Home / Berita / Fatwa MUI Tegaskan Mashlahat Umat

Fatwa MUI Tegaskan Mashlahat Umat

Majelis Ulama Indonesia
Majelis Ulama Indonesia

dakwatuna.comMajelis Ulama Indonesia (MUI) telah bekerja keras melaksanakan tugasnya. Mengarahkan kemaslahatan umat. Memagari madharat agar tidak menimpa umat. Proses keluarnya fatwa pun ketat dan berlapis. Berikut prosesnya:

Setelah melalui draft awal, dilanjutkan dalam sidang pleno komisi, ditampung dalam tim perumus dan kemudian diajukan ke sidang pleno Ijtima Ulama Komisi Fatwa MUI yang berlangsung pada hari Ahad sore, 26 Januari 2009, dicapai keputusan yang diktumnya sebagai berikut:

1. Seluruh peserta Sidang Pleno Ijtima’ sepakat:
a. bahwa hukum merokok tidak wajib,
b. bahwa hukum merokok tidak sunat, dan
c. bahwa hukum merokok tidak mubah.

2. Peserta Sidang berbeda pendapat tentang tingkat larangan merokok tersebut, sehingga hukum merokok terjadi khilaf ma baiyna al-makruh wa al-haram (perbedaan pendapat antara haram dan makruh).

3. Seluruh peserta Sidang Pleno Ijtima’ sepakat bahwa merokok hukumnya haram:
a. Di tempat umum,
b. bagi anak-anak,
c. bagi wanita hamil.

Sedangkan perihal Diktum Keputusan Ijtima Ulama Komisi Fatwa Tentang Pemilu prosesnya juga demikian. Setelah melalui perbincangan hampir sehari penuh dalam rapat Komisi Masail Asasiyah Wathaniyah (Masalah Strategis Kebangsaan), kemudian dikerucutkan dalam Tim Perumus dan diajukan ke sidang pleno Ijtima Ulama, disepakati dan diktum keputusannya sebagai berikut:

1. Pemilihan umum dalam pandangan Islam adalah upaya untuk memilih pemimpin atau wakil yang memenuhi syarat-syarat ideal bagi terwujudnya cita-cita bersama sesuai dengan aspirasi umat dan kepentingan bangsa.

2. Memilih pemimpin dalam Islam adalah kewajiban untuk menegakkan imamah dan imarah dalam kehidupan bersama.

3. Imamah dan imarah dalam Islam menghajatkan syarat-syarat sesuai dengan ketentuan agama agar terwujud kemaslahatan dalam masyarakat.

4. Memilih pemimpin yang beriman dan bertakwa, jujur (siddiq), terpercaya (amanah), aktif dan aspiratif (tabligh), mempunyai kemampuan (fathonah), dan memperjuangkan kepentingan umat Islam hukumnya adalah wajib.

5. Memilih pemimpin yang tidak memenuhi syarat-syarat sebagaimana disebutkan dalam butir 1 (satu) atau tidak memilih sama sekali padahal ada calon yang memenuhi syarat hukumnya adalah haram.

Apapun hasil fatwa MUI di atas, marilah kita hargai kerja keras MUI yang memang wewenangnya. Sedangkan dampak dari fatwa itu, yaitu adanya pro dan kontra, marilah kita semuannya, terutama institusi terkait untuk memberi jalan keluar. Seperti misalkan dampak pelarangan merokok, sehingga adanya pengangguran baru, Maka Pemerintah bersama masyarakat berbahu untuk menanggulanginya dengan membuka lapangan kerja baru berbasiskan ekonomi kerakyatan, memberi modal usaha dan pendampingannya dan lain sebagainya. Hidup mandiri dengan tidak bergantung dengan “pendapatan” yang membawa bahaya.

Ketika Komisi Perlindungan Anak dengan tegas mendorong Pemerintah melarang segala bentuk sosialisasi dan iklan rokok, Maka ini juga sebuah kemajuan.

