Home / Narasi Islam / Hidayah / Suami Dambaan Para Bidadari

Suami Dambaan Para Bidadari

dakwatuna.com“Aku benar-benar melihat malaikat sedang memandikan Hanzhalah di antara langit dan bumi dengan air dari awan dalam sebuah tempat besar terbuat dari perak.” Sahabat Urwah ra menegaskan kesaksiannya tentang kesyahidan Hanzhalah di perang Uhud.

Mekkah menggelegak terbakar kebencian terhadap orang-orang Muslim karena kekalahan mereka di Perang Badar dan terbunuhnya sekian banyak pemimpin dan bangsawan mereka saat itu. Hati mereka membara dibakar keinginan untuk menuntut balas. Bahkan karenanya Quraisy melarang semua penduduk Mekah meratapi para korban di Badar dan tidak perlu terburu-buru menebus para tawanan, agar orang-orang Muslim tidak merasa di atas angin karena tahu kegundahan dan kesedihan hati mereka.

Hingga tibalah saatnya Perang Uhud. Di antara pahlawan perang yang bertempur tanpa mengenal rasa takut pada waktu itu adalah Hanzhalah bin Abu Amir. Nama lengkapnya Hanzhalah bin Abu ‘Amir bin Shaifi bin Malik bin Umayyah bin Dhabi’ah bin Zaid bin Uaf bin Amru bin Auf bin Malik al-Aus al-Anshory al-Ausy. Pada masa jahiliyah ayahnya dikenal sebagai seorang pendeta, namanya Amru.

Suatu hari ayahnya ditanya mengenai kedatangan Nabi dan sifatnya hingga ketika datang, orang-orang dengan mudahnya dapat mengenalnya. Ayahnya pun menyebutkan apa yang ditanyakan. Bahkan secara terang-terangan dirinya akan beriman dengan kenabian itu. Ketika Allah turunkan Islam di jazirah Arab untuk menuntun jalan kebenaran melalui nabi terakhir. Justru dirinya mengingkarinya. Bahkan dirinya hasud dengan kenabian Muhammad. Tak lama kemudian Allah bukakan hati anaknya, Hanzhalah untuk menerima kebenaran yang dibawa Rasulullah. Sejak itulah jiwa dan raganya untuk perjuangan Islam.

Kebencian ayahnya terhadap Rasulullah membuat darahnya naik turun. Bahkan meminta izin Rasulullah untuk membunuhnya. Tapi Rasulullah tidak mengizinkan. Sejak itulah keyakinan akan kebenaran ajaran Islam semakin menancap di relung hatinya. Seluruh waktunya digunakan untuk menimba ilmu dari Rasulullah.

Di tengah kesibukkannya mengikuti da’wah Rasulullah yang penuh dinamika, tak terasa usia telah menghantarkannya untuk memasuki fase kehidupan berumah tangga. Disamping untuk melakukan regenerasi, tentu ada nikmat karunia Allah yang tak mungkin terlewatkan.

Hanzhalah menikahi Jamilah binti Abdullah bin Ubay bin Salul, anak sahabat bapaknya. Mertuanya itu dikenal sebagai tokoh munafik, menyembunyikan kekafiran dan menampakkan keimanan. Dia berpura-pura membela Nabi saw dalam Perang Uhud; namun ketika rombongan pasukan muslim bergerak ke medan laga, ia menarik diri bersama orang-orangnya, kembali ke Madinah.

Sementara itu Madinah dalam keadaan siaga penuh. Kaum muslimin sudah mencium gelagat dan gerak-gerik rencana penyerangan oleh pasukan Abu Shufyan. Situasi Madinah sangat genting.

Namun walau dalam situasi seperti itu, Hanzhalah dengan tenang hati dan penuh keyakinan akan melangsungkan pernikahannya. Sungguh tindakannya itu merupakan gambaran sosok yang senantiassa tenang menghadapi berbagai macam keadaan.

Hanzhalah menikahi Jamilah, sang kekasih, pada suatu malam yang paginya akan berlangsung peperangan di Uhud. Ia meminta izin kepada Nabi saw untuk bermalam bersama istrinya. Ia tidak tahu persis apakah itu pertemuan atau perpisahan. Nabi pun mengizinkannya bermalam bersama istri yang baru saja dinikahinya.

