Rubrik Konsultasi Dakwah
Diasuh oleh para Ustadz dari Lembaga Kajian Dakwatuna

Kirim Pertanyaan Anda
Musyaffa Ahmad Rohim, Lc

Berinteraksi Dengan Orang Fajir Merusak Citra Dakwahkah?

9/5/2008 | 04 Jumadil Awal 1429 H | Hits: 3,154
Oleh: Musyaffa Ahmad Rohim, Lc
Kirim Print

Interaksi (aussiesarasvati.blogspot.com)Assalamu’alaikum wr. wb.

Ustadz, alhamdulillah saya salah seorang yang masih aktif dalam derap langkah dakwah di negeri ini. Bahkan, saya dipercayakan untuk memegang amanah di lingkup daerah tempat saya tinggal. Tapi, ada sedikit masalah berkenaan dengan rekruitmen obyek dakwah.

Beberapa kali saya dikunjungi beberapa objek dakwah. Mereka menyatakan siap mendukung perjuangan dakwah saya. Tapi, penampilan mereka lumayan memprihatinkan: masih berkalung, gelang, merokok, sebagian ada yang berpotongan berambut seperti rocker. Saya tidak tahu apakah di antara mereka masih ada yang mabuk-mabukan.

Nah, inilah yang membingungkan saya. Saya berharap dengan interaksi dengan saya dan teman-teman sesama aktivis, mereka bisa berubah. Tapi, sudah hampir satu tahun, mereka masih tetap seperti sebelumnya. Tidak berubah, berpenampilan seperti yang saya sebutkan. Pertanyaan saya, apakah saya mesti menghentikan hubungan dengan mereka karena khawatir merusak citra dakwah? Terus terang, selain bingung, saya agak kikuk menghadapi mereka.

Atas jawaban Ustadz, saya ucapkan jazakumullah khairan.

Khairuddin di Jawa Timur.

Jawab:

Saudara Khairudin di Jawa Timur dan pengunjung dakwatuna.com di mana pun Anda berada: Assalamu’alaikum wa rahmatullah wa barakatuh.

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala memberikan kekuatan kepada kita semua untuk tetap istiqamah dalam meniti jalan dakwah ini, walaupun banyak godaan, rintangan dan tantangan menghadang di tengah jalan ini.

Saudara Khairudin, untuk memberikan gambaran yang agak jelas tentang masalah yang Anda hadapi, saya akan membahasnya dalam tiga point, yaitu:

1. tentang pendapat yang rajih (kuat) dalam hal ‘uzlah (menyendiri, membangun komunitas khusus dan tidak mau bergaul dengan umumnya masyarakat) atau ikhthilath (bercampur baur dan bergaul di tengah-tengah masyarakat);

2. beberapa nash yang menjelaskan masalah seperti yang Anda hadapi;

3. pengalaman seorang aktivis dakwah dan pergerakan dalam hal ini.

Masalah Pertama

Dalam kitab Riyadhush-Shalihin, Imam Nawawi rahmatullah ‘alaih mengatakan demikian, “Bab keutamaan ikhthilath (bercampur baur dan bergaul di tengah-tengah masyarakat), menghadiri shalat Jum’at bersama mereka, berjama’ah bersama mereka, menghadiri berbagai momentum kebaikan bersama mereka, menghadiri majelis dzikir mereka, menjenguk orang sakit, menghadiri penyelenggaraan jenazah, membantu yang membutuhkan, membimbing yang tidak tahu, dan kebaikan-kebaikan atau kemaslahatan-kemaslahatan lainnya, bagi yang memiliki kemampuan untuk melakukan amar ma’ruf nahi munkar, menahan diri untuk tidak menyakiti dan bersabar atas rasa sakit yang mungkin ia dapatkan dari mereka.”

Dari pendapat ini kita mengetahui beberapa hal yaitu:

  1. Bergaul di tengah masyarakat lebih utama dari pada ‘uzlah.
  2. Bentuknya diantaranya adalah menghadiri shalat Jum’at bersama mereka, berjama’ah bersama mereka, menghadiri berbagai momentum kebaikan bersama mereka, menghadiri majlis dzikir mereka, menjenguk orang sakit, menghadiri penyelenggaraan jenazah, membantu yang membutuhkan, membimbing yang tidak tahu, dan kebaikan-kebaikan atau kemaslahatan-kemaslahatan lainnya.
  3. Keutamaan ini berlaku bagi yang memiliki kemampuan untuk melakukan amar ma’ruf nahi munkar, menahan diri untuk tidak menyakiti dan bersabar atas rasa sakit yang mungkin ia dapatkan dari mereka.

