Anna Mariani Kartasasmita, SH. MPsi.

Pengaruh Nama Pada Anak

9/4/2008 | 02 Rabiuts Tsani 1429 H | Hits: 14.594
Oleh: Anna Mariani Kartasasmita, SH. MPsi.
Kirim Print

dakwatuna.com - Para ahli sosiologi berpendapat bahwa nama yang berikan orangtua kepada anaknya akan mempengaruhi kepribadian, kemampuan anak dalam berinteraksi dengan orang lain, dan bagaimana cara orang menilai diri si pemilik nama.

Banyak alasan dan pertimbangan para orangtua dalam memilihkan nama anak. Ada yang menyukai anaknya memiliki nama yang unik dan tidak ‘pasaran’. Mungkin mereka tidak suka membayangkan ketika nama anaknya dipanggil di depan kelas, ternyata ada lima orang anak yang maju karena kebetulan namanya sama. Ada yang lebih suka anaknya memiliki nama yang singkat dan mudah diingat. Orangtua seperti ini akan beralasan, “Toh nanti anakku akan dipanggil dengan nama bapaknya di elakang namanya.” Walaupun pernah kejadian orang Indonesia yang diharuskan mengisi suatu formulir di negara Eropa agak kebingungan karena diharuskan mengisi kolom nama keluarga. Padahal sebagaimana juga kebanyakan orang Indonesia, nama yang ada di kartu indentitasnya hanya nama tunggal, tanpa nama keluarga atau bin/binti.

Beberapa orangtua lain memilihkan nama yang megah untuk buah hati mereka. Sementara bagi kalangan tertentu ada kepercayaan jika anak ‘keberatan nama’ nanti bisa sakit-sakitan. Sebagian orang ada yang menganggap nama sebagai sesuatu yang biasa, sekedar identitas yang membedakan seseorang dengan yang lain. Ada lagi yang memilihkan nama untuk anaknya berdasarkan rasa penghargaan terhadap seseorang yang dianggap telah berjasa atau dikagumi. “As a tribute to,” demikian alasannya.

Sebagai orangtua, kita perlu tahu makna dari sebuah nama dan mempertimbangkan yang terbaik untuk anak kita. Bayangkan bahwa anak kita akan menyandang nama tersebut sejak tertulis di akte kelahiran, hingga di hari akhir nanti.

Bagi umat muslim, nama adalah doa yang berisi harapan masa depan si pemilik nama. Para calon orang tua yang peduli tidak hanya berusaha memilih nama yang indah bagi anaknya, tapi juga nama yang memiliki arti yang baik dan memberikan dampak atau sugesti kebaikan bagi anak. Dr. Abdullah Nashih Ulwan dalam buku Pedoman Pendidikan Anak dalam Islam menyebutkan beberapa hal penting tentang pemberian nama kepada anak.

Menurut beliau kita para orangtua hendaknya:

1. Memberikan nama segera setelah bayi dilahirkan. Lamanya berkisar antara sehari hingga tujuh hari setelah dilahirkan. Dalam sebuah hadits Rasulullah saw. bersabda, “Tadi malam telah lahir seorang anakku. Kemudian aku menamakannya dengan nama Abu Ibrahim.” (Muslim).

Dari Ashhabus-Sunan dari Samirah, Rasulullah saw. bersabda, “Setiap anak itu digadaikan dengan aqiqahnya. Disembelihkan (binatang) baginya pada hari ketujuh (dari hari kelahiran)nya, diberi nama, dan dicukur kepalanya pada hari itu.”

2. Memperhatikan petunjuk pemberian nama, dengan mengatahui nama-nama yang disukai dan dibenci. Ada pun nama-nama yang dianjurkan Rasulullah saw. adalah:

  • Nama-nama yang baik dan indah. Rasulullah saw. menganjurk, “Sesungguhnya pada hari kiamat nanti kamu sekalian akan dipanggil dengan nama-nama kamu sekalian dan nama-nam bapak-bapak kamu sekalian. Oleh karena itu, buatlah nama-nama yang baik untuk kamu sekalian.”
  • Nama-nama yang paling disukai Allah yaitu Abdullah dan Abdurrahman.
  • Nama-nama para nabi seperti Muhammad, Ibrahim, Yusuf, dan lain-lain.

