Home / Berita / Pendapat Ulama Soal Dakwah Lewat Parlemen

Pendapat Ulama Soal Dakwah Lewat Parlemen

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

Mimbar Parlemen
Dakwah Lewat Parlemen (foto okezone)

dakwatuna.comSudah saatnya umat Islam di Indonesia sekarang ini menyatukan shaff dan fokus pada pemenangan pemilu legislatif, April 2009. Dengan aktif menggunakan hak suaranya secara cerdas dan bertanggungjawab. Dan tidak lagi disibukkan dengan adanya pro-kontra dakwah lewat parlemen, sistem demokrasi, dan sejenisnya. Karena para ulama internasional yang diakui oleh berbagai pihak telah menyetujui dakwah lewat parlemen ini.

Berikut kami uraikan pendapat para ulama tersebut:

Pendapat Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz

Majalah Al-Ishlah pernah bertanya kepada Syeikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, yang pernah menjadi Mufti Kerajaan Saudi Arabia tentang hukum masuknya para ulama dan duat ke DPR, parlemen serta ikut dalam pemilu pada sebuah negara yang tidak menjalankan syariat Islam. Bagaimana aturannya?

Syaikh Bin Baz menjawab:

“Masuknya mereka berbahaya, yaitu masuk ke parlemen, DPR atau sejenisnya. Masuk ke dalam lembaga seperti itu berbahaya, namun bila seseorang punya ilmu dan bashirah serta menginginkan kebenaran atau mengarahkan manusia kepada kebaikan, mengurangi kebatilan, tanpa rasa tamak pada dunia dan harta, maka dia telah masuk untuk membela agama Allah swt. berjihad di jalan kebenaran dan meninggalkan kebatilan. Dengan niat yang baik seperti ini, saya memandang bahwa tidak ada masalah untuk masuk parlemen. Bahkan tidak selayaknya lembaga itu kosong dari kebaikan dan pendukungnya.”

Beliau melanjutkan:

Namun bila motivasinya untuk mendapatkan dunia atau haus kekuasaan, maka hal itu tidak diperbolehkan. Seharusnya masuknya untuk mencari ridha Allah, akhirat, membela kebenaran dan menegakkannya dengan argumen-argumennya, niscaya majelis itu memberinya ganjaran yang besar.”

Pendapat Syaikh Al Utsaimin

Pada bulan Zul-Hijjah 1411 H. bertepatan dengan bulan Mei 1996 Majalah Al-Furqan melakukan wawancara dengan Syaikh Utsaimin. Majalah Al-Furqan: Apa hukum masuk ke dalam parlemen?

Syaikh Al-‘Utsaimin menjawab:

“Saya memandang bahwa masuk ke dalam majelis perwakilan (DPR) itu boleh. Bila seseorang bertujuan untuk mashlahat, baik mencegah kejahatan atau memasukkan kebaikan. Sebab semakin banyak orang-orang shalih di dalam lembaga ini, maka akan menjadi lebih dekat kepada keselamatan dan semakin jauh dari bala’.

Sedangkan masalah sumpah untuk menghormati undang-undang, maka hendaknya dia bersumpah untuk menghormati undang-undang selama tidak bertentangan dengan syariat. Dan semua amal itu tergantung pada niatnya di mana setiap orang akan mendapat sesuai yang diniatkannya.

Namun, tindakan meninggalkan majelis ini sehingga diisi oleh orang-orang bodoh, fasik dan sekuler adalah merupakan perbuatan ghalat (rancu) yang tidak menyelesaikan masalah. Demi Allah, seandainya ada kebaikan untuk meninggalkan majelis ini, pastilah kami akan katakan wajib menjauhinya dan tidak memasukinya. Namun keadaannya adalah sebaliknya. Mungkin saja Allah swt. menjadikan kebaikan yang besar di hadapan seorang anggota parlemen. Dan dia barangkali memang benar-benar menguasai masalah, memahami kondisi masyarakat, hasil-hasil kerjanya, bahkan mungkin dia punya kemampuan yang baik dalam berargumentasi, berdiplomasi dan persuasi, hingga membuat anggota parlemen lainnya tidak berkutik. Dan menghasilkan kebaikan yang banyak.” (lihat majalah Al-Furqan – Kuwait hal. 18-19)

