Ulis Tofa, Lc

Ramadhan, Antara Generasi Awal dan Generasi Sekarang

25/8/2008 | 22 Sya'ban 1429 H | Hits: 7.437

Kirim Print

dakwatuna.com – Betapa besar perbedaan antara shaumnya –puasanya- kita dengan shaumnya salafus shalih -generasi awal Islam-.

Generasi awal Islam berlomba meraih nilainya, berkutat dalam naungannya dan mengerahkan segenap kekuatan fisik dan kekuatan jiwa untuk mengisinya.

Siang hari mereka adalah kesungguhan, produktifitas dan profesional.

Malam hari mereka adalah malam-malam meraih bekalan ruhani, tahajjud dan tilawatul Qur’an.

Sebulan penuh mereka belajar, beribadah dan berbuat baik.

Lisan mereka shaum, jauh dari berkata yang tidak ada manfaatnya, apalagi kata-kata kasar, jorok dan dusta.

Telinga mereka shaum, tidak mendengarkan pernyataan sesat, negatif dan sia-sia.

Mata mereka shaum, tidak melihat yang diharamkan dan perbuatan tidak senonoh.

Hati mereka shaum, tidak terbersit untuk melakukan kesalahan atau dosa.

Dan tangan mereka, tidak digunakan untuk mengambil yang tidak halal dan tidak menyakiti.

Berbeda dengan muslim sekarang ini.

Di antara mereka ada yang menjadikan Ramadhan sebagai musim ta’at kepada Allah swt. dan melipatgandakan kebaikan.

Mereka shaum siang harinya dengan sebaik-baiknya. Mereka qiyam Ramadhan –shalat tarawih dan tahajjud- dengan sebaik-baiknya.

Mereka bersyukur kepada Allah swt. atas nikmat yang diberikan, dan mereka tidak lupa saudara-saudara mereka yang lemah dan tidak beruntung.

Mereka berusaha meneladani Nabi, sebagai orang yang paling dermawan dan paling banyak berbuat baik dalam bulan Ramadhan, laksana angin yang tertiup.

Kelompok lain adalah, kelompok yang tidak pernah tahu dan sadar akan kebaikan Ramadhan. Mereka tidak merasakan manfaat dari bulan Ramadhan. Mereka tidak peduli dengan shiam dan qiyam. Mereka tidak tahu dan tidak mau tahu keutamaan dan keistimewaan Ramadhan.

Padahal Allah swt. menghidangkan Ramadhan bagi qalbu dan ruh –hati dan jiwa- sekaligus. Sedangkan mereka malah menjadikan Ramadhan untuk memperturutkan syahwat perut dan mata (tidur) semata.

Allah swt. menjadikan Ramadhan sebagai upaya menyemai sikap kasih sayang dan kesabaran. Justeru mereka menjadikannya sebagai ajang amarah dan mengumpat.

Allah swt. menjadikan Ramadhan sebagai wahana meraih sakinah –ketentraman- dan keteduhan. Mereka malah menjadikannya sebagai bulan pertengkaran dan perselisihan.

Allah swt. menjadikan Ramadhan sebagai momentum perubahan diri, namun mereka hanya merubah jadwal makan belaka.

Allah swt. menghadirkan Ramadhan untuk menggugah si kaya agar peduli dengan yang tak berpunya. Namun mereka menjadikannya sebagai ajang memperbanyak makanan dan minuman dengan aneka ragamnya.

Semoga umat muslim melaksanakan shaum Ramadhan adalah dalam rangka meraih janji Allah swt. taqwallah, bertaqwa kepada Allah swt. sebagaimana yang diperintahkan Al Qur’an, dengan demikian mereka akan keluar dari Ramadhan menjadi orang-orang yang suci (fithri) dan dosanya terhapuskan, biidznillah. Allahu a’lam


Beri Nilai Naskah Ini:

Nilai 1Nilai 2Nilai 3Nilai 4Nilai 5Nilai 6Nilai 7Nilai 8Nilai 9Nilai 10 (16 orang menilai, rata-rata: 6,75 dalam skala 10)
Loading ... Loading ...


