Home / Berita / Al-Qaradhawi, Peringatan Maulid Tidak Bid’ah

Al-Qaradhawi, Peringatan Maulid Tidak Bid’ah

Syaikh Yusuf Al Qaradhawi, Ketua Persatuan Ulama Internasional

dakwatuna.comSyaikh Dr. Yusuf Al-Qaradhawi, Ketua Persatuan Ulama Internasional menyatakan bahwa anggapan merayakan maulid Nabi saw. adalah bid’ah, dan setiap bid’ah pasti sesat, dan setiap yang sesat pasti masuk neraka, tidak semuanya benar.

Beliau meluruskan, yang kita ingkari dalam hal perayaan maulid adalah ketika ada pencampuradukkan dengan kemungkaran, ketika perayaan maulid itu bercampur-aduk dengan hal-hal yang menyalahi syari’at, ketika perayaan maulid itu tidak sesuai dengan Al-Qur’an, sebagaimana praktek-praktek ini masih ada di sebagian negara Islam.

Contohnya, praktek syirik, dengan mengadakan sesajian, berkurban untuk alam, laut misalkan, pemubadziran makanan atau harta, ikhtilath atau campur baur laki-laki dan perempuan, praktek yang mengancam jiwa dengan berdesak-desakan atau rebutan makanan, dan lainnya yang bertentangan dengan syari’at.

Jika peringatan maulid itu dalam rangka mengingat kembali sejarah kehidupan Rasulullah saw., mengingat kepribadian beliau yang agung, mengingat misinya yang universal dan abadi, misi yang Allah tegaskan sebagai rahmatan lil ‘alamin.

Ketika acara maulid seperti demikian, alasan apa masih disebut dengan bid’ah?

Pernyataan beliau yang dimuat dalam media online pribadi beliau itu juga ditambahkan:

“Ketika kita berbicara tentang peristiwa maulid ini, kita sedang mengingatkan umat akan nikmat pemberian yang sangat besar, nikmat keberlangsungan risalah, nikmat kelanjutan kenabian. Dan berbicara atau membicarakan nikmat sangatlah dianjurkan oleh syariat dan sangat dibutuhkan.”

Allah swt. memerintahkan demikian kepada kita dalam banyak firman-Nya. Misalnya:

(يا أيها الذين آمنوا اذكروا نعمة الله عليكم إذ جاءتكم جنود فأرسلنا عليهم ريحاً وجنوداً لم تروها وكان الله بما تعملون بصيرًا، إذ جاءوكم من فوقكم ومن أسفل منكم وإذ زاغت الأبصار وبلغت القلوب الحناجر وتظنون بالله الظنونا)

“Hai orang-orang yang beriman, ingatlah akan nikmat Allah (yang telah dikuruniakan) kepadamu ketika datang kepadamu tentara-tentara, lalu Kami kirimkan kepada mereka angin topan dan tentara yang tidak dapat kamu melihatnya. Dan adalah Allah Maha melihat akan apa yang kamu kerjakan. (Yaitu) ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu, dan ketika tidak tetap lagi penglihatan(mu) dan hatimu naik menyesak sampai ke tenggorokan dan kamu menyangka terhadap Allah dengan bermacam-macam purbasangka.” (Al-Ahzab:9-10)

Allah memerintahkan kita mengingat suatu peperangan, misalnya perang Khandaq atau perang Ahzab, di mana kafir Quraisy dan Suku Ghathfan mengepung Rasulullah saw. Dalam kondisi serba sulit ini, Allah swt. menurunkan bala bantuannya berupa angin kencang dan bantuan Malaikat.

Ingatlah peristiwa itu, ingatlah, jangan kalian lupakan itu semua.

Ini jelas menunjukkan bahwa kita diperintahkan untuk mengingat nikmat dan tidak melupakannya.

Dalam ayat lain, Allah berfirman:

(يا أيها الذين آمنوا اذكروا نعمة الله عليكم إذ هم قوم أن يبسطوا إليكم أيديهم

فكف أيدهم عنكم واتقوا الله وعلى الله فليتوكل المؤمنون)

“Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.” (Al-Anfal:30)

Ayat ini mengingatkan kita bahwa orang-orang Yahudi Bani Qainuqa’ telah besepakat untuk mengkhianati Rasulullah saw. di Madinah, mereka membuat makar, mereka membuat tipu daya, namun makar dan tipu daya Allah swt. lebih kuat dan lebih cepat dari mereka.

ويمكرون ويمكر الله والله خير الماكرين

“Mereka membuat makar, dan Allah membuat makar (juga), Dan Allah sebaik-baik pembuat makar.”

Perayaan yang demikian tidaklah bid’ah, bahkan dianjurkan. Wallahu a’lam (it/ut)

Redaktur: Samin Barkah, Lc., ME

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (116 votes, average: 9,14 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Tim dakwatuna adalah tim redaksi yang mengelola dakwatuna.com. Mereka terdiri dari dewan redaksi dan redaktur pelaksana dakwatuna.com
  • Rachmadi Minton

    Dengan Maulid Nabi besar Muhammad SAW, mari kita tingkatkan amal ibadah kita terhadap Alloh SWA semoga kita semua menjadi umat yang taqwa. Karena Nabi Muhammad adalah nabi penghulu umat sampai akhir zaman. Kau kuciptakan di awal dan Aku keluarkan di akhir.

  • Samsul Ahyar

    Ana berharap peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW sesuai apa yang di harapkan beliau (Qardhawi) khususnya di Indonesia bukan malah menambah deretan kemaksiatan kepada Allah SWT, amin.

  • Bonar M. Nur

    Semoga artikel ini menyadarkan ummat Islam di Indonesia yg merayakan hari2 besar Islam yg dicampur dengan riutal syirik berupa sesajen, dll. Dan juga menyadarkan bagi organisasi Islam yg selalu meneriakkan kata BID’AH tanpa mendalami arti BID’AH yg sesungguhnya.

  • Elfizon Anwar

    Peringatan Maulud Nabi Muhammad SAW dalam prakteknya, jelas banyak ragam dan perbedaan satu tempat dengan tempat yang lain. Contoh, peringatan Maulud Nabi SAW di Istana Negara tidak ada ‘mulutan’ atau ‘grebekan’ untuk mendapat berkah atau berkat. Saya kira, pelaksanaan peringatan semacam ini cukup sejalan dengan ijtihadnya Ustadz Qaradhawi di atas.

    Tetapi, jika peringatan Maulud Nabi Muhammad SAW seperti yang kita lihat di istana kraton tertentu, ada arak-arakan orang dan bahkan binatang tertentu, ada grebekan atau makanan dll. dan ada juga ritual pembersihan atau pensucian ‘benda-benda pusaka’ dll. atau ritual bacaan yang menyajung Nabi Muhammad SAW berlebih-lebihan, saya kira ini jelas perlu kita luruskan karena cukup riskan bila dikaitkan dengan wilayah ‘ketauhidan’ dari pada ajaran Islam itu sendiri.

  • muhson huda

    Mari kita berpikir jernih dalam menanggapi suatu masalah seperti yang telah dilaksanakan oleh Al Qordhowi yang dapat selektif dan dapat memilih dan memilah kebenaran suatu hukum apalagi yang berkenaan dgn junjungan kita Nabi besar Muhammad SAW,kalau saja dengan hanya gembira dan senang musuh bebuyutan sekaligus paman beliau sendiri diringankan siksa kuburnya tiap hari senin krn senang ketika bayi yang bernama Muhammad dilahirkan sekalipun dia tdk mengetahui bahwa bayi itu kelak akan menjadi seteru utamanya,sebagaimana diceritakan dalam shohihul bukhori maka bagaimana dengan seorang muslim yang sepanjang umurnya ia senang dan gembira dengan hari kelahiran RosullULLOH dan ia mrninggal dalam agama islam ,apa tidak sepantasnya ia mendapat ampunan dan maghfiroh serta rahmat yang luas dari pemilik alam raya ini, tanya hati nurani anda !wahai kaum muslimin!

  • abdul aziz

    Fatwa ini sekaligus memberikan solusi bagi keraguan sebagian kaum muslimin, oleh karenanya apabila niat kita bermaulid apabila dalam koridor syar’i yang beliau sebutkan tadi akan menjadi keyakinan yang utuh. sekaligus juga untuk menjadi barometer peringatan maulid yang telah kita lakukan apakah menyimpang dari yang beliau sebutkan atau tidak. syukran

  • abu azzam

    yang ngaku alim ulama ustad, kiai, sesepuh ,habaib, baca juga donk, umat jangan dibingungkan apalagi di politisir. cape jadi umat islam indonesia doyannya ributtt melulu kapan bersatunya…, musuh musuh islam tertawa terbahak bahak liat umat islam kaya buih di lautan , banyak melimpah tapi ga ada tenaganya. masa ga sadar sadar udah banyak peringatan dari Alloh Tsunami, aids, gempa, longsor, aborsi,kelaparan di dekat lumbung, banyak orang pelit dan kikir, back to Al Quran dan sunnah

  • Allahumma Sholli Wasallim Wabarik ‘ala Sayyidina Muhammad, wa ‘ala alihi washohbihi wasallim..

  • Semoga fatwa ini bisa memberi pencerahan bagi umat muslim di indonesia,yang masih melakukan maulid nabi muhammad saw disertai ritual-ritual kesyirikan..

  • yg perlu kita kaji ialah,ianya tidak pernah di sambut oleh umat2 terdahulu,kecuali golongan yg mengada-adakannya.Mereka meningati tp tidak mahu memperjuangkan islam secara keseluruhan spt Rasulullah& para sahabat menegakkan islam.hanya mengambil sebahagian islam sahaja.Syariah&khilafah skrang tidak ada,mereka tidak mahu memperjuangkannya.apa erti menyambut kalau tidak tergerak ke sana.

  • Hidayat

    seringkali budaya atau tradisi yang ada ditengah-tengah kita di justifikasi sebagai ajaran agama, padahal pada saat-saat tertentu budaya tersebut terkadang tidak sesuai dengan ajaran agama.
    dalam peringatan maulidan nabi misalnya.
    penyerahan hasil alam ke laut atau tempat-tempat tertentu pada saat peringatan maulid merupakan salah satu bentuk budaya yang tidak sesuai dengan ajaran agama.

  • Marni

    Bagaimana kalau pelaksanaanya dimulai dengan menabuh gendang dan pembacaan Maulid Habsyi ( coba perhatikan artinya )dan nanti ditengah tengah pembacaan habsy semua berdiri karena menyambut kedatangan Nabi Muhamad ( tidak tahu dalam bentuk apa ), karena ditempat kami ( banjarmasin ) seperti itulah setiap kali ada acara maulidan, Demikiankah ajaran Rosulullah SAW.

  • alhamdulillah, yang ane tau maulidan memang tidak pernah dilakukan Rosul dan sahabat sahabat beliau sehingga mewajibkannya adalah bid’ah, tetapi membid’ahkannya juga hati-hati. yang penting dapat mengambil manfaat dari peringatan maulid ane fikir mubah saja.

  • Hanif

    Katanya yang pertama melakukan maulid adalah sholahuddin al ‘ayyubi. Adakah yang dapat menunjukkan keshohihan riwayat tersebut.

  • ziyad

    muhammadun basyarun wa laisa kal basyari, muhammadun jaaruhu wallahi lam yudhomi, muhammadun syukruhu fardhun ‘alal umami…
    “Allahumma Sholli wa Sallim wa Baarik ‘alaihi wa ‘ala Aalih wa Shohbih”

  • soby

    teks ayat yg ke dua di tulis dan di maksudkan redaksi bukan surah Alanfal tp surah Almaidah ayat 11.

  • yoz

    artikel ini memberikan pencerahan kepada kita semua, bahwasanya memperingati maulid nabi muhammad bukanlah bid’ah, sepanjang tidak menyalahi sayriat. Dan tidak perlu diperdebatkan lagi.

  • Artikel-artikel di sini sangat menarik sekali buat saya selaku pelajar..semoga dengan artikel-artikel seperti ini,kita dapat lebih mengetahui apa yang memang benar telah menjadi hukumnya..jangan sampai kita menghalalkan yang haram,dan mengharamkan yang halal..

  • semoga umat islam Indonesia tidak mudah membid’ah kan dan menyesatkan umat Islam lainnya hanya karena mereka memperingati maulid Nabi SAW

  • Jasmiati

    Alhamdulillah hal ini telah diluruskan secara international.
    Dalam hukum akhlaq, tidak semua yang tidak dicontohkan nabi merupakan bid’ah. hukum maslahatul mursalah meninjau suatu perkara dari sudut maslahat (manfaat) dan mursalah (mudarat)nya.
    semoga kita terhindar dari menggampangkan menetapkan hukum suatu perkara yang dapat menyesatkan ummat, karena hal itu menjadi tanggung jawab kita di hadapan ALLAH SWT di akhirat kelak.

  • Rokhim

    Alhamdulillah…. inilah nasehat ulama bagi kita, jadi janganlah mudah mengeluarkan kata-kata bid’ah kepada saudara kita sendiri yg melaksanakan Maulid, karena saudara kita yg bilang Maulid itu bid’ah, boleh jadi hanya kurang membaca buku…. afwan.

  • Riza

    Tapi kalau kita menyelenggarakan maulid dengan maksud hati untuk beribadah kepada Allah (red: dengan maulid itu), maka itulah yg dikatakan bid’ah. Karena Allah tidak diibadahi dengan cara2 yang tidak Allah turunkan melalui Rasulullah..

    • Yhuri_z

      Alangkah sempitnya Ruang Ibadah menurut Kelompok anda, Kalau menurut Ulama yg bersumber Dari Rasulullah Segala Sesuatu bisa bernilai ibadah Dengan Niat dan tidak bertentangan dengan syariat,, jangankan peringatan maulid tidur pun bisa bernilai ibadah,,

  • furfgf

    menurut saya pendapat anda sangat lah salah mengapa perayaan hari kelahiran nabi di bid’ahkan sedangkan acara ulang tahun tidak kenapa??????????????????????????

    • khadafi

      saya sependapat dengan riza, jika ada maksud hati menjadikannya moment ibadah secara khusus, itu bisa jadi bidah. karena rassulullah tidak pernah mengajarkannya.
      dan ulang tahun jelas tidak diajarkan. saya yakin riza pun berpendapat demikian. merayakan ulang tahun itu salah.

  • Hafidh

    fufgf : menurut saya pendapat anda sangat lah salah mengapa perayaan hari kelahiran nabi di bid’ahkan sedangkan acara ulang tahun tidak kenapa?

    kalo merayakan ulang tahun dengan maksud hati sebagai cara ibadah ya bid’ah juga.

    Maulid HANYA satu cara mengingatkan kita mengenang jasa Rasulallah Muhammad SAW, agar bertambah semangat kita beribadah kepada Allah. Bukan “Ibadah Maulid”

    • Yusha

      Peringatan Maulid Nabi SAW itu bukan ibadah, tapi kenapa dipertentangkan dengan masalah bid’ah? Kan yang “laisa ‘alaihi amrunaa” itu yang terkait dengan ibadah, itu yang bid’ah!!!!!!!

  • hendra dzikri el kafi

    Saya rasa dengan perayaan Maulid Nabi SAW, yang terpenting adalah kita mengambil hikmah/ibroh dari perjuangan Nabi SAW, dan ittiba’ pd Beliau, berdasarkan Al-Qur’an dan Hadits.jadi, Maulid pun memiliki nilai-nilai positif untuk kita, misalnya: menjalinan silaturahmi, belajar agama dan berusaha mengingat betapa begitu luar biasanya Nabi SAW berjuang menegakkan Kalimatullah. tapi ingat, kita mesti sadar setiap amal tergantung niatnya. Niatlah untuk menggapai Ridho-NYA .

  • rofik

    lihatlah dengan adil perayaan maulid yang diadakan di indonesia, pra syarat agar tidak menjadi bid’ah seperti yang disampaikan Syeikh Qardhawi malah begitu terekam di sana.

  • zanny

    Assalamu’alaikum Wr. Wb. Salam ukhuwwah buat semuanya : menurut saya tidak semua hal yang tidak diajarkan nabi otomatis menjadi bida’ah atau haram hukumnya semua itu tergantung situasi dan kondisi dan maqoshid syari’ah seperti adzan jum’at dua kali pada masa khalifah “utsman bin ‘affan RA karena semakin banyaknya jumlah muslimin, pun dengan apa yg dirintis oleh Solahuddin Al Ayyubi dengan maulidnya dengan tujuan mengembalikian ghiroh jihad pasukannya maka hal itu menjadi sesuatu yang…

  • zanny

    sangat baik . banyak hal yang sesungguhnya tidak diajarkan Rosululloh SAW kemudian dilakukan oleh sahabat karena perkembangan situasi dan kondisi, termasuk pembukuan Al-qur’an dan kitab 2 hadits. Rosululloh SAW bersabnda “Man sanna fil islaami sunnatan hasanatan falaHu ajruHa wa ajru man amila biHa badaHu”Barangsiapa merintis suatu sunnah yang baik dalam Islam maka dia mendapat pahala amalan itu ditambah dengan pahala orang orang yang mengamalkannya
    setelahnya (HR. Muslim no. 1017}

  • bin mudassir

    Assalamualaikum wbt..
    ana xckp pnjg coz dah byk ulma bincangkan hukum2 ni..bid’ah x pun..
    tpi yg kna nilai skit ape yg kita buat dlm maulid la ni… kalu bleh bgi persen pun blh kata kurang 30% yg tepat dgn tuntutan agma…coz ade cramah skit2. 70% lagi ke lain nampaknye.. kalu ade 100% yang tepat dengan tuntutan agama..mesej jmputan ke sini.i ‘ll be there.. syukran

  • bee

    Bidah itu ada 5 macam….bidah wajib, bidah sunnah, Mubah, makruh, dan haram…..posisi Maulid disini adalah Bid’ah Mubah……penjelasan ttg kelahiran Rasull baca di surat Maryam, yg males baca gak usah tanya…

  • Ritonga Medan

    itulah salahnya “kita” ummat islam ini, yang selalu dilakukan adalah ‘menyalahkan’.
    kalau saya katakan ‘Puasa Haram’ bagaimana? tentu semua mengatakan saya gila. padahal yang saya katakan adalah Puasa orang yang haid-nifas.
    sama halnya dengan maulid, tidak ada yang salah dalam maulid! yang ada dalam maulid adalah perbedaan pendapat-tidak sampai mengatakan bid’ah! itulah yang dikatakan muhaddits2 yg faqih dahulu. beda dengan “kita” pd umumnya yang sok muhaddits atau yang belagu faqih…

  • Yusuf Mulana

    Assalamualaikum warohmatullohi wabarokatuh saudaraku kaum muslimin rohimakumulloh saya mengutip dari seorang ulama besar di jawa barat , dalam ceramah nya mengatakan dari zaman kolonial belanda, sampai saat ini, agama nasrani dan yahudi sulit berkembang di jawa barat , karena minml setiap tahun para umat Nabi Muhamad, Qolbunya selalu disiram dengan wejangan para ulama, melalui peraya an hari2 besar Islam. misalnya dengan perayaan Maulid dan Isra Mi’raj serta tahlilan. semua diisi dgn crmh agama

  • herisuharmani

    Bid’ah terbagi menjadi 5 macam ? itu menurut anda, guru anda atau hadits yang shahih dari rasullalah ?

    • Rakha_z

      itu menurut Ulama, Dan Sahabat serta Rasulullah sendiri

    • Karena bid’ah bukan hukum syara’  yang masih harus dipertimbangkan secara hukum syara’ yang berdasarkan Al Qur-an dan Al hadits.. Wallohu a’lam

  • james bon

    kalau bisa dakwatuna mengecek apa arti dari maulid dan apa isinya !
    dan kalau bisa dakwatuna mencari orang yang ahli tafsir yang netral terus suru menafsirkan satu persatu sekian dakwatuna asalamualaikum

  • Mardani

    Knp kt mmperdebdkan mslh maulid, mau mmbca maulid habsyi ataupun maulid yg lain yg penting kt bersholawat kpd nabi, sprti yg disuruh dlm al-qur’an. knp org2 yg berkaroke ria, berorkes ria tdk pernh diperdebatkan. jd mnrut saya “LANAA ‘A MALUNAA WA LAKUM ‘A MALUKUM”

  • Pitung_betawi

    “Siapa saja yang menempuh perjalanan untuk mencari ilmu, Allah memperjalankannya di atas salah satu jalan surga. Sesungguhnya para malaikat meletakkan sayap mereka karena ridha kepada penuntut ilmu. Sesungguhnya seorang alim itu dimintakan ampunan oleh makhluk yang ada di langit dan di bumi hingga ikan yang ada di dasar lautan. Sesungguhnya keutamaan seorang alim atas seorang abid (ahli ibadah) seperti keutamaan bulan purnama atas seluruh bintang-bintang. Sesungguhnya ulama itu adalah pewaris para nabi. Sesungguhnya para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, melainkan mewariskan ilmu. Karena itu, siapa saja yang mengambilnya, ia telah mengambil bagian yang besar.” (HR Abu Dawud, Ibn Majah, at-Tirmidzi, Ahmad, ad-Darimi, al-Hakim, al-Baihaqi dan Ibn Hibban).

