Home / Berita / Demokrasi, Wasilah untuk Perubahan

Demokrasi, Wasilah untuk Perubahan

dakwatuna.comBeberapa hari lagi kita akan melakukan Pemilu yang diselenggarakan oleh Pemerintahan Indonesia. Dan pesta demokrasi pun dimulai. Dengan itu pula komentar pembela dan penghujat demokrasi bertebaran. Saling serang sana-sini, saling lempar pernyataan dan klaim sepihak. Dan ini sebagian besar dilakukan oleh kalangan umat Islam sendiri.

Demokrasi menantang umat Islam untuk bertanding! Bagi yang tidak ingin bertanding sebaiknya diam dan menjadi penonton setia, dan bagi pemainnya sebaiknya tidak perlu mengikuti komentar-komentar penonton yang pada hiruk-pikuk berteriak-teriak.

Pemain sudah selayaknya berkonsentrasi kepada cara pemenangan pertandingan tersebut, tentunya dengan sesuai syar’i. Tingkat ke syar’ian ini pun sering menjadi polemik, antara komentar penonton dan para pemain yang sedang bertanding.

Itulah ibarat atlit yang sedang bertanding dengan dilihat penonton yang selalu bersorak-sorai, tak lupa dengan komentar celaan, makian maupun hujatan. Itu sudah biasa!

Dan seperti halnya, demokrasi adalah sebuah jalan sebagai prasarana yang hanya bisa dipergunakan untuk saat ini, dan partai adalah kendaraan sebagai sarana yang telah tersedia. Dengan itu kaum kafir menantang umat Islam untuk ikut serta dalam perlombaan tersebut.

Sesuatu hal yang haram dan halal telah ditetapkan secara qhot’i oleh Allah dan adapula sesuatu hukum yang bersifat halal dan haram bisa juga disesuaikan dengan ijtihad para ulama. Hal ini yang tidak boleh dinafikan. Dan inilah yang sering menjadi tolok ukur perbedaan ulama satu dengan yang lainnya. Mungkin kita perlu mengingat peringatan Allah kepada kita : “Katakanlah: ‘Terangkanlah kepadaku tentang rizki yang diturunkan Allah kepadamu, lalu kamu jadikan sebagiannya haram dan (sebagiannya) halal.’ Katakanlah: ‘Apakah Allah telah memberikan izin kepadamu (tentang ini) atau kamu mengada-adakan (kedustaan) terhadap Allah?’ Apakah dugaan orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah pada hari kiamat? Sesungguhnya Allah benar-benar mempunyai karunia (yang dilimpahkan) atas manusia, tetapi kebanyakan mereka tidak bersyukur.” (QS.Yūnus 59-60)

“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta, ‘Ini halal dan ini haram,’ untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tidaklah beruntung.” (QS. An-Nahl 116)

Sebuah ijtihad ulama tidak dapat dinyatakan mutlak kebenarannya dari ulama yang lainnya. Dengan kata lain, sesuatu yang diharamkan oleh ulama belum tentu sesuatu tersebut diharamkan oleh Allah.

Dan demokrasi itu sendiri adalah hal yang menjadi perdebatan para ulama, ada yang menyatakan halal untuk mengikuti demokrasi selama tidak meyakininya, dan ada yang mengharamkannya karena ke-tasyabuh-annya. Mungkin kita perlu mengingat pendapat seorang ulama yang menjadi banyak disepakati para ulama (al-Fakhr ar-Rāzi) “yaitu sesuatu yang bermanfaat adalah halal dan sesuatu yang mendatangkan mudharat adalah haram”. Jika demokrasi mampu mendatangkan kemaslahatan untuk kembali tegaknya khilafah Islamiyah, lalu apakah itu mutlak diharamkan?

Demokrasi adalah ajang latihan para umat Islam untuk dapat mengelola sebuah Daulah atau bahkan Khilafah. Ini adalah training untuk mendapatkan kembali kejayaan Islam. Sesungguhnya mengelola sebuah daerah tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, ada banyak masalah yang harus dipecahkan, ada banyak agenda yang harus diselesaikan.

Semua itu perlu latihan dengan tujuan yang jelas. Semua itu ketika umat Islam dapat memenangkan arena pertandingan ini (demokrasi).

