Dra. Anis Byarwati, MSi.

5 Bekal Istri Aktivis Dakwah

4/4/2008 | 27 Rabiul Awwal 1429 H | Hits: 11.188
Oleh: Dra. Anis Byarwati, MSi.
Kirim Print

dakwatuna.com – Seorang aktivis dakwah membutuhkan istri yang ‘tidak biasa’. Kenapa? Karena mereka tidak hanya memerlukan istri yang pandai merawat tubuh, pandai memasak, pandai mengurus rumah, pandai mengelola keuangan, trampil dalam hal-hal seputar urusan kerumah-tanggaan dan piawai di tempat tidur. Maaf, tanpa bermaksud mengecilkan, berbagai kepandaian dan ketrampilan itu adalah bekalan ‘standar’ yang memang harus dimiliki oleh seorang istri, tanpa memandang apakah suaminya seorang aktivis atau bukan. Atau dengan kalimat lain, seorang perempuan dikatakan siap untuk menikah dan menjadi seorang istri jika dia memiliki berbagai bekalan yang standar itu. Lalu bagaimana jika sudah jadi istri, tapi tidak punya bekalan itu? Ya, jangan hanya diam, belajar dong. Istilah populernya learning by doing.

Kembali kepada pokok bahasan kita. Menjadi istri aktivis berarti bersedia untuk mempelajari dan memiliki bekalan ‘di atas standar’. Seperti apa? Berikut ini adalah bekalan yang diperlukan oleh istri aktivis atau yang ingin menikah dengan aktivis dakwah:

1. Bekalan Yang Bersifat Pemahaman (fikrah).

Hal penting yang harus dipahami oleh istri seorang aktivis dakwah, bahwa suaminya tak sama dengan ‘model’ suami pada umumnya. Seorang aktivis dakwah adalah orang yang mempersembahkan waktunya, gerak amalnya, getar hatinya, dan seluruh hidupnya demi tegaknya dakwah Islam dalam rangka meraih ridha Allah. Mendampingi seorang aktivis adalah mendampingi seorang prajurit Allah. Tak ada yang dicintai seorang aktivis dakwah melebihi cintanya kepada Allah, Rasul, dan berjihad di jalan-Nya. Jadi, siapkan dan ikhlaskan diri kita untuk menjadi cinta ‘kedua’ bagi suami kita, karena cinta pertamanya adalah untuk dakwah dan jihad!

2. Bekalan Yang Bersifat Ruhiyah.

Berusahalah untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Jadikan hanya Dia tempat bergantung semua harapan. Miliki keyakinan bahwa ada Kehendak, Qadha, dan Qadar Allah yang berlaku dan pasti terjadi, sehingga tak perlu takut atau khawatir melepas suami pergi berdakwah ke manapun. Miliki keyakinan bahwa Dialah Sang Pemilik dan Pemberi Rezeki, yang berkuasa melapangkan dan menyempitkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki. Bekalan ini akan sangat membantu kita untuk bersikap ikhlas dan qana’ah ketika harus menjalani hidup bersahaja tanpa limpahan materi. Dan tetap sadar diri, tak menjadi takabur dan lalai ketika Dia melapangkan rezeki-Nya untuk kita.

3. Bekalan Yang bersifat Ma’nawiyah (mentalitas).

Inilah di antara bekalan berupa sikap mental yang diperlukan untuk menjadi istri seorang aktivis: kuat, tegar, gigih, kokoh, sabar, tidak cengeng, tidak manja (kecuali dalam batasan tertentu) dan mandiri. Teman saya mengistilahkan semua sikap mental ini dengan ungkapan yang singkat: tahan banting!

4. Bekalan Yang bersifat Aqliyah (intelektualitas).

Ternyata, seorang aktivis tidak hanya butuh pendengar setia. Ia butuh istri yang ‘nyambung’ untuk diajak ngobrol, tukar pikiran, musyawarah, atau diskusi tentang kesibukan dan minatnya. Karena itu, banyaklah membaca, rajin mendatangi majelis-majelis ilmu supaya tidak ‘tulalit’!

5. Bekalan Yang Bersifat Jasadiyah (fisik).

Minimal sehat, bugar, dan tidak sakit-sakitan. Jika fisik kita sehat, kita bisa melakukan banyak hal, termasuk mengurusi suami yang sibuk berdakwah. Karena itu, penting bagi kita untuk menjaga kesehatan, membiasakan pola hidup sehat, rajin olah raga dan lain-lain. Selain itu, jangan lupakan masalah merawat wajah dan tubuh. Ingatlah, salah satu ciri istri shalihat adalah ‘menyenangkan ketika dipandang’.