  • Esykun

    masya Alloh….

  • Esykun

    masya Alloh..

  • Sayurhaseum

    bukankah dengan merayakan ulangtahun kelahiran rasulullahnya saja itu sudah menyalahi syari’at ? a haada min indillah ? ahaada min indi rasuul ? ma kaana laisa fii rasulillah fahuwa raddun maa kaana laisa minallah wahuwa laisal ibaadah. jangan katakan ini adalah bagian dari syari’at karena kan menambah dosa bagi kamu sekalian.

    • fans

      hati hati dengan ” Mentuhankan ayat”….

      banyak yang terjerumus ….

      • muhammad

        apalagi mentuhankan kyai

    • Noer Aini Az-zahra

      Kalau ga mau melakukan BID”AH , hiduplah di jaman Jahiliyah minimal di jaman baginda Rasulillah..Merasa Anti Bid’ah tapi suka membaca mushaf al-qur’an yg ga ada anjuran di jaman Rasulullah
      Bid’ah = Baru / ga ada contoh’a

      Apa yg ada di jaman sekarang ga ada di jaman rasul

    • Hamba Allah

      Bro..Sumber hukum kita yang disepakat ulama 4.. Al qur’an, sunnah, ijmak, qiyas..
      sebutkan dalil dari 4 itu, yang menunjukkan bahwa memperingati hari kelahiran rasulullah dengan perbuatan baik itu haram?

  • Pecinta Maulid

    selamat bermaulid saudara saudariku… silahkan antum berpendapat… ANA BUTUH MAULIDan karena cinta ana makin merekah kalo dengar kisah SAYYIDUNA MUHAMMAD SAW… kalo ada yang ngerasa jengkel sama orang yang suka cerita atau dengerin SHIROH NABIYYINA MUHAMMAD SAW, tutup kuping dan lupakan kalo antum mengaku cinta pada beliau SAW, SUNGGUH HATI YANG JERNIH AMAT CINTA MENDENGAR KISAH KEKASIH

  • fans

    hati hati dengan ” Mentuhankan ayat”….”

    banyak yang terjerumus karena mentuhankan ayat…..
    dikit-dikit bid’ah…

  • Atojef

     PENGERTIAN BID’AH BELUM TERLALU DI MENGERTI OLEH MUSLIM DI DUNIA, TERMASUK SAYA

  • Harris_daroesman

    maasa ualng tahun anak, ulangtahun perusahaan, ulangtahun perkawinan, gak bid’ah..giliran maulidan kangjeng rosul koq bid’ah
     

    • Mastycakep

      siapa yg ngomong gak bid’ah mas… perayaan ulag tahun juga termasuk bid’ah termasuk juga dengan maulidan rasul

      • Noer Aini Az-zahra

        Benar..Maulid nabi adalah BID”AH ( Hasanah )

        • sohib

          dalil apa yang membuat maulid nabi itu bidah??.. kita solawat,. sodakoh.. apa termasuk bi’dah..
          waallahuaalam..

          • دو دارمويو

            pertanyaan berbalik kpada sodara, dalil apa bahwa maulid itu amalan?
            klo sodara berbalik mka sodara perlu belajar lagi soal agama!
            “setiap amalan itu dosa sebelum ada dalilny“

          • Hamba Allah

            Memperingati hari kelahiran rasulullah dengan membaca al qur’an,
            syair pujian bagi rasulullha, ceramah agama, salawat dan perbuatan baik lainnya, boleh saja.. karena membaca al qur’an, syair pujian bagi rasulullha, ceramah agama, salawat. dianjurkan kapan saja dan dimana saja.. selain yang ada larangan, dan hari kelahiran rasulullah tidak masuk didalam larangan. jadi memperingati hari lahir rasulullah dengan hal-hal baik adalah dibolehkan dilihat dari keuniversalan ayat2x dan hadis2x yang berkenaan dengan perbuatan baik itu..

            dengan demikian, ketika anda menabrak keuniversalan perintah2x
            diatas, maka anda harus mendatangkan dalil’ karena “takhisis al a’am biduni mikhossis batil”.

            jadi sebenarnya Andalah yang harus mendatangkan dalil Al Qur’an dan AL Hadis yang mengatakan bahwa memperingati hari kelahiran rasulullah dengan membaca al qur’an, syair pujian bagi rasulullha, ceramah agama, salawat.dan kebaikan lainnya haram. bukan malah minta dalil.

            silahkan sebutkan ayat maupun hadisnya?

    • دو دارمويو

      klo ulang tahun tidah bid`ah mka sodara perlu bljar lagi tentang agama.!

      • Hamba Allah

        saudara juga harus belajar… dan kita semua harus belajar lagi

  • Mastycakep

    masak mengenal rasululullah kok hny ketika masa kelahirannya saja… ingat para sahabat rasulullah tdk ada yg merayakan maulidan

    • Noer Aini Az-zahra

      Puasa senin – kamis yg di lakukan para sahabat adlah salah satu cara mereka memperingati hari kelahiran nabi ( senin ) dan hari di angkat’a beliau sebagai rasul dan hari di turunkan’a al-qur’an.

      • دو دارمويو

        Atas dasar apa sodara bpendapat klau puasa senin kamis itu salah satu cara para sahabat memperingati hari kalahiran nabi Muhammad?

        Dasar itu ada di Al-Qur`an dal Al-hadist

        • Hamba Allah

          Memperingati hari kelahiran rasulullah dengan membaca al qur’an, syair pujian bagi rasulullha, ceramah agama, salawat dan perbuatan baik lainnya, boleh saja.. karena membaca al qur’an, syair pujian bagi rasulullha, ceramah agama, salawat. dianjurkan kapan saja dan dimana saja.. selain yang ada larangan, dan hari kelahiran rasulullah tidak masuk didalam larangan. jadi memperingati hari lahir rasulullah dengan hal-hal baik adalah dibolehkan dilihat dari keuniversalan ayat2x dan hadis2x yang berkenaan dengan perbuatan baik itu..

          dengan demikian, ketika anda menabrak keuniversalan perintah2x diatas, maka anda harus mendatangkan dalil’ karena “takhisis al a’am biduni mikhossis batil”.

          jadi sebenarnya Andalah yang harus mendatangkan dalil Al Qur’an dan AL Hadis yang mengatakan bahwa memperingati hari kelahiran rasulullah dengan membaca al qur’an, syair pujian bagi rasulullha, ceramah agama, salawat.dan kebaikan lainnya haram. bukan malah minta dalil.

          silahkan sebutkan ayat maupun hadisnya?

  • dd_said

    Hari Raya dalam Islam hanya ada DUA yaitu Idul Fitri dan Idul Adha…. tidak ada perayaan2 lainnya semisal Maulid Nabi. Seandainya Maulid Nabi itu bukan Bid’ah, tentunya para sahabat telah melakukannya terlebih dahulu, begitu juga para Tabi’in, Tabiut Tabi’in, dan para ulama seperti Bukhori, Muslim, Imam yg 4 dan ulama ahlusunnah lainnya, apakah  Al Qordhowi lebih berilmu dari mereka?
    Jika kita mengaku cinta Nabi maka bukan dengan merayakan kelahirannya (yg tidak pernah dicontohkan) tapi dengan menghidupkan Sunnah2nya yang hampir mati di zaman ini…..

    • Rozers

      tidak smua yg bid’ah itu menyesat kan om…

      berarti kaLo bid’ah internet, pakaian, mobiL, motor, Listrik, HP, termasuk kita yg nga ada pada zaman nabi rasuLuLLah SAW… 

      • Muldy

        Rosululloh Salallahu ‘Alaihi Waslam Bersabda:
        yg artinya “Barang siapa melakukan sutu amalan perbuatan yang tidak sesuai dengan aturan kami maka amalnya tertolak.”
        (HR.Muslim)

        • Noer Aini Az-zahra

          Kami tidak beramal di acara Maulid nabi ,tapi kami mengenang perjuangan beliau dan berusaha mencontoh apa-apa yg baik dari’a. Ingat baginda adalah sebaik-baik’a contoh bagi umat’a.

          • دو دارمويو

            klo memperingati mngapa hrus beramai-ramai?
            yg di perlukan itu di teladani stiap saat yg telah di contohkan nabi Muhammad, jngan hnya mengenang 1 tahun sekali.

          • Hamba Allah

            Agama ini luas kok dipersempit..
            Memperingati dibolehkan, mau ramai2x ramai atau sendiri silahkan. Mau dikenan sekali setahun sudah syukur, kalau dikenang setiap waktu baik, dan kalau dikenang setiap waktu, dan di ajarkan minimal untuk khalayak ramai sekali setahun kan mantab.. silahkan pilih mana yang lebih gampang bagi diri anda.. gitu aja kok di permasalahkan.. agama sudah mudah, ngapain dipersulit.. cape dech

          • Noer Aini Az-zahra

            Jika harus di teladani setiap hari , apa anda sudah menteladani beliau ( Baginda Nabi ) , Bagi umat islam setiap apa yg di lakukan’a adalah ibadah , sebagaimana Firman Allah ” Tidak kami ciptakan Jin dan manusia , kecuali untuk Beribadah “.bukan untuk yang lain.. Seorang suami mencari nafkah untuk keluarga’a adalah ibadah , seorang isteri mengurus anak , memasak , mencuci dll juga ibadah , Seorang suami menggauli isteri’a juga ibadah , seorang muslimah berjilbab juga ibadah tujuan’a. Fakta’a anda memakai baju dan celanapun untuk menutupi aurat anda , dan ini Ibadah karena menutup aurat adalah tuntutan syar’ii ., sekarang anda mencela/menentang apa yg di katakan Yusuf Qardawi dan menentang kami yang ber-Maulidpun ,saya Yakin tujuan’a adalah Ibadah kan ( membenarkan yg menurut anda salah ) , sayang’a anda malah kebablasan . Yang Bid’ah Dhalalah menurut Hadish Muslim ” QUllu Bidathun Dhallah Dst ) adalah menciptakan agama baru , menciptakan amalan baru dan menciptakan Ritual ibadah yg baru.. Misal Shalat shubuh dari dua Rakaat di jadikan empat , shalat Isha yg empat rakaat menjadi enam..puasa wajib yg Ramadhan di pindah ke bulan Rajjab , atau Ibadah haji setahun dua kali , yg begini jelas Bid;ah Dhalalah . Jika Maulid anda katakan Bid’ah , dalil dari mana dan sejak kapan Maulid jadi Ibadah Fardu ????
            Ke Kota Naik Motor , mobil atau pesawat , setiap hari pakai peci , sarung atau kaos dan celana Jean kok membid’ahkan urusan orang . Kalau kamu ke mana2naik onta ,. pake baju kurung , Bayar zakat dengan Kurma sebagaimana jaman Rasul , ga tahu juga kali ada yg percaya dengan omongan kamu !

      •  teknologi itu proses jaman sedangkan peryaan itu udah ada sebelum masehi…jadi tidak ada kaitan teknologi dengan agama..

        • wandi

          Kalau sudah bidah untuk apa dibela mati2an, kecuali mau cari untung dunia, bertobatlah teman2. sadarlah rekan2.

          • Hamba Allah

            iya, kalau sudah bid’ah ngak perlu di bela mati-matian. Masalahnya: bukan bid’ah, kalau bukan bid’ah ngapain di hujat mati-matian. sadarlah kawan, perbanyak belajar.. Apa kamu sudah lebih faham dari Dr. Syekh Yusuf Al Qordhowi?
            apa kamu lebih faham agama dari pada Ibnu Hajar, Suyuthi dll? sadarlah rekan2x.

      • muhammad

        kelihatan dangkal anda. ini kan masalah syariah dan pokok2 agama. dakwah dg internet boleh, karena dakwah urusan agama. sedangkan internet adalah wasilah. tidak terkait dengan agama. jika perayaan maulid dianggap bagian dari agama dan dianggap sebagai bagian dr sesuatu yang mendatangkan pahala dengan melakukan bacaan2 yg tdk pernah disyariahkan, itu yg bidah.

      • muhammad

        kelihatan dangkal anda. ini kan masalah syariah dan pokok2 agama. dakwah dg internet boleh, karena dakwah urusan agama. sedangkan internet adalah wasilah. tidak terkait dengan agama. jika perayaan maulid dianggap bagian dari agama dan dianggap sebagai bagian dr sesuatu yang mendatangkan pahala dengan melakukan bacaan2 yg tdk pernah disyariahkan, itu yg bidah.

        • Hamba Allah

          kita contokah.. memperingati hari lahir rasulullah dengan membaca al qur’an, syair pujian bagi rasulullha, ceramah agama, salawat.

          apakah (membaca al qur’an, syair pujian bagi rasulullha, ceramah agama, salawat) tidak disyariatkan? jelas di syariatkan..
          kapan? sebisamu… mau sekali setahun, sekali seminggu.. itu terserah anda. ORang bisanya sekali setahun, biarkan saja. kenapa harus seot.. ngak ada dalil yang melarang kok..

          kalau baca mantra, berarti caranya yang salah. bukan maulidnya yang ngak benar.

    • Zeppico

      Tahukah anda ketika Nabi Muhammad mendengar suara Terompa ( sepatu) sahabat bilal terdengar disurga, lalu rasulullah bertanya pada sahabat bilal  :
      Sahabat bilal, amalan apa yang membuat suara Terompa mu sudah terdengar di surga…
      Lalu sahabat bilal menjawab,,,,Setiap habis wuduk aku melakukan sholat sunnat setalah wuduk….
      Dari kisah tersebut jelas bahwa sahabat bilal melakukan hal yang tidak dilakukan Rasulullah dan rasulullah pun tidak melarangnya……
      Lalu Apakah Rasullullah pernah mencontokan membaca Al-Quran dengan mushaf…kenapa anda melakukannya padahal tidak pernah dilakukan Rasulullah…
      Lalu Kenapa anda solat berjamaah di mesjid yang ada tempat imamnya / mihrab, padahal di zaman rasulullah tidak pakai mihrab, kenapa anda melakukan nya….

    • Apakah Dr Yusuf Al Qaradhawi tidakfaham dg hadis yg @bcf42cbacfa182cd13f1a9ffdb52c8bc:disqus nukil di atas..???? Atau anda lebih Faham perkara Bid’ah dari beliau Dr YQ……?????

    • syaikhu

      daripada berdebat.. baca qur’an saja sono.. http://quran.com/

    • Bid’ah itu untuk hal terkait dengan ibadah (ritual/mahdhoh).
      Kalau perayaan maulid itu menjadi ritual, ya bisa masuk bid’ah. Kalu tidak, ya Tidak.
      Jika moment kelahiran Nabi SAWW, kita peringati/manfaatkan untuk mengingat kembali sejarah kelahiran, kehidupan, dan perjuangan Risalahnya dalam rangka meningkatkan kecintaan kita kepada beliau dan menghidupkan Sunnah-Sunnahnya, bukanlah bid’ah.
      Contoh bid’ah yg sering dilakukan banyak orang adalah Ceramah Ramadhan, karena hal ini terkait ibadah ritual/mahdhoh. Pernahkah Rasulullah SAWW mencontohkan Khutbah shalat Tarawih…? Wallahu-a’laam…

      • Hamba Allah

        Mohonmaaf jika saya katakan: innalillahi wa inna ilahi raji’un.

        Saya ingin bertanya kepada anda dan akan saya jawab sendiri:
        Ceramah agama boleh ngak? jelas boleh.
        Kapan ia boleh? kapan saja.
        Ceramah di bulan ramadhan boleh ngak? jelas boleh, karena kapan saja boleh. dan tidak ada dalil yang mengharamkan ceramah dibulan ramadhan. bahkan yang ada malah anjuran untuk memperbanyak kebaikan, dan ceramah serta mendengarkan ceramah adalah kebaikan dan majelis ilmu.
        perintah untuk ceramah, mengajar, dan lainnya adalah umum, tidak mengenal waktu. Dengan demikian boleh kapan saja, baik itu waktu ramadhan, maupun diluar ramadhan. itu dalam istlahnya : ‘Am atau Umum.. jika anda mengatakan bahwa ceramah tidak boleh di waktu ramadhan, maka nada telah mengkhususkan yang umum, jadi harus punya dalil. apa dalil haram ceramah dibulan ramadhan?

        Perbanyak belajar kawan, biar tahu masalah. jangan terkekang diluar lingkup pemikiran yang sempit.

    • Tp saya yakin Al Qordhowi lbih brilmu dari dd_said

      • Elyou Distian

        betul saya setuju dng anda,… Al Qordhowi jauh lebih berilmu dari pada ss_said katro paling ilmunya hanya seujung kuku yg hanya tau maulid itu Bid’ah,.. itu juga belajar dari internet atau ulama yg anti maulid

    • Noer Aini Az-zahra

      Maaf disini justeru anda yg katro,,sejak kapan maulid nabi jadi hari raya ????
      Maulid itu acara yg tidak di paksakan , siapa berniat silakan tidak berminatpun tidak masalah. Sedang hari raya idul fitri dan adha itu wajib , mau yg shalat atau tidak , mau yg ahlul shunah , muhamadiyah atau persis dan wahabiyah sekalipun , maka shalat Ied menjadi fardu ( seluruh umat muslim dunia merayakan’a )
      Anda bicara ” Seandainya Maulid Nabi itu bukan Bid’ah, tentunya para sahabat telah melakukannya terlebih dahulu, begitu juga para Tabi’in, Tabiut Tabi’in, dan para ulama seperti Bukhori, Muslim, Imam yg 4 dan ulama ahlusunah ” Disini anda melupakan jaman “bung. Ingat tujuan Maulid nabi adalah mengenang perjuangan baginda nabi , mengetahui karakteristik sifat dan kepribadian beliau , mengetahui dan mengenang betapa berat’a perjuangan beliau dalam mensyiarkan ISLAM. Nah kalau anda bicara soal para sahabat , buat apa mereka mencari tahu bagaimana perjuangan beliau ( Nabi ) sementara mereka adalah orang2 yg senantiasa bersama’a dan berjuang besama’a pula. Soal imam yg 4 , anda juga lupa bahwa ke-4 imam itu sepanjang hidup’a tidak putus puasa shunnah senin- kamis , dan kedua puasa ini adalah salah satu anjuran baginda nabi kepada sahabat dan umat’a , untuk mengenang hari kelahiran beliau ( senin ) dan hari diturunkan’a al-qur’an. Jika Bid’ah itu dosa , untuk apa nabi menganjurkan puasa senin- kamis yg jelas2 sebagai peringatan hari kelahiran’a .

      • دو دارمويو

        Dengan dalil apa sodara berpendapat bahwa puasa senin kamis itu sebagai peringatan kelahiran nabi Muhammad?

        • Hamba Allah

          Baca hadisnya.. rasulullah pausa hari senin karena hari itu adalah hari kelahirannya..

          dan puasa hari kamis, karena setiap hari kamis amal ibadah seorang hamba diangkat oleh Allah, dan rasulullah ingin agar ketika ibadahnya diangkat beliau sedang puasa.

        • Noer Aini Az-zahra

          Pertanyaanmu menunjukan ketidak tahuanmu..;)

    • dd_said @ ya saya sarankan anda tidak membaca al quran yg berbentuk MUSH-HAF.
      karna itu bid`ah juga (jika difahami menurut pemahaman anda).
      saya sarankan anda menghafal langsung dari teks2 peninggalan zaman rasulullah yg tertulis di kulit2 onta,dll. itu peninggalan rasulullah asli.

    • Elyou Distian

      Maulid Nabi bukan perayaan !! Begol loe dd_said,.. beda peringatan dan perayaan,.. dsr katro loe !!