Lalu seandainya umat Islam tidak ada yang mengikuti alur demokrasi itu sendiri, apakah mampu mereka menguasai sebuah daerah dengan legalitas yang jelas? Tentu tidak.

Tentu yang mendapatkan dan menguasai sebuah daerah tersebut pasti orang-orang non Islam. Dan umat Islam hanya menjadi kacung-kacung yang hanya mampu berteriak tetapi tidak mampu bertindak apapun.

Dan seandainya saja, umat Islam memenangkan golput. Apakah dengan golput bisa menguasai sebuah daerah? Tentu tidak, pemilu bukanlah sebuah rapat yang jika tidak dihadiri quota peserta rapat menjadi tidak sah. Kemenangan golput hanya mampu menjatuhkan sebuah kredibilitas pemerintahan tetapi bukan sebuah legalitas.

Dengan demokrasi ini Umat Islam ditantang untuk menerapkan system Islamnya yang menyeluruh dan sempurna dalam berbagai bidang. Dengan penerapan ini, jelas untuk memberikan sebuah pernyataan bahwa Islam telah memberikan solusi dari berbagai hal.

Mana mungkin Islam akan tegak dengan kata? Karena Rasulullah sendiri tidak hanya berkata-kata, tetapi menerapkan sistem syariat Islam kedalam pemerintahannya tanpa harus berteriak-teriak “tegakkan syari’at!”. (FA/inilah)

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (7 votes, average: 8,29 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Tim dakwatuna adalah tim redaksi yang mengelola dakwatuna.com. Mereka terdiri dari dewan redaksi dan redaktur pelaksana dakwatuna.com
  • Mudah-mudahan orang yang akan duduk di legislatif adalah orang-orang yang jujur,amanah,fathonah dan mampu menyampaikan kebenaran,sehingga tujuan mulia kita menjadikan indonesia negara yang bersih aqidah,bersih ekonomi,bersih sosial,bersih budada akan menjadi kenyataan

  • Cut Rina Meutia, SH

    Manfaatkan hak pilih sebaik2nya, JANGAN GOLPUT…! jk tidak mau milih sebaiknya RUSAKKAN KERTAS SUARA sekalian, guna mencegah kemungkinan disalahgunakan oleh orang/pihak yg tdk bertg jwb. Pilihlah saudara kita yg seiman, yg kita yakini bisa menjalankan amanah kita dengan baik nantinya.
    Untuk saya, PKS masih tetap di hati… Semoga PKS bisa tetap menjaga amanah

  • Lucky

    Memang wacana demokrasi, tidak terlalu buruk untuk dijalankan seperti banyak yang di gembar-gemborkan orang saat ini. Namun berjalannya demokrasi harus disertai dengan adanya sebuah pakem yang dapat mengendalikannya, yaitu Al Qur’an dan As sunah tanpa itu demokrasi tak lebih hanya sekedar buntut dari kapitalisme yang berujung pada sekularisme.

  • rido kurnianto

    Hari ini masyarakat kita telah banyak yang sadar akan hak pilihnya, namun dalam waktu yang bersamaan mereka kebingungan untuk memilih calon pemimpin yang benar-benar tulus dan cerdas. Pesan-pesan tentang diri caleg lebih memperdengarkan aku kesombongan dan keserakahan. Karenanya, dibutuhkan sekian langkah lagi untuk berbagi menentukan calon pemimpin yang benar-benar berposisi sebagai khalifah Allah SWT. Persoalannya, saling berbagi informasi tentang profil diri calon pemimpin, mungkin dianggap banyak orang sebagai langkah yang tidak demokratis. Golput…bisa jadi akan terjadi karena masalah ini.

  • h2

    As.ww emang dilematis ya, disatu sisi kita ga boleh “menyerupai” tapi disisi lain ada tuntutan yang lebih tinggi, hm…pemilu!!!bismillah walaupun ga suka partai, tapi insya allah dari kenyataan dilapangan akhirnya ku pilih partai yang benar2 peduli sama umat, mudah2an mereka benar2 menjadi orang yang bersih dan istiqomah ketika sudah memimpin!!mau tau…ada ajah!!!

  • jangan dukung deh golput,saya sendiri kerja dikapal dinegara orang lain jauh2 biar bisa pulang contreng kok,dari pada bingung yang udah teruji amanahnya,yg jelas mewakili suara umat islam….CONTRENG AJE PARTAI KEADILAN SEJAHTERA.

