Muslim Ekuador: Masjid Benteng Semangat Berislam

14/11/2008 | 14 Zulqaedah 1429 H | Hits: 731
Oleh: Tim dakwatuna.com
Kirim Print

Dakwatuna.com - Komunitas muslim di negara-negara Amerika Latin menyebar dalam jumlah yang tidak sedikit, namun karena pemberitaan tentang mereka sangat minim, sehingga realitas mereka belum terangkat, padahal mereka tersebar merata di sekitar 30 negara. Komunitas muslim memiliki kekuatan dan pengaruh yang tidak bisa dianggap remeh di negara-negara itu.

Ekuador terbilang salah satu negara Amerika Latin yang memberi peluang besar bagi komunitas muslim perihal kebebasan menjalankan keyakinan dan melaksanakan praktek-praktek ajaran agama dan simbol-simbol Islam, seperti kebebasan memakai hijab bagi wanita muslimah.

Sebagaimana agama Islam tersebar sangat meluas di negara ini. Namun ada kendala yang dihadapi komunitas muslim di sana, seperti minimnya jumlah masjid, sekolah agama, minimnya lembaga keagamaan yang membentengi pemuda-pemuda dari degradasi moral dan menipisnya rasa bangga terhadap agamanya.

Ternyata kondisi demikian tidak diketahui oleh negara Arab dan dunia Islam. Padahal riset di Ekuador menyatakan bahwa jumlah umat muslim di sana sekitar 2,6% dari total penduduk Ekuador, yang berjumlah sekitar 14 juta jiwa.

Islam masuk ke Ekuador pada akhir abad 19 M, ketika umat muslim dari Mesir dan negara-negara Syam hijrah ke negara-nengara Amerika untuk mencari kehidupan baru karena perang dunia kedua.

Mereka masuk ke negara-nengara Amerika dengan visa dari Turki, karena negara-negara mereka dibawah kekuasaan Turki Utsmani ketika itu. Umat muslim yang hijrah rata-rata berprofesi sebagai pedagang, sebagaimanan masyarakat Ekuador juga dominan melaksanakan transaksi perdagangan.

Banyak riset pada tahun delapan puluhan yang menyatakan bahwa jumlah komunitas muslim meninggkat tajam setelah dua orang tokoh Ekuador masuk Islam, karena terpesona dengan akhlakiyah umat muslim. Keduanya akhirnya mendirikan Lembaga Islam Ekuador. Setelah itu penduduk pribumi masuk Islam berbondong-bondong. Pada tahun 2004  terhitung 10 000 orang masuk Islam. Jumlah terbesar berdomisili di Ibu Kota Ekuador, Quito.

Dr. Laila Dassum, Direktur Islamic Centre Masjid As Salam di Ekuador menyatakan: “Umat muslim minoritas di Ekuador, namun mereka menikmati kebebasan penuh dalam menjalankan ajaran agamanya, dan tidak ada seorang pun yang mempersoalkan muslimah memakai hijab. Kendala yang dihadapi komunitas muslim di sini adalah minimnya masjid, sekolah agama. Baru ada dua masjid.”

Masih menurut Dr. Dassum: “Peran lembaga kami adalah mewakili komunitas muslim dalam urusan pemerintahan, mengenalkan Islam, mengajarkan bahasa Arab, menerjemahkan buku-buku, Insiklopedi Islam dari dua bahasa Arab dan Inggeris ke bahasa Spanyol, sebagai bahasa ibu penduduk Ekuador. Juga peran kami dalam meluruskan pencitraan buruk terhadap Islam yang dihembuskan media di Barat.”

Dengan peran ini, banyak penduduk pribumi yang masuk Islam, setelah mereka mengetahui bahwa ajaran Islam adalah ajaran yang menjunjung tinggi toleransi. Mereka kebanyakan dari kalangan mahasiswa, wartawan, pekerja media massa, dan para intelektual. (it/ut)


Beri Nilai Naskah Ini:

Nilai 1Nilai 2Nilai 3Nilai 4Nilai 5Nilai 6Nilai 7Nilai 8Nilai 9Nilai 10 (Belum ada nilai)
Loading ... Loading ...


Naskah Terkait Sebelumnya:


Akses http://www.dakwatuna.com/wap dimana saja melalui ponsel, Blackberry atau iPhone Anda.
Kirim Print
  • Print
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google Bookmarks
  • BlinkList
  • email
  • LinkedIn
  • Live
  • MySpace
  • PDF
  • Ping.fm
  • Reddit
  • Slashdot
  • Technorati
  • Twitter
  • Yahoo! Bookmarks
  • Yahoo! Buzz
  • MSN Reporter

Ada 4 komentar untuk naskah ini. Kirim komentar Anda.

Kirim komentar Anda

XHTML: Anda dapat menggunakan tag berikut ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Catatan: Redaksi menerima komentar terkait naskah yang ditayangkan, maksimal sebanyak 500 karakter. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim dan tidak menggambarkan pandangan Redaksi. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap spam, tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau hal negatif lainnya yang terkait dengan penyakit lidah (afatul lisan). Komentar yang mengandung alamat/URL situs web, pada umumnya dianggap sebagai spam yang akan dihapus oleh sistem secara otomatis. Jaga privasi Anda sendiri dengan tidak mencantumkan alamat email dan nomor telepon Anda di ruang komentar ini.

   sisa karakter

« Naskah Sebelumnya
Naskah Sesudahnya »