Pendapat Imam Al-‘Izz Ibnu Abdis Salam

Dalam kitab Qawa’idul Ahkam karya Al-‘Izz bin Abdus Salam tercantum:

“Bila orang kafir berkuasa pada sebuah wilayah yang luas, lalu mereka menyerahkan masalah hukum kepada orang yang mendahulukan kemaslahatan umat Islam secara umum, maka yang benar adalah merealisasikan hal tersebut. Hal ini mendapatkan kemaslahatan umum dan menolak mafsadah. Karena menunda masalahat umum dan menanggung mafsadat bukanlah hal yang layak dalam paradigma syariah yang bersifat kasih. Hanya lantaran tidak terdapatnya orang yang sempurna untuk memangku jabatan tersebut hingga ada orang yang memang memenuhi syarat.”

Pendapat Ibnu Qayyim Al-Jauziyah

Ibnul Qayyim Al-Jauziyah (691- 751 H) dalam kitabnya At-Turuq al-Hukmiyah menulis:

Masalah ini cukup pelik dan rawan, juga sempit dan sulit. terkadang sekelompok orang melampoi batas, meng hilangkan hak-hak, dan mendorong berlaku kejahatan, kerusakan serta menjadikasn syariat itu sempit sehingga tidak mampu memberikan jawaban kepada pemeluknya. Serta menghalangi diri mereka dari jalan yang benar, yaitu jalan untuk mengetahui kebenaran dan menerapkannya. Sehingga mereka menolak hal tersebut, pada hal mereka dan yang lainnya tahu secara pasti bahwa hal itu adalah hal yang wajib diterapkan namun mereka menyangkal bahwa hal itu bertentangan dengan qowaid syariah.

Mereka mengatakan bahwa hal itu tidak sesuai yang dibawa Rasulullah. Yang menjadikan mereka berpikir seperti itu adalah kurangnya memahami syariah dan pengenalan kondisi lapangan atau keduanya, sehingga begitu mereka melihat hal tersebut dan melihat orang-orang melakukan hal yang tidak sesuai yang dipahaminya, mereka melakukan kejahatan yang panjang, kerusakan yang besar, maka permasalahannya jadi terbalik.

Di sisi lain ada kelompok yang berlawanan pendapatnya dan menafikan hukum Allah dan Rasul-Nya. Kedua kelompok di atas sama-sama kurang memahami risalah yang dibawa Rasulullah saw. padahal Allah swt. telah mengutus Rasul-Nya dan menurunkan kitab-Nya agar manusia menjalankan keadilan, yang dengan keadilan itu bumi dan langit ini di tegakkan. Bila ciri-ciri keadilan itu mulai nampak dan wajahnya tampil dengan beragam cara, maka itulah syariat Allah dan agama-Nya. Allah swt.  Maha Tahu dan Maha Hakim untuk memilih jalan menuju keadilan dan memberinya ciri dan tanda. Apapun jalan yang bisa membawa tegaknya keadilan maka itu adalah bagian dari agama, dan tidak bertentangan dengan agama.

“Maka tidak boleh dikatakan bahwa politik yang adil itu berbeda dengan syariat, tetapi sebaliknya justru sesuai dengan syariat, bahkan bagian dari syariat itu sendiri. Kami menamakannya sebagai politik sekedar mengikuti istilah yang Anda buat, tetapi pada hakikatnya merupakan keadilan Allah dan Rasul-Nya.”

Dan tidak ada keraguan, bahwa siapa yang menjabat sebuah kekuasaan maka ia harus menegakkan keadilan yang sesuai dengan syariat. Dan berlaku ihsan, bekerja untuk kepentingan syariat meskipun di bawah pemerintahan kafir.

Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan

Syekh Shaleh Al-Fauzan ditanya tentang hukum memasuki parlemen. Syekh Fauzan balik bertanya, “Apa itu parlemen?” Salah seorang peserta menjawab “Dewan legislatif atau yang lainnya” Syekh, “Masuk untuk berdakwah di dalamnya?” Salah seorang peserta menjawab, “Ikut berperan serta di dalamnya” Syekh, “Maksudnya menjadi anggota di dalamnya?” Peserta, “Iya.”