  • Fafa

    Yang masih percaya dengan jalan pintas ( terorisme yang merusak dengan bom, penculikan aktifis, pembunuhan ) bertaubatlah, karena itu semua adalah imagine Yahudi Internasional. Apalagi jadi golput yang telah menjadi peliharaan gol…

    Mari dipemilu ini pilih partai yang terbukti tidak korup

  • evim

    saya justru heran sama tokoh sebuah kelompok islam disatu saat dia bilang fatwa MUI itu mengikat karena merupakan ijtima ratusan ulama, tapi disaat lain fatwa MUI ttg haram golput mereka nggak mau pake…aneh ya fatwa MUI kok bisa dimaenin akoo menguntungkan saja..mudah2an bukan krn hasad dan dengki sama saudara semuslimnya.

  • NDrs.ANDO ABIMANYU, SH.MH

    yang terpenting kita bekerja dan beramal buat kenajuan Umat.Para Golputers anda telah termakan oleh propaganda kafir dan barat. realistis dikit dong. Dalil apa lagi yang anda gunakan bila ulama dari lintas harokah sudah banyak yang memfatwakan akan bolehnya memilih pemimpin dinegeri sekuler ini. Justru seharusnya kita manfaatkan sebaik2nya. mengapa anda apatis?

    aturannya sekarang sudah ganti bung!! jadi segeralag berrtobat dan bergabung dengan jamaah kaum muslimin menciptakan kepemimpinan yang kuat dan shalih. Allohu Akbar!!

  • keadaan negara dalam kondisi yg tidak baik… bila kita golput maka sama saja kita membiarkan kepemimpinan org2x yg zalim.

    dan dengan golput memangnya solusi apa yg bisa diharapkan.

    sadarlah saudaraku…
    semoga Alloh menyatukan hati kita untuk tegaknya Islam bukan untuk saling berpecah

    PKS semoga Alloh tetap menjaga keistiqomahannya :) demi DPR yang bersih

  • Adnan

    Assalaamu ‘alaykum. Golput jelas bukan solusi atas berbagai masalah. Hanya Islam yang mampu menjadi solusi berbagai masalah kehidupan, di segala aspek.

    Namun, untuk menuju kehidupan Islami, langkah yang ditempuh pun seharusnya juga Islami, tanpa kompromi (sebagaimana Rasulullah menolak tawaran sehari Islam diterapkan dan sehari musyriq Mekah dibiarkan).

    Kalau sisi teknis saja yang ditinjau, memang berdakwah lewat parlemen itu boleh. Tapi tetap yang dilakukan di parlemen yaitu dakwah, seperti tujuan semula, bukan membuat standard benar-salah. Dakwah berarti menyerukan perubahan dari tidak Islami menjadi Islami, tanpa kompromi. Akan sangat menakjubkan seandainya melalui demokrasi, riba dihapus total, pasar saham dibubarkan, lokalisasi ditutup, perjanjian dengan Freeport dibatalkan (perjanjian tidak boleh dalam hal bertentangan dengan syara’), NAMRU-2 disuruh pergi, serta dakwah dan jihad menjadi agenda negara.

  • Waspadai harakah2 yg mengharamkan nyontreng… perjuangan mereka merupakan bantuan bagi kafirin yg ingin menguasai parlemen. Allahu akbar..

  • Nurhasanah

    Afwan, hendaknya kita lebih berhati-hati kepada pihak2 tdk bertanggung jawab yang bermaksud memecah belah umat Islam.

    Apapun harokahnya, klo syahadatnya sama,sama2 berjuang untuk kejayaan Islam, memegang teguh syari’at Islam dll, hendaknya saling mencintai karena Allah & menumbuhkan ikatan perasaan karena persamaan aqidah & seperjuangan.

    Umat Islam bersaudara dan Allah memerintahkan kita untuk berpegang teguh pda tali (agama)Nya..

    Tidak putus asa terus berdoa semoga umat Islam segera bersatu & membentuk kekuatan besar yang diridhoiNya.. Klo sudah begitu jangankan Israel, Amerika, kotoran mana pun insya Allah tersapu..

    Allhu Akbar!!!

Lihat Juga

Ilustrasi. (blog44.ca)

Urgensi Toleransi Dalam Wacana Demokrasi

Figure