Oleh karena itu, wahai Saudara Khairudin di Jawa Timur dan pengunjung dakwatuna.com di manapun Anda berada, bergaullah bersama mereka dan lakukanlah amar ma’ruf nahi munkar sedikit demi sedikit, serta bersabarlah dalam hal ini. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala memberikan kekuatan, taufiq dan hidayah kepada kita semua. Amin.

Masalah Kedua

Ada beberapa nash dan cerita yang menggambarkan beberapa sisi persamaan dengan kondisi yang Anda hadapi, di antaranya adalah:

  1. Tersebut dalam hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “La yadkhulul jannata illa mukminin wa innallaha layuayyidu hadzad-diina birrajulil faajiri, tidak akan masuk surga selain orang beriman, dan sungguh, Allah subhanahu wa ta’ala memberikan dukungan atau pertolongan kepada agama ini (Islam) dengan seorang yang fajir (tidak adil, tidak taat).”
  2. Tersebut juga dalam hadits lain demikian: Dari Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Ada seorang lelaki bernama Abdullah. Ia digelari Himar (keledai). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditertawakan olehnya dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mencambuknya karena ia meminum khamar (miras). Berkali-kali ia dibawa kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk dicambuk karena kasus yang sama, maka ada seorang sahabat yang mengatakan, ‘Ya Allah, laknatilah dia. Betapa seringnya ia terkena kasus hukum ini!’ Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Janganlah kalian melaknatinya. Demi Allah, saya tidak mengetahui darinya selain bahwa ia mencintai Allah dan Rasul-Nya.’ (hadits shahih diriwayatkan oleh Imam Bukhari)
  3. Saat terjadi Perang Qadisiyah ada seorang yang bernama Abu Dujanah. Ia berkali-kali dicambuk oleh Sa’ad bin Abi Waqqash (komandan kaum muslimin saat itu) karena menenggak minuman keras, sampai akhirnya ia dikurung dalam penjara. Namun, setelah ia berhasil melobi istri Sa’ad agar dikeluarkan dari kurungan untuk berjihad fii sabilillah, ia menunjukkan prestasi berjihad yang luar biasa, yang membuat kagum banyak kaum muslimin, termasuk Sa’ad bin Abi Waqqash sendiri.

Dari nash-nash dan cerita itu, ada beberapa pelajaran yang bisa kita ambil, di antaranya adalah:

1. Mereka, para simpatisan dakwah yang Anda gambarkan itu, insya Allah bersimpati kepada kebaikan yang Anda bawa, walaupun bisa jadi, wallahu a’lam, sampai sekarang mereka belum bisa lebih baik dari yang Anda ceritakan itu. Insya Allah, ke depan bisa lebih baik.

2. Sangat mungkin juga dari tangan dan melalui mereka, Allah subhanahu wa ta’ala memberikan dukungan dan kemenangan untuk dakwah ini.

Masalah Ketiga

Ada seorang dai berpesan kepada seorang dai lainnya seperti ini, “Jadikanlah jama’ah atau organisasi dakwah Anda seperti rumah sakit, di mana semua orang memasukinya: ada yang paling sehat dan ada pula yang paling sakit. Namun dengan memasuki rumah sakit ini, mereka akan keluar sebagai orang yang sehat. Dan jangan kamu jadikan organisasi dakwah atau jama’ah Anda kumpulan orang-orang yang sehat saja, akantetapi tidak mampu menjaga kesehatannya atau malah tidak mampu menyehatkan orang lain.”

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan kita semua orang-orang yang istiqamah dalam meniti jalan dakwah ini. Amin.


Beri Nilai Naskah Ini:

Nilai 1Nilai 2Nilai 3Nilai 4Nilai 5Nilai 6Nilai 7Nilai 8Nilai 9Nilai 10 (4 orang menilai, rata-rata: 8.00 dalam skala 10)
Loading ... Loading ...