Akhirnya, ada bekalan yang lain yang tak kalah penting. Itulah sikap mudah memaafkan. Bagaimanapun saleh dan takwanya seorang aktivis, tak akan mengubah dia menjadi malaikat yang tak punya kesalahan. Seorang aktivis dakwah tetaplah manusia biasa yang bisa dan mungkin untuk melakukan kesalahan. Bukankah tak ada yang ma’shum di dunia ini selain Baginda Rasulullah?


Beri Nilai Naskah Ini:

Nilai 1Nilai 2Nilai 3Nilai 4Nilai 5Nilai 6Nilai 7Nilai 8Nilai 9Nilai 10 (67 orang menilai, rata-rata: 8,31 dalam skala 10)
Loading ... Loading ...


Naskah Terkait Sebelumnya:


Akses http://www.dakwatuna.com/wap dimana saja melalui ponsel, Blackberry atau iPhone Anda.
Kirim Print
  • Print
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google Bookmarks
  • BlinkList
  • email
  • LinkedIn
  • Live
  • MySpace
  • PDF
  • Ping.fm
  • Reddit
  • Slashdot
  • Technorati
  • Twitter
  • Yahoo! Bookmarks
  • Yahoo! Buzz
  • MSN Reporter

Ada 30 komentar untuk naskah ini. Kirim komentar Anda.

  • nana mengatakan:

    jzklh taujihnya.. Subhanallah klo kluwarga, masing2 suami istri tau akan kewajiban n haknya.. trmasuk kewajibannya terhadap dakwah.. tidak mudah memang jd istri aktivis dakwah.. tp ktika seorang istri ingin menjadi istri yg sholehah tentunya akan berusaha melakukan yg terbaik buat suami termasuk untuk dakwahnya.
    buat para ikhwan jangan menganggap akhwat istri yg sempurna. cz akwat jga manusia biasa yg banyak kekurangan.. so yg sabar jd imam n dlm membimbing istri ya. percayalah para istri sholehah berusaha memberi yg terbaik untuk antum..afwan..

  • cucum mengatakan:

    subhanalah ana setuju dengan artikel ini. karena ana sangat sedih sekali dengan banyaknya fenomena ikhwah yang cerai karena ada yang bilanga gak cocok padahal udah punya anak empat. wahai ikhwah bagaimana dakwah bisa eksis kalau suasana rumah saja sudah tidak nyaman. wss.

  • Janggut_naga83 mengatakan:

    Bissmillaahirrahmaanirrahiim

    Syukran Tausiyahnya.

    InsyaAllaah andaikata Akhwat yang menjadi Istri saya kelak tidak memenuhi Kriteria itu ~

    Maka sayalah yang akan membentuknya.

    Semoga Allaah SWT Ridha terhadap apa-apa yang di Niatkan hamba-Nya

    Amiin

  • Anita mengatakan:

    Ass…artikelnya bagus,good lock buat umi anis mudah2an bermampaat buat kita smua,trutama utk wanita(akhwat) yg ingin menikah dgn aktivis dakwah,tp satu hal yang patut diingat khusus utk lk2 (ikhwan) wanita bukan terbuat dr besi maupun baja.

  • eva mengatakan:

    Asw,saya sangat setuju sekali dgn artikel mba Anis.ternyata untuk menjadi istri seorang aktivis gak gampang ya??jadi semangaaat nich..syukron jiddan ya mba,,

  • muspita mengatakan:

    Assalamu’alaikum…
    syukran Tausyiahnya..
    artikel y bagus, ternyata untuk menjdi istri seorang aktivis tidak gampang..
    istri yang sholehah akan berbuat yang terbaik untuk dakwah suaminya, subhanallah..

  • esa mengatakan:

    jazaakumullaah khayr atas artikelnya.

  • roba'i ahmad mengatakan:

    syukran atas tausyiahnya

  • fuad mengatakan:

    Salam ziarah,blog yang menarik,semoga Allah istiqomah kita dalam apa juga urusan..jemput muzakarah di blog saya..dan sila add blog saya..tq

  • Dadang mengatakan:

    subhanalloh..mudah2an tausiah ini menjadi motifasi untuk pasangan keluarga dakwah..Alloh maha tau apa yg tersimpan dalam hati kita..

Kirim komentar Anda

XHTML: Anda dapat menggunakan tag berikut ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Catatan: Redaksi menerima komentar terkait naskah yang ditayangkan, maksimal sebanyak 500 karakter. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim dan tidak menggambarkan pandangan Redaksi. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap spam, tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau hal negatif lainnya yang terkait dengan penyakit lidah (afatul lisan). Komentar yang mengandung alamat/URL situs web, pada umumnya dianggap sebagai spam yang akan dihapus oleh sistem secara otomatis. Jaga privasi Anda sendiri dengan tidak mencantumkan alamat email dan nomor telepon Anda di ruang komentar ini.

   sisa karakter

« Naskah Sebelumnya
Naskah Sesudahnya »