  • Chu_ex46

    tidak semua bidah itu jelek…kalau memang tujuan y baik kenapa tidak…memperingati kelahiran Baginda kita Rasulullah Saw adalah baik, agar kita bisa selalu teringatkan dengan kpribadian beliau..tidak semua orang sudah tahu dengan Beliau..saya sebagai orang awam, merasa sering bahkan belum bisa meneladani beliau…coba kita tafakkuri…. Ketika Tsuwaibah, budak perempuan Abu Lahab(paman Nabi), menyampaikan
    berita gembira tentang kelahiran sang Cahaya Alam Semesta itu(Rasulullah), Abu Lahab
    pun memerdekakannya. Sebagai tanda suka cita. Dan karena
    kegembiraannya, kelak di alam baqa’ siksa atas dirinya diringankan
    setiap hari Senin tiba. Demikianlah rahmat Allah terhadap siapa pun yang
    bergembira atas kelahiran Nabi, termasuk juga terhadap orang kafir
    sekalipun. Maka jika kepada seorang yang kafir pun Allah merahmati,
    karena kegembiraannya atas kelahiran sang Nabi, bagaimanakah kiranya
    anugerah Allah bagi umatnya, yang iman selalu ada di hatinya?

    • دو دارمويو

      klo sodara pham arti bid`ah sodara pasti sudah tahu maksudny…
      Wallahua`lam

  • Ifanismail

    Tak perlu berdebat tetang ini,santai sajalah… teruslah menggali,mencari ilmu,sebb ilmu yg mmbuat ibadah kita menjadi sempurna..

  • Jangkrik Hitam

    Zzz…. Maulid yang mengatakan bid’ah kok ikut juga makan Telur pada saaat Maulid.

    • دو دارمويو

      sejak kpan orang yg mngatakan bid`ah ikut mkan telur saat maulid, ikut maulid aja tidak.
      mkan telur di rumah sndiri kali.

  • JAKA TING TING

    Ane salut sama ente Bro..pastinya hafalan hadits ente udah banyak bangett nih..terutama Hadits Arba’in dan Riyadussholihin..
    “perkataan seorang kekasih yang sangat dicintai tentunya sulit untuk dilupakan”

  • No name

    Berpartai bid’ah, berdemo bid’ah… eh eh.. sekrng berpartai, berdemo juga!

  • ternyata istri shalihah lebih baik daripada bidadari surga ^^ jd semangat kan terus berusaha menjadi yg shalihah

  • Apapun pekerjaan baek bisa bernilai ibadah, klo di niatkan ibadah. 

  • Yang penting skali bukan sambutan maulid tu tapi diri kita sendiri, adakah kita mengamalkan sunnah baginda Rasulullah S.A.W ? Dan umatku kata Rasulullah SAW berpecah 73 puak atau golongan,
    satu sahaja masuk Syurga dan 72 puak lagi ke Neraka. Rasulullah SAW menjelaskan satu puak
    atau golongan sahaja masuk Syurga, iaitu yang berada dalam Jama’ah. Maksud
    Jama’ah itu telah disepakati oleh Jumhur Ulama ialah Ahlus-Sunnah Wal Jamaah
    yang berpegang kepada Al Quran, Sunnah Rasulullah SAW, Ijmak Para Ulama dan
    Qiyas.

     

    Manakala 72 puak atau golongan yang ke Neraka
    itu, adalah mereka yang terkeluar dan tidak mengikuti Ahlus-Sunnah Wal-Jamaah.

  • Menurut ane maulid secara “bungkusnya” memang bid’ah karna memang ga ada di jaman rasulullah. Tapi secara “isinya” justru itu sunnah karna acaranya diisi dengan pembacaan al-qur’an, bersolawat kepada nabi, dan juga ceramah agama. Mungkin hal2 seperti pemberian makanan yang diannggap berkah dsb itulah yang bisa menyebabkan bid’ah bahkan syirik. Wallahua’lam

    • prams

      Isinya jg berbahaya bg akidah. Kitab2 yg dibaca spt barzanji, diba’ berisi kisah2 tdk shohih dan memohon pd nabi. N abi sudah meninggal dan bukan Alloh yg memiliki hak mutlak u/ diibadahi.

      • Noer Aini Az-zahra

        isi Maulid berbahaya buat aqidah ??????

        Mana yang lebih berbahaya , perayaan hari valentine day , Malam tahun baru masehi atau bahkan perayaan 17 agustus ( Mungkin ). Di mana pada acara tersebut banyak lelaki dan perempuan berbaur menjadi satu , banyak minuman keras yang memabukan , dan bahkan tak sedikit yang berbuat mesum ( zina ). Dan tolong sebutkan apa yg di haramkan dari membaca kitab barzanji atau bershalawat atas baginda nabi.
        Kalau anda yg berpendapat seperti itu adalah orang non muslim ,saya masih bisa maklum karena ketidak tahukan , tapi kalau anda seorang muslim ,saya rasa adalah hal aneh seorang muslim bisa sepicik ini dalam berpikir.

        Hikmah paling dekat dari maulid ini adalah mengetahui sejarah perjalanan Baginda Rasululloh dalam mensyiarkan ISLAM , bagaimana karakter dan sifat kepribadian beliau , yang mana kita bisa mengambil pelajaran dari’a sebagai seorang uswatun hasanah.

        • Elyou Distian

          karena orang yg bilang haram itu ilmunya cetek se ujung kuku,.. suruh belajar ngaji lagi saja biar pinter,.. peringatan maulid itu sunnah bagi saya, isi mengagungkan Nabi Muhammad SAW,.. sholawat dan do’a2 ,… Di antara hak Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang disyari’atkan
          Allah Subhanahu wa Ta’ala atas ummatnya adalah agar mereka mengucapkan
          shalawat dan salam untuk beliau. Allah Subhanahu wa Ta’ala dan para
          Malaikat-Nya telah bershalawat kepada beliau Shallallahu ‘alaihi wa
          sallam, dan Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kepada para
          hamba-Nya agar mengucapkan shalawat dan taslim kepada beliau. Allah
          Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

          إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا
          الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

          “Sesungguhnya Allah dan Malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi.
          Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuk Nabi dan
          ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” [Al-Ahzaab: 56]

  • rafi al-husaini

    hanya orang yang memiliki pikiran cetek yang mengatakan malidan itu bod’ah….. ingat bro,kalau kail panjang sejengkal jangan lautan hendak diduga…..

  • yang masih keder sama bid’ah itu apa, sebenarnya mbah yusuf qardhawi ini punya pembahannya secara gambalng dan jelas..

    nihh kutipannya…” Syaikh Yusuf Qardhawi berbicara Bid^ah ? “. Mungkin sebagian pembaca
    yang terbiasa menyimak tulisan Syaikh Yusuf Qardhawi telah mengenal
    beliau sebagai ulama besar yang berilmu dan berwawasan luas serta cukup
    dikenal sebagai “ulama moderat ” .Oleh sebagian fihak , dari satu
    “kubu” yang berlebihan memandang beliau sebagai ulama yang “keras”
    contohnya Syaikh pernah dituduh sebagai penganut wahabi , oleh beberapa
    aliran tasawuf ekstrem, dan di satu “kubu” sisi yang lainnya Syaikh
    Yusuf Qardhawi di sebut ulama yang “lunak” dan sempat dituduh gampang
    memudah-mudahkan atau tuduhan Murjiah oleh beberapa kalangan contohnya
    oleh sebagian kelompok islam “radikal”, juga terdapat beberapa tuduhan
    lainnya missal, dituduh sangat membela non muslim (yahudi &
    nashara), pengunting sunnah, sesat bahkan dituduh ahlul bid^ah.

    Nah.
    Bagaimana dalam kontek judul tulisan diatas “Sunnah & Bid^ah”, bisa
    jadi sebagian orang berfikir dan mengangap tentu Syaikh Yusuf Qardhawi
    akan menjelaskan kedual hal tersebut khususnya “bid^ah” dengan
    kecenderungan , memudah-mudahkan , atau istilahnya bertoleransi
    terhadap hal ini, baik dari definisi , penjelasan contoh ataupun hal
    lainnya. padahal justru dalam tulisan yang dipaparkan dibawah ini ,
    merupakan sebuah tulisan berupa bantahan , yang dilatarbelakangi sebuah
    artikel yang cenderung menolak mengingkari bid^ah, terbukti ternyata
    dalam salah satu paparannya, Syaikh Yusuf Qardhawi malah tidak
    sependapat dengan istilah-istilah pembagian bid^ah oleh kalangan ulama
    tertentu, yang kadang bisa menjadi celah untuk mengelak dari
    mengingkari suatu bid^ah yang sudah jelas-jelas kebid^ahannya secara
    syar^i. Kemudian dalam konteks definisi bid^ah secara syariat, (bukan
    sesuai etimologi) beliau tetap berpegang dengan perkataan Nabi yang
    mulia bahwa ” Setiap bid^ah adalah sesat ” , dan tentunya salah satu
    rujukan beliau kitab karya ulama salaf Imam asy Syathibi’ ,
    al-I’tishaam, yang cukup banyak menjelaskan hal ini. Syaikh Yusuf
    Qardhawi menjelaskan pula mengapa bid^ah harus diingkari dan dampak
    bahayanya bagi ummat islam. Selamat menyimak (AZI)

    PENDAHULUAN

    Segala
    puji bagi Allah, kami melantunkan puja-puji, meminta pertolongan dan
    memohon ampunan kepada-Nya. Kami berlindung kepada Allah SWT dari
    kejahatan diri kami dan keburukan amal perbuatan kami. Siapa yang
    diberikan petunjuk oleh Allah SWT maka tidak ada yang dapat
    menyesatkannya, dan siapa yang disesatkan oleh Allah SWT maka tidak ada
    yang dapat memberinya petunjuk. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan
    selain Allah yang tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa
    Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya. Shalawat dan salam atasnya,
    keluarganya, sahabatnya, dan mereka yang melanjutkan dakwahnya, memegang
    sunnahnya, dan memperjuangkan agamanya, hingga hari kiamat.

    Salam
    hormat yang paling baik, yang aku ucapkan kepada kalian adalah salam
    Islam, yaitu as-salamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh. Pembahasan
    kita pada kesempatan ini adalah seputar permasalahan sunnah dan bid’ah.
    Hal ini berkaitan dengan sebuah artikel yang diterbitkan oleh sebuah
    majalah yang diterbitkan di negara kita ini.[1] Artikel itu menyandang
    judul yang amat nyeleneh, yaitu “Istinkaarul-Bid’ah wa
    Kuraahatul-Jadiid, Mauqifun Islami am jahili?” Artinya, “Mengingkari
    Bid’ah dan Membenci Hal yang Baru, Apakah Sikap Islami ataukah Sikap
    Jahiliah?’ Di situ, si penulis artikel ingin menyampaikan pesan bahwa
    mengingkari bid’ah adalah suatu sikap jahiliah. Menurutnya, kita tidak
    boleh mengingkari bid’ah dan harus membiarkan manusia menciptakan apa
    pun yang dikehendaki oleh inspirasi mereka atau oleh setan mereka, baik
    setan yang berbentuk manusia maupun jin.

    Oleh karena itu, kami
    ingin mengembalikan masalah ini kepada pokok yang sebenarnya dan kita
    perlu meredefinisikan (mendefiniskan ulang) pemahaman-pemahaman kita
    tentang masalah ini karena masalah ini sangat penting. Membiarkan suatu
    pemahaman tanpa pendefinisian yang jelas akan membuat suatu masalah
    menjadi seperti karet yang dapat ditarik ulur dan kembali pada keadaan
    semula, serta membuat setiap orang dapat menafsirkannya sekehendak
    hatinya. Ini tentunya amat berbahaya.

    Karena itulah, kita harus
    mengetahui makna sunnah yang sebenarnya, juga makna bid’ah, dan apa
    sikap Islam terhadap bid’ah itu? Mengapa Islam mengingkari bid’ah? Dan,
    apakah mengingkari bid’ah berarti bid’ah hal yang baru, apa pun bentuk
    hal yang baru itu? Dengan penjelasan seperti itu, diharapkan kita dapat
    mengetahui sikap yang benar tentang masalah ini dan hakikat kebenaran
    dapat diketahui dengan baik serta ketidakjelasan dapat disibakkan.
    Sehingga, orang yang kemudian binasa adalah karena kesengajaannya semata
    setelah melihat fakta yang sebenarnya, dan orang yang hidup bahagia
    adalah orang yang memilih jalan kebenaran setelah melihat kebenaran itu.

    MAKNA SUNNAH SECARA ETIMOLOGIS DAN TERMINOLOGIS[2]

    Sunnah
    secara etimologis bermakna ‘perilaku atau cara berperilaku yang
    dilakukan, baik cara yang terpuji maupun yang tercela. Ada sunnah yang
    baik dan ada sunnah yang buruk, seperti yang diungkapkan oleh hadits
    sahih yang diriwayatkan oleh Muslim dan lainnya: “Barangsiapa
    membiasakan (memulai atau menghidupkan) suatu perbuatan baik dalam
    Islam, dia akan mendapatkan pahala dari perbuatannya itu dan pahala dari
    perbuatan orang yang mengikuti kebiasaan baik itu setelahnya dengan
    pahala yang sama sekali tidak lebih kecil dari pahala orang-orang yang
    mengikuti melakukan perbuatan baik itu. Sementara, barangsiapa yang
    membiasakan suatu perbuatan buruk dalam Islam, ia akan mendapatkan dosa
    atas perbuatannya itu dan dosa dari perbuatan orang yang melakukan
    keburukan yang sama setelah nya dengan dosa yang sama sekali tidak lebih
    kecil dari dosa-dosa yang ditimpakan bagi orang-orang yang mengikuti
    perbuatannya itu.”[3]

    Kata “sunnah” yang dipergunakan oleh
    hadits tadi adalah kata sunnah dengan pengertian etimologis. Maksudnya,
    siapa yang membuat perilaku tertentu dalam kebaikan atau kejahatan.
    Atau, siapa yang membuat kebiasaan yang baik dan yang membuat kebiasaan
    yang buruk. Orang yang membuat kebiasaan yang baik akan mendapatkan
    pahala dari perbuatannya itu dan dari perbuatan orang yang mengikuti
    perbuatannya, dan orang yang membuat kebiasaan yang buruk maka ia akan
    mendapatkan dosa dari perbuatannya itu dan dari perbuatan orang-orang
    yang mengikutinya hingga hari kiamat. Adapun dalam pengertian syariat,
    kata sunnah mempunyai pengertian tersendiri atau malah lebih dari satu
    pengertian.

    Banyak kata yang mempunyai makna etimologis yang
    kemudian diberikan makna-makna baru oleh syariat. Seperti kata thaharah;
    secara etimologis, ia bermakna ‘kebersihan’, sedangkan dalam pengertian
    terminologis yang diberikan oleh syariat, ia bermakna ‘menghilangkan
    hadats atau menghilangkan najis, dan sejenisnya’. Demikian juga halnya
    dengan kata shalat; secara etimologis ia bermakna ‘doa’, sedangkan dalam
    pengertian terminologis yang diberikan oleh syariat ia bermakna
    ‘ucapan-ucapan dan perbuatan-perbuatan tertentu yang diawali dengan
    takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam’. Demikian juga halnya dengan
    kata sunnah, ia mempunyai pengertian etimologis dan pengertian
    terminologis syariat.

    Pada hakikatnya, dalam terminologi syariat,
    sunnah mempunyai lebih dari satu makna. Kata sunnah dalam pengertian
    terminologis fuqaha adalah ‘salah satu hukum syariat’ atau antonim dari
    fardhu dan wajib. Ia bermakna sesuatu yang dianjurkan dan didorong untuk
    dikerjakan. Ia adalah sesuatu yang diperintahkan oleh syariat agar
    dikerjakan, namun dengan perintah yang tidak kuat dan tidak pasti.
    Sehingga, orang yang mengerjakannya akan mendapatkan pahala, dan orang
    yang tidak mengerjakannya tidak mendapatkan dosa kecuali jika orang itu
    menolaknya dan sebagainya. Dalam pengertian ini, dapat dikatakan bahwa
    shalat dua rakaat sebelum shalat shubuh adalah sunnah, sementara shalat
    shubuh itu sendiri adalah fardhu.

    Menurut para ahli ushul fiqih,
    sunnah adalah apa yang diriwayatkan dari Nabi saw., berupa ucapan,
    perbuatan, atau persetujuan. Ia dalam pandangan ulama ushul ini, adalah
    salah satu sumber dari berbagai sumber syariat. Oleh karena itu, ia
    bergandengan dengan Al-Qur’an. Misalnya, ada redaksi ulama yang
    mengatakan tentang hukum sesuatu: masalah ini telah ditetapkan hukumnya
    oleh Al-Qur’an dan sunnah.

    Sementara, para ahli hadits menambah
    definisi lain tentang sunnah. Mereka mengatakan bahwa sunnah adalah apa
    yang dinisbatkan kepada Nabi saw, berupa ucapan, perbuatan, persetujuan,
    atau deskripsi–baik fisik maupun akhlak–atau juga sirah (biografi
    Rasul saw.).

    Ada juga makna sunnah yang lain yang menjadi
    perhatian para ulama syariat, yaitu sunnah dengan pengertian antonim
    dari bid’ah. Atau, apa yang disunnahkan dan disyariatkan oleh Rasulullah
    saw. bagi umatnya versus apa yang dibuat-buat oleh para pembuat bid’ah
    setelah masa Rasulullah saw.. Pengertian sunnah seperti inilah yang
    disinyalir oleh hadits riwayat Irbadh bin Sariah, salah satu hadits dari
    seri empat puluh hadits Nawawi yang terkenal itu (Hadits Arba’in, ed.),
    “… orang yang hidup setelahku nanti akan melihat banyak perbedaan
    pendapat (di kalangan umat Islam). Dalam keadaan seperti itu, hendaklah
    kalian berpegang pada Sunnahku dan Sunnah Khulafaur Rasyidin yang
    mendapatkan petunjuk. Gigitlah kuat-kuat dengan gigi gerahammu dan
    janganlah kalian mengikuti hal-hal bid’ah, karena setiap perbuatan
    bid’ah adalah sesat.”[4]

    Oleh karena itu, di kalangan sahabat
    sering ditemukan adanya pengoposisian antara sunnah dan bid’ah. Mereka
    berkata bahwa setiap kali suatu kaum membuat bid’ah maka pada saat itu
    pula mereka menelantarkan sunnah dalam kuantitas yang sama. Ibnu Mas’ud
    berkata, “Mencukupkan diri dengan berpegang pada sunnah, lebih baik
    daripada berijtihad dalam bid’ah.”

    Ini adalah pengertian terakhir
    kata sunnah, dan ini pula pengertian sunnah yang menjadi topik
    pembicaraan kami dalam kesempatan ini. Sedangkan, pengertian-pengertian
    sunnah yang lain, tidak menjadi topik pembicaraan kami ini. Kami telah
    membicarakan sebagian dari sunnah dengan pengertian-pengertian lainnya
    itu, misalnya kami telah membicarakan sunnah sebagai salah satu sumber
    syariat, atau tentang sunnah sebagai ucapan, perbuatan, persetujuan,
    sifat, dan sirah Rasulullah saw.. Namun, dalam kesempatan ini, kami
    hanya ingin mengkaji tentang sunnah dengan pengertian sebagai antonim
    bid’ah. Atau, apa yang disunnahkan oleh Nabi saw. bagi umatnya.

    Petunjuk
    Nabi saw. adalah sebaik petunjuk, seperti dikatakan oleh Umar ibnul
    Khaththab r.a., “Keduanya (Al-Qur’an dan sunnah) adalah kalam dan
    petunjuk, sebaik-baik kalam adalah kalam Allah SWT dan sebaik-baik
    petunjuk adalah petunjuk Muhammad saw..” Umar mengutip redaksi ini dari
    sabda Rasulullah saw. yang diucapkan oleh beliau dalam khotbahnya, “Amma
    ba’du. Sesungguhnya sebaik-baik pembicaraan adalah Kitab Allah, dan
    sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad. Seburuk-buruk perkara
    adalah perbuatan bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat.”[5]

    Nabi
    saw. telah memperingatkan dengan keras perbuatan bid’ah serta
    memerintahkan umat Islam Untuk mengikuti Sunnah beliau dan menjaganya.
    Beliau bersabda, “Aku tinggalkan kalian dalam keutamaan dan kemuliaan
    (ajaran agama) yang terang-benderang, malamnya seterang siangnya, dan
    tiada orang yang menyimpang darinya kecuali ia akan binasa.”[6]

  • MAKNA BID’AH MENURUT IMAM ASY-SYATHIBI[7]

    Kemudian, apakah makna
    bid’ah? Dan, apa pengertian bid’ah yang dinilai oleh Nabi saw. sebagai
    kesesatan dalam agama? Bid’ah, seperti yang didefinisikan oleh Imam asy
    Syathibi’, adalah “cara beragama yang dibuat-buat, yang meniru syariat,
    yang dimaksudkan dengan melakukan hal itu sebagai cara berlebihan dalam
    beribadah kepada Allah SWT”.[8] Ini merupakan definisi bid’ah yang
    paling tepat, mendetail, dan mencakup serta meliputi seluruh aspek
    bid’ah.

