Film Hollywood “Rasul Pembawa Kedamaian” (The Messenger of Peace)

26/11/2008 | 26 Zulqaedah 1429 H | Hits: 3,329
Oleh: Tim dakwatuna.com
Kirim Print
Syuting film Ar Risalah

Syuting film Ar Risalah. Moustapha Akkad (berlutut) dalam syuting film Ar Risalah (The Message) pada tahun 1976. (Photo: Everett Collection/Rex Features)

dakwatuna.com - Beragam cara untuk membela kemuliaan Rasulullah saw., menepis gelombang issu dan pencitraan buruk di negara-negara Eropa, yang berusaha memposisikan Nabi Muhammad saw. sebagai teroris dan terbelakang.

Yaitu dengan penyebaran dan pengiriman biografi Rasulullah saw. secara objektif di internet.

Selain lewat internet, cara lain pembelaan terhadap kemuliaan Rasul lewat bidang seni, cara ini sangat efektif dan kuat pengaruhnya.

Adalah pembuatan film “Rasulus Salam” terjemahnya adalah “Rasul Pembawa Kedamaian” (The Messenger of Peace), berusaha menembus industri perfilman Amerika “Hollywood”, sebuah kiblat perfilman dunia. Film ini disiapkan oleh para seniman dan perfilman Amerika dan Arab.

Film ini termasuk pengalaman atau generasi kedua setelah film “Ar Risalah” karya seniman muslim Moustapha Akkad, yang juga bercerita tentang sejarah kehidupan Muhammad saw..

Film yang sekarang diproduksi ini kira-kira akan menelan biaya 127 juta dollar Amerika dengan setting pengambilan gambarnya di Emirat dan Maroko, dan akan kelar pada tahun 2010, biidznillah.

Film ini bercerita awal mula tersebarnya Islam, dengan target menampakkan nilai-nilai yang sebenarnya dari ajaran Islam, untuk menjembatani dua dunia, Islam dan Barat.

Produser film ini, Oscar Zoghbi, seorang warga negara Amerika, berkebangsaan Libanon- mengatakan:

“Sejarah kehidupan kenabian akan menjadi titik tekan penggarapan film ini, namun tentu kepribadian Muhammad saw. tidak akan diperankan dalam bentuk apa pun dalam film ini. Juga akan ditampilkan beberapa figur yang berinteraksi dengan kehidupan Muhammad dan mereka terpesona dengan kepribadian dan risalahnya.”

Zoghbi melanjutkan:

“Film ini akan menjawab tudingan keliru terhadap pribadi Muhammad saw. yang dikesankan miring oleh kalangan Barat. Tentu film ini akan sangat ditunggu lebih dari satu setengah milyar muslim di seluruh dunia, belum lagi non muslim yang selama ini objektif menggali dan belajar tentang Islam.”

Ia juga menegaskan bahwa film ini nantinya akan laku di pasaran, dan memberikan peluang bisnis perfilman nyang menguntungkan, sebagaimana film-film hollywood lainya.

Sebagaimana ia juga menegaskan bahwa film ini tidak sekedar buah karya dari seorang muslim untuk umat muslim di dunia, namun film ini adalah persembahan bagi seluruh penjuru dunia berikut keluarga besarnya.

“Ini film hollywood namun dengan nilai-nilai Islam, sebagaimana juga akan diangkat cerita tentang tersebarnya Islam di Bizantium dan Paris.” tambahnya.

Disebutkan juga bahwa pemain film ini boleh jadi sosok yang sudah terkenal atau tokoh-tokoh yang pernah tampil dalam film meskipun baru sekali, namun sangat berbakat dan bagus perannya.

Pembuatan film ini dikawal langsung oleh “Darus Syari’ah” semacam lembaga sensor film yang syar’i dan sekaligus menjadi konsultan dalam hal boleh-tidaknya menurut kaca mata syari’ah Islam.