Mereka memang baru saja menjalin sebuah ikatan. Memadu segala rasa dari dua lautan jiwa. Berjanji, menjaga bahtera tak akan karam walau kelak badai garang menghadang. Kini, dunia seakan menjadi milik berdua. Malam pertama yang selalu panjang bagi setiap mempelai dilalui dengan penuh mesra. Tak diharapkannya pagi segera menjelang. Segala gemuruh hasrat tertumpah. Sebab, sesuatu yang haram telah menjadi halal.

Langit begitu mempesona. Kerlip gemintang bagaikan menggoda rembulan yang sedang kasmaran. Keheningannya menjamu temaramnya rembulan, diukirnya do’a-do’a dengan goresan harapan, khusyu’, berharap regukan kasih sayang dari Sang Pemilik Cinta. Hingga tubuh penat itupun bangkit, menatap belahan jiwa dengan tatapan cinta. Hingga, sepasang manusia itu semakin dimabuk kepayang.

Indah…
Sungguh sebuah episode yang teramat indah untuk dilewatkan. Namun disaat sang pengantin asyik terbuai wanginya aroma asmara, seruan jihad berkumandang dan menghampiri gendang telinganya.

“Hayya ‘alal jihad… hayya ‘alal jihad…!!!”

Pemuda yang belum lama menikmati indahnya malam pertama itu tersentak. Jiwanya sontak terbakar karena ghirah. Suara itu terdengar sangat tajam menusuk telinganya dan terasa menghunjam dalam di dadanya. Suara itu seolah-olah irama surgawi yang lama dinanti. Hanzalah harus mengeluarkan keputusan dengan cepat. Bersama dengan hembusan angin fajar pertama, Hanzhalah pun segera melepaskan pelukan diri dari sang istri.

Dia segera menghambur keluar, dia tidak menunda lagi keberangkatannya, supaya ia bisa mandi terlebih dahulu. Istrinya meneguhkan tekadnya untuk keluar menyambut seruan jihad sambil memohon kepada Allah agar suaminya diberi anugerah salah satu dari dua kebaikan, menang atau mati syahid,

Dia berangkat diiringi deraian air mata kekasih yang dicintainya. Ia berangkat dengan kerinduan mengisi relung hatinya. Kerinduan saat-saat pertama yang sebelumnya sangat dinantikannya, saat mereka berdua terikat dalam jalinan suci. Namun semua itu berlalu bagaikan mimpi. Hanzalahpun akhirnya berangkat menuju medan laga untuk memenangkan cinta yang lebih besar atas segalanya. Bahkan untuk meraih kemenangan atas dirinya sendiri.

Kenikmatan yang bagai tuangan anggur memabukkan tak akan membuatnya terlena. Sehingga, iringan do’alah yang mengantar kepergiannya ke medan jihad. Dia bergegas mengambil peralatan perang yang memang telah lama dipersiapkan. Baju perang membalut badan, sebilah pedang terselip dipinggang. Siap bergabung dengan pasukan yang dipimpin Rasulullah saw.

Berperang bersama Hamzah, Abu Dujanah, Zubayr, Muhajirin dan Anshar yang terus berperang dengan yel-yel, seolah tak ada lagi yang bisa menahan mereka. Bulu-bulu putih pakaian Ali, surban merah Abu Dujanah, surban kuning Zubayr, surban hijau Hubab, melambai-lambai bagaikan bendera kemenangan, memberi kekuatan bagi barisan di belakangnya.

Tubuh Hanzhalah yang perkasa serta merta langsung berada di atas punggung kuda. Sambil membenahi posisinya di punggung kuda, tali kekang ditarik dan kuda melesat secepat kilat menuju barisan perang yang tengah bekecamuk. Tangannya yang kekar memainkan pedang dengan gerakan menebas dan menghentak, menimbulkan efek bak hempasan angin puting beliung.

Musuh datang bergulung. Merimbas-rimbas. Tak gentar, ia justru merangsek ke depan. Menyibak. Menerjang kecamuk perang. Nafasnya tersengal. Torehan luka di badan sudah tak terbilang. Tujuan utama ingin berhadapan dengan komandan pasukan lawan. Serang! Musuhpun bergelimpangan.