    MEDAN OPERASIONAL BID’AH ADALAH AGAMA

    Dari
    definisi tadi dapat dipetakan bahwa medan operasional bid’ah adalah
    agama. Ia adalah “tindakan mengada-ada dalam beragama”. Dalil pernyataan
    ini adalah sabda Rasulullah saw., “Siapa yang menciptakan hal baru
    dalam ajaran agama kita yang bukan bagian darinya, maka perbuatannya itu
    tertolak.”[9]

    Dalam riwayat yang lain, “Siapa yang
    menciptakan hal baru dalam urusan (ajaran agama) kita, yang bukan bagian
    darinya, maka perbuatannya itu tertolak.”[10] Artinya, dikembalikan
    kepada pelakunya, sebagaimana halnya uang palsu yang tidak diterima
    untuk dijadikan sebagai alat jual-beli, dan ia dikembalikan kepada
    pemiliknya. Hadits ini juga dinilai oleh para ulama sebagai salah satu
    pokok agama Islam. Ia adalah bagian dari seri empat puluh hadits Nawawi
    yang terkenal itu (Hadits Arba’in, ed.).

    Para ulama berkata bahwa
    ada dua hadits yang saling melengkapi satu sama lain; pertama hadits
    yang amat penting karena ia adalah timbangan bagi perkara yang batin,
    yaitu hadits, “Sesungguhnya keabsahan segala amal ibadah ditentukan oleh
    niat.”[11]

    Kedua, hadits yang juga amat penting karena ia
    adalah timbangan bagi perkara yang zahir, yaitu makna yang dikandung
    oleh hadits ini, “Siapa yang menciptakan hal baru dalam ajaran agama
    kita yang bukan merupakan bagian darinya, maka perbuatannya itu
    tertolak.”

    Agar amal ibadah seseorang diterima oleh Allah SWT, harus dipenuhi dua hal ini:

    1. Meniatkan ibadah karena Allah

    2. Amal harus sesuai syariat.

    Oleh
    karena itu, saat Imam al-Fudhail bin Iyadh, seorang faqih yang zaahid
    ‘orang yang zuhud’ (para zaahid generasi pertama adalah para fuqaha),
    ditanya tentang firman Allah SWT, “… supaya Dia menguji kamu, siapa di
    antara kamu yang lebih baik amalnya…. “(al-Mulk:2); Amal ibadah
    apakah yang paling baik? Ia menjawab, “Yaitu amal ibadah yang paling
    ikhlas dan paling benar.” Ia kembali ditanya, “Wahai Abu Ali (al-Fudhail
    bin Iyadh), apa yang dimaksud dengan amal ibadah yang paling ikhlas dan
    paling benar itu?” Ia menjawab, “Suatu amal ibadah, meskipun dikerjakan
    dengan ikhlas, namun tidak benar maka amal itu tidak diterima oleh
    Allah SWT. Kemudian, meskipun amal ibadah itu benar, namun dikerjakan
    dengan tidak ikhlas, juga tidak diterima oleh Allah SWT. Amal ibadah
    baru diterima apabila dikerjakan dengan ikhlas dan dengan benar pula.
    Yang dimaksud dengan ‘ikhlas’ adalah dikerjakan semata untuk Allah SWT,
    dan yang dimaksud dengan ‘benar’ adalah dikerjakan sesuai dengan
    tuntunan Sunnah.”

    Keharusan amal ibadah hanya ditujukan untuk
    Allah SWT, yaitu sebagaimana dideskripsikan oleh hadits, “Sesungguhnya
    keabsahan segala amal ibadah ditentukan oleb niat.” Dan, keharusan amal
    ibadah sesuai dengan tuntunan Sunnah adalah seperti dideskripsikan oleh
    hadits, “Siapa yang menciptakan hal baru dalam ajaran agama kami (Islam)
    yang bukan merupakan bagian darinya, maka perbuatannya itu tertolak.”

    Dengan
    demikian, perbuatan bid’ah hanya terjadi dalam bidang agama. Oleh
    karena itu, salah besar orang yang menyangka bahwa perbuatan bid’ah juga
    dapat terjadi dalam perkara-perkara adat kebiasaan sehari-hari. Karena,
    hal-hal yang biasa kita jalani dalam keseharian kita, tidak termasuk
    dalam medan operasional bid’ah. Sehingga, tidak mungkin dikatakan
    “masalah ini (salah satu masalah kehidupan sehari-hari) adalah bid’ah
    karena kaum salaf dari kalangan sahabat dan tabi’in tidak melakukannya”.
    Bisa jadi hal itu adalah sesuatu yang baru, namun tidak dapat dinilai
    sebagai bid’ah dalam agama. Karena jika tidak demikian, niscaya kita
    akan memasukkan banyak sekali hal-hal baru yang kita pergunakan sekarang
    ini sebagai bid’ah: seperti mikropon, karpet, meja, dan bangku yang
    kalian duduki, semua itu tidak dilakukan oleh oleh generasi Islam yang
    pertama, juga tidak dilakukan oleh sahabat, apakah hal itu dapat dinilai
    sebagai bid’ah?

    Oleh karena itu, ada orang yang bersikap salah
    dalam masalah ini sehingga jika melihat ada mimbar yang anak tangganya
    lebih dari tiga tingkat, niscaya dia akan berkata, “ini adalah bid’ah”.
    Tidak, bid’ah tidak termasuk dalam masalah seperti itu. Rasulullah saw.
    pertama kali berkhotbah di atas pokok pohon kurma, kemudian ketika
    manusia bertambah banyak, ada yang mengusulkan, “Tidakkah sebaiknya kami
    membuat tempat berdiri yang tinggi bagi baginda sehingga orang-orang
    yang hadir dapat melihat baginda?” Setelah itu, didatangkan seorang
    tukang kayu, ada yang mengatakan ia adalah tukang yang berasal dari
    Romawi. Selanjutnya, si tukang kayu membuat mimbar dengan tiga tingkat.
    Seandainya dibutuhkan mimbar yang lebih dari tiga tingkat, niscaya ia
    akan membuatnya. Masalah ini tidak termasuk dalam lingkup medan
    operasional bid’ah.

    Oleh karena itu, sangat penting sekali kita
    mengetahui apa yang dimaksud dengan sunnah? Dan, apa yang dimaksud
    dengan bid’ah? Juga ada kesalahan sikap dalam memandang
    perbuatan-perbuatan Rasulullah saw.. Sebagian orang ada yang menyangka
    bahwa seluruh apa yang dilakukan oleh Rasulullah saw. adalah sunnah.
    Padahal, para ulama berkata bahwa perbuatan-perbuatan Nabi saw. yang
    termasuk sebagai sunnah hanyalah perbuatan yang ditujukan oleh beliau
    sebagai perbuatan ibadah.[12]

    Di antara contohnya, Nabi
    saw.–pada beberapa kesempatan–melakukan shalat sunnah dua rakaat
    sebelum shubuh. Setelah itu, beliau berbaring dengan memiringkan
    tubuhnya ke samping kanan.[13] Dari sini, ada sebagian
    ulama–diantaranya Ibnu Hazm–yang menyimpulkan bahwa setelah melakukan
    shalat sunnah dua rakaat sebelum shubuh kita harus berbaring miring di
    sisi kanan tubuh kita. Padahal, Aisyah r.a. berkata, “Nabi saw.
    berbaring seperti itu bukan untuk mencontohkan perbuatan sunnah, namun
    semata karena beliau lelah setelah sepanjang malam beribadah sehingga
    beliau perlu beristirahat sejenak.”[14]

    Dengan demikian,
    perbuatan-perbuatan yang dilakukan oleh Rasulullah saw. perlu
    diperhatikan, apakah yang beliau lakukan itu ditujukan sebagai perbuatan
    ibadah atau bukan. Di sini banyak terjadi kesimpangsiuran dan
    kesalahpahaman, misalnya seperti yang terjadi dalam masalah tata cara
    makan. Sebagian orang berpendapat bahwa makan dengan sendok dan garpu,
    atau di meja makan, adalah perbuatan bid’ah. Ini adalah sikap yang
    berlebihan dan ekstrem. Karena, masalah ini adalah bagian dari kebiasaan
    sehari-hari yang berbeda-beda bentuknya antara satu daerah dan daerah
    lain, dan antara satu zaman dan zaman lainnya. Nabi saw makan dengan
    kebiasaan yang dilakukan oleh lingkungan beliau, terutama yang sesuai
    dengan sifat Rasulullah saw., yakni sifat memberikan kemudahan,
    tawadhu’, dan zuhud. Namun demikian, makan dengan menggunakan meja makan
    atau menggunakan sendok dan garpu, bukanlah sesuatu yang bid’ah. Lain
    halnya dengan sebagian sisi dari tata cara makan itu.

    Saya pernah
    didebat oleh seorang penulis besar-yaitu seorang tokoh yang sering
    menulis artikel di majalah-majalah dan kadang-kadang menulis tentang
    topik keislaman–tentang tuntunan makan dengan tangan kanan. Ia berkata
    bahwa hal itu bukan sunnah karena ia hanyalah suatu bentuk adat
    kebiasaan belaka. Saya menjawab bahwa bukan begitu permasalahannya.
    Dalam masalah seperti ini, kita harus memperhatikannya dengan cermat.
    Benar, masalah makan dengan sendok dan garpu, atau makan di lantai atau
    di meja makan, adalah masalah yang bersifat praktikal, dan setiap orang
    melakukan hal itu sesuai dengan kebiasaan yang berlaku di tengah
    kaumnya; selama tidak ada indikasi yang menunjukkan bahwa suatu cara
    tertentu dilakukan sebagai bentuk beribadah, atau ada tuntunan sunnah di
    situ. Sedangkan, masalah makan dengan tangan kanan, tampak dengan jelas
    adanya petunjuk Nabi saw. untuk melakukan hal itu. Karena, secara
    eksplisit Rasulullah saw. memerintahkan hal itu, yaitu saat beliau
    bersabda kepada seorang anak, “Bacalah nama Allah, Nak, kemudian
    makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah makanan (hidangan) yang
    dekat dengan kamu.”[15]

    Lebih jauh lagi, Rasulullah saw. melarang
    melakukan tindakan sebaliknya, seperti alam sabda beliau, “Hendaklah
    kalian tidak makan dan minum dengan tangan kiri kalian karena setan
    makan dan minum dengan tangan kirinya.”[16]

    Oleh karena itu,
    ada ulama yang mengatakan bahwa hal itu menunjukkan keharaman (makan
    dan minum dengan tangan kiri) karena beliau menyerupakan orang yang
    melakukan tindakan seperti itu dengan setan. Dan, beliau tidak pernah
    menyerupakan sesuatu perbuatan sebagai perbuatan setan dalam masalah
    yang makruh.

    Saat Rasulullah saw. melihat seseorang makan dengan
    tangan kirinya, beliau bersabda kepadanya, “Makanlah dengan tangan
    kananmu.” Orang itu menjawab, “Aku tidak bisa.” Rasulullah saw. kembali
    bersabda, “Engkau pasti bisa.”[17] Kemudian Rasulullah saw. menyumpahi
    orang itu sehingga ia tidak lagi dapat mengangkat tangan kanannya
    setelah itu. Ini menunjukkan bahwa masalah ini (makan dengan tangan
    kanan) amat ditekankan.

    Oleh karena itu, dalam masalah seperti
    ini kita harus memperhatikannya dengan cermat agar mengetahui batasan
    dan aturan-aturannya yang terdapat dalam tuntunan Rasulullah saw.. Untuk
    kemudian kita usahakan untuk mengetahui mana tindakan yang ditujukan
    sebagai perbuatan sunnah dan sebagai bentuk beribadah kepada Allah SWT,
    dan mana tindakan yang bersifat sekadar kebiasaan dan alami.

    Kadang-kadang
    Nabi saw. melakukan sesuatu seperti cara kaum beliau melakukan hal itu,
    beliau makan dengan cara seperti mereka makan, beliau minum dengan cara
    seperti mereka minum, dan beliau berpakaian dengan cara seperti mereka
    berpakaian. Dan, terkadang beliau melakukan sesuatu sesuai dengan
    kecenderungan selera beliau. Misalnya, beliau senang makan labu. Apakah
    kita semua harus senang makan labu? Masalah-masalah seperti ini
    ditentukan oleh selera masing-masing orang; ada orang yang senang sop
    kaki, ada yang senang sayur bayam, dan seterusnya.

    Rasulullah
    saw. juga menyenangi daging kaki depan; apakah kita semua juga harus
    menyenangi daging kaki depan? Ada orang yang senang dengan daging
    punggung, ada yang senang dengan daging paha, dan seterusnya. Jika
    selera Anda kebetulan sama dengan selera Nabi saw, hal itu adalah baik
    dan berkah. Dan, jika ada seseorang yang berusaha sedapat mungkin
    mencontoh seluruh perilaku Rasulullah saw hingga pada masalah-masalah
    yang tidak berkaitan dengan tuntunan agama karena semata dorongan
    kecintaannya yang demikian besar terhadap Rasulullah saw., dan
    kesungguhannya untuk mencontoh segala hal yang pernah dilakukan oleh
    Rasulullah saw., ini juga suatu tindakan yang terpuji, meskipun hal itu
    tidak dianjurkan oleh agama.

    Jika ada seseorang yang berkata,
    “Aku ingin mencontoh segala perilaku Rasulullah saw., meskipun apa yang
    dilakukan oleh beliau tidak termasuk dalam tuntunan ibadah. Aku akan
    makan dengan bersila di lantai dan dengan menggunakan tanganku (tanpa
    menggunakan sendok dan garpu), seperti yang dilakukan oleh Rasulullah
    saw..” Kepada orang seperti itu kami katakan, semoga Allah SWT
    memberikan balasan kebaikan kepadamu. Kami tidak akan mengingkari
    tindakannya itu, dan barangkali orang itu akan mendapatkan pahala sesuai
    dengan niatnya.

    Adalah Ibnu Umar r.a. karena kesungguhannya yang
    besar untuk mengikuti segala perbuatan yang pernah dilakukan oleh
    Rasulullah saw. dan kesempurnaan cintanya kepada beliau, ia mengikuti
    segala apa pun yang pernah dilakukan oleh Rasulullah saw., meskipun hal
    itu tidak termasuk perbuatan ibadah atau bukan perbuatan yang
    diperintahkan untuk dikerjakan.[18] Demikian juga sebagian sahabat yang
    lain.

    Misalnya, ada seorang sahabat yang melihatnya sedang shalat
    dengan kancing yang terbuka; saat ia ditanya mengapa ia melakukan hal
    itu, ia menjawab bahwa ia melihat Rasulullah saw. melakukan perbuatan
    seperti itu.[19] Padahal, barangkali Nabi saw. melakukan hal itu semata
    karena pada saat itu beliau sedang kegerahan atau dalam keadaan musim
    panas. Lantas, apakah Anda akan melakukan tindakan yang sama pula pada
    saat musim dingin! Itu hanyalah pendapat Ibnu Umar saja. Suatu saat Ibnu
    Umar sedang berada dalam perjalanan bersama rombongan, tiba-tiba ia
    meminggirkan kendaraannya dari jalan sehingga rombongan yang
    menyertainya merasa heran. Lantas, pembantunya menjelaskan bahwa ia
    melakukan hal itu karena dahulu ia pernah berjalan bersama Nabi saw. di
    tempat itu, kemudian saat tiba di tempat itu Rasulullah saw. bergerak
    minggir ke pinggir jalan.[20]

    Dalam salah satu perjalanan
    ibadah haji, ia juga pernah mengistirahatkan kendaraannya di suatu
    tempat dan rombongan yang menyertainya juga ikut beristirahat
    bersamanya. Para anggota rombongan itu bertanya-tanya, apa yang ia ingin
    kerjakan di tempat itu? Ternyata, ia pergi ke suatu tempat dan
    melaksanakan hajatnya (membuang air kecil atau besar) di tempat itu.
    Dan, saat ia ditanya mengapa ia melakukan hal itu, ia menjawab bahwa hal
    itu dilakukannya karena pada saat Nabi saw. melaksanakan ibadah haji
    dan sampai ke tempat ini, beliau melaksanakan hajat beliau di tempat
    itu.[21]

    Apakah tindakan seperti ini diperintahkan untuk
    dikerjakan oleh insan muslim? Tentu saja tidak, namun, perbuatan tadi
    adalah suatu bentuk manifestasi kesempurnaan cinta kepada Nabi saw.. Ia
    juga senang meletakkan untanya di tempat Rasulullah saw. meletakkan unta
    beliau.

    Perbuatan semacam ini tidak kami cela kecuali jika orang
    itu mengharuskan manusia untuk melakukan tindakan seperti itu juga.
    Karena, perbuatan seperti itu tidak diperintahkan oleh agama. Oleh
    karena itu, ia harus mengetahui bahwa apa yang ia lakukan itu tidak
    harus dilakukan oleh manusia dan tidak wajib bagi mereka, juga bukan
    perbuatan yang sunnah.

    Orang yang melakukan hal itu telah
    melakukan tindakan yang baik, namun ia menjadi salah jika ia
    menginginkan–atau malah memaksakan–orang lain untuk melakukan tindakan
    yang sama seperti yang ia lakukan, atau mengingkari dan mencela orang
    yang tidak melakukannya. Atau juga jika ia meyakini bahwa hal itu adalah
    bagian dari pokok agama, atau bagian darinya, atau menganggap orang
    yang meninggalkan perbuatan itu berarti telah meninggalkan sunnah. Oleh
    karena itu, dalam kesempatan ini penting bagi kita memisahkan antara
    sunnah yang sebenarnya dan bid’ah.

    KREASI DAN PENEMUAN BARU SEHARUSNYA HANYA DALAM URUSAN DUNIAWI

    Bid’ah,
    seperti kami katakan sebelumnya, adalah “tindakan mengada-ada dalam
    beragama”. Karena, Islam menghendaki para pemeluknya untuk menjalankan
    agama sesuai batas ketentuan yang telah diberikan dan tidak mengada-ada.
    Untuk kemudian, mencurahkan energi kreatif mereka untuk membuat kreasi
    baru dalam bidang-bidang keduniawian. Inilah yang dilakukan oleh
    generasi salafus saleh.

    Kalangan salaf menjalankan agama pada
    batas ajaran yang jelas telah ada, dalam riwayat yang pasti dari
    Rasulullah saw. dan pada sunnah-sunnah. Untuk kemudian, mereka
    mencurahkan segenap potensi dan energi mereka untuk berkreasi dan
    bekerja untuk memperbaiki kehidupan duniawi.

    Dalam biografi Umar
    Ibnul-Khaththab r.a., Anda akan menemukan banyak hal yang dikenal dengan
    awwaliyyaat Umar ‘pioniritas Umar’. Yaitu, ia adalah orang yang pertama
    kali mengadakan sistem administrasi di negara Islam, yang pertama kali
    membangun kota-kota terpadu, pemimpin yang pertama kali mengadakan
    investigasi langsung kepada rakyat, dan lain-lain.

    Ada kitab yang
    berjudul al-Awaail ‘Hal-Hal yang Pertama’ atau apa-apa yang pertama
    kali dibudayakan oleh kalangan salaf. Para sahabat telah menciptakan
    banyak kreasi untuk menciptakan kemaslahatan bagi kaum muslimin.

    Dan,
    makna ‘mengada-ada’ adalah hal itu tidak mempunyai sumber dalam
    syariat. Asal kata bid’ah adalah diambil dari kata bad’a dan ibtada’a,
    yang bermakna ‘menciptakan sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya’.
    Oleh karena itu, Al-Qur’an mendeskripsikan Allah SWT sebagai, “Allah
    Pencipta langit dan bumi.” Artinya, Allah SWT menciptakan langit dan
    bumi dari nol, tanpa adanya contoh sebelumnya.[22]

    Membuat bid’ah
    adalah menciptakan ajaran agama yang tidak ada aturannya dari
    Rasulullah saw., juga dari Khulafa ar-Rasyidin, yang diperintahkan
    kepada kita agar mengikuti sunnah mereka.

