Rubrik Konsultasi Dakwah
Diasuh oleh para Ustadz dari Lembaga Kajian Dakwatuna
Assalamu’alaikum wr. wb.
Ustadz, alhamdulillah, saya termasuk di antara para aktivis dakwah yang tetap bersemangat dalam menunaikan amanah Allah ini. Doakan ya, Ustadz, agar saya bisa istiqomah. Namun, akhir-akhir ini ada masalah yang mengganjal. Ada tetangga yang mempersoalkan kemampuan saya memberikan materi Islam. Dia menanyakan bagaimana saya bisa membina pengajian sementara saya tidak mengetahui ilmu-ilmu dasar syariat.
Misalnya, saya belum memahami ushul fiqih secara mendalam. Saya belum menghafal banyak asbabun nuzul dan belum menguasai satu kitab tafsir pun. Bahkan, yang paling mendasar yang dipersoalkan tetangga saya itu adalah ketidakmampuan saya dalam berbahasa Arab.
Ustadz, setelah merenungkan pertanyaan tetangga saya itu, saya jadi bingung. Sebenarnya sudah mampukah saya mengajarkan obyek dakwah dengan ilmu-ilmu Islam. Terus terang, saya takut dengan ucapan Rasul yang menyatakan bahwa Allah tidak menyukai orang berbicara sesuatu mengatasnamakan firman-Nya. Saya takut saya salah menafsirkan ayat Al-Qur’an atau hadits Rasul. Bagaimana menurut Ustadz?
Wassalamu’alaikum wr. wb.
Syaifullah, Jakarta.
Jawaban:
Saudara Syaifullah di Jakarta dan pengunjung dakwatuna.com di mana pun Anda berada, as-salamu’alaikum wa rahmatullah wa barakatuh. Semoga Allah swt. senantiasa memberikan tambahan ilmu yang bermanfaat kepada kita semua.
Masalah yang Anda hadapi adalah masalah yang juga dihadapi oleh banyak para dai, murabbi, dan bahkan termasuk para ustadz. Anda tidak perlu putus asa, lemah semangat, dan –na’udzubillah– berhenti dari berdakwah. Sebab, bila hal ini terjadi, pertama, Anda akan kehilangan kesempatan dan peluang untuk meraih keutamaan dakwah; dan yang kedua, masyarakat akan banyak kehilangan para pembimbing, pembina, murabbi, dan penegak amar ma’ruf nahi munkar. Na’udzubillah min dzalik.
Agar pembahasan terhadap masalah yang Anda hadapi menjadi jelas, saya akan membahasnya dalam empat point: adakah syarat dalam berdakwah, kewajiban menuntut ilmu, masalah penyatuan berbagai potensi dan kemampuan umat untuk sukses dakwah, dan cerita tentang pengalaman seorang dai.
Terkait dengan masalah pertama, Rasulullah saw. bersabda, “Ballighu ‘anni walaw aayah, sampaikan dariku, walaupun satu ayat.” (Hadits shahih diriwayatkan oleh Imam Bukhari). Hadits ini menjelaskan bahwa walaupun yang kita miliki “hanya” atau “baru” satu ayat, maka kita telah terkena kewajiban untuk menyampaikan satu ayat itu.
Betul, memang orang yang melakukan amar ma’ruf nahi munkar wajib dan harus memiliki ilmu: ilmu tentang ma’ruf yang akan disampaikan, ilmu tentang munkar yang akan dicegah, dan ilmu tentang orang yang menjadi obyek dan target amar ma’ruf nahi munkar serta ilmu tentang amar ma’ruf nahi munkar itu sendiri. Akan tetapi, yang dimaksud ilmu di sini, baik secara kuantitatif maupun kualitatif, tidaklah seperti yang Anda gambarkan dalam pertanyaan, akantetapi seperti yang disabdakan Rasulullah saw. di atas. Yang perlu dicatat di sini adalah kita tidak boleh menyampaikan sesuatu yang tidak kita ketahui atau yang kita tidak ada ilmu terhadapnya.