Takbir bersahut-sahutan. Lantang membahana bagai halilintar. Berdentam. Mendesak-desak ke segenap penjuru langit. Hanzhalah terus melabrak. Terjangannya dahsyat laksana badai. Pedangnya berkelebat. Suaranya melenting-lenting. Kilap mengintai. Deras menebas. Berkali-kali orang Quraisy yang masih berkutat dalam lembah jahiliyah itu mati terbunuh di tangannya.

Sementara itu, dari kejauhan Abu Sufyan melihat lelaki yang gesit itu. Dia
ingin sekali mendekat dan membunuhnya, tetapi nyalinya belum juga cukup
untuk membalaskan dendam kepada pembunuh anaknya di perang Badar itu. Situasi berbalik, kali ini giliran Hanzhalah mendekati Abu Sufyan ketika teman-temannya justru melarikan diri ketakutan. Abu Sufyan terpaksa melayaninya dalam duel satu lawan satu. Abu Sufyan terjatuh dari kudanya. Wajahnya pucat, ketakutan.

Pedang Hanzhalah yang berkilauan siap merobek lehernya. Dalam hitungan detik, nyawanya akan melayang. Tapi, dalam suasana genting itu, Abu Sufyan berteriak minta tolong, “Hai orang-orang Quraisy, tolong aku.”

Namun, untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Syadad bin Al-Aswad yang memang sudah disiagakan untuk menghabisi Hanzhalah, behasil menelikung gerakan hanzhalah dan menebas tengkuknya dari belakang. Tubuh yang gagah dan tegap itu jatuh berdebum ke tanah, boom!!! Para sahabat yang berada di sekitar dirinya mencoba untuk memberi pertolongan, namun langkah mereka terhenti.

Lantas orang-orang Quraisy di sekitarnya tanpa ampun mengayunkan pedangnya kepada Hanzhalah, dari kiri, kanan, dan belakang, sehingga Hanzhalah tersungkur. Dalam kondisi yang sudah parah, darah mengalir begitu deras dari tubuhnya, ia masih dihujani dengan lemparan tombak dari berbagai penjuru.

Tak lama kecamuk perang surut. Sepi memagut. Mendekap perih di banyak potongan tubuh yang tercerabut. Ia syahid di medan Uhud. Di sebuah gundukan tanah yang tampak masih basah, jasadnya terbujur.

Semburat cahaya terang dari langit membungkus jenazah Hanzhalah dan mengangkatnya ke angkasa setinggi rata-rata air mata memandang. Juga tejadi hujan lokal dan tubuhnya terbolak-balik seperti ada sesuatu yang hendak diratakan oleh air ke sekujur tubuh Hanzhalah. Bayang-bayang putih juga berkelebat mengiringi tetesan air hujan. Hujan mereda, cahaya terang padam diiringi kepergian bayang-bayang putih ke langit dan tubuh Hanzhalah kembali terjatuh dengan perlahan.

Subhanallah! Padahal sedari tadi hujan tak pernah turun mengguyur, setetes-pun. Para sahabat yang menyaksikan tak urung heran. Para sahabat kemudian membawa jenazah yang basah kuyup itu ke hadapan Rasulullah saw dan menceritakan tentang peristiwa yang mereka saksikan. Rasulullah meminta agar seseorang segera memanggil istri Hanzhalah.

Begitu wanita yang dimaksud tiba di hadapan Rasul, beliau menceritakan begini dan begini tentang Hanzhalah dan bertanya: “Apa yang telah dilakukan Hanzhalah sebelum kepergiannya ke medan perang?”

Wanita itu tertunduk. Rona pipinya memerah, dengan senyum tipis ia berkata: “Hanzhalah pergi dalam keadaan junub dan belum sempat mandi ya Rasulullah!”

Rasulullah kemudian berkata kepada yang hadir. “Ketahuilah oleh kalian. Bahwasannya jenazah Hanzhalah telah dimandikan oleh para malaikat. Bayang-bayang putih itu adalah istri-istrinya dari kalangan bidadari yang datang menjemputnya.”

Dengan malu-malu mereka (para bidadari) berkata; “Wahai Hanzhalah, wahai suami kami. Lama kami telah menunggu pertemuan ini. Mari kita keperaduan.”

“Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih?. (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya, niscaya Allah mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam surga ‘Adn. Itulah keberuntungan yang besar.” (QS 61:10-12).