  • SESUATU YANG MEMILIKI LANDASAN DALAM SYARIAT TIDAK DINILAI SEBAGAI BID’AH

    Sesuatu
    yang baru itu, jika ia mempunyai asal dan sumber dalam syariat, maka ia
    tidak dapat dikatakan sebagai bid’ah. Banyak hal yang dibuat oleh kaum
    Muslimin yang mempunyai asal dan landasan dalam syariat. Misalnya,
    penulisan dan pengkompilasian (penggabungan) Al-Qur’an dalam satu
    mushaf, seperti yang dilakukan oleh Abu Bakar berdasarkan usul Umar
    r.a..

    Sebelumnya Abu Bakar merasa berat untuk melaksanakan
    rencana itu. Ia berkata, “Bagaimana mungkin aku melakukan sesuatu yang
    tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah saw.?” Namun, Umar terus
    membujuknya dan memberikan argumentasi betapa pentingnya hal itu hingga
    akhirnya Abu Bakar menerima usul itu dan melaksanakannya.[23] Karena,
    hal itu demi kebaikan dan kepentingan kaum muslimin, meskipun hal itu
    tidak dilakukan oleh Nabi saw.. Agama Islam dapat dipertahankan dengan
    menjaga dan memelihara Al-Qur an itu, dan Al-Qur an adalah pokok agama,
    sumber, dan pokok yang abadi. Oleh karena itu, kita harus menjaga
    Al-Qur’an dari kemungkinan tercecer atau mengalami kesimpangsiuran.

    Nabi
    saw telah mengizinkan pencatatan wahyu saat wahyu diturunkan. Dan,
    beliau memiliki sekretaris yang bertugas mencatat wahyu-wahyu yang
    diturunkan (Zaid bin Tsabit). Semua itu dilakukan dalam upaya menjaga
    dan memelihara Al-Qur’an.

    Selama masa hidup Nabi saw., beliau
    tidak mengkompilasikan Al-Qur’an dalam satu kesatuan. Karena, pada saat
    itu, ayat-ayat Al-Qur’an terus turun secara beriringan, dan Allah SWT
    terkadang mengubah sebagian ayat yang telah diturunkan kepada Rasulullah
    saw. itu. Sehingga, jika ayat-ayat yang diturunkan itu langsung
    dikompilasikan ke dalam satu kesatuan, niscaya akan ditemukan kesulitan
    jika terjadi perubahan dari Allah SWT. Terkadang, saat suatu ayat
    diturunkan, Rasulullah saw. memerintahkan kepada para pencatat wahyu,
    letakkanlah ayat ini dalam surah itu (surah tertentu), dan masing-masing
    surah dalam Al-Qur’an belum diketahui sudah lengkap atau belum
    ayat-ayatnya, hingga seluruh ayat Al-Qur’an selesai diturunkan.

    Surah
    al-Baqarah misalnya, ia turunkan pada permulaan era Madinah. Namun,
    ayat-ayat dalam surah itu baru terlengkapi setelah lewat delapan tahun.
    Dan, di dalamnya terdapat ayat-ayat yang oleh ulama dikelompokkan
    sebagai ayat-ayat yang terakhir diturunkan. Seperti pendapat yang
    diriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a. bahwa ayat Al-Qur’an yang terakhir
    diturunkan adalah firman Allah SWT: “Dan, peliharalah dirimu dari (azab
    yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan
    kepada Allah. Kemudian, masing-masing diri diberi balasan yang sempurna
    terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikitpun tidak
    dianiaya (dirugikan).” (al-Baqarah: 281)

    Oleh karena itu, selama
    masa itu, Nabi saw. melarang upaya pengkompilasian Al-Qur an. Namun,
    saat kelengkapan Al-Qur’an telah diketahui, setelah wafatnya Rasulullah
    saw., maka para sahabat merasa aman dari kemungkinan adanya penambahan
    dan pengurangan Al-Qur an. Oleh karena itu, mereka segera mencatat
    ayat-ayat Al-Qur’an yang berserakan dalam berbagai media dan
    mengkompilasikannya dalam satu mushaf. Dengan demikian, hal ini
    mempunyai dasar dan sandaran dalam syariat sehingga perbuatan itu tidak
    dapat dianggap sebagai bid’ah.

    Contoh yang lain adalah tindakan
    Umar r.a. yang menyatukan orang-orang yang melaksanakan shalat tarawih
    dalam satu jamaah shalat di bawah satu imam shalat, yaitu Ubay bin
    Ka’ab. Sebelumnya, mereka melaksanakan shalat tarawih secara
    terpisah-pisah dengan imam shalat masing-masing. Bukhari meriwayatkan
    dari Abdurrahman bin Abdul Qaari bahwa ia berkata, “Aku berjalan bersama
    Umar Ibnul-Khaththab pada malam bulan Ramadhan menuju masjid. Pada saat
    itu, kami menemukan masyarakat melakukan shalat (tarawih) secara
    terpisah-pisah. Ada yang shalat sendirian dan ada pula yang shalat
    dengan diikuti oleh beberapa orang makmum. Melihat itu Umar berkata,
    “Aku berpendapat, seandainya semua orang disatukan dalam jamaah shalat
    (tarawih) di bawah pimpinan satu orang imam niscaya akan lebih baik.”
    Dan, rencananya Umar akan mengangkat Ubay bin Ka’ab sebagai imam shalat
    mereka. Kemudian, pada malam lainnya, aku kembali berjalan bersama Umar
    (menuju masjid). Saat itu, kami telah mendapati orang-orang sedang
    melaksanakan shalat (tarawih) di bawah pimpinan satu imam shalat mereka.
    Melihat itu Umar berkomentar, “Bid’ah[24] yang paling baik adalah ini.
    Dan, orang yang saat ini tidur adalah lebih baik dari mereka yang
    melaksanakan qiyamullail pada saat ini karena mereka (yang masih tidur)
    akan melaksanakannya pada akhir malam, sedangkan orang lainnya
    melaksanakannya pada awal malam.”[25]

    Kata “bid’ah” yang
    diucapkan oleh Umar tadi, yakni kalimat “bid’ah yang paling baik adalah
    ini” adalah kata bid’ah dengan pengertian lughawi ‘etimologis’, bukan
    dengan pengertian terminologis syariat. Karena, kata bid’ah dalam
    pengertian etimologis adalah “sesuatu yang baru diciptakan atau baru
    diperbuat” yang belum pernah ada sebelumnya. Yang dimaksud oleh Umar
    dengan ucapannya itu adalah, manusia sebelumnya belum pemah melaksanakan
    shalat tarawih dalam kesatuan jamaah shalat seperti itu. Meskipun pada
    dasarnya, shalat tarawih secara jamaah itu sendiri pernah terjadi pada
    masa Nabi saw.. Karena, beliau mendorong kaum muslimin untuk
    melaksanakan shalat itu. Dan, banyak orang yang mengikuti shalat tarawih
    beliau selama beberapa malam. Namun, saat beliau mendapati banyak orang
    yang berkumpul untuk melaksanakan shalat tarawih bersama beliau, beliau
    tidak menemui mereka lagi untuk shalat bersama. Kemudian, pada pagi
    harinya, beliau bersabda, “Aku melihat apa yang kalian lakukan itu, dan
    yang menghalangi diriku untuk keluar dan shalat (tarawih) bersama kalian
    adalah karena aku takut jika shalat itu sampai diwajibkan atas
    kalian.”[26]

    Kekhawatiran ini, yakni kekhawatiran Rasulullah saw.
    jika Allah SWT mewajibkan shalat tarawih itu, menjadi hilang dengan
    wafatnya Nabi saw.. Dengan begitu, hilang pula faktor yang menghalangi
    dilaksanakannya shalat tarawih dalam satu kesatuan jamaah shalat.[27]

    Yang
    terpenting, makna “mukhtara’ah (sesuatu yang baru diciptakan atau baru
    diperbuat)” itu adalah sesuatu yang tidak diperintahkan oleh syariat.

    Dari
    sini, ulama salaf kemudian mengkompilasikan ilmu-ilmu syariat, kemudian
    menciptakan ilmu-ilmu baru untuk mendukung syariat itu. Seperti, ilmu
    ushul fiqih, ilmu musthalah hadits, ilmu-ilmu bahasa Arab, dan
    sebagainya.

    MENIRU JALAN SYARIAT

    Kembali kepada definisi
    bid’ah yang diberikan oleh asy-Syathibi. Kalimat “meniru syariat”,
    artinya hal itu meniru jalan syariat, padahal pada kenyataannya tidak
    seperti itu. Ada banyak hal yang diciptakan oleh manusia yang tidak
    mempunyai sandaran dan dasar dalam syariat, hanya saja ia mempunyai sisi
    kemiripan kepada suatu ajaran syariat itu. Karena, hal itu suatu bentuk
    beribadah dan pada satu segi ia meniru jalan syariat. Sisi inilah yang
    dianggap baik oleh para pembuat bid’ah dan para pengikut mereka. Karena,
    jika hal itu tidak memiliki suatu kemiripan dengan manusia, niscaya
    orang banyak akan menolaknya. Mereka menganggap hal itu baik karena ada
    segi kemiripannya dengan jalan syariat.

    BID’AH YANG DIMAKSUDKAN ADALAH BERSIKAP BERLEBIH-LEBIHAN DALAM BERIBADAH

    Dalam
    definisi asy-Syathibi juga terdapat redaksi, “yang dimaksudkan dengan
    melakukan hal itu (bid’ah) adalah sebagai cara berlebillan dalam
    beribadah kepada Allah SWT”. Maksudnya, orang yang membuat suatu praktek
    bid’ah, biasanya melakukan hal itu dengan tujuan untuk berlebih-lebihan
    dalam bertaqarrub kepada Allah SWT. Karena, mereka merasa tidak cukup
    dengan praktek ibadah yang telah diajarkan oleh syariat sehingga mereka
    berusaha untuk menambah suatu praktek baru. Dengan tindakan itu,
    seakan-akan mereka ingin mengoreksi syariat dan menutupi kekurangannya
    sehingga akhirnya mereka menciptakan suatu praktek ibadah baru, hasil
    rekayasa pikiran mereka.

    Apakah niat yang baik itu dapat
    menjustifikasikan tindakan mereka? Tentu saja tidak. Niat seperti itu
    tidak dapat memberikan justifikasi suatu perbuatan bid’ah. Kami telah
    katakan sebelumnya bahwa dalam masalah beribadah, kita harus melengkapi
    dua hal: niat (hanya semata untuk Allah SWT) dan mutaba’ah yaitu
    ‘beribadah dengan mengikuti cara yang diajarkan oleh Al-Qur’an dan
    Rasulullah saw.’. Ukuran dan karakteristik ibadah yang benar amat jelas,
    yaitu harus mengikuti tuntunan Rasulullah saw., “Siapa yang mengerjakan
    suatu amal ibadah yang tidak diatur oleh sunnah kami maka amalnya itu
    tertolak.” Ini adalah bid’ah dalam agama. Bid’ah dengan pengertian
    seperti ini adalah dhalaalah ‘sesat’, seperti disinyalir oleh hadits
    riwayat Irbaadh bin Saariah, “Karena setiap bid’ah adalah sesat.”

    PEMBAGIAN MACAM BID’AH MENURUT ULAMA DAN PENDAPAT YANG PALING TEPAT

    Ada
    ulama yang membagi bid’ah menjadi dua macam, yaitu bid’ah hasanah
    (bid’ah yang baik) dan bid’ah sayyi’ah (bid’ah yang buruk’).[28] Ada
    juga ulama yang membagi bid’ah menjadi lima macam, seperti halnya lima
    macam hukum syariat, yaitu bid’ah wajibah (bid’ah yang wajib dilakukan),
    bid’ah mustahabbah (bid’ah yang dianjurkan untuk dilakukan), bid’ah
    makruhah (bid’ah yang makruh dilakukan), bid’ah muharramah (bid’ah yang
    haram dilakukan), dan bid’ah mubaahah (bid’ah yang boleh dilakukan).[29]

    Ungkapan
    yang paling tepat dalam masalah ini adalah bahwa pendapat tadi pada
    akhirnya bertemu pada muara yang sama dan sampai pada kesimpulan yang
    sama pula. Karena, mereka — misalnya — memasukkan masalah pencatatan
    Al-Qur’an dan pengkompilasiannya dalam satu mushaf, juga masalah
    pengkodifikasian ilmu nahwu, ilmu ushul fiqih, dan pengkodifikasian
    ilmu-ilmu keislaman yang lain, dalam kategori bid’ah yang wajib dan
    sebagai bagian dari fardhu kifayah (kewajiban kolektif).

    Ulama
    yang lain menggugat penamaan perbuatan tadi sebagai bagian dari bid’ah.
    Menurut mereka, pengklasifikasian bid’ah semacam itu adalah
    pengklasifikasian bid’ah berdasarkan pengertian lughawi ‘etimologis’,
    sedangkan pengertian kata bid’ah yang kami gunakan adalah pengertian
    secara terminologis syar’i. Sedangkan, hal-hal tadi (seperti pencatatan
    Al-Qur’an dan pengkompilasiannya) tidak kami masukkan dalam kategori
    bid’ah. Adalah suatu inisiatif yang tidak tetap memasukkan hal-hal
    semacam tadi dalam kelompok bid’ah.

    Yang terbaik adalah kita
    berpedoman pada pengertian bid’ah yang dipergunakan oleh hadits syarif.
    Karena, dalam hadits syarif diungkapkan redaksi yang demikian jelas ini,
    “Karena setiap bid’ah adalah sesat,” dengan pengertian yang general
    (umum). Jika dalam hadits itu diungkapkan, “Karena setiap bid’ah adalah
    sesat,” maka tidak tepat kiranya jika kita kemudian berkata bahwa di
    antara bid’ah ada yang baik dan ada yang buruk, atau ada bid’ah wajib
    dan ada bid’ah yang dianjurkan, dan sebagainya. Kita tidak patut
    melakukan pembagian bid’ah seperti ini. Yang tepat adalah jika kita
    mengatakan seperti yang diungkapkan oleh hadits, “Karena setiap bid’ah
    adalah sesat.” Dan, kata bid’ah yang kami pergunakan itu adalah kata
    bid’ah dengan definisi yang diucapkan oleh Imam asy-Syathibi, “Bid’ah
    adalah suatu cara beragama yang dibuat-buat,” yang tidak mempunyai dasar
    dan landasan, baik dari Al-Qur’an, sunnah Nabi saw., ijma’, qiyas,
    maupun maslahat mursalah, dan tidak juga dari salah satu dalil yang
    dipakai oleh para fuqaha.

  • 4. BID’AH DALAM AGAMA MEMATIKAN SUNNAH

    Ada
    ungkapan yang diriwayatkan dari kalangan salaf, secara mauquf dan
    marfu’, “Setiap kali suatu kaum menghidupkan bid’ah maka saat itu pula
    mereka mematikan sunnah dengan kadar yang setara.” Ini adalah suatu
    keniscayaan (kepastian), sesuai dengan hukum alam dan hukum sosial. Ada
    orang yang berkata, “Setiap kali aku melihat suatu sikap berlebihan
    dalam satu segi maka saat itu pula aku dapati adanya suatu hak yang
    ditelantarkan.” Jika Anda menjumpai suatu sikap berlebih-lebihan pada
    satu segi, Anda pasti akan mendapati adanya sikap mengurang-ngurangi
    pada segi lain. Jika seseorang mencurahkan energinya untuk melaksanakan
    perbuatan bid’ah, niscaya energinya untuk menjalankan sunnah menjadi
    berkurang karena kemampuan manusia terbatas. Oleh karena itu, Anda dapat
    menandai dengan mudah pada segi apa seorang pelaku bid’ah giat berusaha
    dan pada segi apa pula ia malas bekerja. Ia giat dan bersegera dalam
    menjalankan perbuatan-perbuatan bid’ah, sementara lemah dan bermalasan
    dalam menjalankan hal-hal yang sunnah.

    Saya masih ingat ketika
    masih berstatus pelajar sekolah menengah al-Azhar di Madrasah al-Azhar
    cabang Thantha. Di kota Thantha itu terdapat makam sayyid Ahmad Badawi
    yang terkenal itu. Di antara syekh kami ada yang menghabiskan sebagian
    besar siang dan malamnya di samping makam sayyid Badawi. Saya pernah
    berdialog dengan salah seorang syekh kami tersebut, seorang ahli fiqih
    mazhab Hanafi, namun ia termasuk dalam kelompok orang-orang yang
    menyakralkan tasawuf dan para wali.

    Saat itu, ia sedang
    mengajarkan kepada kami bab al-Udhhiah ‘kurban’ (dan saya saat itu
    adalah orang yang senang mengaitkan fiqih dengan kehidupan sehari-hari).
    Saya berkata kepadanya, “Pak guru, saat ini, masyarakat sudah melupakan
    sunnah ini sehingga orang yang berkurban amat sedikit sekali. Saya
    pikir para syekh bertanggung jawab dalam masalah ini dan mereka dapat
    memperingatkan masyarakat untuk memperhatikan sunnah ini.” Syekh kami
    itu menukas, “Hal itu terjadi karena kemampuan finansial masyarakat saat
    ini lemah.” Saya kembali berkomentar, “Namun, dalam kesempatan lain,
    mereka malah berkurban untuk sesuatu yang bukan sunnah.” Mendengar itu
    ia bertanya, “Apa yang engkau maksud?” Saya menjawab, “Maksud saya,
    mereka berkurban pada saat peringatan kelahiran sayyid Badawi. Saat
    peringatan itu, masyarakat menyembelih puluhan, bahkan ratusan atau
    ribuan domba, sementara pada Idul Adha amat sedikit yang berkurban.
    Seandainya para syekh mengarahkan masyarakat untuk menghidupkan sunnah
    berkurban ini, yaitu sebagai ganti mereka berkurban pada saat peringatan
    kelahiran sayyid Badawi maka mereka berkurban pada hari Idul Adha,
    niscaya dengan itu mereka telah menjalankan Sunnah. Sekalipun mereka
    tidak menyedekahkan sedikit pun dari kurban mereka, namun semata
    mengalirkan darah kurban pada hari itu sudah menjadi bentuk penghidupan
    syiar Islam. “Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkorbanlah.”
    (al-Kautsar: 2)

    Setelah saya berkata seperti itu, guru saya
    langsung marah kepada saya dan mengeluarkan saya dari ruang kelas. Ia
    kemudian menganggap saya sebagai pembuat onar yang membenci para wali
    serta kaum shalihin.

    Ini mengingatkan saya pada satu pernyataan
    bahwa setiap kali suatu kaum menghidupkan bid’ah dan menyibukkan diri
    mereka dengan bid’ah itu, niscaya saat itu pula mereka mematikan sunnah
    sejenis. Inilah salah satu rahasia mengapa bid’ah diperangi dalam Islam.

    5. BID’AH DALAM AGAMA MEMBUAT MANUSIA TIDAK KREATIF DALAM URUSAN-URUSAN KEDUNIAAN

    Dari
    segi lain, sebagaimana telah saya singgung sebelumnya, jika manusia
    mencurahkan energi dan perhatiannya untuk melakukan perbuatan-perbuatan
    bid’ah yang ditambahkan ke dalam agama, niscaya mereka tidak lagi
    mempunyai energi untuk berusaha di dunia dan berkreasi dalam
    urusan-urusan duniawi.

    Bid’ah, seperti telah kami sinyalir
    sebelumnya, adalah “jalan beragama yang dibuat-buat”. Pada dasarnya,
    manusia harus mengembangkan kreativitasnya dalam bidang keduniaan, namun
    karena manusia telah mencurahkan seluruh kreativitasnya dalam
    urusan-urusan agama maka ia tidak lagi dapat berkreasi dalam
    urusan-urusan duniawi.

    Oleh karena itu, generasi Islam yang
    pertama banyak menelurkan kreativitas dalam bidang-bidang duniawi dan
    memelopori banyak hal yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Sehingga,
    mereka dapat membangun peradaban yang besar dan tangguh yang menyatukan
    antara ilmu pengetahuan dan keimanan, antara agama dan dunia. Ilmu-ilmu
    Islam yang dihasilkan pada masa itu, seperti ilmu alam, matematika,
    kedokteran, astronomi, dan sebagainya menjadi ilmu-ilmu yang dipelajari
    di seluruh dunia dan masyarakat dunia belajar tentang ilmu-ilmu itu dari
    kaum muslimin.