Dan kita, sebagai seorang muslim atau muslimah, khususnya para dai dan daiyah, murabbi-murabbiyah, dan para aktivis dakwah lainnya, berkewajiban untuk menuntut ilmu, meningkatkan pemahaman kita, dan menambah wawasan kita dalam rangka melaksanakan sabda Rasulullah saw., “Thalabul ‘ilmi faridhatun ‘ala kuli muslim, menuntut ilmu adalah sesuatu yang fardhu bagi setiap muslim.” [Ini hadits hasan diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan Al-Baihaqi). Dan juga dalam rangka melaksanakan perintah Allah subhanahu wa ta’ala kepada Nabi Muhammad saw. (dan juga kepada kita), “Waqul Rabbi zidni ‘ilma, dan katakan -wahai Muhammad- Ya Allah Rabbku, tambahkanlah akan ilmu pada diriku.” (Thaha: 114). Dan inilah masalah kedua yang telah saya janjikan untuk saya bahas.
Oleh karena itu, wahai saudaraku Syaifullah, teruskan langkah Anda dalam membina masyarakat. Tingkatkan ilmu dan pemahaman serta perluas wawasan dengan banyak membaca dan berguru kepada para ahlinya.
Perlu kita ingat, kita sadari, dan kita ketahui bahwa Allah swt. memberikan kemampuan yang berbeda antara satu orang dengan lainnya. Ada orang yang berkemampuan mujtahid (mampu menggali secara langsung nash-nash Al-Qur’an dan Al-Hadits). Ada yang berkemampuan menghafal Al-Qur’an dan Al-Hadits tanpa mampu ber-ijtihad. Ada yang berkemampuan orasi, ceramah, memberi mau’izhah walaupun ilmu dan wawasannya “terbatas”. Ada yang berkemampuan membina, mempengaruhi, dan mengajak orang lain kepada kebaikan.
Kewajiban kita adalah menyatukan berbagai potensi itu semua demi suksesnya tugas dan amanah dakwah ini. Bukan sebaliknya, membuat putus asa dan jerih (takut) orang yang terjun dalam dunia dakwah. Jika kita menemukan kekurangan pada seseorang itu, tugas kita-lah untuk melengkapi dan menutup kekurangan tersebut, sehingga seluruh potensi dan kemampuan umat bahu-membahu dalam hal ini.
Banyak sekali ayat, hadits, dan kejadian pada masa Nabi, sahabat, dan salafus-shalih yang membenarkan hal ini. Salah satunya adalah kisah seorang lelaki yang diceritakan dalam surat Yasin ayat 20. Al-Qur’an mengisahkan tentang seorang lelaki yang bukan nabi, rasul, dan bukan pula ulama, tapi hanya orang biasa (awam) yang terlibat aktif dalam mendukung dakwah. Allah swt. menyanjung dan memberikan balasan surga kepadanya.
Dan sebagai penutup jawaban ini, marilah kita simak sedikit dialog yang dialami oleh seorang dai yang sedikit memberikan gambaran tentang masalah yang Anda hadapi saat ini dan bagaimana sebaiknya seorang dai bersikap.
Ini kisah seorang dai abad 20: Hasan Al-Banna. Ia hanya seorang guru madrasah ibtidaiyah (SD). Suatu hari, selagi ia mengisi pengajian, ia “dites” oleh sebagian hadirin dengan berbagai pertanyaan, maka ia menjawab, “Wahai Saudaraku, saya ini bukan ulama. Saya hanyalah seorang guru biasa yang hafal sebagian dari ayat-ayat Al-Qur’an, sebagian hadits nabi, serta sebagian dari hukum-hukum agama yang aku baca dari beberapa kitab, lalu saya berupaya mengajarkannya kepada orang. Jika engkau membawaku keluar dari lingkup ini, berarti engkau telah membuatku mengalami kesulitan. Siapa yang menjawab, ‘tidak tahu’ sebenarnya ia telah memberikan jawabannya”
Selanjutnya ia berkata, “Namun, jika engkau menginginkan jawaban dan pengetahuan yang lebih luas, maka tanyakanlah kepada selain diriku. Tanyakan kepada para ulama yang ahli. Merekalah yang mampu memberikan fatwa kepadamu mengenai apa yang engkau inginkan itu. Adapun saya, hanya inilah kapasitas keilmuan yang saya miliki. Allah tidak membebani seorang hamba melainkan sebatas kesanggupannya.” (Memoar Hasan Al-Banna, hal. 113)
Semoga Allah subhanahu wa ta’ala memberikan taufiq dan hidayah kepada kita semua. Amin.
