Home / Narasi Islam / Wanita / Semua Ada Harganya

Semua Ada Harganya

dakwatuna.comMenjadi aktifis dakwah bukanlah sekedar pilihan. Apalagi bagi akhawat al ummahat dengan segala keterbatasan yang dimilikinya. Keterbatasan? Ya, siapa yang dapat memungkiri bahwa ada keterbatasan yang tak dapat ‘diganggu gugat’ dari gerak langkah seorang aktivis dakwah akhawat?

Kita tak hendak membahas soal keterbatasan itu. Biarlah ia menjadi ‘kekhususan, daya tarik sekaligus kekuatan’ kita. Yang lebih penting adalah, bagaimana dengan keterbatasan itu kita tetap dapat dan mampu memberi kontribusi untuk kejayaan Islam dan kaum muslimin.

Dalam kesempatan kunjungan saya ke berbagai tempat, saya bertemu dan berdiskusi dengan para aktivis dakwah akhawat dari berbagai belahan dunia, bukan hanya dari dunia Islam, tapi juga dari Eropa dan Amerika. Banyak persoalan dibahas, tetapi satu persoalan yang menarik bagi saya adalah ternyata ada kesamaan problem di antara semua peserta diskusi. Itulah problem yang saya sering menyebutnya dengan ‘problem khas akhawat, atau problem klasik’. Khas karena problem itu hanya muncul dikalangan akhawat, klasik karena sebenarnya problem seperti ini telah muncul sejak lama, juga telah sering didiskusikan di berbagai forum dan kesempatan, formal maupun informal, tetapi seperti tidak pernah selesai.

Problem apakah itu? Tidak sedikit akhawat kita disini -dan juga akhawat di negara lain- mengeluhkan tentang dukungan dan support suami dalam menjalankan peran sebagai aktivis dakwah. Saya rasa, kita tak perlu tergesa-gesa mengambil kesimpulan dari keluhan itu. Saya mengajak kita semua untuk berpikir jernih dan sedikit melakukan analisa sederhana terhadap sebab munculnya keluhan itu.

Boleh jadi jika suami kurang memberi dukungan seperti yang diharapkan istrinya yang aktifis itu, karena ada perbedaan persepsi tentang ‘peran akhawat al muslimat’. Saya katakan ‘boleh jadi’, karena mungkin antum wahai ikhwan tidak merasakan itu. Tetapi, cobalah tanya ke para akhawat, mereka akan dengan semangat mengatakan bahwa hal inilah yang mungkin menjadi akar dari semua masalah dukung mendukung itu. Bahkan teman saya, seorang ukhti yang saya cintai karena Allah, yang alhamdulillah memiliki suami yang merelakannya menjadikan dakwah sebagai aktivitas hidupnya, berseloroh mengatakan ‘hari gini masih ngeributin peran akhawat?’

Atau bisa jadi juga, karena suami ‘sangat sayang’ kepada istrinya. Dugaan ini muncul karena beberapa ikhwan tidak mempermasalahkan keaktifan akhawat dalam dakwah…asalkan bukan istrinya. Nah! Jujur, teman-teman saya pernah mendengar komentar dari kalangan ikhwan seperti ini, ‘Silahkan saja, akhawat kan memang harus aktif terlibat dalam dakwah, tapi jangan istri saya deh’.

Kemungkinan lainnya, boleh jadi suami melihat istrinya kurang bisa memanej dengan baik berbagai aktifitasnya. Istilah populernya, sang istri jadi ‘kurang tawazun’. Diantara keluhan suami, istri terlalu banyak keluar rumah sehingga jadi kurang perhatian terhadap urusan rumah, anak-anak dan dirinya.

Disamping tiga sebab di atas, tentu masih ada sebab lainnya, yang jika ditulis bisa menjadi tulisan berlembar-lembar. Sekarang marilah merenung sejenak.

Saya sepakat bahwa tidak semua akhawat harus menjadi aktivis dalam pengertian khusus, memberikan totalitas hidupnya untuk menjadi prajurit dakwah. Keberagaman potensi dan kemampuan di kalangan akhawat harus menjadi pertimbangan penting dalam membuat rancangan peran dan kontribusi akhawat yang pas dan sesuai dalam dakwah. Alangkah indahnya jika akhawat memiliki spesialisasi masing-masing, lalu semua bekerja dan memberi kontribusi sesuai spesialisasi potensinya itu dalam kerangka amal jama’i.