    Mayoritas motif yang melatarbelakangi kaum
    muslimin generasi pertama untuk menggeluti dan mengembangkan ilmu-ilmu
    tadi adalah motif agama. Apakah Anda mengetahui mengapa al-Khawarizmi
    menciptakan ilmu aljabar? Ia menelurkan ilmu itu untuk menyelesaikan
    masalah-masalah tertentu dalam bidang wasiat dan warisan. Tentang
    warisan, juga wasiat, sebagian darinya memerlukan hitung-hitungan
    matematika. Oleh karena itu, al-Khawarizmi menulis bukunya yang
    berbicara tentang ilmu aljabar dalam dua juz; juz pertama tentang wasiat
    dan warisan, juz kedua tentang aljabar.

    Saat Dr. Musa Ahmad dan
    kelompoknya mentahqiq kitab al-Khawarizmi itu, mereka memberikan
    anotasi-anotasi pada juz yang berbicara tentang aljabar, sedangkan pada
    juz yang berbicara tentang wasiat dan warisan, mereka berkata, Kami
    tidak memahaminya dan kami tidak mengerti sedikit pun apa yang tertulis
    di dalamnya.” Pada masa generasi pertama Islam, ilmu pengetahuan
    berkaitan erat dengan agama. Tidak ada dikotomi (pembagian /
    pencabangan) diantara keduanya.[37]

    Para ilmuan dan dokter saat
    itu juga berstatus ulama dalam bidang agama. Ibnu Rusyd, pengarang kitab
    al-Kulliyyat dalam bidang kedokteran, adalah juga seorang qadhi,
    pengarang kitab Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul-Muqtashid dalam bidang
    fiqih. Kitab itu merupakan kitab fiqih komparatif yang paling baik.

    Yang
    aku ingin tekankan adalah, kaum muslimin pada masa keemasan Islam,
    dalam bidang agama, mereka semata berpegang pada nash dan Sunnah,
    sedangkan dalam bidang-bidang kehidupan, mereka berkreasi, menciptakan
    hal-hal baru, dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan penemuan yang telah
    ada. Sementara, pada masa kemunduran Islam, yang terjadi adalah
    sebaliknya. Orang banyak sekali menciptakan hal-hal baru dalam bidang
    agama, sementara beku dan statis dalam bidang-bidang keduniaan. Mereka
    (kaum muslimin era kemunduran Islam) berkata, “Generasi pertama Islam
    sama sekali tidak memberikan kesempatan kepada generasi berikutnya untuk
    menciptakan hal-hal baru dan kita sama sekali tidak dapat melakukan
    seperti apa yang mereka telah perbuat.” sehingga, kehidupan umat Islam
    menjadi beku dan statis, seperti air yang terjebak tak bergerak dan
    berubah menjadi busuk. Dengan demikian, pengingkaran perbuatan bid’ah
    dalam bidang agama bermakna menyiapkan energi manusia untuk berkreasi
    dan mengembangkan urusan-urusan keduniaan.

    6. BID’AH DALAM AGAMA MEMECAH BELAH DAN MENGHANCURKAN PERSATUAN UMAT

    Yang
    keenam adalah berpegang teguh pada Sunnah akan menyatukan umat sehingga
    membuat mereka menjadi satu barisan yang kokoh di bawah bimbingan
    kebenaran yang telah diajarkan oleh Nabi saw.. Karena, Sunnah hanya
    satu, sedangkan bid’ah tidak terbilang banyaknya. Kebenaran hanya satu,
    sedangkan kebatilan beragam warna dan bentuknya. Jalan Allah SWT hanya
    satu, sedangkan jalan-jalan setan amat banyak. Dalam hadits riwayat Ibnu
    Mas’ud r.a.,[38] ia berkata, “Suatu hari, Rasulullah saw. membuat garis
    lurus di hadapan kami,[39] kemudian beliau bersabda, ‘Ini adalah jalan
    Allah.’ Setelah itu, beliau menggaris beberapa garis di samping kiri dan
    samping kanan garis yang pertama tadi, dan bersabda, ‘Jalan-jalan ini
    (adalah selain jalan Allah), masing-masing didukung oleh setan yang
    menggoda manusia untuk mengikuti jalan itu.’ selanjutnya, beliau membaca
    ayat, “Dan, bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang
    lurus, maka ikutilah dia….” (al-An’aam:153)

    Oleh karena itu,
    saat umat secara konsekuen mengikuti Sunnah maka saat itu mereka bersatu
    padu. Sementara, saat timbul beragam sekte dan mazhab maka umat
    terpecah menjadi lebih dari tujuh puluh golongan. Bahkan, masing-masing
    golongan itu pada gilirannya kembali terpecah menjadi kelompok-kelompok
    kecil. Dan, masing-masing golongan dan kelompok itu meyakini bahwa
    mereka sajalah penganut agama Islam yang sebenarnya. Selanjutnya,
    masing-masing golongan itu menciptakan bid’ah tersendiri yang demikian
    banyak.

    Sebagian bid’ah itu dalam bidang akidah hingga
    kadang-kadang ada yang sampai kepada kekafiran, seperti golongan yang
    mengingkari ilmu Allah SWT dan berkata, “Hal ini adalah sesuatu yang
    baru sama sekali.” Maksud ucapan mereka itu adalah Allah SWT tidak
    mengetahui hal itu sebelumnya. Mereka itulah yang dikecam dengan keras
    oleh Ibnu Umar dan ia pemah berkata tentang mereka, “Sekalipun mereka
    melakukan amal kebaikan sebesar Gunung Uhud, (namun karena perkataan dan
    sikap mereka tadi) niscaya Allah SWT tidak menerima amal perbuatan
    mereka itu.

    Juga ada kelompok yang menganut antropomorfisme yang
    menyerupakan wujud Allah SWT dengan makhluk-Nya, mereka terkenal sebagai
    kelompok Musyabbihah dan Mujassimah. Di antara mereka ada yang
    mengingkari kodrat Allah SWT, meskipun mereka tidak mengingkari
    ilmu-Nya. Di antara mereka ada yang mengkafirkan kaum muslimin dan
    menghalalkan darah mereka, seperti kalangan Khawarij, meskipun ketekunan
    ibadah mereka amat mengagumkan dan meskipun dalam hadits Nabi saw.
    pernah diungkapkan tentang mereka, “Dan kalian ada yang melihat
    shalatnya lebih sederhana dari shalat mereka, qiyamullailnya lebih
    sederhana dari qiyamullail mereka, dan bacaannya lebih sederhana dari
    bacaan mereka.”

    Setelah itu, timbul kalangan tasawuf yang
    sebagian mereka mengungkapkan hal-hal yang sama sekali tidak dilandasi
    syariat, seperti berpedoman hanya kepada dzauq ‘rasa’ dan intuisi, bukan
    kepada syariat. Menurut mereka, orang tidak perlu berpegang pada apa
    yang difirmankan oleh Rabbnya, namun yang terpenting adalah berpedoman
    pada apa yang dikatakan oleh hatinya. Salah seorang dari mereka dengan
    bangga berkata, “Hatiku berkata kepadaku berdasarkan informasi dari
    Tuhanku.” Karena, ia mengambil informasi langsung dari “atas”. Oleh
    karena itu, saat dikatakan kepada salah seorang dari mereka, “Marilah
    kita membaca kitab Mushannaf Abdurrazzaq,” ia menjawab, “Apa manfaatnya
    karya Abdurrazzaq itu bagi orang yang mengambil ilmunya langsung dari
    sang Khaliq?” Maksudnya, ia mengambil ilmunya langsung dari Allah SWT,
    tanpa melalui perantara!

    Dari mereka ada yang berkata, “Kalian
    mengambil ilmu kalian dari orang yang telah mati yang mendapatkannya
    dari orang yang telah mati pula, sementara kami mengambil ilmu kami dari
    Zat Yang Maha Hidup, Yang tidak mati!” Malik dari Nafi dari Ibnu Umar,
    mereka semua telah mati; mata rantai riwayat emas ini (seperti dinamakan
    oleh para ahli hadits) bagi kalangan tasawuf dipandang sebagi mata
    rantai karatan yang tidak bermanfaat sama sekali.

    Diantara
    istilah yang dikembangkan oleh mereka adalah hakikat dan syariat.
    Kalangan ahli syariat melihat dan memperhatikan sisi yang zahir,
    sedangkan kalangan ahli hakikat melihat dan memperhatikan sisi batin.
    Oleh karena itu, mereka berkata, “Orang yang melihat manusia dengan mata
    syariat, niscaya ia akan membenci mereka, sedangkan orang yang melihat
    manusia dengan mata hakikat, niscaya ia akan memberikan uzur (sikap
    memaklumi) kepada mereka.”

    Orang yang berzina, bermabuk-mabukan,
    pembuat kezaliman, dan kediktatoran, yang menyiksa manusia dan membunuh
    ratusan, bahkan ribuan orang, serta yang menghancurkan kampung-kampung
    dan kota-kota; mereka itu, jika Anda lihat mereka dengan mata syariat
    niscaya Anda akan membenci mereka karena syariat membenci kemungkaran,
    kezaliman, dan para pelakunya. Namun, jika Anda memandang mereka dengan
    mata hakikat, niscaya Anda akan memberikan uzur kepada mereka. Karena,
    meskipun mereka tidak menjalankan perintah Allah SWT, namun pada
    hakikatnya mereka menjalankan iradah ‘kehendak’ Allah SWT karena Allah
    SWT-lah yang menghendaki semua hal itu. Allah SWT menggerakkan manusia
    sesuai dengan kehendak-Nya, lantas apakah Anda ingin turut campur dalam
    kekuasaan Allah SWT? Biarkanlah kekuasaan berjalan di tangan raja,
    sementara manusia yang lain, biarkanlah mereka hidup sesuai dengan
    kehendak sang Khalik. Dengan begitu, tumbuh suburlah sikap pasif dalam
    menghadapi kerusakan dan penindasan, demikian juga dalam dunia
    pendidikan. Hingga dalam bidang yang terakhir ini, tasawuf mencabut
    kepribadian manusia, yaitu seperti postulat tasawuf “sikap seorang murid
    di hadapan syekhnya adalah seperti sikap mayat di tangan orang yang
    memandikannya”, Siapa yang bertanya kepada syekhnya: “Mengapa?” Maka,
    sang murid itu tidak akan ‘sampai’ ke tujuannya, dan seterusnya.

    Kemudian
    berapa banyak tarekat yang telah timbul di kolong langit ini? Jika umat
    Islam kita biarkan mengikuti dan menjalankan praktek bid’ah, niscaya
    mereka tidak akan bersatu dalam satu shaf. Umat Islam hanya dapat
    bersatu jika mereka berdiri di belakang Rasulullah saw. dan mengikuti
    kitab Allah yang muhkam dan Sunnah Rasul-Nya. Setelah mereka bersikap
    seperti itu, tidak menjadi masalah jika mereka kemudian berbeda pendapat
    dalam masalah-masalah furu’ (cabang). Perbedaan pendapat dalam bidang
    furu’ ini tidak merusak ukhuwah, juga tidak menghalangi persatuan Islam.
    Para sahabat sendiri banyak berbeda pendapat dalam masalah furu'[40],
    namun mereka tetap bersaudara, dan tetap sebagai kaum muslimin.

  • MENGINGKARI BID’AH DAN MEMERANGINYA ADALAH LANGKAH UNTUK MEMELIHARA KEMURNIAN ISLAM

    Karena
    semua hal tadi maka mengingkari bid’ah dan perbuatan bid’ah adalah
    tindakan yang dapat menjaga kemurnian Islam hingga saat ini sehingga
    Islam tidak mengalami distorsi dan adisi seperti yang dialami oleh
    agama-agama yang lain.

    Benar di kalangan kaum muslimin terjadi
    banyak perbuatan bid’ah dan pihak-pihak yang menciptakan bid’ah, yaitu
    orang-orang jahil yang tidak mempunyai ilmu agama dan memberikan
    pengajaran agama dengan tanpa ilmu sehingga mereka sesat dan
    menyesatkan, namun di sepanjang masa selalu timbul tokoh di kalangan
    umat Islam yang memperbarui agama mereka.[41] Selalu ada tokoh-tokoh
    yang menghidupkan Sunnah dan mematikan bid’ah.[42] Sehingga, setidaknya,
    Sunnah Rasulullah saw. tetap dapat diketahui dengan jelas dan umat ini
    tidak sampai bersepakat dalam kesesatan;[43] atau mengakui bid’ah, atau
    perbuatan bid’ah itu berubah menjadi bagian agama Islam.

    Pengingkaran
    bid’ah itulah yang menjaga rukun-rukun pokok Islam. Bilangan kewajiban
    shalat tetap terjaga sebanyak lima waktu hingga saat ini, berikut
    ketentuan waktu dan aturan pelaksanaannya. Pelaksanaan ibadah puasa
    tidak dipindahkan dari bulan Ramadhan, tidak seperti yang dilakukan oleh
    Ahli Kitab yang memindahkan waktu pelaksanaan puasa mereka. Dan,
    waktunya pun tetap dari fajar hingga tenggelamnya matahari. Tata laksana
    ibadah haji juga tetap seperti itu. Demikian juga aturan zakat tetap
    seperti sediakala. Pokok-pokok utama Islam tetap terjaga
    keautentikannya, meskipun telah terjadi banyak bid’ah dan beragam
    penyimpangan pemikiran di sepanjang masa.

    Yang menjaga semua hal
    tadi adalah prinsip ini, yaitu bid’ah merupakan perbuatan yang tertolak
    dalam pandangan Islam. Dengan demikian, Islam adalah agama yang agung
    dan logis, sesuai dengan alur postulat logika yang benar. Lantas,
    setelah agama ini melewati masa empat belas abad, jika kita menemukan
    seseorang menulis sebuah artikel dan berkata, “Mengingkari bid’ah dan
    membenci sesuatu yang baru, apakah sikap islami atau sikap jahiliah?”
    Apa yang kita akan katakan kepada orang itu?

    Perhatikanlah taktik
    pengelabuan dalam penulisan judul artikel itu. Di situ, kata
    “pengingkaran bid’ah” disejajarkan dan disandingkan dengan “membenci
    hal-hal baru”, Subhanallah! Padahal, siapa yang pernah berkata bahwa
    mengingkari bid’ah berarti membenci segala hal yang baru? Kaum muslimin,
    baik itu kalangan pengikut Sunnah maupun pembuat bid’ah, semuanya
    mempergunakan hal-hal baru. Bahkan, orang-orang yang amat mengikuti
    Sunnah, mereka mengendarai mobil, mempergunakan telepon, berbicara
    dengan mikropon, menaiki pesawat, dan sebagainya. Namun, tidak ada yang
    mengatakan bahwa menaiki pesawat dan sebagainya itu adalah bid’ah dan
    kita harus mengendarai unta, seperti yang dilakukan oleh Nabi saw..

    Lantas,
    apa makna redaksi “mengingkari bid’ah dan membenci hal-hal baru, apakah
    sikap islami atau jahiliah?” Itu adalah sebuah taktik pengelabuan yang
    vulgar, yang menjadi tertawaan orang. Orang yang menulis artikel itu
    secara implisit berkata bahwa Islam itu sendiri adalah suatu bid’ah
    terhadap kejahiliahan. Maka, jika kita mengikuti alur logika ini — atau
    pengingkaran terhadap bid’ah — maka kita juga harus mengingkari Islam,
    sebagaimana orang-orang jahiliah mengingkari Islam. Karena, bagi
    orang-orang jahiliah itu, Islam adalah sesuatu yang baru.

    Subhanallah!
    Kejahiliahan itu sendiri sebenarnya suatu bid’ah, yaitu bid’ah yang
    diperbuat oleh orang-orang jahiliah terhadap agama. Mereka
    menyelewengkan agama yang dibawa oleh Nabi Ibrahim a.s. dengan
    bid’ah-bid’ah yang mereka ciptakan itu. Karena, agama Nabi Ibrahim a.s.
    pada dasarnya adalah agama yang hanif, “Ibrahim bukan seorang Yahudi dan
    bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus
    (hanif) lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia
    termasuk golongan orang-orang musyrik.” (Ali Imran: 67)

    Namun,
    orang-orang jahiliah kemudian menambahkan bid’ah-bid’ah baru dalam agama
    yang diajarkan oleh Nabi Ibrahim a.s.. Tentu saja bid’ah yang mereka
    ciptakan itu ditujukan untuk berlebih-lebihan dalam beribadah. Saat
    mereka menyembah berhala, apa tujuan mereka menyembah berhala-berhala
    itu? Mereka berkata, “..Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya
    mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.”(az-Zumar:
    3)

    Orang-orang jahiliah yang menambahkan praktek-praktek baru
    dalam pelaksanaan ibadah haji (diantaranya berthawaf dengan bertelanjang
    tanpa pakaian sehelaipun), maka mengapa mereka melakukan hal itu? “Kami
    tidak boleh berthawaf dengan memakai pakaian kami karena kami telah
    melakukan maksiat kepada Allah SWT saat mengenakan pakaian itu.” Oleh
    karena itu, merekapun kemudian berthawaf dengan bertelanjang bulat.

    Keburukan
    dan kebobrokan jahiliah, pada dasarnya diciptakan oleh praktek
    perbuatan bid’ah dalam agama yang diturunkan oleh Allah SWT melalui
    kitab-kitab suci-Nya dan para rasul-Nya yang memberikan berita gembira
    dan ancaman. Kemudian, Islam pada hakikatnya adalah suatu gerakan
    kembali ke asal, yaitu ke agama fitrah yang difitrahkan oleh Allah SWT
    bagi seluruh manusia. Ia adalah agama yang diserukan oleh Ibrahim a.s.,
    “Dan, siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas
    menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia pun mengerjakan kebaikan,
    dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus?” (an-Nisaa’:125)

    Sebenarnya,
    seluruh redaksi yang ditulis oleh penulis artikel itu hanyalah berisi
    kesalahan-kesalahan semata. Namun demikian, saya ingin membicarakan
    masalah ini hingga tuntas sehingga kita dapat menangkap pemahaman yang
    jelas dan benar tentang sunnah dan bid’ah.

    BEBERAPA PENYIMPANGAN YANG DILAKUKAN OLEH PENULIS ARTIKEL

    Pada
    bagian ini, saya akan mengungkapkan sebagian substansi yang ditulis
    oleh penulis artikel itu yang diterbitkan oleh majalah “ad-Doha”.

    Dalam
    artikel itu, ia menolak banyak hadits Nabi saw. hingga hadits yang
    diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim sekalipun. Misalnya, ia menolak
    hadits, “Jauhilah perkara perkara bid’ah karena seluruh perbuatan bid’ah
    adalah sesat.” Juga hadits, “Kalian akan mengikuti perilaku umat-umat
    sebelum kalian satu jengkal demi satu jengkal dan satu hasta demi satu
    hasta, hingga sekiranya mereka masuk ke lubang biawak sekalipun kalian
    akan memasuki lubang yangsama itu, atau kalian mengikuti tindakan mereka
    itu.”

    Ia (penulis artikel itu) mengklaim bahwa hadits-hadits
    tadi bertentangan dengan Al-Qur’an. Mengapa ia berkata demikian? Dan,
    bagaimana mungkin hadits-hadits seperti itu bertentangan dengan Al-Qur
    an?

    Ibnu Taimiyah telah mengarang kitab tentang masalah ini yang
    ia beri judul Iqtidha Shiraath al-Mitstaqiim Mukhalafatu Ahlil-Jahiim
    ‘Meniti Jalan Lurus Adalah Meninggalkan Praktek Orang-Orang Penghuni
    Neraka’. Jalan lurus itu adalah shiraathal-mustaqiim yang kita selalu
    pinta kepada Allah SWT agar kita ditunjukkan kepada jalan itu, minimal
    sebanyak tujuh belas kali sehari, Yaitu dengan membaca surah
    al-Faatihah, “Tunjukilah kami jalan yang lurus,” (al-Faatihah: 6)

    Ini
    mengharuskan kita untuk menentang dan meninggalkan praktek orang-orang
    penghuni neraka yang disebut dalam firman Allah SWT, “(Yaitu) jalan
    orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka; bukan
    (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.”
    (al-Faatihah: 7)

    Para penghuni neraka adalah orang-orang yang
    dimurkai Allah SWT dan orang-orang yang sesat. Kita mempunyai jalan
    tersendiri dan mereka mempunyai jalan-jalan lain. Dalam salah satu
    hadits disinyalir, “Kalangan yang dimurkai Allah itu adalah umat Yahudi
    dan kalangan yang sesat itu adalah umat Nasrani.”