Sumber dari ‘Yas’alunaka Fiddiini wal Hayaah’ yang diterjemahkan menjadi “Dialog Islam” karya Dr. Ahmad Asy-Syarbaasyi (dosen Universitas Al-Azhar, Cairo), Penerbit Zikir, Surabaya, 1997, cetakan pertama

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (106 votes, average: 9,28 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Aidil Heryana, S.Sosi
"Aidil" adalah panggilan kesehariannya. Lahir di Jakarta pada tahun 1964 dan sekarang telah dikaruniai Allah 4 orang anak. Manajer SDM di Ummigroup Media ini adalah lulusan dari SMA Negeri 8 Jakarta, LIPIA (I'dadul Lughoh Masa'iyah), dan Institut Agama Islam Al-Aqidah. Pernah aktif di Kerohanian Islam (Rohis) SMAN 8 Jakarta, dan di Bi'tsatud Du'at PKPU. Saat ini mengemban amanah sebagai Pembina Yayasan Sahabat Insani. Moto hidupnya adalah "Hidup Mulia atau Mati Mulia".
  • khudori

    Hmm…aku membacanya sampe tersengal-sengal…Just spirit

  • Rike

    Subhanallah, Hanzhalah adalah manusia yang berani mengambil keputusan. Tidak peduli dengan keadaan, menyempurnakan agama lebih didahulukan karena dia percaya akan kebesaran Allah, Allah yang mengatur semuanya. Tidak ada kekhawatiran mengenai apapun.

    cuplikan: "Sementara itu Madinah dalam keadaan siaga penuh. Kaum muslimin sudah mencium gelagat dan gerak-gerik rencana penyerangan oleh pasukan Abu Shufyan. Situasi Madinah sangat genting.

    Namun walau dalam situasi seperti itu, Hanzhalah dengan tenang hati dan penuh keyakinan akan melangsungkan pernikahannya. Sungguh tindakannya itu merupakan gambaran sosok yang senantiassa tenang menghadapi berbagai macam keadaan"

  • aisyawa

    subhanallah…Hanzhalah seharusnya menjadi inspirator bagi ikhwa..dalam kondisi ekonomi n politik yg mulai memanas tdk menyurutkan niat untuk menggenapkan setengah dien..

  • Rizal

    Subhanallah……semoga sirah ini menjadi inspirasi bagi kita semua untuk selalu mementingkan kepentingan yang tertinggi yaitu Akhirat….. Jaya DAKWATUNA…. Teruslah berjuang…

  • 458

    Subhanalloh

  • ma'ruf

    subhanallah hanzhalah adalah sesosok pemuda yang mesti menjadi idola setiap akhwat yang ingin memiliki suami dan menjadi inspirasi bagi para ikhwan yang ingin mendapat surga Allah SWT. hanzhalah my favorite

  • aditama

    Ya ALLAH…….. Maha Benar Engakau Ya ALLAH…..

  • Afriadi

    Syurgalah balasan untukmu Hanzhalah,,, Maha Besar Kekuasaan Allah,,,

  • subhanallah
    memang janji allah dalam al-qur'an dan hadist tidak diragukan kebenarannya
    maha benar allah dengan segala firmannya

  • lilik

    Subhanallah
    sungguh tulisan pembakar smangat muda kami untuk selalu berjihad d jalan Allah SWT

  • rian90

    Maha Suci Allah, semoga menjadi teladan. air mata ini seakan luluh membaca tulisan ini. Allahu Akbar

  • Titi

    Subhanallah…Hanzhallah memang berani mengambil keputusan sehingga Ia mendapatkan Ridho Allah SWT…

  • maza

    jangan takut untuk mengambil keputusan yang bertujuan untuk mencari ridho ALLAH..Subhanallah…….

  • WINDI

    aku pengen nangis bacanya

  • WINDI

    walau q hanya seorang wanita q juga ingin seperti hanzhalah kapannnnnnnnnn ya?

  • nariana

    Subhanallah….,Allah Akbar!!

    "Love for Palestine"

  • dian

    subhanallah…adakah ikhwan yang seperti itu,haree gene?

  • mariadi

    subhananalah ada kah yang zaman sekarang jiwa jiwa seperti hanzhalah? berjuang hanya mengharapkan keridhoan allah dan rasul, ya allh jadi orang yang tercatat dalam barisan para syuhada

  • tsalatsa

    Assalamu’alikum wr.wb
    artikel mengenai “suami dambaan para bidadari” ini sangat bagus.
    “sukron”
    wassalamu’alaikum wr.wb

  • Sungguh mempesona bila setiap pasangan pengantin memiliki pribadi seperti mereka

  • Dayat

    Begitu besar Jihadnya Hanzhalah, Jihadku tidak ada seperseribunya, Jihadku sekarang hanya baru sebatas berusaha agar anak dan istriku tidak kelaparan.