Syeikh menerangkan:Apakah dengan keanggotaan di dalamnya akan menghasilkan kemaslahatan bagi kaum muslimin? Jika memang ada kemaslahatan yang dihasilkan bagi kaum muslimin dan memiliki tujuan untuk memperbaiki parlemen ini agar berubah kepada Islam, maka ini adalah suatu yang baik, atau paling tidak bertujuan untuk mengurangi kejahatan terhadap kaum muslimin dan menghasilkan sebagian kemaslahatan, jika tidak memungkinkan kemaslahatan seluruhnya meskipun hanya sedikit.” Allahu a’lam (wi)

Redaktur: Ulis Tofa, Lc

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (26 votes, average: 8,50 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Ulis Tofa, Lc
Lahir di kota Kudus, Jawa Tengah, pada tanggal 05 April 1975. Menyelesaikan jenjang pendidikan Tsanawiyah dan Aliyah di Maahid Krapyak Kudus. Tahun 1994 melanjutkan kuliah di LIPIA Jakarta. Program Persiapan Bahasa Arab dan Pra Universitas. Tahun 2002 menyelesaikan program Sarjana LIPIA di bidang Syariah. Semasa di bangku sekolah menengah, sudah aktif di organisasi IRM, ketika di kampus aktif di Lembaga Dakwah Kampus LIPIA, terakhir diamanahi sebagai Sekretaris Umum LDK LIPIA tahun 2002. Menjadi salah satu Pendiri Lembaga Kajian Dakwatuna, lembaga ini yang membidangi lahirnya situs www.dakwatuna.com , sampai sekarang aktif sebagai pengelola situs dakwah ini. Sebagai Dewan Syariah Unit Pengelola Zakat Yayasan Inti Sejahtera (YIS) Jakarta, dan Konsultan Program Beasiswa Terpadu YIS. Merintis dakwah perkantoran di Elnusa di bawah Yayasan Baitul Hikmah Elnusa semenjak tahun 2000, dan sekarang sebagai tenaga ahli, terutama di bidang Pendidikan dan Dakwah. Aktif sebagai pembicara dan nara sumber di kampus, masjid perkantoran, dan umum. Berbagai pengalaman kegiatan internasional yang pernah diikuti: Peserta Pelatihan Life Skill dan Pengembangan Diri se-Asia dengan Trainer Dr. Ali Al-Hammadi, Direktur Creative Centre di Kawasan Timur Tengah, pada bulan Maret 2008. Peserta dalam kegiatan Muktamar Internasional untuk Kemanusian di Jakarta, bulan Oktober 2008. Sebagai Interpreter dalam acara The Meeting of Secretary General of International Humanitarian Conference on Assistanship for Victims of Occupation bulan April 2009. Peserta Training Asia Pasifik Curriculum Development Training di Bandung pada bulan Agustus 2009. Peserta TFT Nasional tentang Problematika Palestina di UI Depok, Juni 2010 dll. Karya-karya ilmiyah yang pernah ditulis: Fiqh Dakwah Aktifis Muslimah (terjemahan), Robbani Press Menjadi Alumni Universitas Ramadhan Yang Sukses (kumpulan artikel di situs www.dakwatuna.com), Maktaba Dakwatuna Buku Pintar Ramadhan (Kumpulan tulisan para asatidz), Maktaba Dakwatuna Artikel-artikel khusus yang siap diterbitkan, dll. Sudah berkeluarga dengan satu istri dan empat anak; Aufa Taqi Abdillah, Kayla Qisthi Adila, Hayya Nahwa Falihah dan Muhammad Ghaza Bassama. Bermanfaat bagi Sesama adalah motto hidupnya. Contak person via e-mail: ulistofa-at-gmail.com atau sms 021-92933141.
  • dini

    Selamat berjuang, rapatkan barisan. Walau musuh selalu siap menghadang. Pantang surut kebelakang. Kalau bisa maju ke depan kenapa harus mundur ke belakang. Kalau bisa ke surga (dgn jihad ini) kenapa harus ke neraka. Allah selalu bersama kita.
    ALLAHU AKBAR 3x.