Sedangkan nama-nama yang sebaiknya dihindari adalah:

  • Nama-nama yang dapat mengotori kehormatan, menjadi bahan celaan atau cemoohan orang.
  • Nama yang berasal dari kata-kata yang mengandung makna pesimis atau negatif.
  • Nama-nama yang khusus bagi Allah swt. seperti Al-Ahad, Ash-Shamad, Al-Khaliq, dan lain-lain.

Pengaruh nama pada anak

Orangtua seharusnya berusaha memberikan sebutan nama yang baik, indah dan disenangi anak, karena nama seperti itu dapat membuat mereka memiliki kepribadian yang baik, memumbuhkan rasa cinta dan menghormati diri sendiri. Kemudian mereka kelak akan terbiasa dengan akhlak yang mulia saat berinteraksi dengan orang-orang disekelilingnya.

Anak juga perlu mengetahui dan paham tentang arti namanya. Pemahaman yang baik terhadap nama mereka akan menimbulkan perasaan memiliki, perasaan nyaman, bangga dan perasaan bahwa dirinya berharga.

Bagi lingkungan keluarga, adalah hal yang penting untuk menjaga agar nama anak-anak mereka disebut dan diucapkan dengan baik pula. Sebab ada kebiasaan dalam masyarakat kita yang suka mengubah nama anak dengan panggilan, julukan, atau nama kecil. Sayangnya nama panggilan ini terkadang malah mengacaukan nama aslinya. Nama panggilan ini kadang selain tidak bermakna kebaikan juga bisa mengandung pelecehan. Hal ini kadang terjadi karena nama anak terlalu sulit dilafalkan, baik oleh orang-orang disekitarnya bahkan bagi sang anak sendiri.

Nama yang terdiri dari tiga suku kata atau lebih akan membuat orang menyingkat nama tersebut menjadi satu atau dua suku kata. Misalnya Muthmainah akan disingkat menjadi Muti atau Ina. Sedangkan nama yang memiliki huruf ‘R’ biasanya akan lebih sulit dilafalkan anak yang cenderung cedal pada usia balita. Maka nama-nama seperti Rofiq (yang artinya kawan akrab) akan dilafalkan menjadi Opik, nama Raudah (taman) dilafalkan menjadi Auda.

Nama yang unik dan berbeda apalagi megah, mungkin memiliki keuntungan tersendiri. Namun nama yang demikian dapat menyebabkan beberapa masalah. Nama yang sulit diucapkan dapat membuat orang-orang sering salah mengucapkan atau menuliskannya. Ada suatu penelitian yang menunjukkan bahwa orang sering memberikan penilaian negatif pada seseorang yang memiliki nama yang aneh atau tidak biasa. Dr. Albert Mehrabian, PhD. melakukan penelitian tentang bagaimana sebuah nama mengubah persepsi orang lain tentang moral, keceriaan, kesuksesan, bahkan maskulinitas dan feminitas. Dalam pergaulan anak yang memiliki nama yang tidak biasa mungkin akan mengalami masa-masa diledek atau diganggu oleh teman-temannya karena namanya dianggap aneh. Pernah mendengar ada seseorang yang bernama Rahayu ternyata seorang laki-laki?

Jika ingin menamai anak dengan nama orang lain, ada baiknya memilih nama orang yang sudah meninggal dunia dan telah terbukti kebaikannya. Jika orang tersebut masih hidup, dikuatirkan suatu saat orang tersebut berubah atau mengalami kehidupan yang tercela. Sudah banyak contoh orang-orang yang pada sebagian hidupnya dianggap sebagai orang besar, ternyata di kemudian hari atau di akhir hayatnya digolongkan sebagai orang yang banyak dicela masyarakat. Kita harus menjaga jangan sampai anak kita menanggung malu karena suatu saat dirinya diasosiasikan dengan orang yang tidak baik.