    Jalan kita
    berbeda dengan jalan-jalan mereka. Al-Qur’an telah menetapkan bagi kita
    jalan yang berbeda dengan jalan-jalan mereka itu. Al-Qur’an telah
    melarang kita dalam banyak ayatnya, menjadi seperti mereka atau
    melakukan pola hidup dan perilaku seperti mereka. Allah SWT berfirman,
    “Dan, janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan
    berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka…. “(Ali
    Imran: 105)

    Masih banyak lagi ayat lain, demikian juga
    hadits-hadits Nabi saw. yang berbicara tentang hal itu, yang
    keseluruhannya memberikan pernyataan dengan yakin bahwa umat ini
    mempunyai karakteristik yang istimewa dan khas dan ia tidak boleh
    mengekor kepada umat-umat lain. Dari kenyataan itu, dalam banyak hadits
    disabdakan pernyataan khalifuuhum ‘bersikap dan berlakulah yang berbeda
    dengan mereka’. Dan, sabda itu diulang berkali-kali dalam banyak
    kesempatan.

    Independensi kepribadian dan keistimewaan umat Islam
    tumbuh dari ini, baik dalam penampilan (mazhhar) maupun dalam ilmu
    pengetahuan (makhbar). Oleh karena itu, kita tidak dibenarkan mengikuti
    pola kehidupan dan pola perilaku mereka yang menyebabkan kita sama
    seperti mereka.

    Kita harus memiliki kepribadian sendiri
    karena umat Islam adaiah umat wasath ‘pertengahan’ yang menjadi saksi
    bagi seluruh umat manusia. Kita menempati kedudukan sebagai “profesor
    agung” bagi seluruh umat manusia. Kita adalah umat terbaik yang pernah
    ada di muka bumi. Lantas, mengapa kita harus mengikuti umat lain?

    Rasulullah
    saw. ingin menanamkan kesadaran akan kemuliaan, keistimewaan, dan
    independensi kepribadian ini dalam diri kita, dan beliau tidak
    menginginkan kita menjadi pengekor dan pengikut umat lain. Oleh karena
    itu, Rasulullah saw. menyabdakan hadits berikut ini yang meskipun
    disampaikan dalam bentuk berita, namun ia secara implisit mengandung
    makna peringatan, “Kalian akan mengikuti perilaku umat-umat sebelum
    kalian satu jengkal demi satu jengkal dan satu hasta demi satu hasta,
    hingga sekiranya mereka masuk ke lubang biawak sekalipun kalian akan
    memasuki lubang yang sama itu.”

    Yang dimaksud dengan lubang
    biawak dalam hadits itu adalah yang kita kenal sekarang ini dengan nama
    “trend dan mode”. Atau, bisa kita namakan dengan “mode lubang biawak”.
    Jika mereka (non muslim, terutama Barat) memanjangkan kuncir mereka,
    para pemuda kita pun memanjangkan kuncir mereka. Jika mereka menjadi
    ‘yuppies’ dan ‘hippies’, pemuda kita pun turut menjadi yuppies dan
    hippies. Ke mana larinya kepribadian istimewa kita yang independen itu?
    Apakah ada orang yang rela meninggalkan agama dan kepribadian Islamnya
    untuk kemudian mengikuti kesesatan umat lain?

    Kemudian, mengapa ada orang yang mensinyalir bahwa hadits ini bertentangan dengan Al-Qur’an?

    Saat
    Rasulullah saw. ditanya, “siapakah yang dimaksud dengan ‘mereka’ itu?
    Apakah orang Yahudi dan Nasrani?” Beliau menjawab, “Siapa lagi kalau
    bukan mereka?”

    Bukankah amat disayangkan jika saat ini “guru”
    kita adalah orang-orang Yahudi dan Nasrani? Kita dengan sukarela
    menjalankan poin-poin yang ditulis dalam “Protokol-Protokol Pemimpin
    Zionis”, baik protokol-protokol itu benar milik mereka maupun bukan. Apa
    yang mereka kehendaki, secara sadar atau tidak, kita telah jalankan
    dengan tekun sehingga kita menjadi permainan mereka.

    Penulis
    artikel itu mencela dan mengingkari kaum muslimin yang ingin kembali
    mengikuti jalan Nabi saw., para sahabat, dan cara kehidupan mereka. Aneh
    sekali sikap sang penulis artikel itu. Apakah keinginan untuk mengikuti
    Nabi saw. dan para sahabat beliau dalam pola kehidupan mereka patut
    dicela dan diingkari? Kita mengikuti manhaj Nabi saw. dan para sahabat
    beliau dalam memahami dan menjalankan agama dengan baik; menjaga
    pokok-pokok agama itu, memperhatikan substansinya, dan memperhatikan
    masalah-masalah kehidupan serta melakukan pengembangan dalam kehidupan.
    Inilah yang kita maksud dengan mengikuti Nabi saw. dan para sahabat
    beliau itu.

    Kemudian, penulis artikel itu berkata, “Aku menemukan
    di antara sekian hadits, ada hadits yang mensinyalir bahwa ulama adalah
    pewaris para nabi. Aku memahami dari hadits itu bahwa orang yang
    mewarisi peninggalan mempunyai kewajiban moral yang mengharuskan dirinya
    untuk memelihara warisan itu dan mengembangkannya. Oleh karena itu,
    para pewaris nabi-nabi mempunyai kewajiban untuk memelihara warisan
    ruhani yang ditinggalkan oleh para nabi dan mereka juga berkewajiban
    untuk mengembangkan warisan yang mereka terima itu. Seperti halnya
    seseorang yang mewarisi toko, ia berhak bahkan berkewajiban untuk
    mengembangkan toko itu dan menambahkan barang-barang dagangannya,
    mengganti barang dagangannya yang sudah kadaluwarsa atau yang sudah
    tidak laku lagi, sesuai dengan tuntutan kebutuhan konsumen. Demikian
    juga halnya yang harus dilakukan oleh para pewaris nabi terhadap warisan
    yang mereka terima itu.”

    Artinya, menurut penulis artikel itu,
    para ulama harus menambahkan ajaran agama, mengembangkan, meluaskan, dan
    menyisipkan hal-hal baru. Demi Allah, apakah hal ini dapat diterima
    akal? Apakah ucapan tadi logis dan dapat diterima? Yaitu, menganalogikan
    ajaran-ajaran agama dengan barang-barang dagangan yang diperjualbelikan
    di toko!!!

    Selanjutnya ia berkata, “Meskipun mayoritas ulama
    tidak menyetujui pengembangan dan penambahan hal baru ke dalam agama,
    mereka hanya menjalankan taklid buta dan sikap ‘stagnan’ yang batil.
    Dan, mereka menjustifikasikan ditutupnya pintu ijtihad dengan kemuliaan
    dan kejayaan Islam pada era pertamanya.”

    Subhanallah!
    Penutupan pintu ijtihad itu sendiri adalah bid’ah karena hal itu adalah
    suatu sikap dan perbuatan baru dalam agama yang tidak diperintahkan oleh
    Rasulullah saw. dan tidak dilakukan oleh para sahabat, namun hal itu
    baru terjadi pada masa-masa kemudian. Tidak ada seorang pun yang
    memiliki otoritas untuk menutup pintu ijtihad yang telah dibuka oleh
    Allah SWT dan Rasulullah saw..

    Perkara-perkara dunia dapat
    ditambah dan dikembangkan, sedangkan perkara-perkara agama tidak boleh
    ditambah atau dikurangi. Karena hal itu, seperti telah kami katakan,
    adalah suatu tindakan mengkritik Allah SWT dan menuduh agama ini tidak
    lengkap, dan sebagainya.

    Dengan demikian, apakah makna peluasan
    agama itu? Karena, sesuatu yang sudah sempurna sesungguhnya tidak lagi
    dapat ditambah. Firman Allah SWT, “. . Pada hari ini telah Kusempurnakan
    untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmatKu, dan telah
    Kuridhai Islam itu jadi agama bagimu…” (al-Maa’idah : 3)

  • Catatan Kaki:

    [1] Maksudnya di Qathar,penj.

    [2] Penjelasan
    lebih terperinci tentang hal ini dapat dibaca pada buku karya Dr. Yusuf
    al-Qardhawi, al-Madkhal li Dirasat As-Sunnah an-Nabawiyyah (Kairo:
    Maktabah wahbah), hlm. 7-13.

    [3] Redaksi hadits di atas merupakan
    bagian dari hadits yang diriwayatkan oleh Muslim, an-Nasa’i, Ibnu
    Majah, dan Tirmidzi dengan periwayatan secara ringkas. Lihat karya Dr.
    Yusuf al-Qardhawi, al-Muntaqa min Kitab at-Targhib tva Tarhib, 1/115,
    hadits 41. Dan, pengertian “barangsiapa membiasakan (memulai atau
    menghidupkan) suatu perbuatan baik dalam Islam” adalah selama masa
    hidupnya, bukan setelah kematiannya, atau karena peran orang tua atau
    keturunan-keturunannya.

    [4] Hadits diriwayatkan oleh Abu Dawud,
    Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Hibban dalam kitab shahih-nya, dan Ahmad.
    Tirmidzi berkata bahwa hadits ini hasan sahih. Lihat al-Muntaqa min
    Kitab at Targhib wa Tarhiib 1/ 110, hadits 24.

    [5] Hadits
    diriwayatkan oleh Muslim dari Jabir r.a.. Lihat karya an-Nawawi,
    Riyadhush Shalihin, bab “an-Nahyu’an al-Bida’ wa Muhdatsaat al-Umur”.

    [6]
    Hadits diriwayatkan oleh Ibnu Majah, al-Hakim dalam al-Mustadrak dari
    jalan periwayatan Imam Ahmad, dan oleh Ibnu Abi Ashim dengan sanad hasan
    dalam kitab as-Sunnah, hadits no. 48, dengan takhrij al-Albani, dan ia
    mensahihkannya dengan lanjutannya. Lihat kitab al-Muntaqa min Kitab
    at-Targhib wa Tarhib, 1/114, hadits no. 39.

    [7] Ia adalah
    Ibrahim bin Musa bin Muhammad al-Lakhami al-Garnathi yang terkenal
    dengan asy-Syathibi. Ia adalah seorang ahli ushul fiqih dan hafizh
    hadits dari kalangan penduduk Garnathah (Grenada, saat ini). Di samping
    itu, ia juga seorang imam mazhab Maliki. wafat pada tahun 790 H/1388 M
    (lihat: al-A’laam, Zerekly, 10/75). Di antara karya-karyanya adalah
    kitab al-Muwafaqaat fi Ushul asy-syari’ah, sebuah kitab yang amat bagus
    yang ditulis dalam bidang itu. Juga kitab al-I’tishaam fi Bayaan
    assunnah wal-Bid’ah. Kitab terakhir itu juga kitab yang amat bagus yang
    ditulis dalam bidang itu. Namun sayangnya, sampai saat ini manuskrip
    nash kitab itu hanya ada satu buah, yang kemudian dicetak, di-tashih,
    dan diberikan anotasi oleh Imam Salafiah kontemporer: syeikh Muhammad
    Rasyid Ridha r.a. pengasuh majalah al-Manar dan pengarang tafsir
    al-Manar. Di dalam kitab itu terdapat banyak kontradiksi antar kalimat,
    dan redaksi-redaksi yang tidak jelas, namun karena manuskrip nash yang
    ada hanya satu buah saja sehingga naskah itu tidak dapat dikomparasikan
    antara dua naskah atau antara berbagai naskah manuskrip, untuk mencapai
    bentuk redaksional yang sebaik-baiknya, seperti yang dilakukan oleh para
    pen-tahqiq manuskrip-manuskrip lama. Sebagai tambahan, asy-Syathibi
    juga tidak menyelesaikan penulisan kitab itu.

    [8] Asy-Syathibi, al-I’tishaam (Beirut: Darul Ma’rifah), juz 1, hlm. 37.

    [9]
    Hadits Muttafaq ‘alaih dari hadits riwayat Aisyah r.a.. Lihat: Syarh
    Sunnah, karya al-Baghawi, dengan tahqiq Zuhair asy-Syawisy dan Syu’ aib
    al-Arnauth, 1/211, hadits no: 103.

    [10] Hadits diriwayatkan oleh
    Bukhari, Muslim, Abu Daud, dan Ibnu Majah. Lihat al-Muntaqa min Kitab at
    Targhiib wa Tarhiib, 1/112, hadits no: 32.

    [11] Potongan dari
    hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, dan
    Nasai, dari Umar bin Khaththab r.a. Lihat al-Muntaqa min Kitab
    at-Targhiib wat-Tarhiib, 1/102-103, hadits no: 3.

    [12] Lebih jauh
    tentang hal ini dapat dibaca dalam buku al-Madkhal li Dirasat As-Sunnah
    an-Nabawiyyah, hlm. 24-32, karya Dr. Yusuf al-Qardhawi. Juga sebuah
    kuliah yang pernah disampaikan olehnya di Fakultas syari’ah Universitas
    Qathar tentang topik seputar “Sunnah Nabi dan Ragamnya”. Di samping itu,
    ia juga mempunyai dua tulisan yang berkaitan dengan topik ini, yaitu
    al-Janib at-Tasyriri fi Sunnah an-Nabawiyah yang dipublikasikan oleh
    Markaz Sunnah dan Sirah dalam jurnal tahunannya. Demikian juga bukunya
    as-Sunnah Mashdaran lil Ma’rifah wal-Hadharah. (Buku terakhir telah
    diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Abdul Hayyie al-Kattani,
    dan diterbitkan oleh Gema Insani Press, 1998].

    [13] Dari Aisyah
    r.a., ia berkata, “Nabi saw. setiap kali beliau usai melaksanakan shalat
    dua rakaat sebelum shubuh, beliau berbaring pada sisi kanan beliau.”
    Diriwayatkan oleh Bukhari dalam kitab at-Tahajjud, bab “adh-Dhaj’ah ‘ala
    syaqqil-Aiman Ba’da Rak’atai al-Faji’.

    [14] Diriwayatkan oleh
    Abdurrazzaq. Dalam mata rantai periwayatannya terdapat seorang perawi
    yang namanya tidak disebut dengan jelas. Lihat Fathul Bari, kitab
    at-Tahajjud, bab “Man Tahaddatsa Ba’da Rak’ataul wa lam Yadhthaji”.

    [15]
    Hadits Muttafaq ‘alaih dari hadits Umar bin Abi salmah, Syarh Sunnah
    karya al-Baghawi, tahqiq asy-Syawisy dan al-Amauth, 11 /275, hadits no.
    2823.

    [16] Hadits diriwayatkan oleh Muslim, Tirmidzi, dan Malik
    serta Abu Dawud juga meriwayatkan hadits yang sama redaksinya dari
    hadits Ibnu Umar. Lihat juga al-Muntaqa min Kitab at Targhib wa Tarhib,
    2:598-599, hadits 1238.

    [17] Muslim meriwayatkan dalam kitab
    Shahih-nya dari Iyas bin Salmah bin Akwa’ bahwa ayahnya meriwayatkan
    kepadanya bahwa seseorang makan bersama Rasulullah saw. sambil
    menggunakan tangan kirinya. Kemudian, Rasulullah saw. memerintahkan
    orang itu, “Makanlah dengan tangan kananmu.” Ia menjawab, “Aku tidak
    bisa.” Rasulullah saw. kembali bersabda, “Engkau pasti bisa.” Yang
    menghalangi dirinya untuk makan dengan tangan kanan hanyalah semata
    kesombongannya saja. sang periwayat kembali berkata bahwa orang itu
    kemudian tidak lagi dapat mengangkat tangannya ke mulutnya. Lihat Kitab
    al-ASyribah, bab “Adab ath-Tha’am wa Syarab wa Ahkamuha”.

    [18]
    Oleh karena itu, Ibnu Umar r.a. dikenal sebagai sahabat yang amat senang
    mengikuti segala tingkah laku Rasulullah saw. karena ia amat senang
    mengikuti ucapan dan perbuatan beliau.

    [19] Diriwayatkan oleh
    Ibnu Khuzaimah dalam kitab Shahih-nya dan Baihaqi dalam Sunan-nya dari
    Zaid bin Aslam. Ia berkata, “Aku melihat Ibnu Umar shalat dengan kancing
    yang terbuka. Kemudian, aku bertanya kepadanya mengapa ia melakukan hal
    itu, ia menjawab, “Karena aku pernah melihat Rasulullah saw.
    melakukannya.”

    [20] Dari Mujahid, ia berkata, “Suatu saat kami
    berjalan bersama Ibnu Umar r.a. dalam sebuah perjalanan. selanjutnya,
    kami melewati suatu tempat. Tiba-tiba di tempat itu Ibnu Umar menepi
    dari jalan. Saat ia ditanya, ‘Mengapa engkau melakukan hal ihi?’ ia
    menjawab, ‘Karena aku pernah melihat Rasulullah saw. melakukan hal itu
    maka aku pun melakukannya.” Diriwayatkan oleh Ahmad dan Bazzaar dengan
    sanad yang baik. Haitsami berkata bahwa para perawinya dapat dipercaya,
    Lihat al-Muntaqa min Kitab at-Targhib wa Tarhib, 1/112, hadits 31.

    [21]
    Dari Ibnu Sirin, ia berkata: kami bersama Ibnu Umar r.a. di Arafat.
    Saat ia istirahat, kami pun ikut istirahat bersamanya. Hingga datang
    imam shalat, maka ia pun shalat zhuhur dan ashar bersamanya. Kemudian
    aku dan sahabat-sahabatku wukuf bersamanya hingga imam bergerak keluar
    dari Arafah. Setelah itu, kami pun ikut bergerak. Hingga sampai ke suatu
    tempat sebelum Ma’zamain. Di situ, Ibnu Umar mengistirahatkan
    kendaraannya, maka kami pun mengikutinya. Kami menyangka ia akan
    melaksanakan shalat. Namun pembantunya yang menjaga kendaraannya
    mengatakan bahwa ia tidak hendak melaksanakan shalat, namun ia
    mengatakan bahwa Nabi saw., saat beliau sampai ke tempat itu, beliau
    melaksanakan hajatnya. Oleh karena itu, Ibnu Umar pun ingin melaksanakan
    hajat juga di tempat itu. Diriwayatkan oleh Ahmad, dan para perawinya
    adalah para perawi yang dijadikan andalan dalam kitab-kitab sahih. Atsar
    ini juga disebutkan oleh Al Hafizh al Manawi dalam kitab At Targhiib wa
    at Tarhiib, fashal at Targhiib fi ittiba’ as sunnah. Lihat: al Madkhal
    li Dirasat as Sunnah an Nabawiah, karya Dr. Yusuf al Qaradhawi, hal:
    24-32.

    [22] Asy-Syathibi, al-I’tisham (Beirut: Darul Ma’rifah), juz 1/36.

    [23]
    Demikian juga halnya dengan Zaid bin Tsabit yang diperintahkan oleh Abu
    Bakar untuk mengumpulkan catatan-catatan ayat Al-Qur an dan
    mengkompilasikannya. Namun, Abu Bakar terus mendorong Zaid hingga Allah
    SWT melapangkan dadanya, sebagaimana telah terjadi dengan Umar dan Abu
    Bakar r.a..

    [24] Asy-Syathibi berkata bahwa Umar menamakannya
    seperti itu, dengan melihatnya dari unsur luarnya, yaitu suatu pebuatan
    yang tidak dilakukan oleh Rasulullah saw.. Juga tidak pernah terjadi
    pada masa Abu Bakar r.a.. Namun, bid’ah yang diucapkannya itu bukan
    bid’ah dengan pengertian terminologis. Maka, siapa yang menamakan
    perbuatan tadi sebagai bid’ah, dengan pengertian bid’ah seperti itu,
    maka tidak ada yang perlu diperdebatkan dalam masalah istilah dan
    terminologi. Lihat al-I’tishaam, 1/195.