  • Paijo

    Ya mbok yao fatwa-fatwa itu dilihat secara utuh tuh tuh dan tidak dipotong-potong gitu to mas. Lihat konteksnya apa dan lain-lain.
    LAGI PULA PANJENENGAN-PANJENENGAN ITU KAN TIDAK PERNAH SUKA DAN MAU MENGUTIP PENDAPAT-PENDAPAT MEREKA INI. KOK SEMPAT-SEMPATNYA MENGUTIP MEREKA… OH IYA INI KAN MENGUNTUNGKAN …. HE HE HE HE ….
    Wah Mbok ngikuti kaidah-kaidah ilmiah to massss. Baca juga pandangan para ulama itu secara keseluruhan, buku-buku mereka semuanya, manhaj mereka seutuhnya. JANGAN MEMBOHONGI UMAT…..BAHAYA LO!!!! EH … Allah maha mendengar dan maha melihat.

    • zira

      ente punya pendapat lengkapnya ? jujur, ane pingin tau dong, share lah kalo ada……
      ingat, fatwanya yang ada kata2 yang seperti di atas, bukan tentang yang lain.

  • hendri dunan

    Saudaraku…saat ini kita dihadapkan dengan musuh yang bersembunyi lewat hukum,tiada lagi jalan yang harus kita tempuh kecuali menggenggam hukum tersebut dan menggantinya dengan hukum Allah.Parlemen adalah satu-satunya jalan bagi kita untuk menggenggam hukum dan menggantinya dengan hukum Allah.Satukan tekad eratkan ukhuwah! Pilih partai yang membela kebenaran dan kejujuran..Allahu Akbar 3x…

  • Umi Wilfa & Nazih

    Dg membaca artikel tsb bs menambah kemantapan qt tuk berperan serta dlm pemilu tahun ini dg memilih wakil legislatif yg benar2 mempunyai kapasitas dan kapabilitas serta concern dlm hal tegaknya syari’at islam dimanapun berada.
    Namun yg msh mjd pertanyaan dan keraguan sampai hr ini adl bagaimana hukumnya wanita yg masuk parlemen? mohon jk ada artikel yg membahas khusus masalah tsb, kami sangat menunggu.

  • Parlemen kita diisi oleh mayoritas umat Islam tetapi keputusan yang diambil berdasarkan kepentingan umum, bukan hanya mementingkan umat Islam. Ini sudah berlangsung sepanjang tahun, malah jika ada yang menuju kepada kepentingan Islam malah banyak yang tidak setuju karena Indonesia bukan negara Islam.
    Jadi sulit rasanya memdakwah lewat parlemen kita ini.

  • Arif

    Alhamdulillah, artikel ini menarik untuk teman-teman HTI, salafy.

    • umbara

      apa menariknya bagi temen2 HTI. toh pendapat mereka sudah final bahwa parlemen yang ada sekarang haram untuk terlibat didalamnya….
       

  • abinaufal

    Pemilu tgl menghitung jam, banyak kaum muslimin dibuat gamang krn ada perbedaan pandangan kalangan ulama. Saya melihat, orang yang menbid’ahkan
    pemilu, namun membiarkan umat menerima sistem demokrasi sekaligus menyuruhnya golput, sama saja dengan mengebiri sekaligus merantai umat Islam itu sendiri. Sama saja dengan menyuruh kita menyerahkan pada musuh…wallahu alam

  • sarymah

    selamat mengundi kepada semua ikhwan Indonesia…luruskan visi & misi para mujahidin sekalian.
    Pasti Ke Syurga,insyaAllah…

  • Zulfy eL Hanief

    ya betul.maka dari itu,jangan mengatakan bahwa dakwah diparlemen itu bid’ah yach.

  • aisyah

    Hasil pemilu sudah dapat diprediksi, siapapun pemegang amanah negara ini, yakinlah bahwa itu yang terbaik untuk kita semua…

  • qieyyah

    sepakat banget dan qt berharap semua bisa jadi islami denga perlahan paling tidak sudah qt mulai

  • arys

    sudah saatnya kita umat islam bersatu, tdk perlu lht warna bendera atau pun warna baju cukup satu bendera yakni bendera islam.Allah Huakbar…

  • evim

    kurang banyak fatwanya….
    masa kurang dari 10…
    tambah ya tadz, biar kami semakin tentram…
    jazakalloh

  • aris

    wahai saudaraku semuanya, bacalah dengan teliti dan cermatilah pendapat ulama tersebut, setelah itu timbanglah dengan realita yang ada.