Pembaca Naskah Ini, Juga Membaca:

Akses http://www.dakwatuna.com/wap dimana saja melalui ponsel, Blackberry atau iPhone Anda.
Kirim Print

Ada 3 komentar untuk naskah ini. Kirim komentar Anda.

  • aviv mengatakan:

    akhi Khairuddin di jatim,
    assalamualaiikkum wr wb ,
    Subhanallah ,semoga Allah mensiqohkan jiwa raga anda dijalan yang benar ini. izinkan ana sedikit memberi input, inilah gunaya interaksi sesama dai insaya allah.jika antum adalah dai maka inilah lahan garapan yang allah sediakan untuk amal ibadah anda, dan suksesnya antum membawa mereka kejalan yang benar sebagai tolok ukur keberhasilan anda menempa diri sebagai dai. akhi biasanya ” Al mar’u ma’a man ahab ” keadaan seseorang bisa ditinjau dari siapa yang disenagi, jika anda dapat dukungan dari mereka yang sudah satu tahun tapi belumjuga berubah maka ada dua kemungkinan yang sedang terjadi 1. mereka belum meresapi dakwah anda dikarenakan dakwah anda belum menyentuh hal-hal mendasar diri mereka atau 2 perlu adanya koreksi pada antum sendiri mengapa mereka belum berubah adakah niat yang kurang lurus atau hati yang kurang ikhlas bahkan adakah perasaan antum yang menganggap mereka hanya manusia biasa padahal mereka dalah ayat kauniah Allah maka pahamilah siapa mad’u kita seutuhnya sebagai makhluk Allah. wallahu a’lam bissowab Afwan katsiro

  • mujahidah mengatakan:

    Assalamualaikum…
    Boleh ana minta saran… gni dkmpuz ana sdg marak cinta bersemi sesama aktifis… yang tadinya slg menjaga akhirnya terbwa perasaan dan akhirnya sering berkholwat… Dkmpuz ana bkn hanya ada aktifis tp orang2 yang msih belajar menapaki jg byk… dari situ pandangan mereka terhadap aktifis jd miring, menurut mreka “orang aktifis aja pacaran”. jd sulit bg ana untuk memahamkan mereka bahwa tidak smua seperti itu walo kenyataannya lebih dari 50% melakukan hal seperti. Bagaimana cara ana untuk bisa lebih bijak dalam mengatasi masalah ini.. karena gara2 hal ini dakwah ana sulit untuk berkembang karena ana dianggap sama dengan aktifis yang lain…
    tolong minta sarannya

  • maya mengatakan:

    aslamu’alaikum..subhanallah semoga Allah selalu menguatkan dan mengistiqomahkan antum. sebanarnya ana juga punya masalah yang hampir sama dengan antum..ana punya objek dakwah beberapa murid di tempat mengajar. Ada beberapa sekitar 11 akhwat yang sudah ditarbiyah dan 4 ikhwan yang dalam proses.cuma yang ikhwah cuma 2 orang.ya Alhamdulillah ana tetap bersyukur meski sedih dan kecewa karena objek dakwah yang kira ana dia akan tetap istiqomah ternyata menjauh apa lagi salah satunya anak band.bagi akhi/ukhtifillah bisa nggak ngasi saran gmn dakwah dengan anak band?anak band neh rajin sholat dan sedikit faham akan shiroh.masalah ana akhwat dan objek ana tuh ikhwan maski dia murid ana tapi an juga harus jaga hijab.gmn mnrt akhi/ukhti?tolong ya..jakamullah

Kirim komentar Anda

XHTML: Anda dapat menggunakan tag berikut ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Catatan: Redaksi menerima komentar terkait naskah yang ditayangkan, maksimal sebanyak 500 karakter. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim dan tidak menggambarkan pandangan Redaksi. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap spam, tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau hal negatif lainnya yang terkait dengan penyakit lidah (afatul lisan). Komentar yang mengandung alamat/URL situs web, pada umumnya dianggap sebagai spam yang akan dihapus oleh sistem secara otomatis. Jaga privasi Anda sendiri dengan tidak mencantumkan alamat email dan nomor telepon Anda di ruang komentar ini.

   sisa karakter

« Naskah Sebelumnya
Naskah Sesudahnya »