasaan peradaban asing dengan segala aspek negatif dan penyimpangannya. Bahkan, justru kita menemukan bahwa ketundukan umat Islam terhadap kekuasaan peradaban asing adalah lebih besar daripada ketundukan orang-orang Barat sendiri selaku pemilik sekaligus pewaris peradaban tersebut. Ini berarti, bangunan masyarakat Islam saat ini telah miring, pilar-pilarnya telah condong ke bawah dan tidak mampu lagi berdiri tegak. Dalam kondisi labil seperti ini, umat Islam dituntut untuk melepaskan belenggu taklid buta dan sikap ikut-ikutan.

Dengan ijtihad, Allah hendak memberikan karunia kepada hamba-Nya, agar aktifitas ibadah yang mereka lakukan didasarkan kepada pemahaman (ijtihad), sebagaimana Allah mewajibkan jihad agar para hambanya yang shalih menjadi para syuhada. Apabila keutamaan mujahid adalah karena darah yang tercurah di medan perang, maka keutamaan para mujtahid adalah karena mereka mengerahkan segenap kesungguhan di dalam menggali hukum dalam rangka meninggikan kalimatullah.

Di sini, Allah telah mewajibkan kepada hamba-Nya untuk berijtihad (dalam pengertian secara bahasa yakni bersungguh-sungguh) dan menguji ketaatan mereka di dalam lingkup persoalan ijtihad, sebagaimana ketaatan mereka diuji dalam persoalan-persoalan lainnya. Allah berfirman, “Dan sesungguhnya Kami benar-benar akam menguji kamu agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar diantara kamu; dan agar Kami menyatakan (baik buruknya) hal ihwalmu”. (Muhammad: 31)

Dalam pandangan Dr. Wahbah Zuhaili, ijtihadlah yang akan menghidupkan kembali syariat di atas muka bumi Allah ini. Syariat tidak akan bisa bertahan selama aktifitas ijtihad tidak hidup, tidak memiliki daya kerja dan daya gerak. Sebab berbagai faktor pertumbuhan dan perkembangan kehidupan serta pentingnya penyebaran syariat Islam ke seluruh pelosok dunia meniscayakan kebutuhan akan ijtihad, terutama di masa kita sekarang ini, masa yang serba instan, komplek, serta penuh dengan tantangan peristiwa dan permasalahan baru. Sehingga tanpa ijtihad dan melepaskan belenggu taklid buta, syariat Islam akan kehilangan relevansinya di setiap zaman dan tempat. Ia akan membuat manusia merasa sempit dengan kehadirannya dan akan menimbulkan kekeliruan di dalam memandang agamanya. Padahal ijtihad merupakan salah satu karakteristik syariat Islam yang tidak akan tertutup pintunya sampai hari kiamat. Di sinilah bukti rahmat Islam yang akan membebaskan umatnya dari kesempitan. Allah menegaskan, “Dia tidak menjadikan di dalam agama ini suatu kesempitan bagi kalian”.(Al-Hajj: 78)

Mencermati realitas umat Islam dewasa ini yang semakin terpuruk dan tertinggal, maka karya nyata, kreativitas, ijtihad yang segar sangat ditunggu-tunggu untuk mengembalikan umat kepada kejayaannya yang gilang-gemilang dengan tetap komitmen dengan ajaran Islam yang komprehensif. Wallahu A’lam

About these ads

Redaktur: Samin Barkah, Lc., ME

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (30 votes, average: 7,87 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Dr. Attabiq Luthfi, MA
Pria kelahiran Cirebon ini berlatar belakang pendidikan dari Pondok Modern Gontor, Jawa Timur. Setelah itu melanjutkan pendidikan ke S1 di Islamic University, Madinah KSA, S2 di Universitas Kebangsaan Malaysia, dan S3 di universitas yang sama. Saat ini bekerja sebagai dosen di Pasca Sarjana STAIN Cirebon, UIJ, SEBI, dan Ma'had Nuaimy.Aktif di Sie Rohani Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) UKM Malaysia. Amanah yang diemban saat ini adalah sebagai Ketua Forum Komunikasi Masyarakat Muslim Indonesia (FORKOMMI) di Malaysia, dan sebagai ketua Ikatan Da'i Indonesia (IKADI) DKI Jakarta. Produktif dalam menghasilkan beberapa karya, di antaranya Al Qur'an Edisi Do'a, buku Studi Tafsir Al-Munir Karya Imam Nawawi Banten, dan buku Puncak Keberkatan Rizki Tersekat (Edisi Malaysia). Selain itu juga aktif sebagai kontributor tetap pada Kolom Tafsir di Majalah Al-Iman (bil Ghoib), dan sebagai kontributor tetap pada rubrik Tarbiyah di Majalah Tatsqif. Moto hidupnya adalah "Terus belajar, bekerja, dan berjuang untuk ummat".
  • Pingback: Melepas Belenggu Taklid dan Fanatisme « Tridaya Mufakat Adil & Amanah()

  • setuju…Agama bukan jadi masalah…kok…mengasah otak dan keyakinan seperti aturan main cahaya dan mata, ilmu dan iman demi mencapai kesadaran yang sebenarnya…

  • Taklid memang diharamkan dalam Islam karena menjerumuskan ke dalam kesesatan. Orang Islam diwajibkan mempelajari segala sesuatu yang berkenaan dengan Islam, sehingga ia mengerti apa yang ia kerjakan dan sesuai dengan pedoman yang telah ditetapkan Allah dan Rasul SAW.