  • F.A.Asyar

    Dakwah lewat DPR menurut saya sah2 saja,sepanjang demi membela kepentingan umat islam.Ulama masuk DPR,jels harus,agar DPR menjadi rumah harapan umat islam,agar DPR tdk hanya di penuhi oleh orang2 sekuler(yg menganut paham nasionalise sesat),yg biasanya mereka tdk memihak kepda umat islam.Sebagian besar masyarakat islam indonesia ,menurut saya ingin agar wakilnya nanti sseorang ulama yg militan.Namun jarang sekali partai islam saat ini yg memasang ulama sbg calegnya,terlebih lagi banyak kader2 partai2 islam(entah ulama atau bukan)yg terkena kasus2 di DPR dan pemerintahan sana.Maka tak mengherankan lagi kalau sebagian partai2 islam suaranya merosot drastis di 2009 ini.Berbenah dirilah hai partai yg mengaku partai islm.Buang semua perbedaan di antara kita ,mari kita bersatu agar semakin solid.Citrakanlah bahwa partai islam adalah partai yg bersih.Jgn biarkan musuh allah mengacak-acak persatuan kita.Maju terus utk Dakwatuna!!

  • ya ane mah ikut aj deh…

  • saripin

    sukseskanlah demokrasi ini krn jk tidak mk semua kursi parlemen eken diisi oleh orang2 tidak amanah terhadap islam.allahu akbar…..!!!

  • sakuraendora

    Assalamualaikum ….Semangat untuk perubahan yang baru ….jangn pernah ada kecurangan lagi…Indonesia milik kita semua…Wassalamualaium

  • Assalamu ‘alaikum wr wb

    Semoga bapak-bapak yang diparlemen mempunyai niat yang kuat serta tekad untuk menegakakn Agama Alloh di parlemen ( DPR ) sehingga membawa negeri dengan mayoritas muslim ini bisa mendatangkan Rohmatan lil ‘alamin.semoga Alloh SWT selalu memberi kekuatan kepada kita Amien

    Wassalamu ‘alaikum wr wb

  • eni

    assalamu’alaikum
    afwan ustadz saya mau donk referensinya biar lebih faham dan yakin kalau ada yg nanya..dan biar hati ini lebih tenang..
    syukron..

  • Saya mencium aroma tidak sedap dari orang-orang yang menukilkan fatwa dan keterangan dari ulama` Ahlussunnah untuk mendukung kepentingan pribadi mereka dan aroma politis yang amat kuat. Salah satu ciri dari ahlul bathil-yang sebenarnya mereka adalah penentang dakwah sunnah-yang telah diterangkan oleh banyak ulama` Ahlussunnah adalah mereka berhujjah dengan keterangan dari ulama` Ahlussunnah yang nampaknya mendukung usaha mereka.

    Dalam hal ini, mereka memilih fatwa dari Syaikh Abdul Aziz bin Abdulloh bin Baz, Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-Utsaimin dan lainnya-sebagaimana yang tercantum dalam artikel tersebut yang kelihatannya mendukung usaha politik mereka. Padahal jarang sekali mereka menggunakan fatwa kibarul ulama` Ahlussunnah sebelumnya. 