Para akhawat yang punya kesempatan untuk berkonsentrasi menekuni urusan kerumah tanggaan misalnya, dapat meningkatkan kualitas dirinya dalam urusan itu. Misalnya dengan menekuni masak memasak, atau ketrampilan-ketrampilan kerumah tanggaan lainnya, lalu berbagi keahliannya itu dengan akhawat lain. Atau, ia juga dapat memberi kontribusi dalam dakwah dengan ikut membantu saudara-saudaranya yang tidak punya waktu luang sebanyak dirinya. Saya membayangkan, para ummahat yang punya lebih banyak waktu dirumah, dengan ikhlas dan semangat amal jama’i lalu berbondong-bondong membantu menjaga anak-anak saudari-saudarinya yang mendapat amanah dakwah keluar rumah, keluar kota atau keluar negeri. Subhanallah, betapa indahnya! Kita berharap, kontribusi ini menjadi amal shaleh kita yang dapat memberatkan timbangan di yaumil hisab nanti. Amin.

Akan halnya para akhawat yang dengan takdir-Nya menjadi prajurit dakwah, marilah sama-sama kita renungkan hal ini! Kita telah melakukan sebuah transaksi besar dengan Allah, Pemilik dakwah ini. Transaksi itu melibatkan seluruh diri kita, harta, waktu, jiwa, potensi, bahkan darah dan daging, tulang belulang kita, semuanya telah kita ‘jual’ kepada Allah. Maka sejak saat kita melakukan transaksi itu dengan memberikan janji setia kita kepada-Nya, saat itu pula sesungguhnya kita telah menjadi ‘milik Allah’ dengan semua makna yang tercakup dalam kata itu.

Ada makna yang sangat dalam dari transaksi yang kita lakukan dengan ikhlas itu. Kita jual diri kita seutuhnya untuk Allah, dan Dia berikan harga mahal untuk semua itu. Allah Yang Maha Kaya memberikan harga untuk diri yang kita jual kepada-Nya itu -tidak tanggung-tanggung, dengan syurga-Nya!

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan syurga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh. Itu telah menjadi janji yang benar dari Allah didalam Taurat, Injil dan Al-Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya selain Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar!. At-Taubah:111.

Maka saudariku, semua yang kita lakukan, kita perjuangkan dalam dakwah ini ada harganya. Semua kelelahan, ketakutan, keresahan, kesempitan, pengorbanan yang kita berikan di jalan dakwah ini, semuanya ada harganya. Ada janji Allah berupa syurga yang menunggu, jika kita menepati janji setia kita kepada-Nya. Allah tidak akan mengkhianati janjinya, siapakah yang lebih menepati janji selain Allah? Karena itu, siapkan diri kita untuk punya kemampuan menanggung semua konsekwensi, menghadapi semua tantangan dan rintangan, menjalankan semua kewajiban…sampai Allah memberi kemenangan kepada dakwah ini, atau kita syahid di jalan-Nya!

Wahai akhawat! Kewajiban kita lebih banyak dari waktu yang ada. Kewajiban sebagai anak, istri, ibu, tetangga, anggota masyarakat dan prajurit dakwah, semua menuntut penunaian secara ihsan. Saya mengerti dan merasakan, betapa tidak mudahnya kita mengelola dan melaksanakan berbagai kewajiban itu. Kadang kita ‘tertatih-tatih’ menjalankan semua kewajiban itu. Tetapi, kita tidak ingin mengeluh atas semua itu. Kita juga tidak menuntut pengertian dari orang lain agar memahami tugas kita. Justru di sinilah kita letak keindahannya, kita mendapat kesempatan untuk memberi bukti kepada Allah, bahwa kita siap dengan semua beban-beban itu! Karena kita tahu dan yakin, ada surga yang menunggu! Jadi saudariku, buktikan bahwa kita layak melakukan transaksi dengan Allah!

Sebagai penutup, ingatlah bahwa Allah tidak melihat apa dan bagaimana kedudukan kita, tetapi Dia melihat amal dan kontribusi kita. Karena itu, apapun potensi dan kemampuan kita, beramallah dengannya. Sedangkan yang terbaik dan mulia di sisi-Nya adalah yang paling bertakwa. “Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu adalah yang paling bertakwa diantaramu.” Al-Hujurat:13. Wallahu’alam bish-shawab.

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (37 votes, average: 8,92 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Dra. Anis Byarwati, MSi.
Lahir di Surabaya tahun 1967. Menikah pada tahun 1989 dan dikaruniai delapan anak. Kuliah pertama ditempuh di Akademi Pimpinan Perusahaan Jakarta jurusan Financial Management. Gelar S1 diraih dari dua tempat, yaitu di Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Hikmah Jakarta program Khusus berbahasa Arab dengan spesialisasi Tafsir-Hadits dan Sekolah Tinggi Agama Islam At-Taqwa Bekasi Jurusan Dakwah dan Penyiaran Islam. Gelar S2 diperoleh dari Program Pasca Sarjana Kajian Timur Tengah dan Islam Universitas Indonesia (UI) Jurusan Ekonomi dan keuangan Syariah dengan pilihan konsentrasi Perbankan Syariah.