Siapa menyusul membuat gebrakan perfilman Islami di Nusantara ini?, setelah sebelumnya dimeriahkan dengan film-film fenomenal; “Fatahillah”, “Ayat-Ayat Cinta”, “Laskar Pelangi”, “Sang Murabbi”, dan yang insya Allah akan tayang dilayar lebar pada bulan Mei 2009 adalah “Ketika Cinta Bertasbih”, kata penulis novelnya, Kang Abik. Namun film yang bercerita tentang sejarah Rasulullah saw. hasil karya putra Indonesia sepertinya belum ada, siapa tergerakkan untuk membuatnya?!. (io/ut)


Beri Nilai Naskah Ini:

Nilai 1Nilai 2Nilai 3Nilai 4Nilai 5Nilai 6Nilai 7Nilai 8Nilai 9Nilai 10 (2 orang menilai, rata-rata: 9.50 dalam skala 10)
Loading ... Loading ...


Naskah Terkait Sebelumnya:


Pembaca Naskah Ini, Juga Membaca:

Akses http://www.dakwatuna.com/wap dimana saja melalui ponsel, Blackberry atau iPhone Anda.
Kirim Print

Ada 18 komentar untuk naskah ini. Kirim komentar Anda.

  • ashofat mengatakan:

    untuk sutradara film sinetron indonesia yg muslim, kalo buat film religi mengedepankan dakwahnya dari pada kisah kekerasan dan percintaannya,biar kesannya tidak hanya hiburan semata.

  • kuncoro mengatakan:

    Semoga film ini tidak mendapat sisipan propaganda Amerika, kita tahu hampir semua film Holywood penuh dengan propaganda untuk kepentingan amerika,semoga yang muslim yaang terlibat jeli dan diberi kemampuan mencegah kepentingan yang kontra islam.
    Dan saya sangat berharap film ini akan menjadi jendela /pintu berbondong-bondongan konversi menjadi muslim.

  • yenni mengatakan:

    ada yg punya film arrisalah ga?atau dimana ya bisa dapat cd or file filmnya?

    yenniaza@gmail.com

  • roni-blt mengatakan:

    film arrisalah kan udah ada versi originalnya juga (dubbing bhs inggris). kalo di surabaya belinya di toko-toko perlengkapan islam kayak “Cahaya Amanah” atau di toko deket Masjid “Al_Falah”

  • roni-blt mengatakan:

    waktu pertama liat arrisalah (versi arab)yang saat liatnya juga ada pemandunya (abis ga ada terjemahnya)rasanya seneng banget. membangkitkan semangat ibadah. udah pengin liat versi barunya… sayang jalan ceritanya yang dulu agak cepet-cepet gitu.. maklum banyak yang diceritain sejarahnya.

  • Muhammad mengatakan:

    Assalamualaikum wbt,

    Bahagia sekali rasanya saat mengetahui akan berita ini. Semoga usaha ini bakal melonjak lagi industri perfileman Islami buat memberi inspirasi kepada ummat untuk kembali bangkit serta ber’izzah dengan Islam..insyaAllah…sama-sama kita doakan…

    Wassalam

  • ony mengatakan:

    mudah2n kemunculan filem ini bisa bembuka pemahaman2 khalayak untuk bisa memahami Islam secara kaffah. allahu yansurukum, amin

  • hwehehe mengatakan:

    hore………. mudaha2an cepet selesai filmnya….. biar semua orang bisa menonton….
    dan memahami arti penyebaran dan agama islam…..

Kirim komentar Anda

XHTML: Anda dapat menggunakan tag berikut ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Catatan: Redaksi menerima komentar terkait naskah yang ditayangkan, maksimal sebanyak 500 karakter. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim dan tidak menggambarkan pandangan Redaksi. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap spam, tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau hal negatif lainnya yang terkait dengan penyakit lidah (afatul lisan). Komentar yang mengandung alamat/URL situs web, pada umumnya dianggap sebagai spam yang akan dihapus oleh sistem secara otomatis. Jaga privasi Anda sendiri dengan tidak mencantumkan alamat email dan nomor telepon Anda di ruang komentar ini.

   sisa karakter

« Naskah Sebelumnya
Naskah Sesudahnya »