Naskah Terkait Sebelumnya:


Akses http://www.dakwatuna.com/wap dimana saja melalui ponsel, Blackberry atau iPhone Anda.
Kirim Print
  • Print
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google Bookmarks
  • BlinkList
  • email
  • LinkedIn
  • Live
  • MySpace
  • PDF
  • Ping.fm
  • Reddit
  • Slashdot
  • Technorati
  • Twitter
  • Yahoo! Bookmarks
  • Yahoo! Buzz
  • MSN Reporter

Ada 10 komentar untuk naskah ini. Kirim komentar Anda.

  • sahar am mengatakan:

    Kami merasa bahagaia bila masih ada usaha untuk mengajak kepada dienul islam meskipun ada beberapa hal yang dirasa kurang tetapi kami yakin bila ada istiqomah di hati antum insya Allah situs seperti ini nantinya akan digandrungi generasi muda

  • Safrizal mengatakan:

    assalaamu alaikum wr.wb…
    tolong donk kirimkam untuk saya
    kalimat-kalimat renungan yang bisa mempertebal iman saya….
    ditunngu ya…….

  • m mansur mengatakan:

    akhi, boleh kan tulisan/artikel yang
    ada disini saya salin ulang, untuk keperluan dakwah dikalangan kami sendiri?, mohon balasannya terima kasih

  • aqila hanifah mengatakan:

    assalamu’alaikum wr wb
    subhanalloh, Maha Suci Alloh yang tetap memberikan hidayah pada mereka yang senantiasa berusaha agar tegaknya Kalimatulloh di muka bumi ini…salam kenal selalu..
    ustad, kalo ada artikel bisa tidak di kirim ke email ana?

  • yusman hayanto mengatakan:

    alhamdulliah,thank banyak buat pak ustadz, web ini sangat sangat membantu saya…artikelnya sangat bagus, kl bisa kirim ke saya naskah kumpulan kultum..krn saya ada tugas isi kultum di sepanjang ramadlan..thank berat…siiippp…abiss…

  • kusumo mengatakan:

    Subkhanallah, telah datang bulan penuh kelipatan pahala dan berkah. Web ini telah banyak membantu bagi mukminun/-at agar ingat kembali apa agenda yang menjadi prioritas. mohon kirim agenda prioritas tuk bln romadhon (mahasiswa)! jaya selalu!

  • subiyanto unis tangerang mengatakan:

    Teman – Teman jangan lupa,apabila antum ingin menjumpai/mencari malam lailatul Qodar maka,carilah dimalam 27 Ramadhan InsyaAllah jika iman antum tidak meragukan maka antum akan menemuinya.Amin…!yuk kita cari sama – sama!!!

  • jundiyudi mengatakan:

    alhamdulillah, ramadhanku, ramadhanmu, dan ramadhan kita semua telah tiba

  • pito mengatakan:

    subhanallah… mari kita berusaha menjadikan ramadhan kita seperti semasa salafus shalih… amin.

  • gusnardianto Hanipa mengatakan:

    Alhamdulillahhirobbilalamin, dengan Ramadhan kita perbanyak tilawah, i’tikaf dimesjid dan quyamul lail

Kirim komentar Anda

XHTML: Anda dapat menggunakan tag berikut ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Catatan: Redaksi menerima komentar terkait naskah yang ditayangkan, maksimal sebanyak 500 karakter. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim dan tidak menggambarkan pandangan Redaksi. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap spam, tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau hal negatif lainnya yang terkait dengan penyakit lidah (afatul lisan). Komentar yang mengandung alamat/URL situs web, pada umumnya dianggap sebagai spam yang akan dihapus oleh sistem secara otomatis. Jaga privasi Anda sendiri dengan tidak mencantumkan alamat email dan nomor telepon Anda di ruang komentar ini.

   sisa karakter

« Naskah Sebelumnya
Naskah Sesudahnya »