Beruntunglah kita, karena di Indonesia nama-nama Islami sangat biasa dan banyak. Sehingga tidak ada alasan merasa malu atau aneh memiliki nama yang Islami. Hanya saja mungkin dari segi kepraktisan perlu dipertimbangkan nama anak yang cukup mudah diucapkan, tidak terlalu pasaran tapi tidak aneh, dan sebuah nama yang akan disandang anak kita dengan bangga sejak masa kanak-kanak hingga dewasa nanti. Wallahu alam.


Beri Nilai Naskah Ini:

Nilai 1Nilai 2Nilai 3Nilai 4Nilai 5Nilai 6Nilai 7Nilai 8Nilai 9Nilai 10 (54 orang menilai, rata-rata: 8,70 dalam skala 10)
Loading ... Loading ...


Naskah Terkait Sebelumnya:


Akses http://www.dakwatuna.com/wap dimana saja melalui ponsel, Blackberry atau iPhone Anda.
Kirim Print
  • Print
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google Bookmarks
  • BlinkList
  • email
  • LinkedIn
  • Live
  • MySpace
  • PDF
  • Ping.fm
  • Reddit
  • Slashdot
  • Technorati
  • Twitter
  • Yahoo! Bookmarks
  • Yahoo! Buzz
  • MSN Reporter

Ada 36 komentar untuk naskah ini. Kirim komentar Anda.

  • [...] Pengaruh Nama Pada Anak Sumber: http://www.dakwatun a.com [...]

  • agus irwanto mengatakan:

    Saya tidak pernah malu dengan nama Islam walaupun nama saya tidak dari bahasa arab, oleh karena itu nama anak saya, diambil juga dari bahasa Arab / nama Islam.

  • ilvan roza mengatakan:

    Assalamualaikum, Wr.Wb

    Mengenai pemberian nama kepada anak yang baru lahir, terkadang menjadi fenomena yang tidak henti-hentinya. Kenapa saya kata demikian, karena terkadang dengan nama anak yang islami tidak sesuai dengan tingkah laku atau sifat si anak. Misalnya, orang tua memberi nama anaknya dengan nama islam yaitu ’sabri’. KAlau dilihat dari kata sabri sendiri berarti sabar, tetapi anak tersebut tidak sabar, bahkan selalu berbuat hal yang jauh dari kriteria orang yang sabar.Itu salah satu contoh, masih banyak fenomena-fenomena lain seputar kaitan pemberian nama dengan sifat si anak.

    Beberapa waktu yang lalu, istri saya melahirkan anak pertama kami dengan jenis kelamin laki-laki. kami memberi nama dengan nama yang berbau islami, dengan harapan si anak kelak menjadi tauladan bagi seluruh umat. Terlalu besar memang harapan yang kami gantungkan kepadanya, akan tetapi niat baik itu mudah-mudahan diterima dan diberi rahmat oleh Allah,SWT. NAma nya adalah ‘Muhammad Luthfi Yovan Massaki’. Muhammad sendiri berarti orang yang terpuji, Luthfi berarti lemah lembut, sabar, Yovan adalah gabungan nama orang tuanya, dan Massaki diambil dari bahasa Jepang yang berarti pendahuluan atau yang pertama.

    Itulah sebuah nama yang kami berikan kepada bayi kami yang baru menginjak kehidupan dunia 2 bulan yang lalu. semoga dengan nama itu, kelak dia akan menjadi anak yang terpuji dan menjadi tauladan yang baik di dunia serta menjadi anak shaleh serta berbakti kepada orang tunya. Amin.

    Wassalamualaikum, Wr.Wb.

  • Muhammad Fahruddin mengatakan:

    AssaLamu’alaikum!!!

    Nama saya Muhammad Fahruddin,
    1. arti nama saya apa???

    2. Saya besok kalau punya anak laki-laki ingin memberinya nama Muhammad Lutfi Fahruddin Habibullah

    Kira-kira nama tersebut benar/bagus tidak???