    Ya Allah kapankah aku dapat berjihad dengan jihad yang besar, sementara anak dan istriku sangat membutuhkan aku, mereka belum sanggup jauh dari aku.

    Ya Allah jika amal yang sedikit ini mendatangkan ridhomu, biarkan aku hidup dengan amal ini sampai akhir hayatku.

  • islam for my life

    saya sampai terharu membacanya sangat hebat sekali beliau lebih mementingkan perjuangan demi islam dan allah di bandingkan istrinya sendiri dan itu karena rasa cintanya terhadap islam subhanallah

  • Sony

    Subhanallah tiada hal yang lebih indah selain berjihad di jalan Allah SWT .. mohon ijin untuk menyebarkannya di facebook-note

  • wahyu

    sungguh mulia Hanzalah, aku berharap anakku yang juga kuberi nama hanzalah juga bisa menjadi suami dambaan bidadari surga.amin

  • subhaanallaah, …
    “astaghfirullaahalladzii laa ilaaha illaa huwal hayyul qayyuum wa atuubu ilaih”

    “Allaahumma anta Rabbii laa ilaaha illaa anta, khalaqtanii wa ana ‘abduka wa ana ‘alaa ‘ahdika wa wa’dika mastatha’tu, a’uudzubika min syarri maa shana’tu, abuu^u laka bi ni’matika ‘alaia wa abuu^u bi dzanbii faghfirlii fainnahuu laa yaghfirudzdzunuuba illaa anta”

  • allah akbar hanzalah engkau pembangkit semangatku untuk meraih surga

  • elang pitak

    Ya Rabbi,
    Tuntunlah aku, tetap berada di tepi jalanmu.
    Bila amalku mencukupi, izinkan aku.
    Berdiri dipelataran surgamu, bersama anak dan istriku.
    Amiin..

  • ilmi

    Walau sdh membacanya berulang kali tp tetap saja air mata ini mengalir… T.T
    Subhanallah…

  • suci

    saya gak tau ngomong apa…
    sedih rasanya……… sampe nangis..
    kita penerus agama yang diridhoi allah ini..
    hanya tinggal melaksanakan perintah aja.. masak gak bisa
    para sahabat mengorbankan harta, tenaga bahkan nyawa untuk agama tercinta ini….
    allahuakbar…….

  • j.sandi

    ya..rabb, takdirkanlah diri yang berlumuran dosa ini, berakhir menjadi salah satu syuhadaMu. walau malu mengaharap, namun ijinkan hambamu ini mampu mengikuti jejak kekasihMu hanzalah.

  • Jachja

    Untuk kondisi saat ini, sulit untuk ketemu dengan manusia yang berkualitas seperti sahabat Hanzalah, namun jika hadir di Majelis Ta’lim, kita akan banyak ketemu dengan orang-orang yang mengklaim dirinya telah menguasai Ilmu Agama melebihi para sahabat manapun. Bahkan para Imam Mazhab pun dilecehkan (dianggap telah out-of-date)

  • abu farih

    Sungguh jiwa yang dibalut cinta sejati padaNya luar biasa…………

  • Alllahu Akbar!!!

  • mursalin

    mohon maaf yang sebesar-besarnya sebelumnya. bukannya saya meragukan atau so uzon dg cerita/riwayat ini tapi ada pertanyaan yang yg terbersik dalam hati setelah membaca riwayat yang membuat saya agak merinding dan terharu. pertanyaan saya adalah apakah pemuda tersebut begitu bersemangatnya untuk berjihat sampai-sampai jihad lebih dia pentingkan dari pada shalat subuh??krn pengakuan istrinya waktu meninggal kan sang suami masih dalam keadaan junub dari malam sampai sang suami pulang dari perang dalam keadaan syahid. maaf sebelumnya.

  • justan

    Allahu Akbar

Lihat Juga

Ilustrasi. (seehati.com)

Pernah Bernadzar Akan Berhenti Bekerja Setelah Melahirkan, Ternyata Gaji Suami Tidak Cukup, Bagaimana?