    [25] Diriwayatkan oleh
    Bukhari dalam kitab Shalat Tarawih bab “Fadhlu man Qaama Ramadhaan”.
    Dan, lafal hadits tadi dikutip darinya. Juga diriwayatkan oleh Malik
    dalam kitab al-Muwaththa, bab “Bad’u Qiyaam Layaali Ramadhaan”

    [26]
    Aisyah r.a. berkata,”Nabi saw. shalat (sunnah pada malam bulan
    Ramadhan) di masjid, maka orang-orang kemudian mengikuti shalat beliau
    itu. Pada malam kedua, beliau kembali shalat, dan kali ini para jamaah
    semakin bertambah banyak. Setelah itu, pada malam ketiga atau keempat,
    orang-orang berkumpul di masjid, namun Nabi saw. tidak keluar dari rumah
    beliau. Pada pagi harinya, Rasulullah saw. bersabda, “Aku melihat apa
    yang kalian lakukan itu, dan yang menghalangi diriku untuk keluar dan
    shalat (tarawih) bersama kalian adalah karena aku takut jika shalat itu
    sampai diwajibkan atas kalian.” hadits Muttafaq ‘afaih. Lihat karya
    asy-syaukani, Nailul Authar, 3/61, Darul Fikr.

    [27] Asy-Syathibi
    berkata bahwa perhatikanlah, dalam hadits ini–yakni hadits Aisyah
    tadi–ada indikasi yang menunjukkan bahwa perbuatan itu adalah sunnah
    karena, dengan kenyataan Rasulullah saw. melakukan qiyamullail Ramadhan
    (shalat sunnah pada malam bulan Ramadhan) dengan berjamaah di masjid,
    pada hari pertama dan kedua. Ini menunjukkan bahwa perbuatan itu sah dan
    boleh dilaksanakan. Sementara, dengan tidak keluarnya Rasulullah saw
    (pada malam ketiga atau keempat) itu karena mengkhawatirkan jika shalat
    qiyamullail Ramadhan diwajibkan bagi umat Islam, hal itu sama sekali
    tidak menunjukkan pelarangan perbuatan itu. Karena, masa ini adalah masa
    turunnya wahyu dan syariat sehingga bisa saja jika perbuatan itu
    kemudian diwajibkan bagi umat Islam. Oleh karena itu, ketika illat
    syariat itu telah hilang dengan wafatnya Rasulullah saw., maka
    kembalilah hukum masalah itu kepada hukum asalnya. Dengan demikian,
    perbuatan ihi secara jelas dibolehkan dan tidak ada penasakhan
    (penghapusan hukum) baginya. Lihat al-I’tishaam, 1/194.

    [28]
    Syekh Islam Ibnu Taimiyah telah menulis redaksinya yang amat bagus, yang
    meng-counter orang yang menganggap baik perbuatan bid’ah, seperti yang
    beliau tulis dalam kitabnya “Iqtidha shiiraathal-Mustaqim, Mukhalafatu
    Ashhabu al-Jahim”, (Beirut: Darul Ma’rifah), him. 270 dan seterusnya.
    Silakan dibaca kitab itu.

    [29] Pendapat mereka ini telah dibahas
    dan didiskusikan oleh Imam asy-Syathibi secara mendetail. Pada akhirnya,
    ia berkesimpulan bahwa pembagian bid’ah seperti ini adalah suatu
    perbuatan mengada-ada yang sama sekali tidak didukung oleh syariat.
    Bahkan, ia bersifat kontradiktif dalam dirinya sendiri. Karena, hakikat
    suatu bid’ah adalah sesuatu yang sama sekali tidak mempunyai dalil, baik
    dari nash syariat maupun dari kaidah-kaidahnya. Seandainya di dalam
    syariat ada sesuatu dalil yang menunjukkan kewajiban, sunnah, atau
    bolehnya sesuatu (perbuatan bid’ah) itu, niscaya tidak ada bid’ah dan
    niscaya perbuatan itu masuk dalam kelompok perbuatan-perbuatan yang
    harus dikerjakan atau diberi kesempatan untuk dikerjakan. Lihat
    al-I’tishaam, (Beirut: Darul Ma’rifah), 1/188-211.

    [30] Ini
    merupakan bagian dari hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad, Tirmidzi, dan
    Ibnu Jarir dari beberapa jalan periwayatan dari Adi bin Hatim. Lihat
    dalam Tafsir Ibnu Katsir, (Istanbul: Dar Dakwah), 2/328

    [31] Asy-Syathibi menyebut hal ini dalam kitabnya, al-I’tisham,l /49.

    [32]
    Diriwayatkan oleh Bukhari dari Abu Hurairah r.a.. Nash lengkapnya
    adalah sebagai berikut, “Pada suatu hari, seorang arab badwi kencing di
    masjid. Melihat hal itu, beberapa orang langsung berdiri untuk
    menghajarnya. Namun, Rasulullah saw. segera bersabda, Biarkanlah dia dan
    tuangkanlah di bekas kencingnya sesiraman atas seember air. Karena,
    kalian semata diutus untuk memberikan kemudahan, bukan untuk memberikan
    kesulitan.” (Riyadhush Shalihin, an-Nawawi, bab “al-Hilm, wal-Inat
    war-Rifq)

    [33] Hadits Muttafaq ‘alaih, dari hadits Ka’ab bin
    Ajrah. Syarh Sunnah III Baghawi, tahqiq asy-Syawisy dan al-Amauth,
    3/190, hadits 681.

    [34] Hadits diriwayatkan oleh Muslim dari Abi Hurairah dalam adz-Dzikr wa Du’a, 2720.

    [35]
    Tentang hal ini, lihat fatwa Dr. Yusuf al-Qardhawi berkenaan tentang
    doa-doa wudhu yang ma’tsur dan yang tidak ma’tsur, dalam bukunya,
    Fatwa-Fatwa Kontemporer, juz I, him. 213-214.

    [36] Yaitu mimpi
    Abdullah bin Zaid, seperti terdapat dalam hadits yang diriwayatkan oleh
    Ahmad, Abu Dawud dan disahihkan oleh Tirmidzi dan Ibnu Khuzaimah. Lihat
    Subulus-Salam, ash-shan’ani, bab “al-Adzaan”.

    [37] Bahkan
    dikotomi (pembagian / pencabangan) antara ilmu pengetahuan agama dan
    ilmu pengetahuan umum itu sendiri adalah bid’ah yang sebelumnya sama
    sekali tidak ada dalam wacana keilmuan Islam. Karena, Islam tidak
    bersifat terpisah dari dunia. Penjelasan lebih mendalam tentang hal ini
    dapat dilihat pada subjudul “al-Fisham an-Nakd”, dari buku al-Mustaqbal
    Li Hadza Din, karya asy-Syahid Sayyid Quthb.

    [38] Sanadnya hasan,
    diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam kitab Al Musnad, juga Ath Thabari,
    Al Hakim, ia juga mensahihkannya, dan disetujui oleh Adz Dzahabi. Lihat:
    Syarh as Sunnah, al Baghawi, tahqiq: Asy-Syawisy dan
    al-Arnauth:l/196-197, hadits 97.

    [39] Rasulullah saw. mengajarkan
    sahabatnya dengan alat peraga, dan salah satu alat peraga yang biasa
    dipergunakan untuk mereka adalah pasir.

    [40] Bahkan, Khalifah
    Umar bin Abdul Aziz berkata, “Aku tidak bergembira jika seluruh sahabat
    Rasulallah saw. tidak berbeda pendapat sama sekali. Karena jika mereka
    tidak berbeda pendapat sama sekali niscaya kita tidak mungkin
    mendapatkan rukhshah (keringanan).”

    [41] Dari Abi Hurairah r.a.
    ia meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Allah akan mengutus
    bagi umat ini pada setiap awal seratus tahun seseorang yang akan
    memperbarui agamanya.” Diriwayatkan oleh Abu Dawud, al-Hakim, al-Baihaqi
    dan selainnya, serta disahihkan oleh al-Iraqi dan as-Suyuthi. Yang
    dimaksud dengan pembaruan agama, seperti disinyalir dalam hadits itu,
    adalah pembaruan pemahaman terhadapnya, serta keimanan dan beramal
    dengannya. Dr. Yusuf Qardhawi telah menjelaskan panjang lebar tentang
    hadits ini dalam bukunya min Ajli Shahwahtin Raasyidah, Tujaddiduddiin
    wa Tanhadhu bid-Dunya, hlm. 936, al-Maktab al-Islami, Beirut;
    diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Membangun
    Masyarakat Baru, Gema Insani Press, 1997.

    [42] Ibnu Jarir, Tammam
    dalam Fawa’id-nya, Ibnu Adi dan lainnya meriwayatkan dari Nabi saw.
    hadits, “Ilmu ini akan dijunjung oleh orang yang mencermati musuh
    kecenderungannya (pembuat bid’ah). Ia akan melenyapkan penyelewengan
    orang-orang yang melakukan kesesatan dalam agama, kecenderungan
    orang-orang yang membuat kebatilan, dan takwil orang-orang bodoh.” Lihat
    syarah-nya dalam al-Madkhal li Dirasat as-Sunnah an-Nabawiyah, Dr.
    Yusuf al-Qardhawi, hlm. 95-98.

    [43] Diriwayatkan dari Ibnu Umar
    bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Allah SWT tidak akan mengumpulkan
    umatku — atau umat Muhammad saw. — dalam kesesatan. “Tangan Allah
    bersama jamaah. Siapa yang menyempal dari jamaah maka ia menyempal ke
    dalam neraka.” Diriwayatkan oleh Tirmidzi dan ia menilainya sebagai
    hadits gharib, serta diriwayatkan oleh al-Hakim dengan redaksi sejenis.
    Lihat ash-Shahwah al Islamiah, baina al-Ikhtilaf al-Masyru’ wa
    at-Tafarruq al-Madzmum, Dr. Yusuf al-Qardhawi, hlm. 25, Muassasah
    ar-Risalah, Beirut.

    Sumber: Sunnah & Bid’ah, Dr. Yusuf Qardhawi, Gema Insani Press.

  • bacanya dari bawah ke atas yaa… mari berdiskusi secara cerdas dan jelas.. gunakan otak bukan urat..

  • Barangkali yang nggak setuju kerana di agama lain ultah/natalan menjadi suatu kebisaan kaum Non muslim…sehingga tidak perlu ada ultah/maulid/natalan…..bukankah Muslim tidak boleh melakukan sesuatu yang menjadi ciri kaum lain diluar islam?……..bagi yang setuju barangkali bukan esensi ultahnya yang di peringati, tapi pengingatkan kepada kita akan nilai-nilai yang diajarkan Rasul ( Nabi Muhammad), namanya juga “peringatan”……dan kenyataannya Maulid Nabi tidak dianggap dan jangan dianggap sebagai “Hari Raya” karena toh tidak semua Muslim bisa dan ahrus merayakannya. Semoga hal yang demikian tidak menjadikan perpecahan sesama Muslim.

  • yang coment pada pinter2 yee… ane sih setuju sama Al-Qaradhawi.. tapi ane gak mau mengkafirkan orang2 yang tidak bermaulid.. masa sih sesama umat islam gampang bener mengkafirkan orang.. pantes aja umat islam gampang di pecah belah.. sama umat agama lain toleran tapi sama sodara sendiri pengen puas bener comentarnya.. seolah2 kalo sodaranya masuk neraka die baru puas..

  • orangbiasa

    yang bilang Maulid itu perayaan ..mesti belajar lagi deh, yang benar memperingati maulid, wan

  • Setuju, bukan perayaan. Kalo perayaan hari besar Maulid= Bid’ah.
    Kalo memperingati Maulid Nabi= bukan Bid’ah.

  • sekhanas

    Masalah maulid bukan perayaan melainkan peringatan, seperti peringatan HUT RI jadi gk ada kaitannya dengan ritual agama Islam namun demikian bisa menjadi nilai manfaat mana kala diisi dengan dakwah Islamiyah sama juga dengan yg lain. Jadi soal furu’iyyah, gk usah diperpanjang, mau ikut memperingati tidak apa ikut memperingati juga tidak salah.

  • perayaan maulud dibid’ahkan tetapi bentuk negara kerajaan spt arab saudi tidak dibid’ahkan. nabi muhammad saw dan sahabat tdk mencontohkan bentuk negara kerajaan, tetapi bentuk negara musyawarah yaitu memilih pemimpin dg musyawarah dan baiat, bukan keturunan spt arab saudi.

  • tulisan diatas diakhiri dengan kalimat Wallahu a’lam jadi hanya Allahlah yang Maha Mengetahui, yang merayakan maupun yang tidak merayakan memiliki dasar ilmunya masing-masing, mestinya persatuan umat lebih diutamakan daripada memperbesar perbedaan pendapat

  • Iix Srm

    mau tanya nih sob.. adakah hadits yang menerangkan tanggal jelasnya maulid nabi..? maklum mualaf..

    • MUJAHIDIN

      dalam hadis tidak ada. namun, jumhur ulama menguatkan bahwa maulid nabi jatuh pada bulan rabi’ul awal tepatnya pada tanggal 12 penanggalan hijriyah.

    • Alamaut

      Tahukah anda surah Tabbat tentang Paman nabi ‘abu lahab? sebenarnya banyak sebagian besar ulama diantaranya mengambil patokan dari kisah itu Cari dihadis bukhori,Abu lahab bergembira dengan hari kelahiran nabi sehingga diringankan dosanya …….jangan sungkan bertanya,tanyalah pada ulama yang bisa anda datangi,tentu kepada ulama yang bukan anti maulid,,,,,,,,,,,karena masalah ini lagi rame ramenya diperdebadkan entah apa maksudnya,menurut saya sebagai rasa cinta kepada nabi ,itulah cikal bakal perayaan untuk selalu mengingatnya sekaligus mengamalkan ajarannya,inat jangan sampai bergembira dalam perayaan maulid tapi tidak mau mengamalkan ajarannya,,,,,,,,,,,,,,,,

  • duta alfarizizi hadi

    mryakan maulid tnda cinta kita sma nabi,nabi ja cinta sama kita,mssa kita gk cinta.allah humma sholli alla muhammad

  • duta alfarizizi hadi

    duta alfarizi hadi.habib,doain saya semoga saya jdi manusia yang istiqomah,jdi manusia ahlul qur’an n ahlul hadist.

  • hmm. semoga yg di Indonesia jg mengikuti syeikh nya, ironis jg, jika sang syeikh memfatwakan tidak bidah tapi org2 yg biasanya mengkaji fatwanya malah membid’ahkan. kan aneh bin terbalik. wallahu a’lam

  • FAUZI

    DI ACEH UMUMNYA KITA MEMBUAT MERAYAKAN MAULID NABI…. TAPI ADA SEBAHAGIAN KECIL KALANGAN MD YANG MASIH MEMBIDA’AHKAN … MAKA MD TUNGGU APALAGI APA YANG DI KATAKAN YUSUF QARDHAWI….. PERLU DI TURUTI DAN DI IKUTI….

  • Alamaut

    Penomena Bid’ahnisasi dunia islam meraja lela,………….itulah hebatnya islam,kita kesampingkan klompok ,individu dalam mengamalkan islam,mari kita renungkan masing masing merenung?????????nah sekarang lihat atau rasakan apa hikmah dengan adanya istilah Bid’ahnisasi,.kalau saya pribadi saya merasa bersyukur karena hampir disemua kalangan dari anak2 sampai orang tua mulai terjun langsung mencari apa dan bagaimana islam itu,mereka sekarang tidak sekedar berislam ria tanpa menggali kandungan ilmu ilmu yang ada dalam islam itu sendiri ,orang islam mulai belajar belajar dan belajar untuk mengamalkan sesuai dengan apa yang dia fahami sehingga mereka menjadi dewasa dalam menyikapi islam sebagai agamanya.
    Nah kalau orang orang islam sudah dewasa dalama memahami islam,.tentulah bid’ahnisasi bukan hal yang merisaukan lagi jadi saran saya untuk:
    Maaf bagi klompok yang suka menyesatkan keyakinan klompoklain,…..hentikan ,tabayyun dan temuilah ulama ulama klompok lain dalam hal meluruskan syariat islam jangan jangan asal menyampaikan tanpa memperhatikan siapa yang pantas untuk menerima ,itu semua agar jangan sampai orang atau klompok yang tidak berkepentingan ikut memberikan komentar sehingga kesannya akan jelek bagi agama kita .
    Bagi semua orang islam yang pernah berkomentar,saya tidak perlu sebut siapa siapa orangnya atau klompoknya……..hentikan hujat menghujat karena pada hakekat kita telah menghujat diri sendiri yaitu agama kita ,bukankah Allah maha segalanya? serahkan segalanya pada Allah,….sesat ,kafir,dosa,pahala,neraka surga …..hak Allah semata.
    Tugas tokoh tokoh ulama masing masing klompok untuk sering melakukan pertemuan antar ulama dalam bersyariat yang benar!,yang nantinya masing masing ulama memberikan pemahaman pada umat………maafkan saya yang lemah ilmu kebenaran hanya untuk Allah,Wasalamualaikum

  • Sahid Ahmad Dahlan

    maaf… ayat yang ke dua itu bukan Qs. Al-anfal 30.. tetapi Qs. Al-Maidah : 11.. tolong di koreksi lagi

  • aziz

    Nabi
    melarang kita melakukan suatu ibadah yang semata mata hasil inovasi
    kita sendiri !! Maka Dari Pertanyaannya adalah Apakah nabi shallaulahu
    ‘alaihi wassalam MERAYAKAN hari kelahirannya? tidak ada riwayat tentang
    itu! Setelah nabi shallaulahu ‘alaihim
    wassalam wafat, Apakah Abu bakar, Umar, Utsman dan Ali rodiallahu’anhum
    MERAYAKAN maulid nabi?? padahal mereka jauh lebih MENCINTAI Nabi
    DIBANDING kita, tapi mereka tidak merayakannya, lalu kenapa kita
    merayakan maulid nabi??
    sedangkan tidak ada Riwayat yang Shahih tentang perayaan maulid nabi ..
    Kalau
    memang bapak menganggap Maulid tidak bid’ah tapi sebuah kebaikan ,
    berarti bapak telah menganggap diri bapak lebih baik dari Rosul, lebih
    baik dari sahabat, DJIBRIL mana yang datang kepada bapak menyampaikan
    kalau Memperingati maulid nabi adalah suatu kebaikan ??

  • Mahmud

    Kaum diluar sana sedang bertepuk tangan melihat perselisihan ini…:(

  • aelfizon

    MAULUD NABI MUHAMMAD SAW

    yg tdk bisa dipastikan itu adalah kapan Nabi Muhammad SAW lahir baik tgl. bulan dan tahunnya. kenapa kita berani menentukan tgl, bulan dan tahun lahirnya???

    mari kita simak masalah jumlah orang yang bermukimkan di dalam gua ini:

    سَيَقُولُونَ ثَلَاثَةٌ رَّابِعُهُمْ كَلْبُهُمْ وَيَقُولُونَ خَمْسَةٌ سَادِسُهُمْ كَلْبُهُمْ رَجْمًا بِالْغَيْبِ وَيَقُولُونَ سَبْعَةٌ وَثَامِنُهُمْ كَلْبُهُمْ قُل رَّبِّي أَعْلَمُ بِعِدَّتِهِم مَّا يَعْلَمُهُمْ إِلَّا قَلِيلٌ فَلَا تُمَارِ فِيهِمْ إِلَّا مِرَاء ظَاهِرًا وَلَا تَسْتَفْتِ فِيهِم مِّنْهُمْ أَحَدًا

    Nanti (ada orang yang akan) mengatakan (jumlah mereka) adalah tiga orang yang keempat adalah anjingnya, dan (yang lain) mengatakan: “(Jumlah mereka) adalah lima orang yang keenam adalah anjingnya”, sebagai terkaan terhadap barang yang gaib; dan (yang lain lagi) mengatakan: “(Jumlah mereka) tujuh orang, yang kedelapan adalah anjingnya”.

    Katakanlah(Hai Muhammad): “Tuhanku lebih mengetahui jumlah mereka; tidak ada orang yang mengetahui (bilangan) mereka kecuali sedikit”. Karena itu janganlah kamu (Muhammad) bertengkar tentang hal mereka, kecuali pertengkaran lahir saja dan jangan kamu menanyakan tentang mereka (pemuda-pemuda itu) kepada seorang pun di antara mereka. (QS. 18:22)

    Ya apalagi soal tanggal, bulan dan tahun lahirnya Nabi Muhammad SAW dimana pada waktu itu memang belum ada kalender Islamnya. Jadi soalnya bukan masalah bid’ah atau tidaknya.

Lihat Juga

(konsultasisyariah.com)

Menjernihkan Persoalan Maulid dan Natal