betul tuh. gak usah ragu-ragu nyampaikan dakwah. liat aja Aa’(dulu) dalam ceramahanya jarang menyitir ayat Al Quran tapi tetap menraik karena beliau menyampaikan realisasi ayat AL Quran. asal bahasa kita mengena dan sesuai dengan bahasa audien (seperti tips Rasul) insyaAllah gak masalah kok. PD aja, akhi. ini kesempatan meraih amal yang kita bawa mati lho, insyaAllah
Alhamdulillah, ane dpt pencerahan nih, mudah2an menambah semangat dalam belajar (tholabul ilm)sebagai tambahan dalam belajar berda’wah. Insya Allah.
Ingat cerita ayah anak dan keledai di zaman rasul?saat si ayah naik keledai orang bilang “bapak ini keterlaluan masa dia naik keledai sementara anaknya yg masih kecil dibiarkannya berjalan”,giliran si anak naik keledai orang bilang “anak ini ga tau diri,masa ayahnya yang sudah tua dibiarkannya berjalan sementara dia enak-anakan naik keledai”,giliran dua-duanya naik keledai orang bilang”bapak anak ini bener-bener ga berperasaan,masa keledai kecil gitu dinaikin berdua”. Mungkin ini bisa jadi gambaran bahwa baik buruk yang kita lakukan selalu aja ada komentar orang tentang kita.Maka ikhlaslah dalam beramal,berdakwah,jangan menyerahkarena tak mungkin dakwah tanpa ujian.Bukan Allah telah mengatakan bahwa”belum dikatakan orang itu beriman sebelum datang ujian…” Jadi untuk akhi,tetap semangat,jika orang kafir saja tak akan berhenti memerangi kita sebelum kita masuk ke agama mereka,maka atas alasan apa kita harus berhenti berdakwah hanya karena omongan orang.Teruslah perdalam ilmu agama sebagai sarana berdakwah juga ya.
“Assalamu’alaikum..benar ya akhi..akhi jangan putus asa karna dakwah itu tidak harus orang yang hafal banyak Hadist dan Ayat Al Qur’an..tetapi mempelajarinya kewajiban kita..sampaikan apa yang akhi ketahui tentang Islam walaupun hanya satu ayat namun balasan dari ALLAH kelak melebihi dari ilmu yang akhi dakwahkan..tetep semangat semoga ALLAH menerima semua amal yang kita perbuat,sukron.Wassalamu’alaikum”
Ass WW
Sungguh suatu nasihat yang sangat bijaksana, semoga pemimpin-pemimpin kita “malulah” berebut “Kursi Pimpinan” sebelum pernah menjadi Pemimpin Islam minimal di Masjid; Seorang Pemimpin haruslah ” Berhati bersih dan Berotak Cemerlang” Wass WW
Tetap semangat akhi,banyak orang bisanya ngomongin amal orang. Tapi sedikit orang yang beramal untuk orang banyak
Assalamu’alaikum wr. wb.
Betul dalam berdakwah jangan sampai terhenti akibat dari keterbatasan kita tentang ilmu.
Biasanya yang jadi perdebatan adalah masalah-masalah bid’ah & amalan-amalan sunah, untuk itu hindari pembahasan yang mengarah kesana karena keterbatasan ilmu yang dimiliki.
masih banyak materi yang dapat dibahas yang bisa membuat pencerahan bagi pendengarnya
Terima kasih
Wassalamu’alaikum wr. wb.
Rahmat Allah adalah hal yg selalu kita inginkan, jgnlh putus asa jklau rahmat-Nya anda inginkan
Yang penting jangan berhenti belajar untuk menambah ilmu, Allah akan selalu memberikan kemudahan kepada setiap orang yang mau berusaha dalam kebaikan.
Jangan sedih dan putus asa saudaraku, Alloh Senantiasa bersama hamba yang soleh