Sekilas dari fatwa MUI dan tuntutan Komisi Perlindungan Anak agaknya “frontal”, namun Pemerintah dan masyarakat pun akhirnya dituntut untuk cepat beradaptasi dan mengantisipasi dampak-dampaknya.

“Karena boleh jadi sesuatu itu menurut kita baik, padahal sesuatu itu sebenarnya membawa madharat. Dan boleh jadi sesuatu yang kita anggap buruk, padahal justeru sesuatu itu membawa manfaat.” (ut)

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (4 votes, average: 7,75 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Tim dakwatuna adalah tim redaksi yang mengelola dakwatuna.com. Mereka terdiri dari dewan redaksi dan redaktur pelaksana dakwatuna.com
  • Setuju banget, mari kita hargai para ulama kita. mereka sudah berusaha sungguh-sungguh demi kemaslahatan umat dan anak cucu kita bukan utk kepentingan pribadi mereka. Semoga Allah Swt menerima amal ibadah para ulama kita. aamiin

  • Ana sepakat dengan Fatwa MUI tersebut. Bukankah Allah melarang dholim terhadap diri kita ? Insya Allah fatwa tersebut ana sebarkan di masyarakat. [email protected]

  • h.taufik

    Pemimpin yang memenuhi syarat siddik,amanah,tabligh dan fathonah hanya Rosulullah SAW. Adakah calon pemimpin bangsa yang memenuhi syarat seperti itu ? Wallahu'alam.

  • yayat

    saya bingung, kadang kita mengomtari hasil sidang para ulama yang berlmu sedangkan yang komen itu tidak tau apa=apa. ibaratnya, sok tau gitu.
    marilah kita menghargai fatwa MUI yang telah berjuang keras melahirkan fatwa itu.

  • inne

    Tanggapan miring terhadap fatwa ulama merupakan buah dari ghowzhul fikr. Apresiasi terhadap fatwa ulama merupakan ciri org beriman.

  • al-faruq

    saya sampat panas mendengar kwn2 yg ngomong klu fatwa golput ini di bisiki oleh orang politik .. semoga tidak ..

  • lutfi

    Ana dukung banget tuh fatwa mui,

    masalahnya ana sering klo naek bis sama istri dan anak sering ngomel sendiri karena samping kanan dan kiri pada merokok ,klo udah ada fatwa itu khan enak negurnya

  • Dengan fatwa ini keimanan dan berserah diri kita dalam Islam teruji. Apakah sami'na wa ata'na (kami dengar dan kami taati) atau kami dengar tapi nanti dulu untuk melaksanakannya.

    Sebagai contoh bagaimana wanita-wanita Muhajirin dan Anshor ketika turun ayat ALLAH berkaitan kewajiban untuk menutup Aurat? Mereka langsung menarik penutup jendela (Horden) mereka untuk menutup aurat mereka. SUBHANALAAH….

    Akankah kita taat kepada ALLAH dan RasulNYA atau tetap mengikuti hawa nafsu saja ……..

  • Al Mujahidin Muda

    Assalamu 'alaikum…

  • Danang

    Sudah semestinya kita mengapresiasi fatwa tersebut dengan melaksanakannya, dan bagi yang mungkin tidak setuju, silakan terus mencari kebenaran yang hakiki, sampai menemukan bahwa meroko itu memang haram…

  • marwan ds

    Saya percaya kepada ulama, siapa lagi yang akan mempercayainya kalau tidak umat Islam. Oleh karena saya katakan saya percaya dan saya laksanakan

  • almustaqim

    Sebenarnya apa yang perlu kita fikirkan adalah permaasalahan ummat..

  • rofik anhar

    bravo MUI!!! sami’na wa atho’na. But… adakah pemimpin hari ini yang bertaqwa? Wallohua’lam.