Penulis mempunyai minat tinggi di bidang sejarah Islam dan khususnya sejarah pemikiran ekonomi Islam. Untuk minatnya ini, penulis secara serius menuangkannya dalam sebuah buku yang ditulisnya bersama Dosen Senior PSKTTI-UI Karnaen Perwataatmadja, berjudul JEJAK REKAM EKONOMI ISLAMI- Refleksi Peristiwa Ekonomi dan Pemikiran Para Ahli Sepanjang Sejarah Kekhalifahan. Buku yang diterbitkan bulan Maret 2008 ini sekarang menjadi salah satu referensi utama dalam Studi Sejarah Pemikiran Ekonomi Islami di almamaternya dan di beberapa perguruan tinggi lainnya.

Disamping itu, keseharian penulis disamping sebagai ibu rumah tangga, aktifis organisasi, juga sebagai aktifis dakwah dan pembicara diberbagai forum diskusi, seminar dan kajian Islam. Keaktifannya berdakwah merupakan manifestasi dari motto hidupnya: Isy Kariman aw Mut Syahidan (Hidup Mulia atau mati sebagai Syuhada).
  • meidiana

    wanita cerdas adalah yang mampu membuat suami ikhlas dengan kegiatan kita sebagai istri, sangaaat pentiiinggg.

  • agil

    Peran Akhwat…Sangat Urgen, Umi khan salah satu pilar utama baik buruknya umat. Tapi kita semua juga perlu instropeksi diri karena Rata-rata yang saya lihat -moga hanya sebagian kecil aja- putra aktivis dakwah adalah anak2 yg bermasalah di sekolahnya, yg mana 'boleh jadi' anak2 tersebut merasa kurang perhatian dan ngelihat abi-uminya sangat sibuk berdakwah di luar sana….^_^.

  • wahyuningsih

    assalamu’alaikum bunda, sukron atas tulisnnya! begitu menggugah hati ana yg sdag di landa kesmptan. mudah2n banyak para aktivs dakwah yg mendptkan pencrahan dari artikel ini. jz unk para umhat yg telh bayak membrikan kontribusi besar hingga dakwah ini memasuki sliruh lini masyarakat. dan slamt untuk para akhwat yng terus berjuang dgn sgla ketrbtasnnya… semua ada harganya! surgalah untuk mu mujahidah!!! yg ikhlas dan bersabar menti jaln ini.

  • mustika

    alhamdulillah..menyegerkan kembali niat awal bertransaksi dengan Allah…totalitas dengan segala peran yang ada dihadapan kita

  • Dheaz..

    menurutku, hal yg juga menjadi salah satu akar bgmn nantinya aktifitas seorang istri mendapat dukungan suami atau tidak adalah mulai dari menentukan pilihan jodohnya.
    Saat merasa siap melangkah menuju Zawaj, maka…Yup! kriteria utama adl harus se-FIKROH!!! itu yg sgt penting. Masalah nantinya hrs sambil terseok-seok di perjalanan dakwah krn belum begitu tawazun dgn semua aktivitas yg ada, tentunya itulah seninya. Seni saling memahami dan berkorban buat dakwah. Cayooo buat para aktivis…

  • meizurni

    Assalamua’laikum w w. tentunya kita para ummahat memang harus memenuhi kewajiban sebagai istri dan ibu.terkadang kita terlalu sibuk diluar sehingga kewajiban kita abaikan ,akibatnya suami tidak memberikan izin untuk aktifitas diluar.
    marilah kita sama2 intropeksi diri,dan meningkatkan kwalitas diri. Karena orang yang berkwalitas adalah orang yang sanggup memikul kerja / amanah yang besar.

  • eva

    subhanallah memang peran wanita dalam dakwah islam saat ini sangatlah penting sekali. coz wanita sebagai kwalitas pribadi bisa berkembang pesan dalam dakwah baik untuk pribadinya maupun mengajak orang lain untuk bisa intropeksi diri untuk lingkungannya
    ll

  • subhanallah..tulisan yg mencerahkan..alhmdllh!

  • iwan lebong

    zaman jangan dijadikan alasan untuk mengubah peran akhawat.. teori memang mudah tapi praktiknya tidak lah semudah itu.. laksanakan kewajiban dulu yg memang ada dalam agama kita..

  • dian

    Intinya harus ada tawazun antara kewaiban sbg istri dan aktivis dakwah, sulit memang tapi gunakanlah skala prioritas.

  • jihad

    terima kasih atas pemberitahuannya

Lihat Juga

Sseminar pengembangan diri muslimah tentang “Membangun Jembatan Masa Depan” bertempat di Auditorium Perdana Siswa, Universitas Malaya, Kuala Lumpur, Malaysia. Ahad

Peringati Hari Buruh FOKMA Malaysia Gelar Seminar ‘Membangun Jembatan Masa Depan’