    Mengapa? Wallohua’lam karena saya melihat bahwasanya yang paling keras penentangannya kepada mereka tidak lain hanyalah Ahlussunnah. Mereka mungkin merasa bahwa generasi Ahlussunnah adalah orang-orang yang paling menghambat mereka untuk mendapatkan kursi kepemimpinan di parlemen. Karena Ahlussunnah senantiasa menjelaskan kesalahan-kesalahan metode dakwah mereka yang telah melenceng dari metode dakwah Rosululloh. Seandainya mereka telah berhasil membujuk rayu generasi Ahlussunnah, maka mereka sudah dapat memperkirakan berapa banyaknya suara yang akan mereka peroleh. Karena mereka juga tahu bahwasanya orang-orang Ahlussunnah adalah orang yang paling anti dan yang paling kuat penentangannya terhadap sistem kufur demokrasi, sehingga mereka dengan sekuat tenaga berusaha menghindarkan diri dari sistem ini serta wasilah-wasilah yang dapat mengantarkan kepada demokrasi. Hal ini juga terlihat dari tanggal dipublikasikannya artikel ini, yakni artikel ini dipublikasikan sebelum pelaksanaan Pemilihan Umum 2009, tepatnya pada tanggal 06 April 2009/11 Rabbi’ al-Tsanni 1430 H, yakni tiga hari menjelang pemilihan umum. Namun, yang patut disayangkan adalah mengapa mereka mengeluarkan statement sebagai berikut, “Sudah saatnya umat Islam di Indonesia sekarang ini menyatukan shaff dan fokus pada pemenangan pemilu legislatif, April 2009. Dengan aktif menggunakan hak suaranya secara cerdas dan bertanggung jawab. Dan tidak lagi disibukkan dengan adanya pro-kontra dakwah lewat parlemen, sistem demokrasi, dan sejenisnya. Karena para ulama internasional yang diakui oleh berbagai pihak telah menyetujui dakwah lewat parlemen ini.”

    Bukankah dari keterangan ini tercium dengan sangat menyengat aroma politis di dalamnya? Dakwah mengajak kepada partai nampak dari kalimat ini “Sudah saatnya umat Islam di Indonesia sekarang ini menyatukan shaff dan fokus pada pemenangan pemilu legislatif, April 2009”. Kemana mereka hendak menyatukan umat? Tidak lain hanyalah agar umat Islam menyatukan shaf  ke dalam partai mereka dan agar umat Islam lebih memfokuskan perhatian mereka kepada politik. Bukan kepada Ilmu dan syari’at. Inilah yang saya maksud di atas. “Dan tidak lagi disibukkan dengan adanya pro-kontra……. sistem demokrasi, …” inilah pernyataan yang tidak selayaknya keluar dari lisan seorang muslim. Apakah mereka tidak paham bahwasanya sistem demokrasi adalah sistem kufur? Apakah mereka tidak paham bahwasanya Islam telah mengharamkan demokrasi? Lantas mengapa mereka menyerukan kalimat ini yang mengarah kepada pemahaman bahwa tidak usah lagi disibukkan dengan penanaman pemahaman kepada umat agar menjauhi sistem demokrasi? Mengapa mereka mengeluarkan statement semacam ini? Bukankah para ahli agama telah bersepakat tentang haromnya demokrasi? Lantas mengapa mereka menyatakan bahwa kita tidak usah lagi disibukkan dengan perkara ini?

    • Mas, mana dalil islam yang mengharamkan demokrasi? dicantumkan sekalian dong! Terus kalau di legislatif nanti dikuasai nasoro, yahudi dan org2 bejat lainnya, dan bikin UU menurut nafsu mrk sendiri, apakah kita diem sj? Ente lagi galau ya, liat saudara sndiri dakwah di parlemen koq enek gini?

    • sudah kita duga. anda nggk lihat saudara kita hti di tunisia/ yang lainnya?. terus apa anda rela negeri kita tercinta ini di pimpin oleh orang2 yg tidak amanah. apa anda tidak melihat waktu orba dulu berkuasa, shngga kita berdakwah pun sembunyi2. apa anda diam saja melihat itu semua. berarti anda harus belajar banyak hal. paling ndk, pendapat ulama diatas senantiasa kita hormati meski berbeda dengan yang lainnya. kapasitas keilmuan kita pun masih belum sebanding dengan beliau para ulama (diatas). mestinya kita salut dengan teman2 kita di parlemen yang harus jungkir balik melawan ketidakadilan, ketidakjujuran, melawan korupsi, dll. tegakkan syariat islam mulai dari diri kita, keluarga, tetangga dst…khilafah bukan sekedar isapan jempol, insyaALLAh dia akan nyata hadir di bumi ini

Lihat Juga

Ilustrasi - Peta Turki di antara negara-negara di dunia. (ontheworldmap.com)

Standar Ganda Para Penganjur Demokrasi, Pasca Gagalnya Upaya Kudeta di Turki