    Terima kasih sebelumnya,,
    Mohon diberi tanggapan ya!!!!

  • sutrisno mengatakan:

    Assalam mu`allaikum wr wb

    kepada dakwatuna.com

    Saat ini saya sedang menanti kehadiran anak ke tiga.
    Saya sangat mengharapkan bantuan saudara untuk membantu saya mencarikan nama untuk putri saya yang akan lahir dalam beberapa hari ini. ( menurut USG jenis kelamin anak saya wanita ). Hingga saat ini saya belum mendapatkan nama untuk anak saya. Istri saya ingin memanggil putri saya itu dengan nama wulan. Anak pertama saya diberi nama Muhammad Iqbal Okta Fajar yang kedua Bintang Abdus Salim. Apakah arti dari kedua nama tsb? Terima kasih atas bantuannya..
    Wassalam mu`allaikum Wr Wb

  • Adsak mengatakan:

    Nama saya mengangung arti dalam bahasa arab korban. karena saya lahir saat idul korban. Diakhir nama saya pun ada kata yang dalam pengertian bahasa nya adalah besar. Jadi korban besar. Sejak SMU saya sering sakit2an. Bagaimana menurut pandangan ibuk?

  • ibnu faris mengatakan:

    assalamu’alaikum wr.wb.

    ustadz kami mau konsultasi, isnyaAlloh kami hendak memberi nama anak putri kami tsabithah nurul ‘athifah, bagaimana menurut ustadz adakah yang kurang dari nama tersebut. jazakallahu.

    wassalamu’alaikum wr.wb.

  • ibnu faris mengatakan:

    assalamu’alaikum wr.wb.

    ustadz kami mau konsultasi, isnyaAlloh kami hendak memberi nama anak putri kami tsabithah nurul ‘athifah, bagaimana menurut ustadz adakah yang kurang dari nama tersebut. jazakallahu.

    wassalamu’alaikum wr.wb.

    nb. : maaf ustadz kalau bisa jawaban via japri

  • luqman mengatakan:

    assalamu’alaikum wr.wb.
    nama saya luqman mubaroq istri saya rr.ayu retno palupi saya ingin minta saran apa nama yang terbaik bagi bagi anak laki-laki kami yang lahir pada tgl 13 desember 2008 jam 5.20 wib. sebelumnya sudah kami siapkan namun mengingat padanan kata dalam bahasa arab tidak boleh sembarang karena dapat merubah artinya kami mohon sarannya, terima kasih

  • Man mengatakan:

    Rasulullah saw. bersabda, “Setiap anak itu digadaikan dengan aqiqahnya. Disembelihkan (binatang) baginya pada hari ketujuh (dari hari kelahiran)nya, diberi nama, dan dicukur kepalanya pada hari itu.”
    Mohon penjelasan, kalau anak yg belum diaqiqah sampai 7 hari bahkan sampai dewasa,apakah tetap wajib aqiqah??? dasar dalilnya apa, karena hadist di atas hanya merujuk 7 hari (sebagaimana rujukan dari imam syafii kalau tdk salah masih diwajibkan, kira2 disini ada hadist atau dalil lain tdk ya yg menguatkan)…(mohon jawabannya dikirim ke alamat email saya) tk

Kirim komentar Anda

XHTML: Anda dapat menggunakan tag berikut ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Catatan: Redaksi menerima komentar terkait naskah yang ditayangkan, maksimal sebanyak 500 karakter. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim dan tidak menggambarkan pandangan Redaksi. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap spam, tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau hal negatif lainnya yang terkait dengan penyakit lidah (afatul lisan). Komentar yang mengandung alamat/URL situs web, pada umumnya dianggap sebagai spam yang akan dihapus oleh sistem secara otomatis. Jaga privasi Anda sendiri dengan tidak mencantumkan alamat email dan nomor telepon Anda di ruang komentar ini.

   sisa karakter

« Naskah Sebelumnya
Naskah Sesudahnya »