  • Abu Achmad

    Seharusnya Ulama dalam memutuskan suatu masalah yg berkaitan dengan agama islam, harusnya berpegang dengan Al-Qur’an dan Hadist Rusululloh, SAW, jangan memakai pertimbangan akal, apalagi pertimbangan-2 yang lain, karena hal tsb justru akan menjerumuskan umat, semisal Rokok adalah Haram ya katakan Haram, jangam mubah, makruh jadi pertimbanganya adalah dalil Syar’i jangan ekonomi

  • Drs Syahrudin Darwis

    POLITIK itu
    kotor, katamu. , Politik menghalalkan segala cara, TENTU SAJA!, karena
    orang cerdas yg menyukai cara bersih sepertimu memilih menyingkir dari
    ranah politik.
    (1) Sdrku , hanya ada dua jalan di dunia, jalan Fujur dan jalan Taqwa. Semua memiliki muara di akhirat, Syurga dan Neraka, tak ada jalan tengah antara fujur dan taqwa.
    (2) Sdrku, jika engkau mengaku netral, tidak berpihak, tidak memilih jalan saat di dunia, di mana muaramu di akhirat?

    (3) Sdrku, engkau menonton dan bersorak melihat pertempuran haq dan
    batil, menggerutu saat dimenangkan kebatilan, dimana nuranimu?
    (4)
    Apakah akan berulang ucapan kaum Nabi Musa, saat diajak memerangi
    kebatilan, dan mengatakan: “Pergilah engkau bersama Tuhanmu dan…
    (5) ….. berperanglah kamu, kami di sini duduk-duduk saja (menanti hasil pertempuran)”. Umat siapakah engkau?

    (6) Bukankah umat Nabi Muhammad selalu menyertai,dlm pertempuran apapun
    yg dihadapi, kecuali orang-orang yg memiliki udzur dan orang munafiq.

    (7) Jangan mengulang kekhilafan Kaab bin Malik, yang mengaku salah dan
    bergabung dengan pasukan, hanya setelah Rasul kembali dg kemenangan
    dari Tabuk.
    (8) Sdrku,bukankah hidup itu membawa misi, sebagai
    hamba Allah dan khalifah di muka bumi? Bukankah kita akan
    mempertanggungjawabkannya? (9) Setiap kata, ucapan, tulisan, perbuatan,
    bahkan sikap politik? Apa partaimu, siapa pemimpin yg kau pilih? Semua
    ditanyakan?
    (10) Jangan mengira beragama cukup, Syahadat, Sholat,
    Zakat, Puasa, Haji , lalu membaikkan amal diri dan keluarga. Hanya
    itukah?
    (11) Lantas siapa yang akan memberantas judi, pelacuran,
    minuman keras dan berbagai kerusakan di setiap lini melalui perundangan
    dan regulasi?
    (12) Apakah engkau berharap tiba-tiba semua politisi mendapat pencerahan dan membuat regulasi negeri ini tiba-tiba Islami?
    (13) Sdrku , tanpa usaha dan perjuangan di ranah Politik , apakah mungkin itu terwujud?

    (14) Jangan sampai Allah menggantikan dengan kaum yang mencintai Allah
    dan Allah mencintainya, jika tak ada lagi yg peduli pada urusan umat

    (15) Tanpa payung politik, bisa saja negeri ini, menjadi kuburan nilai
    kebaikan, bahkan kuburan umat Islam, naudzubillah min dzalik
    (16) Maka beristighfarlah anda yang mengaku “golongan tengah”, senyatanya hanya ada golongan kanan dan kiri.

    (17) Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu merubah
    diri mereka sendiri

    (18) Mari jadikan 9 April pemilu yang bersih dan
    adil, dengan partisipasi yang benar, jika anda peduli pada kemajuan
    bangsa ini.

    (19) Saya bermohon ampun kepada Allah dari segala salah dan
    khilaf
    (20) Saya berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk.
    SEMOGA ALLAH SELALU MEMBIMBING KITA SEMUA, AAMIIN.

Lihat Juga

Fahira Idris, Anggota DPD RI. (pojoksatu.id)

Jakarta Magnet Kepentingan, Warga Jakarta Harus Rasional Pilih Pemimpin