  • Zulfy eL Hanief

    ya ana setuju.jangan cuma membid’ah bid’ahkan saja.pelajari ilmunya dulu,lihat fiqihnya,lihat kondisinya,tanya pada ahlinya.jangan cuma taklid ke ustadznya

  • rido kurnianto

    Saya sangat setuju dengan penguatan masalah ijtihad di kalangan Muslim agar mampu ber-Islam dengan “kaffah” dan mengakar. Selanjutnya saya sangat berharap pesan ini ada gayung bersambut di kalangan para tokoh/pelopor agama di daerah-daerah, terutama daerah basis Muslim “awwam”. Gerakan dakwah yang selama ini dijalankan dengan hanya “dari atas ke bawah” (kiai/ustadz/guru) menjadi/sengaja menjadikan diri sebagai “kitab suci”, dirubah dengan pendekatan “berbagi” (berbagi ilmu, pengalaman, metode pemahaman agama, dan seterusnya) yang lebih mengarahkan aktifitas dakwah ke arah kualitas keberagamaan jama’ah, sehingga lambat laun jama’ah akan memiliki wawasan ke-Islaman yang semakin baik, hingga pada gilirannya mampu berijtihad atau paling tidak memahami dengan baik “keberagamaan (ke-Islaman) yang tengah dijalani/diamalkan. Saya yakin, ketika upaya kualitatif ini terus mengalir di tengah-tengah jama’ah Muslim di daerah-daerah, taklid buta akan berangsur hilang dengan sendirinya.

  • Jalan Tengah berarti berada antara ghuluw (berlebihan) dan taghsir (sembrono), antara ifrath (melampaui batas) dan tafrit (teledor),antara inqibath (eksklusi) dan inbisath (inklusif… Memadukan raja’ dan khauf, memadukan tawakkal dan ikhtiar, memadukan dunia dan akherat…Akan muncullah Umat yang toleran dan moderat, bagai wajah yang sejuk dipandang, yang murah senyum, penuh kasih sayang… yang Rahmatan lil ‘Alamin.. Seperti wajah umat ketika pertama dibawa oleh al Musthafa…. amiiin

  • Diky

    Saya setuju dengan tulisan diatas, bahwa ummat Islam jangan berfikiran jumud, taqlid dan menyandarkan keyakinan serta hujjah-nya hanya pada statement 1 atau 2 orang saja, tidak ada cek dan ricek (tabayun), apalagi berlandaskan pada dzon, sehingga kita tidak mengenal lagi apa itu tsiqah, meninggalkan shilaturrahim dan bergumul dengan idealisme, serta menjauhi realita. Semoga tulisan ini bisa menggugah paradigma kita.

  • Beni DA Subang JABAR

    Saya Sangat Setuju !!!!!!
    Bgaimana Solusi dari kebanyakan Masyarakat yang Masih JUMUD dan Lsnya…..apa yang paling tidak BERESIKO “BERAT” .

  • endro gunawan

    oke banget, kemunduran umat Islam karena taklid, dengan dalil pokoke yang dibawa oleh nenek moyang atau orang pintar akan menambah kebodohan berfikir.

  • konita

    taklid & jumud itu apa ya? terus kenapa di Al-Quran banyak disebutkan kata “kami” bukankah Allah itu Esa..??

  • Bismillah, Khusus di negeri kita, lebih khusus lagi di jama’ah tarbiyah kita, salah satu faktor lambatnya proses melahirkan para mujtahid ini adalah masalah “Tradisi Keilmuan” yang belum kuat. Hal ini terkait dengan karya, bukan sekedar belajar. Mengingat jumlah ustadz berpendidikan tinggi ini [konon] cukup banyak, ternyata karya ilmiah yang dihasilkan para ustadz ini tidak sebanyak orangnya. Maksud saya bukan sekedar taushiyah tapi penelitian yang menghasilkan karya ilmiah.

  • Mudah2an sayanya aja yg kurang informasi. Tapi di kalangan kader bawah kayaknya belum banyak beredar karya ustadz kita yang berbentuk kajian dan jurnal ilmiah. Jika kegiatan tulis menulis di kalangan atas tidak seproduktif itu, mungkin makin ke bawah akan makin sepi. Atau justru yang bawah yang produktif tapi kurang bisa dipertanggung jawabkan.
    Mudah2an jika semangat ini sudah bisa diatasi, meminimalisir konsep Taqlid Buta menuju pada tataran praktek dan bukan sekedar teori.
    Wallahu a’lam

  • Yongki Gaul

    kira2 Fans PKS pada baca ini gak ya? ngakakkkkkkkkkkk

  • cieee tumben dakwatuna postinganya takut disikat kominfo yak :D

Lihat Juga

Pergerakan Sejarah dalam Studi Islam